Dyeza hanya bisa menghela napas berat dengan tatapan matanya yang terfokus pada satu titik yaitu wajah Eyden yang sedang tak sadarkan diri.
Tadi Eyden sudah ditangani oleh Tabib Han, dan kata tabib itu Eyden mengalami luka dalam dan akan lama sadarnya. Tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang yaitu kenapa lelaki ini bisa terluka dalam?
Sekali lagi Dyeza hanya bisa menghela napas. Jujur ia tidak tahu perasaannya mengenai Eyden sekarang. Ia membencinya saat mengingat bahwa Eyden-lah yang menghabisi orang tuanya, tapi ia juga panik sekaligus khawatir saat dia dalam kondisi seperti ini. Jadi, benci atau...
Cinta?
Dyeza menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mungkin ia mencintai Eyden. Lelaki ini sama sekali bukan tipenya, dia terlalu dingin dan misterius.
Tapi terlepas dari itu, ia belum memberitahu keadaan Eyden kepada yang lainnya. Ia tidak mau mereka semua khawatir. Mungkin ia bisa memberitahu ketika kondisi Eyden sudah membaik nanti.
"Dia akan baik-baik saja, nak."
Dyeza menoleh ketika mendengar suara itu. Matanya melihat Raja kerajaan ini sekaligus ayah dari kelima suaminya berjalan mendekatinya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu?
"Aku sempat melihatmu membawa Eyden tadi." ucap Raja Varlsyien seolah bisa membaca pikiran Dyeza. Matanya menatap lekat sang putera yang terbaring lemah diatas peraduan.
Dyeza bergeming.
Selama ini ia tidak terlalu dekat dengan Raja Varlsyien. Sewaktu kecil dulu ia hanya bertemu sekitar 3 kali saja karena selalu dilarang oleh para pangeran. Dan ia tidak tahu kenapa mereka melarangnya.
"Ayah, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?"
Raja Varlsyien tersenyum lembut."Apapun akan aku jawab semampuku."
Menghela napas, Dyeza bertanya "Kenapa Eyden bisa jadi seperti ini?"
Keadaan sempat hening. Sebelum terdengar suara helaan napas berat keluar dari balik bibir Raja Varlsyien.
"Dia terikat dengan sebuah sumpah."
Mengernyit, Dyeza menoleh bingung. "Sumpah?"
Raja Varlsyien baru saja menghadiri pertemuan para raja-raja kaum penyihir yang ada di dimensi mereka. Membahas berbagai hal mulai dari proyek kerja sama hingga sekedar obrolan santai.
"Sudah jangan menangis.."
Ketika berjalan disepanjang koridor sebelah kiri istana, samar-samar telinganya mendengar suara anak lelaki dan tangisan perempuan.
"Sakiiiitt... Hiks" Dyeza kecil merintih kesakitan saat lututnya mengeluarkan darah akibat jatuh dan tergores aspal jalan.
Eyden yang berjongkok dihadapannya meniup luka Dyeza berupaya untuk mengurangi rasa sakit gadis tersebut."Nanti pasti akan sembuh.."
"Tapi ini rasanya sangat sakit dan perih..."
Hati Eyden merasa tercabik-cabik saat melihat manik cokelat itu berlinang air mata. Sungguh ia tidak sanggup melihat Dyeza kesakitan seperti ini.
Tiba-tiba Eyden berdiri dari tempatnya. Matanya menatap lurus ke wajah Dyeza dengan rahang mengeras.
"Aku Eyden putera dari Sang Raja besar Varlsyien, demi moon goddes dan demi ibuku Eleanor kathrein, bersumpah tidak akan menyakiti Dyeza sampai kapanpun! Jika aku melanggar, aku siap menerima sakit akan konsekuensinya!"
Detik itu juga petir mulai menggelegar seolah menjawab sumpah Eyden tersebut.
"Dan aku tak sengaja menguping sumpahnya tersebut." Raja Varlsyien tersenyum kecil."Kau pasti melupakannya bukan?"
Dyeza hanya menggigit bibir bawahnya. Ia memang tak mengingatnya, tapi bukankah berarti Eyden menjadi seperti ini karena dirinya?
Ingatannya kembali berputar saat Eyden menampar dan memukulnya. Jangan bilang bahwa Eyden melanggar sumpahnya demi mengembalikan semua ingatannya?
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Dyeza dan bersiap untuk jatuh. Sungguh ia sangat menyesali ucapannya tadi yang pasti menyakiti lelaki ini. Jujur ia sangat bodoh, Eyden rela berkorban demi dirinya tapi apa yang ia balas?
"Dia hanya kesepian, nak."
Kata-kata Raja Varlsyien tersebut berhasil membuat kening Dyeza berkerut. Maksudnya?
"Eyden hanyalah korban dari semua kesalahanku dimasa lalu."
Kerutan di dahi Dyeza semakin bertambah banyak setelah mendengar ucapan Raja Varlsyien. Korban? Korban apa? Kesalahan apa?
