Tak banyak yang bisa Luna lakukan sejak ia bangun dari tidur panjangnya. Luna malah merasa seperti dikurung di rumah sendiri selama masa penyembuhannya. Ia tak bisa ke mana-mana. Untuk makan pun, semua disiapkan di kamar Luna. Alasan Mami, agar Luna tak terlalu banyak bergerak dulu.
Bosan, tentu saja. Meskipun Mami mengatakan akan menyediakan semua yang Luna butuhkan, tetap saja yang Luna inginkan hanya dapat izin keluar rumah. Dan Mami dengan terang-terangan menyatakan tak akan mengabulkan pinta Luna yang satu itu.
Mami, Papi, Ansell, Ruri serta Nindy, mereka semua harus bekerja. Luna hanya bertemu Mami, Papi dan Ansell saat malam, ketika salah satu atau bahkan ketiganya datang ke kamar Luna. Ruri datang saat istirahat siang bersama Nindy. Terkadang di sore hari, setelah pulang bekerja, Ruri singgah sebentar untuk menemuinya.
Luna jadi merindukan masa-masa di saat ia datang ke kantor tanpa sepengetahuan Ruri. Menjaili Ruri yang tengah fokus bekerja. Untuk beberapa waktu ke depan, Luna tak bisa melakukannya.
Luna merasa nasibnya amat menyedihkan. Sudah lamaran terselubungnya ditolak, mengalami kecelakaan dan sekarang menjadi cacat pula. Jika suatu hari nanti Ruri berpaling darinya, Luna tak punya alasan untuk menahan Ruri agar tetap berada di sisinya.
Satu-satunya yang menjadi teman Luna mengobrol, hanya Reiki. Entah Luna harus bersyukur atau tidak, bisa melihat dan berinteraksi dengan arwah laki-laki itu.
Reiki tak selalu ada di kamarnya. Kadang arwah itu menghilang. Ketika Luna bertanya, Reiki jawab jika ia baru saja dari rumah sakit.
"Lagi apa?"
"Astaghfirullah." Luna nyaris berteriak kaget. Reiki tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya, mengintip apa yang sedang dilihat Luna dari layar laptopnya. "Aku tahu kamu bisa datang dan ngilang tiba-tiba, Rei, tapi bisa kan kasih kode, atau ngucap salam gitu."
Mendengar ceramah panjang Luna, Reiki hanya tertawa. "Aku cuma memanfaatkan kemampuan yang aku punya," sombongnya. Tanpa perlu dijelaskan, Luna paham apa kemampuan yang dimaksud Reiki. "Lagian, aku juga nggak bisa ngetuk pintu kayak yang lain."
"Kan bisa pake mulut. Kamu bisa bilang, tok tok tok, aku boleh masuk, Luna?"
"Oke. Tok tok tok, aku boleh masuk, Luna?"
"Telaaat."
Reiki tertawa kencang. Kalau saja Reiki adalah manusia sepertinya, Luna yakin tawa Reiki pasti terdengar sampai ke luar kamar.
"Kamu lagi ngapain sih?"
"Cuma lagi iseng buka facebook."
"Kamu masih aktif main f*******:?"
"Nggak juga sih. Cuma kalau pas lagi gabut ini, aku suka lihatin postingan orang di f*******: aja gitu. Eh, kamu punya akun f*******: juga nggak?"
"Ada. Tapi aku udah nggak pernah aktif lagi di sana."
"Mau lihat dong."
"Cari aja Reiki Savian."
Luna segera mengetikkan nama Reiki Savian di kolom pencarian. Ada beberapa pilihan akun dengan nama serupa yang tampil pada hasil pencarian. "Yang mana, Rei? Banyak amat yang namanya Reiki Savian."
"Coba ke bawahin lagi. Nah, itu akunku."
Luna meng-klik akun yang ditunjuk Reiki. Foto Reiki langsung terpampang di sana. Menggunakan jas almamater kampus bersama seorang teman laki-laki. "Foto tahun kapan ini, Rei?"
"Sekitar tujuh atau delapan tahun lalu. Aku nggak begitu ingat."
