"Pikirkan baik-baik, disini hidupmu akan terjamin! Kelak kau akan menjadi Ratu di kerajaan ini."
"Ya, benar! Lagipula di bumi sama sekali tidak ada yang menarik! Disini kau bisa melihat pertunjukan sihir dan hal luar biasa lainnya!"
"Dan juga apa kau tidak merindukan kami jika kau kembali nanti?"
"Dibumi banyak orang-orang jahat dan kami tidak bisa melindungimu! Berbeda halnya jika kau berada disini, ku pastikan tak ada satupun makhluk yang berani menyakitimu!"
"Jadi kau tidak perlu kembali! Tetaplah disini dan kami akan membahagiakanmu!"
Itulah sebagian dari rentetan berbagai bujukan dari Asrein, Zarel, dan juga Dreynan. Mereka sedari tadi selepas upacara pernikahan, langsung memberikan sejuta kata-kata manis dan melebih-lebihkan hal-hal di kerajaan agar Dyeza tidak kembali ke asalnya.
Namun dari semua bujukan itu, Dyeza hanya menjawab "Maaf. Tapi kata bu guru, janji itu harus ditepati. Kalau kalian mengingkarinya, nanti kalian akan dimakan oleh peri janji!"
Sudut bibir ketiga saudara itu kompak melengkung ke bawah dengan sempurna. Mereka tak menyangka bahwa bujukan serta rayuan mereka sama sekali tidak mempan bagi gadis kecil berambut cokelat sebahu itu.
"Sudahlah! Jangan merayunya terus!"
Hingga suara Yezra berhasil membuat semua makhluk yang berada di gazebo itu mengalihkan perhatiannya ke sumber suara.
Yezra berjalan mendekati Dyeza lantas duduk disebelahnya. "Jangan sedih! Sebentar lagi kami akan mengantarmu pulang!" ucapnya sembari mengelus-elus rambut Dyeza.
Sontak saja ucapan Yezra tersebut berhasil membuat senyuman manis terukir di wajah cantik nan imut Dyeza. "Terimakasih! Kak Yezra memang yang terbaik!" ucapnya kemudian memeluk Yezra dengan erat lalu dibalas lelaki tersebut.
Cemburu. Kesal.
Itulah yang dirasakan ketiga pangeran saat melihat adegan peluk-pelukan tersebut. Selama ini memang Yezra-lah yang paling dekat dengan Dyeza dan menuruti semua permintaannya. Dan semua saudaranya iri akan hal itu.
"Ehem! Masih ada Zarel tampan disini." sindir Zarel setelah berdeham sekilas.
Dan sindiran Zarel tersebut berhasil membuat Dyeza melepaskan pelukannya dan Yezra memutar kedua bola matanya.
"Ingat! Dunia bukan milik kalian berdua saja!" tambah Asrein seraya menatap sinis Yezra.
Yezra hanya duduk dengan tenang tak mempedulikan tatapan sinis Asrein ataupun tatapan super tajam milik Dreynan. "Aku sudah meminta izin si tua itu! Dan dia bilang waktu kita dibumi hanya 30 menit saja!"
"Kau serius mau mengantarkan Dyeza pulang? Kita kan baru saja menikah!" protes Dreynan tak terima.
"Menurutku, kebahagiaan Dyeza adalah hal yang terpenting. Jika bertemu dengan orang tuanya bisa membuat dia bahagia, lantas kenapa tidak?" Yezra tersenyum menatap Dyeza yang membalas dengan senyuman polos.
Ketiga saudara itu kompak mendengus, dan juga kompak berkata "Baiklah."
"Sekarang kau bisa pulang! Kami akan mengantarmu!" ucap Yezra seraya berdiri dan memegang tangan mungil Dyeza. "Tapi dimana Eyden?" tanyanya ketika tak mendapati sosok itu sedari tadi.
Dreynan menggelengkan kepalanya tidak tahu.
Zarel mengangkat kedua bahunya juga tidak tahu.
Asrein hanya menggaruk-garuk pelipisnya tidak mengerti.
"Ya sudah! Kita saja yang mengantarnya!" ucap Yezra kemudian merapalkan sebuah mantra hingga muncul sebuah portal menuju ke bumi.
"Ayo!" Yezra menarik tangan Dyeza dengan lembut dan mulai memasuki portal dengan disusul ketiga pangeran lainnya.
Didalam portal, Dyeza memeluk erat Yezra dengan menenggelamkan wajahnya didada lelaki itu. Ia terlalu takut. Dan Yezra balas memeluknya tak kalah erat guna mengurangi rasa takut gadis kecil tersebut.
