"Kata dokter, kamu udah bisa pulang besok siang, Lun."
Informasi tersebut juga sudah didengar Luna beberapa saat lalu dari Mami. Luna sudah diperbolehkan pulang. Tentu dengan beberapa catatan yang sudah Luna hapalkan. Termasuk ia harus menggunakan kruk untuk membantunya berjalan sementara waktu ini. "Kak Ruri besok ikut kan?"
Ruri mengangguk tanpa ragu. "Aku udah izin sama Pak Indra, besok aku ikut temani kamu pulang ke rumah."
Pak Indra yang dimaksud Ruri, tentu saja papi Luna. Dan sudah pasti papinya mengizinkan Ruri absen. Toh alasan kealpaan Ruri esok hari, untuk menemani putri bungsu kesayangannya. Kalau sampai Papi tak memberi izin, Luna sudah pasti akan merajuk, melaksanakan aksi mogok bicara pada ayahnya itu.
"Tapi aku kayaknya nggak bisa nemani kamu besok, Lun."
Luna tidak hanya berdua dengan Ruri di kamar inapnya. Ada Nindy juga yang datang bersamaan dengan Ruri tadi. Mami pamit pulang tepat saat Ruri dan Nindy datang. Mami juga sempat mengatakan bahwa Ansell, kakak Luna akan datang menggantikan tugas Mami menemani Luna di rumah sakit.
"Nggak papa, Nin. Kamu kan harus kerja. Kamu mau datang jenguk aku aja, aku udah senang. Aku cuma titip pacarku ini aja. Kalau dia macem-macem, kamu harus segera kasih tahu aku."
Anindita Maheswari, sahabat Luna sejak kecil, juga bekerja di perusahaan milik orang tua Luna sebagai sekretaris Ruri. Awalnya Luna yang ingin menempati posisi Nindy, tetapi orang tua Luna tak memberi izin. Mereka tahu seperti apa tabiat putrinya. Orang tua Luna tak yakin Luna bisa bersikap profesional saat bekerja. Jika sampai Luna menjadi sekretaris Ruri, yang ada Luna lebih banyak menghabiskan waktu untuk pacaran berdua ketimbang bekerja.
Jadi, sebagai calon pemimpin perusahaan, Luna diminta untuk memperdalam pengetahuannya di bidang bisnis. Mengambil program studi pasca sarjana untuk mematangkan pengetahuannya. Ansell sudah memilih jalannya di bidang hukum, jadi sudah pasti Luna yang akan menggantikan posisi orang tuanya kelak.
"Aku pastikan Kak Ruri nggak macam-macam di belakang kamu, Lun."
Ruri hanya menggeleng pelan melihat kelakuan sekretaris dan kekasihnya.
Mereka bertiga lanjut bercerita. Luna tentu yang paling mendominasi cerita mereka bertiga. Sementara Ruri lebih memilih jadi pendengar, sesekali menanggapi.
"Aku harus balik sekarang, Lun." Tiba-tiba saja Nindy menginterupsi. "Aku lupa ada janji sama ibu kosku. Besok mau ada acara di rumahnya, dan aku sama anak kos yang lain dimintai tolong bantu-bantu nyiapin acaranya besok."
"Aku kan udah bilang sama kamu, Nin. Kamu balik ke rumah lagi. Bair aku ada teman di rumah. Mami juga setuju kok."
Nindy merupakan yatim piatu sebatang kara. Luna tidak begitu tahu awal mula kisah Nindy seperti apa. Yang Luna ketahui saat ia berusia enam tahun, Papi dan Mami membawa Nindy ke rumah mereka. Menjadikan Nindy sebagai kakak perempuan yang begitu Luna idamkan. Luna memang memiliki Ansell, tetapi tetap saja seorang kakak perempuan rasanya berbeda dengan kakak laki-laki.
"Dan aku udah berulang kali menolak permintaan kamu, Lun. Aku nggak bisa. Aku nggak mau berutang budi lebih banyak sama keluarga kamu."
"Itu bukan utang budi, Nin." Luna masih bersikeras. Sejak diterima bekerja, Nindy memutuskan keluar dari kediaman orang tua Luna, dengan alasan ingin hidup mandiri, dan tak ingin terus membebankan orang tua Luna yang sudah merawatnya sejak kecil.
"Please, Lun. Aku nggak mau berdebat sama kamu. Kamu masih dalam masa pemulihan."
"Nindy benar, Lun," sahut Ruri. "Mending kamu istirahat dulu ya. Aku antar Nindy dulu, sekalian aku juga mau pulang sebentar. Kamu nggak papa kan, kalau aku tinggal sendiri."