Raja Varlsyien tetap melanjutkan ceritanya walaupun Dyeza hanya bergeming. Tapi ia tahu kalau gadis tersebut tengah mendengarkan.
"Dulu, aku mempunyai kelainan yang sangat langka yaitu ingin menikah dengan puteri dari klan yang berbeda-beda. Aku tahu kalau hal itu sangat aneh dan tidak masuk akal, tapi begitulah keadaanku saat itu."
Raja Varlsyien menghela napas berat."Awalnya aku tidak sengaja bertemu dengan puteri kerajaan klan Sorcerer. Hatiku bergejolak ingin memilikinya dan membawanya ke istanaku. Keesokan harinya, aku mengirimkan surat yang isinya adalah melamar puteri itu dan akan menghabisi mereka jika dia menolak lamaran tersebut. Akibat kerajaanku yang terkenal sangat kuat saat itu, mereka dengan berat hati menerima lamaranku."
"Pernikahan pun berlangsung walaupun tanpa persetujuan dari rakyat. Semua menentang keras pernikahan tersebut karena sejak zaman dahulu, pernikahan berbeda clan adalah hal terlarang bagi kalangan penyihir."
"Pernikahan kami sudah berlangsung selama satu bulan. Dan Rizla, itu nama istriku yang pertama, mulai menunjukkan gejala kehamilan. Dan setelah diperiksa, ternyata dia benar-benar hamil. Aku sangat senang dan selalu menjaganya hingga waktunya tiba dan lahirlah suami pertamamu. Dreynan."
"Keluarga kami hidup dengan bahagia sebelum aku bertemu dengan seorang perempuan disebuah hutan dan ternyata dia adalah satu-satunya klan Sage yang tersisa. Penyakitku kambuh dan ingin memilikinya. Tapi dia menolak. Seakan buta, aku membawanya secara paksa dan menikahinya. Awalnya, Rizla menolak pernikahan ini, tapi ketika aku menceritakan tentang kelainanku, akhirnya ia memahami dan perlahan mulai menerimanya."
"Aku sangat mencintai kedua istriku dan juga Dreynan kecil, walaupun Eleanor sama sekali tidak mencintaiku bahkan membenciku. Hingga saat dia hamil, dia tidak memperdulikan bayi yang dikandungnya sampai bayi tersebut lahir di dunia. Aku memberinya nama Eyden."
"Eyden hidup tanpa kasih sayang dari seorang ayah. Aku terlalu fokus dengan tugas kerajaan dan juga masa depan Dreynan hingga melupakan bahwa aku juga masih mempunyai satu orang putera. Tanpa sepengetahuanku, Eleanor selalu mengajari Eyden mengenai tugas dan perihal tentang kerajaan agar kelak dapat merebut tahta kerajaan dari Dreynan yang akan dinobatkan menjadi Pangeran Mahkota. Eleanor selalu menekan Eyden untuk selalu berlatih,berlatih, dan berlatih hingga membuatnya sama sekali tidak mempunyai teman. Bahkan sangat jarang sekali ia berinteraksi dengan Dreynan yang merupakan saudara tiri-nya."
Raja Varlsyien menoleh dan menatap Dyeza yang sejak kapan sudah menatapnya dengan berlinang airmata."Kau tahu anjing kecil milik Eyden?"
Belum sempat Dyeza menjawab, Raja Varlsyien sudah kembali menceritakan masa lalunya.
"Sedari kecil, hanya anjing itulah yang selalu menemani Eyden. Dia menyihirnya agar tidak tumbuh menjadi besar dengan alasan agar suatu saat nanti, anjing itu tidak akan mati dan tidak meninggalkannya."
Raja Varlsyien beralih menatap wajah Eyden dengan pandangan sedih dan penuh penyesalan."Hingga pada suatu hari, Eleanor tak sengaja terjatuh dari tangga dan mengakibatkannya harus pergi ke alam yang berbeda. Aku sangat terpukul akan kematiannya begitupun juga dengan seluruh penghuni istana. Tapi karena terlalu larut dalam kesedihan nan kehilangan, kami seolah lupa bahwa ada seseorang yang lebih hancur dan kehilangan daripada kami."
Airmata mulai jatuh dari kelopak mata Raja Varlsyien. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan wajah penuh penyesalan."Kami terlalu fokus dengan kepergian Eleanor hingga sampai-sampai kami sama sekali tidak mengurusi Eyden. Padahal Eyden sangat membutuhkan dukungan dari seorang ayah waktu itu, tapi apa yang kulakukan? Aku seakan buta dan tuli ketika melihat anak itu hanya bisa menangis sepanjang malam merindukan ibunya."
Dyeza meneguk salivanya dengan susah payah sembari mengusap airmata yang tak berhenti menetes dari pelupuk matanya. Sebegitu beratkah penderitaan Eyden dimasa lalu?