Dan ketiga pangeran pun lagi-lagi hanya bisa menahan rasa cemburu saat melihat adegan didepan mereka tersebut.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu menit, akhirnya pusaran angin yang membawa mereka berhenti tepat didepan sebuah rumah bergaya klasik.
"Akhirnya sudah sampai!" ucap Dyeza senang setelah melepas pelukannya dari Yezra. Kakinya beranjak hendak pergi masuk ke dalam rumah, namun sebuah tangan mencekal lengannya.
"Kami memang mengantarmu pulang, tapi bukan berarti kami melepasmu. Selamanya kau adalah istri kami!" peringat Dreynan sebelum mencium kening Dyeza dan diikuti dengan ketiga saudaranya.
"Selamat tinggal!" Dreynan mengulas senyum tak rela lalu masuk ke dalam portal.
"Jangan lupa makan dan jaga baik-baik dirimu! Aku akan selalu melindungi dan mengawasimu dari kerajaan!" ucap Yezra sebelum masuk ke dalam portal, menyusul Dreynan.
"Ingat, jangan dekat-dekat dengan lelaki lain! Kau hanya milikku seorang!" tutur Asrein dan langsung mendapat jitakan keras dari Zarel.
"Milikku juga, bodoh!" bantah Zarel tak terima.
"Apa?! Kau mengataiku bodoh?! Berani sekali kau!!"
Dan mereka berdua pun akhirnya terlibat perang mulut hingga masuk ke dalam portal.
Samar-samar Dyeza bisa mendengar Zarel berkata "Aku tahu kau akan merindukanku, jadi aku akan pergi ke dalam mimpimu malam ini!"
Perlahan portal tersebut menghilang. Menyisakan Dyeza yang hanya ditemani oleh sang Dewi Bulan.
"Mereka sangat aneh." gumam Dyeza kemudian membuka pintu rumahnya.
Hal yang pertama kali ia lihat adalah kedua orang tuanya yang sedang berkacak pinggang seraya menatapnya garang.
"Ayah, ibu!" teriak Dyeza lalu kemudian mendekati kedua orang tuanya, hendak memeluk kedua insan itu.
Plakk!!
Tapi tiba-tiba ibunya menampar pipinya dengan keras. Membuat rasa sakit dan perih menjalar dipipinya.
"Dasar anak tidak tahu diri! Kemana saja kau selama ini?! Lihat, pekerjaan dirumah menumpuk malah kau enak-enakan bersama pria lain!"
Belum sempat Dyeza menjawab, ibunya sudah melanjutkan kembali ucapannya.
"Atau jangan-jangan kau menjual tubuhmu itu pada mereka? Iya?! Dasar gadis murahan! Bisanya cuma mempermalukan orang tua!!"
Plakk!!
"Ahk!"
Tamparan kedua kembali melayang dipipi Dyeza lainnya hingga membuatnya terjerembab ke atas dinginnya lantai.
"Masih kecil tapi sudah belajar menjadi seorang jalang! Aku menyesal melahirkan anak tidak berguna sepertimu!!"
Tiba-tiba ibunya menarik rambutnya hingga membuat kepalanya mendongak. Sungguh, ini rasanya sakit sekali untuk ukuran anak berusia 9 tahun.
Dan tiba-tiba tangan ibunya melayang dengan keras memukul pantatnya hingga menimbulkan bunyi yang tidak pelan.
Plakk!!
"Ahk! Ibu sakit." Air mata mulai bercucuran membasahi wajah Dyeza.
Plakk!!
"Sakit ibuu.." rasa perih nan panas kian menjadi-jadi di pantatnya setelah pukulan kedua.
"Lebih baik kau tidak usah pulang!! Bisanya cuma menyusahkan saja!!" teriak ibu Dyeza sembari menyentak rambut Dyeza dengan keras hingga membuat keningnya membentur lantai.
Tangan Dyeza terulur untuk mengusap-usap keningnya yang terasa sakit sekali. Keningnya memar dan mengeluarkan sedikit darah.
"Lebih baik kau jual saja anak tak berguna ini ke rumah b****l! Dengan begitu kita bisa mendapat uang yang banyak!!" Ayahnya yang sedari tadi diam menyaksikan, kini mulai bersuara hingga membuat Dyeza segera bangkit dan menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya.
"Tidak, ayah! Kumohon jangan!"
