Belaian lembut pada rambutnya, sedikit mengganggu tidur Luna. Menggeliat kecil sambil perlahan membuka mata, Luna dapati wajah tampan Ruri berada tepat di depannya. Lengkap dengan senyum tipis yang menjadi favorit Luna. "Kak Ruri?"
Ia bergerak cepat, terlalu cepat sampai Luna mengaduh kesakitan. Lupa jika keadaan kakinya sedang tidak baik-baik saja.
"Pelan-pelan, Luna."
Kain penutup jendela kamarnya belum terbuka. Jam dinding yang menggantung di kamarnya pun masih menunjukkan pukul enam lebih dua puluh lima menit. "Kak Ruri ngapain pagi-pagi di sini?"
Pertanyaan itu ia ajukan tentu bukan karena mawas diri, takut Ruri melakukan hal yang tidak-tidak padanya. Ini masih di rumah orang tua Luna. Di pagi hari seperti sekarang juga biasanya kedua orang tua Luna tengah mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja. Jadi tak mungkin Ruri berani melakukan hal aneh padanya. Apalagi dengan pintu kamar yang dibiarkan terbuka lebar.
"Kemarin malam kamu menghubungi aku? Maaf, pekerjaanku terlalu banyak, jadi nggak sempat angkat panggilan kamu. Waktu kucoba telepon balik, nomor kamu nggak aktif."
"Hah? Nggak aktif?" Segera Luna cek ponselnya, dan ternyata benar. Ponselnya dalam keadaan mati. Luna pasti kelupaan mengisi daya, sebab terlalu sibuk menangisi Ruri kemarin malam. "Ah, iya. Ponselku mati, Kak."
Hanya senyuman kecil yang diberi Ruri sebagai tanggapan atas jawaban Luna. Sementara Luna sendiri mulai merasa tak enak, malu, sebab Ruri melihat wajah kacaunya saat bangun tidur. "Kak Ruri bisa keluar sebentar? Aku mau cuci muka dulu," ujarnya menunduk malu.
Tawa kecil Ruri membuat Luna mengintip kekasihnya. Kemudian mengambil bantal dan menutup mukanya. "Aku malu, Kak. Pasti jelek banget sekarang mukaku." Terlebih karena kemarin malam Luna menangis, entah berapa lama.
"Nggak papa, Lun."
"Tapi aku malu, Kak. Keluar bentar ya ..., biar aku cuci muka dulu."
Ruri menggeleng. "Aku nggak yakin kamu cuma bakal cuci muka aja kalau aku keluar, Lun."
Tentu saja Luna tidak akan merasa cukup jika hanya mencuci muka. Luna butuh memoleskan bedak pada wajahnya, bibirnya juga, jangan lupa matanya juga. Kebanyakan menangis pasti membuat matanya bengkak. Satu lagi, alisnya juga. Intinya, Luna tak mau tampil buruk di depan Ruri. Sewaktu di rumah sakit saja, peralatan make up miliknya, ia minta dibawakan.
"Lima belas menit deh. Eh, enggak deh, dua belas menit. Aku pakenya tipis-tipis aja nanti. Kak Ruri keluar dulu ya."
"Nggak usah, Lun. Aku juga cuma sebentar. Aku cuma mau ketemu kamu untuk minta maaf dan memastikan kamu baik-baik aja. Aku harus kerja, Lun."
"Oh .... Aku pikir Kak Ruri mau nemani aku hari ini," ujarnya kecewa.
"Maaf kalau aku mengecewakan kamu, Lun."
Luna hanya mendesah pendek, kemudian coba mengalihkan topik. "Kak Ruri udah sarapan? Biasanya Bibik jam segini udah nyiapin sarapan. Papi juga pasti belum berangkat kan? Mau ikut sarapan bareng?"
"Aku udah sarapan tadi, Lun."
"Kalau gitu temani aku sarapan aja. Please ...."
"Lun ..., aku-"
"Aku belum makan dari tadi malam, Kak."
Sontak saja Ruri memelototi Luna. Bersiap memarahi kekasihnya yang seakan mengabaikan kesehatan sendiri. Namun, pada akhirnya Ruri mengalah. Keluar dari kamar Luna dan membiarkan kekasihnya tersebut membersihkan wajah, seperti permintaan gadis itu sebelumnya.
***
"Makan, Lun .... Jangan cuma ngelihatin Ruri terus."
Disindir seperti itu oleh Mami, Luna hanya nyengir, kemudian menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ruri sendiri hanya tersenyum kecil, salah tingkah.
"Tiket keberangkatan kalian sudah disiapkan?"
"Pi ..., jangan bahas pekerjaan di meja makan, ah," tegur Mami.
"Sudah, Om," ujar Ruri menjawab pertanyaan Papi. "Nindy sudah mempersiapkannya. Saya dan Nindy akan berangkat siang nanti."
"Tunggu dulu," cegah Luna tak paham dengan apa yang tengah dibahas Papi dan Ruri. "Keberangkatan? Siang ini? Nindy? Maksudnya apa?"
"Luna belum tahu kamu besok berangkat ke Pontianak?"
Pertanyaan tersebut tentu saja diajukan Papi pada Ruri. Luna yang merasa dirinya tak tahu menahu soal keberangkatan kekasihnya sendiri, menatap Ruri menuntut jawaban.
"Maaf karena aku belum sempat ngasih tahu kamu, Lun."
"Mengenai tugas keberangkatan itu, sejak kapan Papi kasih tahu ke Kak Ruri?"
Papi tak langsung menjawab. Ia tatap Ruri yang seperti merasa bersalah karena tak mengabari Luna tentang tugas tersebut. "Baru kemarin."