"Aku ayah yang bodoh!" Raja Varlsyien mengepalkan kedua tangannya, marah dengan dirinya kala itu."Lebih dari satu tahun aku baru sadar bahwa aku masih mempunyai Eyden. Aku mencoba untuk mendekati Eyden dan berusaha menjadi ayah yang baik, namun semua sudah terlambat. Eyden sudah tumbuh menjadi pribadi yang dingin dan misterius. Menjadi lelaki minim ekspresi dan sangat irit dalam berbicara."
"Semua salahku! Semua salahku!" Raja Varlsyien menutup wajah dengan tangannya dengan bahu yang bergetar. "Perkataan Yezra memang benar, aku bukanlah ayah yang baik."
Tak kuasa melihat seorang ayah yang terlihat rapuh itu, Dyeza langsung bangkit dari duduknya dan membawa Raja yang sekarang sedang berposisi sebagai seorang ayah itu duduk dipinggir peraduan.
"Jangan melihat masa lalu, ayah! Ayah juga tidak bisa menyalahkan diri ayah sendiri." Dyeza berusaha menenangkan lelaki paruh baya namun masih terlihat jelas garis ketampanannya tersebut.
"Tapi tetap saja Eyden menjadi seperti sekarang ini karena semua kesalahanku!"
Reflek Dyeza mendekat dan langsung memeluk tubuh besar Raja Varlsyien yang bergetar sembari terisak pelan. Selama ini ia tidak pernah melihatnya serapuh ini. Hatinya juga ikut sakit dan sedih melihat kondisi Raja Varlsyien yang tampak tertekan dan penuh dengan penyesalan yang mendalam.
"Sudah, ayah! Eyden tidak akan suka jika melihat kondisi ayah seperti ini jika dia sadar nanti."
Raja Varlsyien melepas pelukannya dan mengusap wajahnya kasar."Tidak! Dia tak akan peduli, karna dia masih membenciku sampai saat ini. Dia selalu bersikap biasa saja ketika berada didekatku, tapi aku tahu kalau sama sekali tak ada ruang kosong bagiku dihatinya. Dia selalu bersikap tenang dan menipu semua orang dengan topengnya. Selama ini dia begitu rapuh dengan menahan seluruh penderitaannya."
"Tapi perlahan sikapnya mulai sedikit melunak saat dia bertemu denganmu."
"Kakak ini namanya Eyden bukan?"
Dyeza kecil terus menatapi lelaki bersurai hitam yang sedari tadi hanya duduk sembari mengelus-elus anjing kecilnya.
"Kok kakak tidak menjawab?" Dyeza kecil mulai merasa sedih karena lelaki ini mengabaikannya.
"Jika kau sudah tahu kenapa bertanya?"
Jawaban itu memang terdengar sangat dingin, namun Dyeza kecil hanya tersenyum manis karna setidaknya lelaki ini mau berbicara dengannya.
"Anjing kakak lucu juga ya?" Dyeza kecil mengulurkan tangannya hendak ikut mengelus-elus kepala anjing milik Eyden, namun tangannya segera ditepis dengan cepat oleh sang pemilik.
"Jangan sentuh!"
Mata Dyeza mulai berkaca-kaca."Kakak jangan pelit! Masa' aku cuma mau elus-elus tidak boleh! Kalau kata ibu guru disekolah, nanti akan jatuh miskin jika kita pelit sama orang. Kakak mau jatuh miskin?"
Eyden hanya diam mendengar ucapan polos gadis bermanik cokelat disampingnya ini.
"Lagipula sepertinya anjing kakak ini tidak keberatan aku pegang. Lihat!" ucap Dyeza seraya memperlihatkan tangannya yang entah sejak kapan sudah memegang telinga anjing Eyden. Dan tampaknya anjing Eyden tidak terusik dan malah mengusel-usel moncongnya ke tangan Dyeza. Dyeza terkekeh geli dan langsung memeluk anjing kecil itu erat.
Dan interaksi mereka berdua berhasil membuat sudut bibir Eyden sedikit tertarik keatas.
"Berjanjilah padaku untuk selalu menemani Eyden sampai kapanpun. Hanya kau-lah yang sangat dibutuhkan oleh Eyden saat ini." Raja Varlsyien memegang kedua tangan Dyeza dan menatapnya dengan penuh permohonan. Dan tak ayal, Dyeza mengangguk pelan.
"Terimakasih. Dan maaf, sepertinya aku harus segera pergi ke kamar Hrym. Karena sepertinya Trio kadal mulai melewati batas."
Raja Varlsyien berdiri dan langsung pergi setelah sebelumnya sempat mengusap kepala Dyeza lembut.
Keadaan pun menjadi hening setelah kepergian Raja Varlsyien. Dyeza hanya bergeming menatap wajah Eyden yang pucat dengan mata terpejam erat. Dan ia takut mata itu takkan bisa terbuka lagi.
"Sekarang aku mengerti kenapa kau membunuh kedua orang tuaku."
Dyeza mengusap airmata yang sialnya terus mengalir dan berbalik hendak beranjak dari peraduan. Namun tiba-tiba ia merasakan sapuan hangat dipunggungnya bersamaan dengan lengan kekar yang menariknya ke pelukan seseorang.
"Tolong jangan tinggalkan aku."