"Benar kata ayahmu! Jalang sepertimu memang pantas berada dirumah b****l!" Tak disangka, ibu Dyeza menyetujui ucapan suaminya tersebut.
"Aku mohon, jangan ibuu" Dyeza memegang tangan ibunya meminta permohonan, namun ibu Dyeza malah mendorong gadis kecil tersebut hingga kembali terjerembab diatas lantai.
"Jangan panggil aku ibu!! Aku tidak sudi punya anak sepertimu!!" geram ibu Dyeza.
"Ayah ibu jangaaan..."
Ayah dan ibu Dyeza berbalik dan hendak pergi, namun tiba-tiba Dyeza memegang kedua kaki sang ibu.
"Ku mohon ibu, jangaaan... Aku ini adalah anakmu.." tutur Dyeza sembari menatap wajah ibunya dengan penuh permohonan.
Tak diduga, ibu Dyeza malah menendang tubuh kecil itu dengan tak berperasaan. "Jangan berani-beraninya kau menyentuh diriku dengan tangan kotormu itu!!"
"Kau harus diberi pelajaran anak tengik!!" teriak ibu Dyeza seraya mengambil stick golf.
Mulut Dyeza terbuka tak percaya dan menatap ayahnya guna meminta pertolongan. Tapi tatapannya hanya dibalas dengan senyum pongah oleh sang ayah.
"Rasakan ini!!"
Ibu Dyeza mengayunkan stick golf tadi dan hendak memukul Dyeza.
"Ahk!"
Boom!!
Belum sempat stick tersebut mengenai Dyeza, pintu utama tiba-tiba meledak dan terbelah menjadi dua bagian hingga menyebabkan bagiannya menghantam dinding dengan sangat keras. Mengakibatkan stick golf yang dipegangi oleh ibu Dyeza hanya mengambang di udara.
Serempak semua orang yang berada disitu menoleh semua ke arah luar pintu tadi.
Dan disana, terpampang-lah dengan jelas sosok Eyden dengan wajah murka. Ralat.
Sangat murka.
"Lepaskan!"
Desisan rendah itu terdengar begitu menyeramkan ditelinga. Nadanya menyiratkan sebuah peringatan dan penuh dengan ancaman.
Mampu membuat Ayah dan ibu Dyeza menelan salivanya dengan susah payah dan mulai merasa goyah. Tapi segera mereka tepis perasaan itu dan ibu Dyeza malah bersuara mencemooh. "Hah, memangnya kau siapa berani-berani menyuruhku!!"
"Suaminya."
Hening.
Kedua orang tua Dyeza sama-sama melotot tak percaya setelah mendengar jawaban Eyden tersebut.
"KAU GILA?! Anak ini masih berusia 9 tahun!! Bagaimana mungkin bisa menjadi istrimu!!" Teriak ibu Dyeza sembari menunjuk Dyeza yang sedang terisak.
"Lagipula jika dilihat-lihat kau juga masih berusia 14 tahun!! Lelucon macam apa ini?!" Kini ayah Dyeza yang memprotes.
Eyden bergeming. Matanya menatap lurus ke arah dyeza yang keadaannya sangat mengenaskan.
Rambut acak-acakan, wajah yang penuh dengan lebam. Serta baju yang berantakan dan sangat kusut. Bahkan air matanya pun tidak berhenti mengalir sampai sekarang.
"Oh, aku tahu!" Ibu Dyeza kembali bersuara saat protesannya tadi diabaikan oleh lelaki bersurai hitam ini. "Pasti kau sudah lebih dulu menjual tubuhmu pada lelaki ini supaya dinikahi, iya kan?!"
"Dasar perempuan jalang!!" maki ibu Dyeza seraya mengayunkan stick golf tadi, hendak memukul Dyeza.
Namun tiba-tiba, stick golf tersebut seakan tertarik oleh sesuatu hingga melayang dan membentur didinding.
"K-kau bukan manusia?!" kaget ayah Dyeza dan menatap horor lelaki itu.
Eyden masih bergeming. Matanya masih memancarkan aura kemarahan yang tinggi dengan rahangnya yang masih mengeras sedari tadi.
Dengan perlahan, dia mendekat kepada Dyeza lantas berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu. Tangannya bergerak merapikan anak rambut Dyeza yang melenceng kemana-mana.
Sedangkan Dyeza, manik mata cokelat-nya tak beralih menatap Pangeran berkuda putih-nya yang dibalas dengan tatapan intens.
