Mata itu terbuka cepat dan memperlihatkan manik cokelat yang bulat nan indah. Bulir keringat berkilauan di setiap pinggiran wajahnya terutama didaerah kening. Bibir itu terbuka sedikit, bersamaan dengan bulir bening yang terjatuh dari kelopak mata indahnya.
Lama kelamaan bulir bening itu semakin banyak berjatuhan hingga bibir gadis itu mengeluarkan suara isakan pelan.
Sekarang dia hanya bisa menangis. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Orang tuanya memang menyiksanya, tapi para pangeran juga tidak berhak membunuh ayah dan ibunya begitu saja.
Dia telah mengingat semuanya.
Ya, Dyeza sudah mengingat semua masa lalunya.
Kilasan ingatan tentang bagaimana Eyden mencekik kedua orang tuanya hingga mati membuat isakannya semakin lama semakin bertambah keras.
Dan suara isakannya tersebut berhasil membuat lelaki bersurai hitam kecoklatan yang tengah tertidur di kursi panjang membuka matanya cepat.
"Dyeza!"
Dyeza tak perlu menoleh karna dari suaranya saja ia sudah mengetahui siapa lelaki tersebut. Ia tidak peduli. Namun ketika ia merasa ranjang yang ia tempati bertambah berat, ia langsung menjauhkan tubuhnya hendak pergi. Tapi ia kalah cepat, tangan lelaki tersebut langsung sigap menahan lengannya.
Ia memberontak ketika lelaki tersebut membawa tubuhnya ke dalam pelukan lelaki yang dulu sangat ia sayangi dan kagumi ini. Ia pikir lelaki ini adalah lelaki yang paling baik daripada keempat saudaranya, namun ternyata sama saja. Mereka semua sama-sama jahat dan kejam!
"Lepaskan aku, Yezra!" teriak Dyeza kurang jelas karena wajahnya terbenam didada Yezra.
"Maafkan aku." lirih Yezra sembari mengeratkan pelukannya. Hatinya menyesal kenapa dulu ia tidak menghentikan Eyden untuk menghabisi orang tua Dyeza.
Dyeza tahu permintaan maaf Yezra adalah tulus dari hati, tapi rasa sakit dan kecewa sudah menutupi sebagian besar ruang dihatinya. "Kau jahat! Kalian semua jahat!!" teriak Dyeza frustasi dan tangisannya semakin keras hingga membuat air matanya membasahi hanfu yang dikenakan oleh Yezra.
Yezra menggumamkan kata maaf berkali-kali seraya mencium puncak kepala Dyeza yang rambutnya menguar aroma mawar yang memabukkan.
"Dengarkan aku!" Tangan Yezra menangkup wajah Dyeza agar menatapnya. Hatinya sangat sedih saat melihat wajah gadis ini bersimbah air mata."Kami melakukan semua itu karena kami tidak ingin ada orang yang menyakitimu! Kau adalah jiwa kami, pemilik hati kami. Jika kau tersakiti, kami pun juga akan sakit. Tidak ada hal yang lebih mengerikan didunia ini selain melihat dirimu tersakiti. Dan air mata ini.. " Yezra mengusap lembut air mata yang menetes dari kelopak mata Dyeza."Kami benci melihatnya! Apalagi air mata ini jatuh karna kami."
"Kau tidak pernah tahu bagaimana hancurnya hati kami ketika melihat kau disiksa sedemikian rupa oleh ayah dan ibumu. Jikalau saja kami membiarkanmu tetap bersama mereka, kami tidak akan mampu melihat kau tersakiti dan menangis sepanjang hari."
Dyeza menepis kasar tangan Yezra diwajahnya lalu menatap sinis lelaki tersebut. "Bullshit!"
Bibir Yezra terbuka hendak berbicara, tapi sudah terlebih dahulu dipotong oleh Dyeza.
"Mungkin dulu aku bisa percaya. Tapi sekarang tidak! Aku sudah tidak mempercayaimu lagi. Terimakasih atas gombalan dan rayuan manismu selama ini. Dan selamat, kau berhasil menipuku dengan kata-kata manismu itu."
Dyeza mendorong d**a Yezra lalu beranjak dari pelukan Yezra yang mengendur. Ia menghapus air mata yang tak bisa berhenti menetes dengan kasar sembari melangkah menjauh dari kamarnya.
