Sepasang manik mata cokelat itu hanya fokus menatap sesosok lelaki yang tengah duduk santai di gazebo dengan pandangan marah.
Kemudian tanpa banyak waktu lagi, Dyeza langsung menghampiri lelaki yang sudah ia cari-cari sedari tadi.
"Eyden, aku punya satu pertanyaan untukmu!" Ucapnya cepat saat sudah berada dihadapan Eyden.
Eyden hanya diam tak menjawab, malah dia menatap Dyeza dengan tatapan matanya yang datar nan dingin mengalahkan planet pluto.
Dyeza menarik napas. Jujur sebenarnya ia sedikit gentar ketika ditatap Eyden seperti itu, namun segera ia kumpulkan keberaniannya demi mendapatkan sebuah jawaban.
"Jawab! Apakah kau yang membunuh kedua orang tuaku?"
Eyden bergeming dari tempatnya. Dia hanya menatap Dyeza dengan pandangan sulit diartikan. Dan tentu saja hal itu membuat Dyeza kian bertambah kesal dan marah. Siapa sih di dunia ini yang senang diabaikan? Tidak ada!
"EYDEN JAWAB!!" teriaknya penuh emosi.
"Memangnya aku harus jawab apa?" Jawab Eyden enteng. Sama sekali tidak ada ekspresi ketika ia mengatakan hal itu.
Dyeza menggigit bibirnya, berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. "Kau hanya jawab ya atau tidak!"
"Ya."
Dyeza tak bisa mencegah rahangnya agar tidak jatuh ke bawah. Ia tidak habis pikir bagaimana Eyden bisa menjawab pertanyaannya dengan enteng dan tanpa beban. Sama sekali tidak ada rasa panik atau perasaan lainnya yang terpancar dari raut wajah lelaki ini. Dia pikir ia sedang bercanda?!
"Eyden, aku serius!!"
"Menurutmu aku tidak?"
Lagi-lagi jawaban Eyden berhasil membuat intensitas kemarahan Dyeza semakin meninggi. Kenapa hari ini semua orang sangat menyebalkan?!
"Kenapa kau membunuh kedua orang tuaku? JAWAB!!"
Eyden kembali bergeming. Entah apa yang ada dipikiran laki-laki ini. Yang penting respon Eyden tersebut sukses membuat amarah Dyeza meledak.
"KENAPA KAU DIAM SAJA?! AKU MEM--"
Plakk!!
Mata Dyeza membulat sempurna. Tangan kanannya memegang pipi kanannya yang memerah diiringi rasa panas yang menjalar.
Eyden menamparnya.
"Apa yang kau--"
Plakk!!
Tamparan kedua berhasil mendarat mulus di pipi kiri Dyeza. Tamparan kedua ini lebih keras daripada yang pertama jika dilihat dari sudut bibir Dyeza yang mengeluarkan sedikit darah. Wajahnya bahkan sampai menoleh ke samping akibat kerasnya tamparan Eyden.
Belum sempat ia melayangkan protes, tiba-tiba Eyden bangkit dari duduknya dan langsung menjambak rambutnya erat hingga membuat kepalanya mendongak.
"Eyden, apa yang kau lakukan?! Lepas!!" Dyeza menjerit seraya memegang rambut panjangnya yang dijambak oleh Eyden, bermaksud untuk mengurangi rasa sakitnya. Jambakan ini memang sakit, namun hatinya lebih sakit jika mengingat kalau yang melakukan ini adalah suaminya sendiri.
"Eyden, sakit!!" Air matanya bahkan mulai bercucuran sekarang. Kulit kepalanya serasa mau lepas.
Tak disangka, Eyden menyentak rambut Dyeza dengan kasar hingga membuat sang pemilik rambut terjatuh ke atas gazebo.
"Ahk!" erang Dyeza ketika keningnya membentur kerasnya pinggiran gazebo. Ia memegang keningnya dan menatap nanar darah yang ada ditelapak tangannya.
Hatinya kian bertambah sakit. Pertanyaaan demi pertanyaan mulai bermunculan memenuhi pikirannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Eyden? Kenapa tiba-tiba dia berubah menjadi kasar seperti ini? Bukankah yang seharusnya marah adalah dirinya?
Oh tuhan, ini semua terlalu rumit!
"Eyden, kenapa kau me--aaaakhh"
Dyeza berteriak ketika Eyden tiba-tiba memukul pantatnya dengan keras, meninggalkan rasa nyeri dan panas yang membuatnya ingin menangis histeris.
Plakk!!
"Aakhh!"
Plakk!!
"Aakhh!"
Dyeza mengepalkan tangannya erat ketika pantatnya terasa perih dan panas luar biasa. Kenapa Eyden kejam sekali? Apa salahnya?
Dasar anak tidak tahu diri! Kemana saja kau selama ini?! Lihat, pekerjaan dirumah menumpuk malah kau enak-enakan bersama pria lain!
Hingga tiba-tiba sebuah suara terdengar di indera pendengaran Dyeza. Perlahan rasa pusing mulai menyerang kepalanya dengan diiringi rentetan suara yang semakin lama semakin bertambah banyak.