Ansell akan datang sebentar lagi. Jadi Luna tak memiliki alasan untuk menahan Ruri untuk tetap menemaninya. Lagipula, Ruri tidak meninggalkan Luna sendirian. Arwah laki-laki yang Luna lihat tiga hari lalu, sejak tadi berdiri di dekat pintu mengamati Luna, Ruri dan Nindy.
"Mau sampai kapan kamu berdiri di situ?"
Lalu dengan cepat arwah tersebut berpindah tempat. Luna sampai terkesiap kaget karena arwah tersebut sekarang sudah berdiri tepat di depannya. "Kamu sungguh bisa melihat saya?"
"Jadi kamu pikir sekarang aku lagi ngomong sama siapa? Sama hantu?" Lalu kemudian Luna memaki dirinya sendiri dalam hati, bukankah sekarang ia memang sedang berbicara dengan hantu?
"Bagaimana bisa? Maksud saya ... selama ini tidak ada yang bisa melihat ... apalagi sampai berinterkasi dengan saya? Kamu ... paranormal?"
Sejujurnya Luna pun sama bingungnya dengan laki-laki itu. Seingat Luna, sebelum mengalami kecelakaan, Luna tidak memiliki kemampuan aneh seperti sekarang. Ia sama seperti kebanyakan manusia pada umumnya, yang hanya memiliki lima alat indera. Dan tidak pernah sedikitnya terpikirkan oleh Luna untuk memiliki indera tambahan yang keenam.
Atau jangan-jangan, kemampuan bisa melihat makhluk halus, Luna dapatkan karena ia sempat mengalami koma sebelumnya? Apakah setelah ini, Luna akan bertemu makhluk halus lain, selain arwah lai-laki di depannya ini?
Ugh.., Luna langsung bergidik mendengarnya.
Arwah laki-laki di depannya ini memang tidak menyeramkan. Malah kalau Luna boleh mengaku jujur, arwah laki-laki itu tergolong cukup tampan. Sebelas dua belas dengan Ruri. Namun tentu saja Ruri lebih unggul. "Aku bukan paranormal," bantahnya.
"Kalau bukan paranormal, kenapa kamu-"
"Aku juga nggak tahu," potong Luna cepat. "Kenapa kamu terus-terusan di kamar aku?"
Sejak hari pertama Luna menyadari kehadiran arwah pria ini, entah kenapa arwah tersebut terus berada di kamar Luna. Memang tidak setiap saat. Ada kalanya arwah tersebut menghilang, entah ke mana. Luna bahkan seringkali dibuat waswas, takut jika arwah tersebut mengintipnya ketika suster membantu Luna membersihkan diri.
"Saya juga bingung." Raut wajah arwah tersebut terlihat frustrasi. "Saya juga tidak mengerti, kenapa saya selalu berakhir di tempat kamu. Sungguh, ini bukan kemauan saya."
Luna mengernyit tak percaya. Mana mungkin arwah tersebut datang begitu saja ke ruangannya, ke tempatnya, meski bukan keinginan arwah itu sendiri. Namun setelah Luna pikir ulang, yang sedang berbicara dengannya sekarang bukan manusia seperti dirinya. Bisa saja apa yang dikatakan arwah laki-laki ini benar, dia tidak bisa mengendalikan dirinya harus ke mana. Meski... terdengar agak tak masuk akal di telinga Luna.
"Ehem..." Luna berdehem kecil. Sedikit bergeser dari tempatnya semula. "Jadi maksudnya, kamu itu nggak sadar datang ke ruangan aku? Tiba-tiba aja gitu, udah nyampe ke tempat gue."
Arwah laki-laki itu mengangguk, membenarkan pertanyaan Luna. Membuat Luna pada akhirnya mendesah kasar. "Berarti kamu juga nggak tahu, sampai kapan kamu bakal terus ngikutin aku?"
Seperti yang sudah Luna tebak sebelumnya, arwah laki-laki itu lagi-lagi hanya bisa mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya.
***
Pukul satu siang, Luna sudah kembali tiba di rumahnya. Dengan Ruri yang setia mendorong kursi roda di belakang Luna, gadis itu tak henti menebar senyum.
Mungkin benar apa yang dikatakan Mami jika sebelumnya Luna tak sadarkan diri selama dua bulan. Sebab Luna merasakan rindu yang teramat besar pada rumah yang ia tempati sejak lahir.