Ya, semenjak Eyden menyelamatkan Dyeza ketika dikejar-kejar oleh seekor serigala, gadis tersebut memberi julukan 'Pangeran berkuda putih' padanya.
Tiba-tiba Eyden merasakan sebuah benda menekan sisi kepalanya dengan lumayan keras.
"Katakan kalimat terakhirmu."
Ayah Dyeza tersenyum angkuh sembari menodongkan sebuah revolver tepat di sisi kepala Eyden. Dia melirik sang istri yang juga tengah tersenyum angkuh seraya melipat kedua tangannya didada.
Namun kejadian yang sama terulang kembali. Revolver yang dipegang oleh ayah Dyeza tiba-tiba melayang dengan sendirinya dan kali ini membuat benda itu terjatuh jauh dari jangkauan ayah dan ibu Dyeza.
"Ternyata kau memang bukanlah seorang manusia!" geram ayah Dyeza. Kemudian ia memandang istrinya dan mengangguk bersamaan sebelum bibir mereka kompak berkomat-kamit merapalkan sebuah mantra.
Dan Eyden tahu apa mantra tersebut. Dia tidak menyangka manusia bodoh ini ternyata bersekutu dengan iblis.
Ya, itu adalah mantra pemanggil iblis dari neraka.
Eyden memejamkan matanya dan merapalkan sebuah mantra didalam hatinya. Mantra untuk membuat portal pelindung agar tidak ada manusia disekitar sini yang mengetahui kalau akan ada hal diluar nalar manusia disini.
Tak lama kemudian, muncul sesosok iblis menyeramkan dari neraka yang wajahnya berhasil membuat Dyeza memekik pelan. Iblis-iblis lainnya pun mulai bermunculan hingga hampir memenuhi rumah ini.
Sontak hal itu mau tak mau harus membuat Eyden menggendong Dyeza dan langsung pergi keluar dari rumah. Karna ia tahu kalau rumah ini terlalu sempit dan ia takut Dyeza akan terkena serangannya nanti.
Eyden menurunkan Dyeza dari gendongannya dan mendudukan gadis tersebut diatas sebuah gazebo kecil didepan rumah Dyeza.
Tak lama kemudian iblis-iblis tadi mulai bermunculan dari balik rumah Dyeza dan langsung berbondong-bondong menyerang Eyden.
Namun Eyden tetap tenang dan berdiri membelakangi Dyeza seolah menjadi tameng untuk gadis tersebut.
Gerombolan iblis itu mulai mendekat dan mengeluarkan api dari balik tangan mereka.
Ketika mereka hendak menyerang Eyden dengan api tersebut, Eyden sudah terlebih dahulu menyerang mereka dengan menggunakan kekuatan es miliknya.
Iblis-iblis yang terkena serangan es dari Eyden, badannya langsung membeku seketika lalu hancur berkeping-keping. Jumlah pasukan iblis pun mulai berkurang, namun tetap saja masih terlihat sangat banyak.
Segerombolan iblis lainnya datang dari samping kiri Eyden dan hendak menyerangnya. Tapi Eyden sudah terlebih dahulu mengeluarkan pedang sihirnya yang memancarkan cahaya berwarna biru dan menebas kepala para iblis dengan satu kali gerakan. Gerakannya sangat cepat dengan perhitungkan waktu yang tepat.
Kepala para iblis itu menggelinding ke tanah dan berubah menjadi abu. Mengakibatkan iblis-iblis itu hanya tinggal badannya saja.
Dyeza menutup mulutnya agar tidak memekik ketika salah satu kepala iblis berada tepat dihadapannya. Jujur ia sangat takut! Bahkan badannya bergetar hebat sekarang.
Namun tiba-tiba, kepala iblis itu mendadak muncul kembali dan mulai menyatu dengan badannya. Seolah serangan pedang Eyden tadi tidak berarti apa-apa.
Dan Eyden mulai sadar setelah melihat kejadian itu. Ternyata iblis yang dia hadapi bukanlah iblis biasa, dan dia tidak mungkin melawannya sendirian karna tenaganya akan cepat terkuras dan mereka kemungkinan bisa menyakiti Dyeza. Dan satu-satunya cara agar dapat mengalahkan mereka yaitu dengan memanggil adiknya.
Asrein.
Kekuatan memanggil roh atau arwah yang dimiliki oleh Asrein memang hal yang paling dibutuhkan oleh Eyden sekarang. Karena roh pengikut Asrein memiliki kekuatan yang setara atau bahkan melebihi iblis-iblis tersebut.