Meninggalkan Yezra yang masih terpaku dengan tubuh lemas tak berdaya. Dia tidak menyangka bahwa Dyeza akan berbicara seperti itu. Gadis itu bilang bahwa perkataannya tadi hanyalah omong kosong belaka, Padahal semua itu adalah murni dan tulus dari dalam hatinya.
Sakit.
Sakit sekali rasanya saat orang yang kita cintai sudah tidak mempercayai kita lagi.
Sungguh. Ini sangat sakit.
-----------------------------------------------
Dyeza berjalan dengan gontai disepanjang koridor castle sebelah utara. Gadis itu bahkan tak mempedulikan telapak kakinya akan kotor karna tidak memakai alas kaki. Tatapannya lurus kedepan dengan pandangan kosong. Lebam diwajahnya sudah hilang tak berbekas, dan ia tidak heran akan hal itu. Dunia sihir memang luar biasa.
Yang ada diotaknya sekarang hanyalah segera menemui b*****h Hrym untuk mengantarnya pulang ke dunia manusia. Jujur sebenarnya ia sangat kesal saat mengetahui bahwa penjelasan Hrym kemarin sebagian besar hanyalah kebohongan semata, namun harus bagaimana lagi, hanya Hrym yang bisa mengantarkannya pulang sekarang.
Jauh didalam hatinya ia merasa sangat kecewa sekaligus sedih jikalau mengingat hanya Yezra-lah yang selama ini peduli padanya. Contohnya tadi, kenapa hanya ada Yezra dikamarnya? Dimana para pangeran yang mengaku sebagai suaminya itu?
Selama ini juga hanya Yezra yang bersikap baik dan lembut padanya.
Mengingat soal Yezra, jujur ia tak menyangka kata-kata tadi terucap begitu saja lewat bibirnya. Ia tidak mau Yezra terluka, tapi ia juga tak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Pintu kamar Hrym mulai terlihat. Ketika seorang penjaga hendak berteriak untuk mengabarkan kedatangannya, dengan cepat ia menaruh telunjuknya dibibir guna mengisyaratkan penjaga itu untuk diam.
"Ada siapa saja dikamar Pangeran Hrym?"tanya Dyeza saat telinganya mendengar suara keributan dari dalam.
"Didalam ada Pangeran Hrym, Pangeran Dreynan, Pangeran Asrein, dan juga Pangeran Zarel, tuan puteri."
Helaan napas keluar dari bibir Dyeza. Tanpa kata ia berbalik dan beranjak pergi. Karna tidak mungkin ia masuk ke dalam kamar Hrym sebab ia belum sanggup menghadapi ketiga suaminya itu.
Dyeza berjalan tak tentu arah dengan pikiran melayang kemana-mana. Wajahnya penuh dengan air mata yang mengering dan mata yang sembab akibat terlalu lama menangis.
Untuk sekian kalinya ia tak tahu apa yang harus ia perbuat sekarang. Kenapa hidupnya harus serumit ini? Kenapa hidupnya tidak sama seperti remaja pada umumnya? Apa salah yang ia perbuat hingga harus dihadapkan dengan kenyataan menyakitkan seperti ini? Apa salahnya? Apa!!!
Dyeza sama sekali tak menyangka bahwa realita kehidupannya akan serumit ini. Padahal yang ia inginkan hanyalah menjadi orang sukses dan menikah dengan pria yang ia cintai.
Memimpikan seseorang yang ia cintai akan ada disampingnya sewaktu bangun pagi. Memandang wajah polosnya ketika matanya terpejam, dan membuatkannya sarapan serta memakaikan dasi seperti suami-istri pada umumnya. Membangun rumah tangga yang harmonis sampai terdengar gelak tawa malaikat kecilnya kelak. Membesarkannya dengan penuh kasih sayang hingga menjadi orang sukses dan selalu berbahagia.
Namun nyatanya hal itu hanyalah angan-angan belaka. Jalan kehidupannya sangat berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Penuh dengan lika-liku rumit yang ingin membuatnya tidak dilahirkan didunia ini saja.
Lamunan Dyeza terbuyar seiring dengan langkah kakinya yang juga spontan berhenti ketika matanya menangkap sesosok lelaki yang sangat-sangat tidak ingin ia temui sekarang.
Sosok itu tengah berdiri diujung koridor dengan tatapan mata tajam menatap Dyeza dengan intens. Wajah datar tanpa ekspresi yang mampu membuat semua orang susah menebak apa yang dirasakan oleh lelaki ini.