Tujuh atau delapan tahun lalu? Jika dikurangi usia Luna sekarang, kemungkinan saat itu Luna masih berusia sekitar lima belas tahun. "Emang umur kamu sekarang berapa?" tanya Luna penasaran.
"Dua puluh tujuh?"
"What? Dua puluh tujuh? Kamu serius?"
Reiki mengangguk, walau agak sedikit bingung. "Memangnya kenapa?"
"Berarti kamu lebih tua empat tahun dari aku. Kirain kita seumuran, Rei."
"Bukan salahku dianugerahi wajah yang awet muda kayak gini."
"Aku tarik kata-kataku barusan. Nyesel aku muji kamu." Luna mencebik yang hanya ditanggapi Reiki dengan tawa. "Kamu kan lebih tua dari aku. Berarti seharusnya aku panggil kamu kakak, atau abang gitu."
"Nggak usah. Reiki aja, kayak biasa."
Baiklah. Luna tak ingin memaksa.
Luna sudah pernah bilang bukan, jika arwah yang ada di sebelahnya saat ini merupakan arwah laki-laki tampan? Dalam beberapa potret lawas yang tengah Luna lihat malam ini juga Reiki terlihat tampan. Masih tampak polos sebenarnya.
Luna membaca beberapa pesan yang diposting pada wall akun Reiki. Berdasarkan pengakuan Reiki sebelumnya, akunnya sudah lama tak dikelola. Namun, ada beberapa pesan yang dikirim dua bulan terakhir. Berisi ucapan belasungkawa atas musibah yang menimpa Reiki.
Luna melirik Reiki yang masih setia berdiri di sebelahnya. Luna yakin jika Reiki ikut membaca pesan yang dikirimi orang-orang yang tak Luna kenal tersebut. "Rei, maaf."
"Maaf untuk apa?"
Nada suara Reiki terdengar sendu. Luna yakin jika lelaki itu ikut bersedih membacanya. "Aku minta maaf udah kepoin akun kamu. Kalau aja aku tadi nggak nanya, kamu pasti nggak bakalan sedih kayak sekarang."
"Tanpa membaca pesan-pesan itu, aku memang selalu bersedih melihat tubuhku terkapar tak berdaya di salah satu kamar rumah sakit, Lun. Setiap hari yang kulakukan cuma melihat tubuhku sendiri, melihat Ibu menangis. Melihat Fely, adik-adikku, aku sedih, Lun."
Dan Luna seharusnya tak perlu menambah kesedihan Reiki dengan memperlihatkan puluhan ucapan belasungkawa untuk laki-laki itu. "Maaf," ucap Luna sekali lagi.
Reiki menggeleng. "Justru aku berterima kasih sama kamu, Lun. Berkat kamu, aku jadi tahu bahwa masih ada teman-temanku di luar sana yang peduli sama aku. Walau kita nggak pernah tahu, apakah kepeduliannya itu beneran tulus?"
Luna mengangguk dalam hati. Kita memang tak pernah tahu, benarkah mereka yang menuliskan ucapan belasungkawa tersebut, mengucapkannya dengan tulus karena ikut bersedih, atau hanya sekedar ikut-ikutan saja? Luna berharap, semua ucapan tersebut tulus, mereka benar bersedih dan kehilangan Reiki.
Eh, Reiki kan belum meninggal. Apakah tidak salah jika Luna mengatakan mereka sedih karena kehilangan Reiki? Luna jadi pusing sendiri.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Luna. "Aku boleh masuk, Lun?"
Mendengar suara merdu Ruri, Luna lantas mengangguk. Kemudian sadar jika Ruri tak melihat anggukan kepalanya. "Masuk aja, Kak."
Pintu dibuka, Ruri muncul dengan kantongan plastik di tangannya. "Aku bawain sate kesukaan kamu. Belum makan kan?"
Luna mengangguk senang. Bergeser sedikit guna memberi tempat lebih banyak untuk Ruri duduk di sampingnya. "Padahal rencananya, aku emang mau minta Kak Ruri beliin sate ini kalau mampir ke rumah, tahunya udah Kakak beliin."