Satu tebasan berhasil membuat tubuh segerombolan iblis dari samping kanan Eyden terbelah menjadi dua bagian. Didalam hati, Eyden terus memanggil nama Asrein sembari menyerang para iblis dengan pedang sihirnya.
Sedangkan Dyeza, sebenarnya ia ingin membantu Pangeran berkuda putih-nya, tapi apa daya ia terlalu lemah dan hanya bisa berdoa agar lelaki dingin nan datar itu tidak kenapa-napa.
Tak lama kemudian, muncul Asrein dengan wajah kebingungan karena melihat banyaknya iblis-iblis didaerah manusia. Namun bukan hanya Asrein yang kesini, melainkan juga ketiga saudaranya yang lain. Dan mereka sama bingungnya dengan Asrein.
"Eyden apa yang terjadi? Kenapa bisa ada iblis disini?!" tanya Zarel seraya menendang kepala iblis yang belum menjadi abu.
Suara pekikan kecil mau tak mau membuat keempat pangeran mengalihkan perhatiannya ke sumber suara.
Ternyata kepala iblis yang ditendang oleh Zarel tadi berhenti tepat didepan kaki Dyeza dan membuat gadis itu memekik ketakutan.
Dan keempat pangeran kompak melotot ketika mendapati penampilan Dyeza yang mengenaskan.
"DYEZA!!" teriak mereka bersamaan.
Kemudian keempat pangeran tadi selain Asrein langsung mendekati Dyeza dan memberi berbagai pertanyaan.
"Ada apa dengannya?! Kenapa dia bisa jadi seperti itu!!" Teriak Asrein dengan iris biru kehijauannya yang menggelap.
Eyden yang sedang mengatasi serangan para iblis pun mulai mengirimkan kejadian tadi ke masing-masing pikiran saudara-saudaranya. Sebenarnya pikirannya tidak ingin mereka mengetahui hal ini, namun hatinya mengatakan bahwa mereka juga berhak tahu. Dan dia lebih memilih mengikuti kata hatinya.
Ada berbagai macam ekspresi dan reaksi ketika keempat saudara Eyden mengetahui kejadian yang menimpa Dyeza tadi. Bagaimana istri mereka di siksa oleh ayah dan ibu gadis kecil itu sendiri.
Dreynan yang langsung menyerang para iblis disebelahnya dengan membabi buta.
Zarel yang segera berlari mencari ayah dan ibu Dyeza namun malah dihadang oleh gerombolan iblis.
Yezra yang matanya sudah berwarna semerah darah, langsung memeluk Dyeza lalu mengobati luka-luka gadis tersebut.
Dan Asrein yang mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya diliputi oleh amarah dengan asap hitam yang mulai keluar dari balik tubuhnya.
Asap hitam itu berkumpul menjadi satu dan perlahan mulai membentuk sosok roh kegelapan dengan wajah retak yang mengeluarkan banyak sekali darah. Roh itu mempunyai tangan, namun tak mempunyai kaki. Bahkan salah satu tangannya itu hanya separuh saja dan mengeluarkan darah yang tak berhenti mengucur keluar dari ujungnya.
Dan roh tersebut membelah menjadi beberapa bagian hingga mencapai sekitar 10 roh yang dipanggil oleh Asrein dari neraka paling bawah.
"Serang!"
Hanya satu perintah, namun para roh menyeramkan itu langsung menyerang iblis-iblis yang sangat banyak tersebut.
Disisi kanan ada Dreynan yang menyerang segerombolan iblis dengan akar-akar pohon yang keluar dari balik telapak tangannya. Akar-akar tersebut membelit sang iblis hingga tubuhnya hancur dan menjadi abu.
Disisi kiri depan pintu masuk, ada Zarel yang sedang menyerang para iblis yang menghalangi jalannya untuk menghabisi Ayah dan ibu Dyeza. Dia mengeluarkan aliran listrik dari tangannya dan langsung menyengat para iblis tersebut hingga menjadi abu.
Tapi tanpa Zarel sadari, sesuatu tengah membidiknya dari balik jendela. Sepasang mata itu memfokuskan sasarannya ke titik yaitu pada d**a sebelah kiri Zarel.
Ketika merasa sudah tepat pada sasaran, sepasang mata itu melepaskan pelatuknya bersamaan dengan Zarel yang tiba-tiba membungkuk karena ada iblis yang belum menjadi abu memegangi kakinya. Alhasil peluru tersebut melenceng ke arah yang lain.
Dorr!!
"Argh!"