Eyden.
Tidak! Dyeza tidak akan berbalik dan berlari seperti pengecut. Kali ini ia harus bisa melawan semua ketakutannya dan berusaha bersikap berani dan tak akan menoleh ke belakang lagi.
Tanpa keraguan ataupun hal semacamnya, Dyeza kembali melanjutkan langkahnya dengan tatapan mata lurus nan kosong. Hingga perlahan jarak antara ia dengan Eyden mulai terkikis seiring dengan debaran jantungnya yang sama sekali tidak bisa diajak kompromi.
"Maaf."
Langkah Dyeza terhenti bersamaan dengan sebuah lengan kokoh yang menahan lengannya. Kepalanya reflek menoleh ke samping saat indera pendengarannya menangkap kata yang sakral diucapkan oleh seorang Pangeran Misterius bernama Eyden.
"Kau berharap aku akan mengatakan kata itu. Tapi sampai kapanpun aku takkan mengucapkannya karena aku sama sekali tak menyesal menghabisi mereka." ucap Eyden dingin dengan tatapan mata lurus ke depan. Mungkin kalau ada Zarel disini, lelaki itu akan berteriak heboh karna ini adalah kali pertama Eyden berbicara sepanjang itu.
"Kenapa?" kata itu keluar begitu saja dari bibir Dyeza sembari menatap Eyden sendu.
Kali ini Eyden menoleh dan mata tajamnya menghunus wajah Dyeza. "Karna aku tidak suka ada yang menyakiti belahan jiwaku."
Dyeza sempat terpana ketika kalimat 'Belahan Jiwaku' keluar dari balik bibir Eyden. Namun hanya beberapa detik saja. "Kau egois."
"Aku egois hanya karna ingin melindungi apa yang aku punya. Apakah itu salah?" Eyden melepas lengan Dyeza dan tubuhnya beralih menghadap tepat ke arah gadis tersebut.
"Kau membunuh orang tuaku!!Satu-satunya keluarga yang aku punya didunia ini. Mereka memang menyiksaku, tapi tetap saja merekalah yang merawatku dari kecil!! Tanpa mereka aku tidak ada didunia ini kau tahu!!" teriak Dyeza tepat didepan wajah Eyden. Matanya sekarang memancarkan sorot kebencian dan kekecewaan yang mendalam.
"Setelah kau menghabisi mereka demi keegoisanmu, kau sama sekali tidak menyesal?! Sungguh, aku membencimu Eyden!!" lanjutnya sembari menunjuk-nunjuk Eyden dengan telunjuknya.
"Kau jahat Eyden! Jahat!! Aku membencimu!! Sungguh sangat-sangat membencimu! Gara-gara kau, aku menjadi yatim piatu dan harus hidup mati-matian selama 9 tahun!! Aku membencimu!" teriak Dyeza histeris seraya memukul-mukul d**a Eyden. Air mata mulai berlinang membasahi wajahnya. Ia sangat terluka.
Sedangkan Eyden, dia bergeming ditempatnya dengan tatapan mata kosong kedepan. Entah apa yang dipikirkan oleh lelaki itu sekarang.
Dyeza menatap wajah Eyden sekilas sebelum berhenti memukuli tubuh Eyden dan berjalan meninggalkannya.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan, langkahnya kembali terhenti ketika mendengar lirihan Eyden.
"Apa aku memang tak pantas untuk dicintai?"
Deg!
Brukk!!
Dyeza langsung membalikkan badannya dan matanya langsung membelalak kaget saat mendapati tubuh Eyden yang terkapar tak sadarkan diri diatas lantai.
"EYDEN!!!"
Dyeza berlari dan langsung menghampiri Eyden yang tak sadarkan diri.
"Eyden bangun! Eyden!" ucap Dyeza panik sekaligus khawatir sembari menepuk-nepuk pipi Eyden pelan. Namun kelopak mata itu tetap tidak mau terbuka, tetap menyembunyikan manik mata hitam kelam milik lelaki tersebut.
Mata Dyeza kian membulat sempurna ketika matanya melihat cairan merah pekat nan kental merembes keluar dari balik d**a dan perut Eyden. Membuat hanfu putih yang dikenakan oleh Eyden menjadi berwarna merah.
Tangan Dyeza merayap lalu menyentuh cairan tersebut. Tangannya bergetar hebat saat mengetahui cairan apa itu.
Darah.