"Serius?"
Luna mengangguk cepat. "Mungkin karena kita emang jodoh kali ya, Kak, makanya bisa satu hati gitu."
"Aku nggak yakin kamu beneran kepikiran mau makan sate, Lun. Dari tadi kamu asyik di depan laptop kok."
Nyaris saja Luna memutar bola matanya mendengar apa yang dikatakan Reiki. Walau Luna membenarkan dalam hati.
Seperti yang baru saja dikatakan Reiki, sejak tadi ia asyik berselancar di dunia maya. Melihat-lihat akun f*******: beberapa orang, dan berakhir di akun milik Reiki yang bisa dikatakan, cukup menyita perhatiannya. Ia tak sempat merasa lapar, apalagi sampai menginginkan sate yang dibawakan Ruri itu. "Sirik."
"Kenapa, Lun?"
Eh. Sepertinya Luna terlalu keras mengucapkannya. Buktinya Ruri sampai mendengar sindiran Luna untuk Reiki. Padahal niat Luna cuma berbisik kecil. "Ini sate langganan kita kan, Kak? Waw ..., enak banget ini."
Di tempatnya, Reiki menggedik tak peduli. Kemudian dalam satu kedipan mata, Reiki menghilang. Tak perlu menebak, Luna yakin Reiki pasti mengunjungi tubuhnya di rumah sakit.
***
"Mami lagi apa?"
"Lun .... Udah Mami bilang 'kan, kamu di kamar aja, jangan banyak gerak dulu."
Mami bangkit dari kursinya, menghampiri Luna bermaksud membantu sang putri berjalan. Meski kedua lengan Luna sudah disangga kruk sebagai alat bantu Luna ketika berjalan. "Aku bosan di kamar terus, Mi."
"Kalau kamu bosan, seharusnya kamu panggil Mami. Biar Mami bantu kamu-"
"Pake kursi roda? Aku nggak mau, Mi. Kayak orang sakit."
"Ya kan kamu memang masih sakit."
Luna mencebik kesal. Luna sadar jika keadaannya memang belum pulih. Bahkan masih jauh dari kata pulih. Namun Luna tak mau dianggap sebagai orang sakit. "Papi udah pulang, Mi? Kayaknya tadi aku dengar suara Papi."
"Papi lagi mandi."
Mami membantu Luna duduk di sofa. Meluruskan kaki Luna perlahan, kemudian memindahkan kruk Luna. "Kak Ansell belum pulang, Mi? Kayaknya akhir-akhir ini, Kak Ansell pulang telat mulu."
"Memangnya kamu tahu kakakmu pulang jam berapa?"
Luna lantas mengangguk. Posisi kamarnya yang dipindahkan ke lantai bawah, membuat Luna bisa mendengar deru mobil yang masuk maupun keluar dengan lebih jelas, bila dibandingkan dengan kamarnya yang berada di lantai atas.
"Kak Ansell lagi ada kasus besar ya, Mi?"
Mami tak segera menjawab, memandang Luna agak lama. "Mami nggak tahu, Lun."
Luna merasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan Mami. Namun, Luna tak tahu apa itu. "Makan malam-mu udah abis, Lun?"
"Mami sama Papi udah makan?" tanya Luna balik, tanpa menjawab pertanyaan Mami. "Aku pengin makan bareng Papi Mami, sama Kak Ansell juga sebenarnya. Sejak aku pulang, ah ... bukan, sejak aku dirawat, aku belum pernah makan bareng Papi Mami dan Kak Ansell lagi."
"Kalau gitu kamu tunggu sebentar ya. Mami lihat Papi dulu. Sekalian bilang ke Bibik untuk nyiapin makan malam kita."
Sepeninggal Mami, Luna merasakan semilir angin melewatinya. Kemudian Reiki duduk di sebelahnya. "Tumben lama main di rumah sakitnya," komenter Luna.
"Tadi ada Felly."
"Adik kamu?" tanya Luna berbisik.
"Bukan. Felly pacar aku."