Atau jangan-jangan kau menjual tubuhmu itu pada mereka? Iya?! Dasar gadis murahan! Bisanya cuma mempermalukan orang tua!!
Masih kecil tapi sudah belajar menjadi seorang jalang! Aku menyesal melahirkan anak tidak berguna sepertimu!!
Plakk!!
Ahk! Ibu sakit....
Plakk!!
Sakit ibuu...
Lebih baik kau tidak usah pulang!! Bisanya cuma menyusahkan saja!!
Dyeza memegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Ia mengerang kesakitan akibat rasa pusing bercampur nyeri yang kian menjadi-jadi.
Lebih baik kau jual saja anak tak berguna ini ke rumah b****l! Dengan begitu kita bisa mendapat uang yang banyak!!
Tidak, ayah! Kumohon jangan!
Benar kata ayahmu! Jalang sepertimu memang pantas berada dirumah b****l!
Ayah ibu jangaaan...
Boom!!
Perlahan pandangan Dyeza kian memburam sampai akhirnya menggelap dan tidak sadarkan diri.
"DYEZA!!"
Itu bukan suara teriakan Eyden yang berdiri disebelah Dyeza dengan tatapan nanar. Melainkan teriakan Yezra yang berhasil memberontak lepas dari kungkungan Dreynan yang menghalang-halanginya untuk menyelamatkan istrinya itu.
"MINGGIR KAU!!"
Yezra berteriak seraya menepis badan Eyden dengan kasar. Emosinya meluap ketika Eyden berbuat sedemikian rupa kepada Dyeza.
Dengan satu kali sentakan, Dyeza sudah berada di gendongan Yezra. Keadaannya kacau. Rambutnya berantakan dengan tak sedikit lebam diwajahnya.
"Kau keterlaluan!!" desisnya tepat disamping telinga Eyden lalu kemudian pergi melewatinya.
Eyden masih tak bergerak sedikitpun selepas kepergian Yezra dan Dyeza. Matanya yang sempat memancarkan sinyal khawatir tadi sudah sirna tertutup oleh raut tak terbaca. Dia sangat pintar menormalkan ekspresi wajah ataupun sorot matanya.
"Dor!!"
Zarel tiba-tiba datang dan bermaksud mengejutkan Eyden, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau Eyden terkejut. Dia tetap diam.
Zarel menghela napas. "Ku harap Dyeza tidak membencimu setelah kejadian ini! Sudah kubilang rencana ini terlalu gila, dia terluka!" ucapnya sembari menepuk bahu Eyden pelan. Dia tadi mengamati dari kejauhan apa yang dilakukan Eyden tadi. Hatinya tergerak untuk menolong Dyeza, namun pikirannya mencegah karna ini semua juga untuk kebaikan gadis itu.
Eyden sama sekali tak merespon ucapan Zarel. Matanya menerawang jauh dengan sorot kesakitan yang mulai terpancar dari matanya tapi sama sekali tidak disadari oleh Zarel.
"Aku pergi!" Zarel menepuk-nepuk bahu Eyden sebelum pergi meninggalkannya.
Kini Eyden bak seorang patung hidup sekarang. Semenjak Dyeza tidak sadarkan diri tadi, sama sekali tidak ada pergerakkan darinya. Lelaki ini terlalu aneh dan misterius.
"Aduh s**l! Kenapa paha Dyeza tadi harus terlihat?!" terdengar gerutuan dari seberang sana. "Sekarang siapa yang mau bertanggung jawab dengan 'Zarel junior' yang malang ini?!"
Setelah kepergian Zarel, sama sekali tidak ada seorang pun disini kecuali Eyden seorang. Tidak ada penjaga ataupun pelayan yang berlalu lalang seperti biasanya. Ini semua dikarenakan Dreynan tadi memerintahkan agar tidak ada seorang pun yang pergi ke Taman bagian samping kiri istana.
Namun tak lama kemudian, tiba-tiba cairan merah pekat nan kental langsung menyembur keluar dari balik mulut Eyden. Tangan Eyden bergerak meremas dadanya yang luar biasa sakit sekarang.
Tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya, Eyden kini tengah menahan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya terutama dibagian d**a.
Eyden terluka dalam.
Sebenarnya ia sudah memperhitungkan hal ini. Ia terikat dengan janji yang ia buat dahulu. Janji yang menyatakan bahwa jika sedikit saja ia menyakiti sang istri, maka dirinya akan dibalas dengan rasa sakit yang berkali-kali lipat.
Jadi ketika ia menampar Dyeza tadi, rasa sakit langsung menghantam ulu hatinya diiringi perasaan nyeri nan linu disekujur tubuhnya. Namun berhasil ia tahan demi mengembalikan ingatan Dyeza.
Rasa sakit ditubuhnya sama sekali tidak penting dibandingkan perasaan bahagianya melihat Dyeza sebentar lagi akan mengingat kembali semuanya.
Dyeza tak lagi salah paham padanya, dan itu sudah lebih dari cukup.