"DYEZA!!!"
Dyeza menangis keras ketika merasakan sakit dan panas luar biasa di bahu kanannya. Sebuah peluru bersarang disana.
Kelima pangeran kompak melotot kaget dan berteriak ketika mendengar suara letusan dan jeritan Dyeza. Keempat pangeran yang sedang bertarung langsung menyerang para iblis dengan membabi buta hingga menyisakan sedikit sekali iblis yang tersisa.
Sedangkan Yezra, dia yang kekuatannya memang belum sempurna itu, segera menyobek jubahnya yang terbuat dari rajutan benang emas lalu mengikatkannya pada bahu Dyeza untuk menghentikan pendarahan. Pelurunya bisa diambil nanti, karna yang terpenting adalah Dyeza tidak kehilangan banyak darah.
Serangan terakhir roh Asrein terhadap iblis terakhir mengakhiri perang dadakan ini. Keempat pangeran sempat melihat ke arah Dyeza yang meringis kesakitan. Tanpa aba-aba lagi, mereka berbalik dan langsung melangkah menuju ke dalam rumah dengan penuh emosi disetiap langkahnya.
"Maaf, kekuatanku belum sempurna. Aku tidak bisa mengobatimu karena luka ini terlalu dalam." Yezra mengernyit sedih."Mungkin aku bisa menghilangkan rasa sakitnya sedikit."
Bibir Yezra merapalkan sebuah mantra sebelum mengusapkan tangannya pada bahu Dyeza yang terikat oleh sobekan jubahnya. Sebenarnya jubah ini adalah jubah kesayangannya, karena bahan-bahan untuk membuat jubah ini sangat langka dan merupakan hadiah atas kelulusan-nya dalam menguasai teknik pedang. Tapi jikalau bersangkutan dengan Dyeza, ia sama sekali tidak menyesal dan malah bangga karena bisa menyelamatkan istrinya.
"Kau tunggu disini sebentar! Jangan pergi kemana-mana! Ok?"
Dyeza hanya mengangguk lemah. Rasa sakit dibahunya memang sedikit berkurang, namun tetap saja rasanya sangat sakit.
Yezra yang sebelumnya duduk itu langsung berdiri dan berbalik meninggalkan Dyeza untuk menyusul saudara-saudaranya.
Langkah lelaki berusia 11 tahun itu terhenti diambang pintu ketika mendapati bahwa saudara-saudaranya tengah menyiksa kedua orang tua Dyeza.
Ayah Dyeza sedang berdiri dengan badan kaku tak bisa digerakkan karna sedang disihir oleh Zarel. Dimana Dreynan dan Zarel tengah mencambuki tubuh ayah Dyeza yang shirtless hingga menyebabkan pria itu menjerit kesakitan.
Sedangkan ibu Dyeza sedang disiksa oleh Asrein dengan me-reka ulang apa yang dibuat wanita tersebut kepada Dyeza tadi.
Plakk!!
Kepala ibu Dyeza sampai menoleh kesamping karena kerasnya tamparan Asrein. Bahkan bibirnya langsung mengeluarkan darah segar.
"Owh, maaf aku tak sengaja! Tanganku bergerak sendiri!" ucap Asrein dengan wajah pura-pura sedih.
Plakk!!
Tamparan kedua kembali mendarat dipipi ibu Dyeza, kali ini berhasil membuat wanita tersebut sampai jatuh terjerembab ke atas lantai.
"Lihat, bergerak sendiri kan?"
Tangan ibu Dyeza memegang pipinya yang terasa perih dan panas sembari menatap Asrein dengan penuh kebencian. "Dasar bocah gila!! Tidak tahu tata krama pada orang tua!! Lepaskan suamiku!!"
"Hahahaha"
Asrein malah tertawa keras hingga membuat garis ketampanan lelaki berusia 12 tahun itu semakin bertambah. Namun tawa itu terasa menyeramkan jika didengar oleh telinga manusia, ada ancaman tersirat disana.
Tiba-tiba Asrein menghentikan tawanya mendadak lalu dalam sekejap sudah berjongkok dan menjambak rambut ibu Dyeza hingga membuat wajah wanita tersebut mendongak.
"Tata krama kau bilang? Hahahaha" Asrein kembali tertawa dingin namun tangannya semakin kuat menjambak rambut ibu Dyeza hingga membuat wanita itu meringis. "Buat apa aku bertata krama kepada manusia macam kau!!" desisnya setelah sebelumnya menghentikan tawanya secara tiba-tiba.