Bibir Luna membulat. Menyerukan huruf o agak panjang. Ia ambil remot televisi, mengganti saluran yang ditonton Mami sebelumnya. "Udah lama pacaran sama pacarmu itu?"
"Udah dua tahun. Seingatku, sebelum kecelakaan itu terjadi, aku berniat melamar Felly."
Seketika itu gerak tangan Luna terhenti. Reiki dan pacarnya, baru menjalin hubungan selama dua tahun. Tetapi Reiki sudah berkeinginan melamar kekasihnya. Menjadikan sang kekasih sebagai rumah tempatnya pulang. Sementara Ruri?
Sudah lima tahun mereka berpacaran. Keluarga Luna pun sudah mengenal Ruri dengan sangat baik. Namun lelaki itu belum ada niatan untuk melamar Luna.
"Kalau aku boleh tahu, kalian udah kenal lama? Maksudku sebelum pacaran."
"Felly adik dari teman kerjaku. Pertama kenal, terus pendekatan dua bulan, langsung aku tembak."
Cukup singkat bukan? Kurang dari tiga tahun, Reiki mantap menjadikan kekasihnya sebagai calon istri. Luna dan Ruri bahkan sudah mengenal selama delapan tahun. "Udah saling mengenalkan ke orang tua?"
Meski tak menatap langsung, Luna tahu laki-laki di sebelahnya itu kini tengah mengangguk. "Udah dong. Ibuku kenal Felly, aku juga kenal keluarga dia. Dari awal aku memang udah yakin sama dia, udah merasa klik dan memang nggak ada niatan main-main. Pernikahan kan bukan hanya tentang aku dan dia, tapi juga menyangkut keluarga aku dan keluarga dia. Jadi ya udah pasti aku ngenalin dia sama keluarga aku, walau waktu itu masih sebagai teman dekat. Kupikir waktu itu, aku bakal mengenalkan Felly sebagai calon istriku di pernikahan sepupuku yang diadakan seminggu setelah aku kecelakaan."
Entah untuk alasan apa, Luna ingin menangis saat ini juga. Tidak, Luna sebenarnya tahu alasannya ingin menangis. Luna merasa sedih, sebab Ruri sangat jauh berbeda dengan Reiki.
"Lun ..., Papi udah selesai mandi. Tapi tadi asistennya menghubungi Papi. Mungkin bentar lagi Papi turun. Mami juga udah bilang ke Bib-"
"Aku nggak lapar, Mi," potong Luna. "Aku boleh minta tolong ambilin kruk-ku? Aku mau tidur aja."
"Tapi kamu bilang belum makan, Lun. Kamu kan harus minum obat."
"Aku ngantuk, Mi. Tolong kruk-ku."
"Luna ...." Mami yakin sebelumnya Luna masih baik-baik saja. Malah terkesan bersemangat saat mengatakan ingin makan malam bersama. Hanya ditinggal sebentar, mengapa putrinya mendadak kehilangan semangat begitu?
***
"Kamu kenapa, Lun?" Reiki mengikuti Luna kembali ke kamarnya. Tampak bingung melihat Luna yang mendadak muram, serta ibu Luna yang hanya memandang bingung putrinya. "Luna?"
Keduanya sudah berada di dalam kamar Luna. Dalam hati Luna bersyukur Mami tak mengikutinya masuk ke kamar. "Aku cuma capek, Rei."
"Seingatku tadi kamu baik-baik aja, Lun. Kenapa kamu-"
"Bisa tinggalkan aku sendiri, Rei?"
"Luna ...."
"Aku mau istirahat, Rei. Kamu bisa kembali ke rumah sakit lagi kan? Please .... Aku pengin sendiri."
Reiki tampak ingin menyanggah. Ingin mengatakan jika ia baru saja kembali dari rumah sakit, dan Luna mengetahuinya bukan?
Namun, Luna memang menunjukkan gelagat jika ia sedang tak ingin diganggu. Perempuan itu melangkah pelan tanpa semangat menuju kasurnya. Meletakkan dua kruk yang ia pakai, menyender pada dinding. Agar Luna tak kesulitan saat hendak ke toilet.