Dari cerita Mami, rumah mewah tiga lantai itu dulunya hanya rumah sederhana dengan satu kamar. Dibeli Papi saat Ansell berusia satu tahun. Perlahan seiring bisnis Papi dan Mami yang kian membaik, rumah tersebut mengalami beberapa kali renovasi serta penambahan luas dan tinggi bangunan hingga jadi seperti sekarang.
Luna pernah bertanya, mengapa orang tuanya tak membeli rumah baru saja, alih-alih merenovasi rumah berkali-kali. Jawaban yang diberi Papi, ayah dua anak itu begitu menghargai semua benda yang pertama kali ia miliki. Seperti hal-nya sepatu pertama yang dibeli saat memperoleh gaji pertamanya. Sepatu tersebut masih disimpan di lemari koleksi milik sang ayah. Meski tak pernah lagi dipakai sebab kondisi sepatu tersebut yang memang sudah tak layak pakai, Papi tetap menyimpan dan menjaganya, layaknya menjaga anak sendiri.
Tak hanya sepatu, beberapa properti di kamar orang tua Luna juga terbilang jadul. Contohnya adalah salah satu lemari pakaian yang merupakan pemberian Papi saat menikahi Mami dulu. Masih sangat kokoh meskipun tak dapat menyimpan banyak pakaian.
Bahkan Papi juga menyimpan selembar uang seribu lama, yang merupakan sisa gaji pertama Papi dulu.
Papi Luna memang seaneh itu. Namun menurut Mami, sifat Papi yang seperti itu justru terlihat romantis. Meski Luna tak paham, apa yang membuat kebiasaan aneh Papi tersebut dianggap Mami romantis.
"Mau rebahan di kasur, Lun?"
Ah iya, Luna lupa jika Ruri masih setia di belakangnya. Mendorong kursinya sejak turun dari rumah sakit, sampai Luna sudah berada di kamar tidurnya sendiri. Bahkan bukan hanya sejak Luna sampai di rumah, Ruri menemaninya sejak di rumah sakit pagi tadi. Bolos bekerja dengan alasan menemani Luna. Papi tentu saja mengizinkan, sebab Papi tak bisa menemani Luna karena tengah berada di Gorontalo sejak dua hari lalu.
Dengan telaten Ruri membantu Luna yang masih kesulitan bergerak, pindah ke kasur. Setelah itu melipat kursi roda lalu mengambil sepasang kruk dan meletakkan benda tersebut di sebelah kasur Luna.
"Kenapa manyun gitu muka kamu, Lun?"
"Ini bukan kamar aku, Kak."
"Keluarga kamu nggak mungkin membiarkan kamu naik turun tangga setiap hari dengan kondisi kamu yang seperti ini, Luna. Aku juga sependapat dengan mereka."
"Ya kan tetap aja beda, Kak."
Meski seluruh properti di kamar Luna dipindahkan ke kamar tamu yang ada di lantai bawah, Luna tetap saja lebih menyukai kamarnya. Luna tahu, ia pasti akan kerepotan sendiri jika berada di lantai dua. Rumahnya belum dilengkapi fasilitas lift, jadi jika Luna memerlukan sesuatu tanpa harus merepotkan orang lain, ia harus menuruni beberapa anak tangga.
"Nggak ada balkon di kamar ini, Kak. Balkon kan jadi tempat favorit aku di rumah."
"Kalau kamu sudah sembuh, kamu pasti kembali ke kamar lamamu, Lun."
Luna mendesah pelan. Ia tatap kaki kirinya yang dipasangi gips. Luna mendadak sedih melihat kakinya seperti itu.
Sepasang lengan merengkuhnya. "Nggak papa, Lun. Kamu pasti sembuh. Aku yakin kamu bisa melewati semua ini dengan baik."
"Gimana kalau selamanya kakiku nggak sembuh, Kak? Gimana kalau kakiku jadi cacat permanen? Aku takut Kak Ruri malu, punya pacar yang kakinya cacat kayak aku."
Ruri semakin mengeratkan pelukannya. Ikut merasakan sedih melihat keterpurukan Luna. "Aku sayang kamu, Lun. Aku nggak akan pernah meninggalkan kamu seperti apa pun kondisimu."
Luna percaya pada kata-kata Ruri. Luna percaya pada janji Ruri. Luna percaya pria itu tak akan pergi darinya. Namun Luna tak percaya pada dirinya sendiri. Luna tak yakin, ia bisa melewati masa sulitnya ini, dan kembali berjalan normal, kembali menjadi Deolinda Aluna yang dulu.
"Kamu pasti bisa, Lun. Aku akan selalu ada di sisi kamu."