"Ahk!" erang ibu Dyeza ketika tangan Asrein mencengkeram rahangnya seolah ingin meremukkannya saat itu juga.
"Dan kau bilang mau menjual Dyeza-ku ke rumah b****l? Hah!!" Asrein menyentak rambut ibu Dyeza dengan kasar hingga kening wanita tersebut membentur lantai, persis apa yang dialami oleh Dyeza tadi.
"Dia milikku!! Istriku!! Dan aku tidak suka apapun yang menjadi milikku disentuh oleh orang lain selain aku dan saudara-saudaraku!!"
Asrein berteriak keras didepan ibu Dyeza dengan amarahnya yang membara. Napasnya memburu karna emosi dengan urat-urat yang terlihat diwajahnya.
Raut terkejut langsung terlihat diwajah ibu Dyeza ketika mendengar teriakan Asrein tersebut. "Jadi kau dan saudara-saudaramu itu telah menikahi gadis tengik itu?! Kalian berlima?!"
Tak ayal Asrein merasa tersinggung, bibir seksinya terbuka hendak berbicara kembali. Namun kalimat yang terlontar dari mulut ibu Dyeza berhasil memporak-porandakan emosinya.
"Gadis tengik itu benar-benar tidak tahu diri! Dasar jalang! Kelakuannya saja lebih rendah daripada seekor binatang! Bisa-bisanya dia menikah dengan lima lelaki sekaligus!!"
Dan detik itu juga stick golf langsung mendarat di kening ibu Dyeza dengan tidak pelan. Berhasil membuat kening wanita itu keluar banyak sekali darah serta diiringi oleh suara jeritannya.
Asrein melempar stick tersebut sembarang arah sembari menatap nyalang ibu Dyeza yang tergeletak nyaris pingsan. Sama sekali tidak ada perasaan bersalah atas tindakannya tadi, justru ia merasa sangat senang!
"Kalau Dyeza kelakuannya lebih rendah daripada binatang, kalau begitu kau itu apa?!" geram Asrein.
Ibu Dyeza hanya bergeming. Kepalanya serasa mau pecah akibat rasa sakit luar biasa di keningnya.
"Sebenarnya aku belum puas bermain-main denganmu, tapi kau terlalu cepat tumbang. Jadi lebih baik kau..." Asrein menyeringai kejam.
"Mati saja."
Tangan Asrein terangkat hendak mengeluarkan sihirnya, namun sebuah suara berhasil menghentikan niatnya.
"JANGAN ASREIN!!"
Yezra berteriak keras sebelum melangkah maju mendekati Asrein. Dia meraih tangan Asrein yang tergantung diudara lalu hendak menurunkannya perlahan, namun malah ditarik dengan kasar oleh Asrein yang merasa kesenangannya telah diganggu.
"Jangan membunuhnya! Ingat, walau bagaimanapun dia yang sudah melahirkan Dyeza. Tanpa dia, Dyeza tidak akan ada dibumi dan bertemu dengan kita."
Asrein mendengus kesal, tapi tak ayal ia membenarkan perkataan Yezra dihatinya.
Brukk!
Ayah Dyeza yang sudah hampir sekarat dilempar oleh Dreynan tepat ke samping ibu Dyeza. Sekujur tubuhnya penuh dengan cambukan hasil kemarahan Dreynan dan juga Zarel. Mereka tadi mengamuk saat mengetahui kalau ayah Dyeza-lah yang menembak Dyeza dan berusaha mencelakai Zarel.
Semua pangeran mendekat termasuk Eyden yang sedari tadi hanya diam menyaksikan semuanya dengan ekspresi datar nan dingin.
"Kenapa kalian tidak membunuh kami saja hah?! Oh, apa kalian takut?" Walaupun hampir sekarat, ayah Dyeza masih bisa bersuara yang mampu membuat Asrein mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan emosinya.
"Berterimakasihlah kalian pada Dyeza. Jika kalian bukan orang tuanya, kami pasti akan menghabisi kalian hanya dalam satu kedipan mata!" ucap Zarel seraya tersenyum miring.
"Buat apa aku berterimakasih kepada bocah s****n itu!" Ayah Dyeza memegangi dadanya yang terasa sakit nan sesak. Bernapas saja ia susah, apalagi bicara.
"Bocah seperti itu memang pantas mendapatkan perlakuan kasar."
Ibu Dyeza yang masih setengah sadar, menambahi ucapan suaminya. "Benar, bahkan aku sangat ingin melenyapkannya sekarang!".