"Kalau gitu aku pergi dulu, Lun."
Tak ada tanggapan yang diberi Luna. Wanita itu hanya memandang kruknya tanpa minat. Setelah Reiki menghilang, barulah Luna menghela napasnya agak panjang.
Ia ambil ponsel, membuka aplikasi w******p, lalu membuka room chat miliknya dengan Ruri.
Tak ada pesan baru yang dikirim lelaki itu. Ia juga tak mampir sepulang kerja seperti yang biasa dilakukan lelaki itu setelah Luna bangun dari koma. Chat terakhir yang dikirim Ruri adalah tadi pagi, bertanya apakah Luna sudah sarapan dan meminum obatnya.
Ruri memang bukan tipe pacar yang selalu memberi kabar. Kebanyakan justru Luna yang selalu menanyakan kabar lelaki itu. Namun mendengar cerita Reiki, ia mendadak merasa iri, pada kekasih Reiki yang tak Luna kenal.
Entah apa yang kurang pada dirinya. Luna cantik, baik, kaya, sopan, ceria, juga pintar, meski tak sepintar Ansell yang menyelesaikan kuliah S2 di usia 23 tahun. Lantas, apa yang membuat Ruri ragu menjadikannya istri?
Memang Ruri mengatakan jika kesalahan bukan ada pada diri Luna, melainkan Ruri sendiri yang merasa belum siap dan pantas menjadi pendamping hidup Luna. Namun tetap saja Luna merasa, Ruri tak sepenuhnya berkata jujur.
Luna coba menekan ikon panggil. Ia butuh mendengar suara Ruri. Ia ingin berbincang sebentar dengan Ruri, sekedar untuk membuang semua rasa ragunya.
Tak diangkat.
Luna coba sekali lagi, tetapi hasilnya masih sama. Luna tak tahu sesibuk apa Ruri sekarang. Kekasihnya itu tak pernah membagi kisahnya mengenai pekerjaan pada Luna. Bukan hanya pekerjaan, latar belakang lelaki itu pun tak sepenuhnya Luna ketahui.
Setelah lima kali percobaan, Luna menyerah. Ia tatap layar ponselnya yang kini menampilkan foto profil Ruri. Foto pria itu sendiri, tengah berdiri di area persawahan yang Luna tebak di kampung halaman lelaki itu.
Lima tahun menjalin kasih dengan Luna, tak pernah sekali pun Ruri menggunakan foto mereka berdua sebagai display picture kontak w******p-nya. Berbeda dengan Luna yang tak pernah mengganti foto profilnya yang merupakan foto mereka berdua saat Ruri mengaku cinta, dan meminta Luna menjadi kekasihnya. Tak pernah Luna ganti sejak lima tahun terakhir. Dan tak ada niatan untuk diganti, kecuali jika Ruri melamarnya, atau yang lebih baik foto mereka berdua dalam balutan busana putih putih selepas akad nikah.
Namun Luna tak tahu, kapan impian tersebut akan terwujud. Ruri sudah mengatakan jika belum ada niatan untuk melamar Luna. Luna diminta menunggu, menunggu, dan menunggu. Entah sampai kapan, Luna tak mampu menerka.
Setengah jam berlalu, Ruri masih bungkam. Luna tak bisa melihat kapan terakhir kali pacarnya itu menggunakan w******p, sebab akun pria itu di-privasi.
"Kamu sebenarnya sayang nggak sih, sama aku, Kak?" tanya Luna frustrasi.
Ia lempar ponselnya sembarangan di kasur. Menarik satu bantal kemudian menenggelamkan mukannya di sana. Luna mulai menangis, terisak kecil. Ingin menyerukan nama Ruri sekuat-kuatnya, tetapi tak dilakukan sebab penghuni rumah bisa saja mendengar teriakannya.
Rupanya Reiki tak benar-benar pergi. Ia masih di sana, memandangi Luna dari posisinya yang agak menjauh, supaya Luna mengira ia pergi ke rumah sakit.
"Aku minta maaf karena nggak bisa bantu masalahmu, Lun."
To be continued