***
Luna menggeliat pelan, menarik guling di sebelah kanannya dan berteriak kecil sebab merasakan sakit pada kaki kirinya. Matanya spontan saja terbuka.
"Ternyata kamu tidurnya lasak juga ya."
Menoleh ke kiri, Luna dapati sosok arwah laki-laki yang ia temui di rumah sakit, berdiri di kamarnya. "Rei."
Arwah laki-laki itu mengaku bernama Reiki. Usianya dua puluh lima tahun, dan ia belum meninggal dunia. Tubuhnya masih terbaring di salah satu kamar di rumah sakit yang sama dengan tempat Luna dirawat. Posisinya tak jauh dari ruangan Luna.
"Kamar kamu bagus juga," komentar Reiki. "Rumah kamu gede banget, Lun. Beda sama rumahku."
"Nggak usah merendah gitu," jawab Luna. "Kalau ruangan tempat tubuhmu sekarang dirawat di sebelah ruangan aku, berarti kamu juga dari kalangan atas, Rei."
Reiki menggeleng. "Aku juga nggak tahu kenapa tubuhku dirawat di ruang VIP, Lun. Aku kan udah bilang kalau aku nggak ingat kenapa aku ada bisa dirawat."
Luna hanya menggedik tak percaya dengan ucapan Reiki. Melihat paras rupawan Reiki, serta bentuk tubuhnya yang nyaris sempurna, Luna yakin Reiki bukan dari kalangan menengah ke bawah. Reiki pasti sama sepertinya, berasal dari kaum berada.
Luna belum pernah menceritakan bagaimana penampilan arwah gentayangan satu itu bukan? Baiklah, Luna akan sedikit berbagi sekarang.
Selama ini, yang Luna ketahui dari film-film horor atau informasi tentang dunia lain, kebanyakan arwah punya tampilan menyeramkan. Luna bahkan tak sanggup mendeskripsikannya satu persatu. Sebenarnya Luna benci film horor, tetapi Luna suka menonton film horor bersama Ruri. Alasan Luna, ia jadi punya kesempatan untuk dipeluk Ruri sepanjang menonton film tersebut.
Namun Reiki berbeda. Arwah laki-laki yang ada di depan Luna ini, seperti manusia normal pada umumnya. Menggunakan kemeja berwarna navy, celana panjang berwarna hitam, serta sneaker sewarna dengan kemejanya, Reiki tampak seperti manusia hidup. Tak ada darah atau apa pun yang membuat Reiki terlihat menyeramkan. Kecuali bekas luka di keningnya yang tidak mengeluarkan darah.
Baiklah, Luna sadar jika Reiki tak sama sepertinya. Reiki hanyalah sesosok arwah, jadi tak mungkin berdarah bukan?
Reiki juga memiliki paras yang tampan. Kalau boleh jujur, Reiki jauh lebih tampan dibanding Ruri. Tetapi seingat Luna, Ruri juga setampan itu saat seusia Reiki. Usia Ruri sudah tiga puluh, wajar saja jika ketampanannya agak sedikit memudar, dan dikalahkan oleh yang berusia lebih muda.
Namun begitu, Luna masih dan akan tetap mencintai Ruri. Tentu saja begitu. Mengatakan Reiki lebih tampan dari Ruri, bukan berarti hati Luna berpindah haluan pada yang lain.
"Kamu punya kekuatan nggak, Rei?" tanya Luna tiba-tiba.
"Kekuatan gimana?"
"Menggerakkan benda mungkin. Aku haus, tapi susah ngambil gelasnya," keluh Luna menunjuk letak gelas berisi air putih yang memang sulit ia jangkau.
"Aku nggak bisa melakukan hal seperti itu, Lun. Aku cuma bisa menghilang, dan berpindah tempat dengan cepat."
"Ah, nggak asyik."
Luna bangkit perlahan. Walau harus menahan nyeri saat menggeser tubuhnya.
"Luna.."
Pintu kamar Luna dibuka dari luar. "Iya, Mi."
Mami tampak ragu saat masuk ke kamar Luna. Memandang sekeliling kamar baru putrinya tersebut. "Mami dengar suara kamu, kayak lagi ngobrol sama seseorang."
Meski sedikit kaget, Luna tetap menggeleng. "Aku nggak lagi ngomong sama siapa-siapa, Mi. Mami bisa lihat, aku sendirian di kamar."
Mami mengangguk ragu. Di dalam kamar memang hanya ada Luna seorang. Namun ia yakin, jika ia mendengar suara putrinya seperti tengah berbicara. Mami kira, mungkin Luna memanggil karena memerlukan bantuan.