Dan sedetik kemudian, sepasang tangan sudah bertengger manis di masing-masing leher ayah dan ibu Dyeza.
Tapi yang lebih mengejutkan adalah tangan tersebut merupakan tangan milik laki-laki yang sama sekali tidak diduga melakukan hal itu.
Tangan Eyden.
Masing-masing tangan Eyden mencekik leher kedua orang tua Dyeza. Kali ini tidak ada yang mencegah tindakan Eyden tersebut, bahkan Yezra sekalipun.
"Le-lepaskan! Uhuk.. Uhuk..." ibu Dyeza mencengkeram tangan Eyden yang mencekik lehernya agar terlepas begitupun ayah Dyeza. Mereka berdua sama-sama kesulitan bernapas dan meronta hebat ketika merasakan pasokan udara di paru-parunya mulai menipis. Dan akhirnya perlahan perlawanan mereka mulai mengendor dan tubuh mereka tidak bergerak sama sekali.
"Ayah! Ibu!"
Suara teriakan Dyeza berhasil membuat kelima pangeran mengalihkan perhatiannya ke asal suara.
Gadis kecil bernama Dyeza itu tengah berdiri diambang pintu dengan wajah berlinang air mata. Dia menggelengkan kepalanya tak percaya ketika melihat bagaimana orang tuanya sudah tidak lagi bernyawa dengan keadaan mengenaskan.
"Pangeran berkuda putih kau pembunuh! Aku membencimu!!" teriaknya dengan sorot mata terluka.
Dia bergerak mundur ketika para pangeran mulai mendekatinya.
"Jangan takut!kami tidak akan menyakitimu!" ucap Dreynan berusaha menenangkan Dyeza.
"Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" sentak Dyeza ketika Yezra hendak meraih lengannya.
"Kau harus mendengar penjelasan kami terlebih dahulu!" kini Zarel yang berusaha membujuk Dyeza.
"Ti-tidak!jangan mendekat!" peringat Dyeza.
"Jangan keras kepala!Kami melakukan semua itu karna kau adalah istri kami!" tutur Asrein.
Sedangkan Eyden, lelaki yang usianya terpaut 5 tahun lebih tua dari Dyeza itu hanya bergeming dengan wajahnya yang kali ini menunjukkan ekspresi sedih.
Dyeza menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum berbalik dan lari dengan sekuat tenaga yang ia punya.
Para pangeran pun tentu saja langsung mengejar Dyeza dengan kaki mereka yang jenjang. Karena panik, mereka tidak bisa berpikir jernih sekarang. Padahal mereka bisa saja menggunakan kekuatan sihir mereka untuk menangkap Dyeza.
"Dyeza kembali!"
"Jangan berlari! Nanti kau bisa terjatuh, lukamu pun juga belum sembuh!"
"Kami bisa jelaskan semuanya!"
Sayup-sayup terdengar suara kelima pangeran dari arah belakang Dyeza. Namun gadis itu tetap berlari dengan sekuat tenaga mengikuti jalan setapak dibelakang rumahnya yang mengarah langsung ke hutan.
Kepalanya menoleh kebelakang dan matanya langsung membelalak kaget ketika mendapati jarak antara dia dengan kelima pangeran hanya tinggal beberapa meter saja.
"Tidak! Aku benci kalian! Kalian telah memb--aaargh"
Namun naas, saat Dyeza menolehkan kepalanya ke belakang, tanpa sadar dia sudah berada dipinggir jurang. Badan gadis itu pun terjatuh berguling-guling di kemiringan tanah di jurang yang cukup terjal.
"DYEZAAA.."
Para pangeran serentak mempercepat langkah mereka. Namun tiba-tiba tubuh mereka perlahan menjadi transparan dan mereka langsung ingat bahwa waktu mereka sudah tepat 30 menit dibumi.
"Tidaaak.."
Tubuh mereka pun akhirnya menghilang sempurna bersamaan dengan hati mereka yang hancur berantakan ketika melihat tubuh Dyeza yang terbaring tak berdaya di atas tanah.
Tak lama kemudian, muncul seseorang dari balik kegelapan yang ternyata adalah seorang pemburu dengan s*****a api dilengannya. Beliau sempat terkejut ketika mendapati sesosok badan perempuan yang berada diujung jurang, namun segera berteriak meminta bantuan kepada teman-temannya yang berada tak jauh dari posisinya.
"Hey, teman-teman! Ayo cepat kemari! Aku menemukan seseorang disini!"