Mami kemudian melihat tangan kanan Luna mengarah ke nakas, seperti tengah meraih sesuatu. Dan Mami menemukan ponsel Luna tergeletak di sana. "Kamu barusan menelepon seseorang?"
Meski agak bingung, Luna pilih mengangguk saja. "Iya, Mi. Barusan Luna nelepon Nindy."
Jawaban yang diberi Luna, tentu membuat Mami menjadi lega. "Ada yang sakit, Lun?"
Luna menggeleng, tak mau memberi tahu jika beberapa saat lalu ia sempat merasakan nyeri di kakinya. Luna tak mau Mami cemas nantinya. "Boleh minta tolong ambilin gelas itu, Mi? Aku haus."
Mami segera bergeges, mengambilkan gelas yang dimaksud Luna, kemudian memberikan pada sang putri. "Nanti Mami bilangin ke Bibik, supaya menaruh gelasnya lebih ke tepi, supaya kamu nggak kesulitan."
Luna hanya mengangguk seraya menerima gelas yang disodorkan Mami. Meneguk isi gelas beberapa kali, kemudian menyerahkan kembali pada Mami. "Kak Ruri udah pulang, Mi?"
Seingat Luna, Ruri masih menemaninya di kamar sebelum ia terlelap. Saat terjaga, Luna tak menemukan keberadaan Ruri. Hanya ada Reiki yang sampai sekarang pun masih berada di kamarnya. Duduk manis di kursi rias milik Luna, memperhatikan serta mendengarkan Luna dan Mami bicara.
"Nggak lama setelah kamu tidur, Ruri pamit pulang sebentar. Katanya nanti balik lagi."
Mendengar Ruri akan kembali lagi nanti, membuat senyum Luna melengkung sempurna. Luna percaya Ruri akan menepati janjinya, menemani Luna dan tak akan meninggalkan Luna dalam kondisi apa pun.
"Luna..."
"Ya, Mi?"
Mami sempat diam beberapa saat. Membuat Luna penasaran akan sesuatu yang sepertinya mengganggu pikiran Mami. "Mami mau ngomong sesuatu sama aku?"
Mami masih diam. Hingga Luna bertanya sekali lagi, Mami baru mau membuka mulutnya. "Kamu beneran nggak ingat apa pun tentang ... kecelakaan itu?"
Sebenarnya Luna yakin ia tidak mengalami amnesia. Ia mengingat semua yang pernah ia alami. Hanya saja, Luna sama sekali tak mampu mengingat bagaimana kecelakaan yang menimpanya terjadi. Ingatan Luna hanya sampai di mana siang itu ia dan Ruri makan siang berdua. Luna ingat ada pasangan kekasih yang tengah melakukan lamaran. Luna juga ingat jika siang itu, ia bertanya pada Ruri, kapan kekasihnya itu akan melamarnya.
Menurut Luna, mungkin kecelakaan itu terjadi saat Luna dan Ruri dalam perjalanan pulang dari restoran. Namun ketika Luna bertanya pada keluarganya, baik Mami, Papi maupun Ansell mengatakan Luna terlibat kecelakaan tunggal. Ia ditemukan seorang diri di dalam mobilnya. Tak ada Ruri, sebab berdasarkan keterangan Nindy, Ruri ada di kantor saat kecelakaan yang menimpa Luna terjadi.
"Aku nggak ingat, Mi."
"Sebenarnya Mami penasaran, Lun. Siang itu Mami nelepon kamu. Mami yakin waktu itu kamu lagi nangis."
Menangis? Kenapa? Apakah karena Ruri belum bersedia melamarnya? Ya, kemungkinan terbesarnya memang Luna menangis karena itu.
Namun, Luna yakin ia tak sampai menangis saat di restoran siang itu. Mendengar jawaban Ruri beserta alibi yang disampaikan pria itu, Luna tak sampai menangis. Benar jika ia kecewa. Hubungannya dan Ruri sudah terjalin cukup lama. Dan Luna merasa dirinya sudah siap dan cukup pantas menjadi pendamping hidup Ruri.
"Mami mau nanya ke Ruri, tapi Mami nggak yakin pacarmu itu mau menjawab pertanyaan Mami. Karena Mami ingat kalau siang itu, kamu sempat mengatakan kalau kamu membenci Ruri."
Mungkinkah hanya karena Ruri belum siap menikahinya, lantas Luna jadi membenci Ruri? Atau ... sebenarnya ada sesuatu yang terjadi di antara Luna dan Ruri sebelum kecelakaan itu terjadi?
To be continued.