Jawaban itu membuat Ruri mendongak menatap papi Luna. Bingung, mengapa atasan sekaligus ayah dari kekasihnya itu berbohong. Sebab, ia sudah mengetahui tugas tersebut sejak tiga hari lalu. Kemudian Ruri paham, jika atasannya itu mungkin hanya tak mau membuat putri kesayangannya kian merajuk.
Namun, mood Luna sudah terlanjur memburuk. Merasa tak dianggap penting oleh kekasih sendiri, Luna menyudahi sarapan paginya. "Aku kenyang."
"Habiskan sarapanmu, Lun," tegur Ansell.
"Aku udah kenyang, Kak." Padahal Luna belum menghabiskan separuh dari sarapan paginya. Ia raih kruknya, bangkit perlahan dari kursi yang segera saja dicegah Ruri yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Luna ...."
Tak ada tanggapan dari Luna. Gadis itu hanya menatap Ruri tanpa suara selama beberapa detik. Kemudian melengos begitu saja.
Ruri kian merasa bersalah. Bukan hanya karena lupa memberi tahu Luna, tetapi juga karena sudah memberi tontonan tak layak di depan keluarga kekasihnya. Meski ini bukan kali pertama ia berselisih paham dengan Luna, tetap saja Ruri merasa tak enak menampilkan drama hubungan percintaannya di depan orang lain, terlebih di depan orang tua kekasihnya sendiri.
"Luna memang lebih sensitif sejak sakit, Ruri. Tante harap kamu bisa lebih sabar menghadapi Luna ya," nasihat mami Luna.
Ruri mengangguk, berterima kasih sekaligus meminta maaf, kemudian mengejar Luna yang sudah meninggalkan ruang makan.
Awalnya Ruri pikir, kekasihnya itu akan kembali ke kamarnya. Namun rupanya tidak. Luna berjalan ke taman, menduduki salah satu kursi di sana. Ruri sudah akan melangkah mendekat, tetapi tertahan saat melihat Luna menggerakkan bibir, seperti ... tengah berbicara dengan seseorang?
Ruri yakin Luna hanya sendiri di taman itu. Gerak bibir Luna juga bukan seperti gerakan bibir seseorang yang tengah bersenandung. Lantas, apa yang sedang dilakukan Luna di sana?
***
"Ternyata kamu tipe cewek yang suka ngambek ya."
Luna mencibir kesal. Terus berjalan menuju taman bunga milik Mami. "Siapa yang nggak kesal kalau jadi aku. Aku yakin, kamu juga pasti kesal kalau pacarmu pergi ke suatu tempat tanpa ngasih tahu kamu sebelumnya."
"Bisa jadi dia lupa, Lun. Kan tadi pagi dia udah jelasin ke kamu, pekerjaannya banyak. Baru kemarin juga kan dia dapat tugas ke Pontianak itu? Harus berangkat hari ini pula."
"Aku tahu papiku, Rei. Papi pasti udah kasih tahu tugas itu beberapa hari lalu." Luna mendaratkan bokongnya pada kursi taman. "Papi pasti bohong supaya aku nggak marah banget ke Kak Ruri. Kak Ruri kan kesayangan Papi, udah pasti ditolongi sama Papi, meskipun karyawan kesayangannya itu udah bohong ke putrinya."
"Pacarmu nggak bohong, Lun."
"Kenapa harus ngebelain dia sih?"
"Loh, memangnya aku salah? Pacarmu kan memang nggak bohong. Dia cuma lupa ngasih tahu kamu. Mungkin, dia mau ngasih tahu ke kamu setelah selesai sarapan."
"Memangnya sekarang kamu punya kemampuan baca pikiran orang? Kamu kan bilang kemampuan super yang bisa kamu lakukan cuma menghilang dan berpindah dengan cepat. Itu aja 'kan?"
Reiki menggaruk belakang lehernya. "Aku memang nggak bisa baca pikiran orang sih. Itu juga kan menurut aku, Lun. Kelihatannya pacarmu itu orang baik kok."
Kalau soal yang satu itu, Luna pun tahu. Bagi Luna, Ruri adalah pacar terbaik yang ia miliki. Sebelum dengan Ruri, ia sudah pernah berpacaran tiga kali selama beberapa bulan. Baginya, Ruri yang terbaik. Maka tak heran Luna bertahan dengan Ruri selama lima tahun. Bahkan Luna sampai yakin, Ruri akan menjadi suami terbaiknya di masa depan.
Sayang, Ruri sepertinya tak sependapat dengan Luna.
"Pacarmu ke sini, Lun."
Refleks, Luna menoleh ke arah pintu. Benar saja, Ruri tengah berjalan ke arahnya. "Lun ...."
Kursi taman yang ada, hanya mampu menampung dua orang. Reiki segera bangkit, memberikan tempat yang sebelumnya ia tempati untuk Ruri isi. Nyaris saja Luna tergelak, sebab seandainya Reiki tak bangkit, Ruri tetap dapat menempati kursi tersebut.
Jika begitu, berarti Ruri akan menimpa Reiki kan? Apakah tidak masalah? Atau jangan-jangan, Reiki jadi memasuki tubuh Ruri? Sepertinya bukan begitu proses kemasukan.
"Kamu kenapa, Lun?" Ruri bertanya bingung, melihat Luna menggelengkan kepala beberapa kali. Padahal ia belum mengatakan apa pun. Hanya memanggil penggalan nama Luna sekali.
"Hah? Oh, enggak ... aku nggak papa."
"Kamu marah sama aku?"
"Aku cuma kesal karena nggak tahu apa-apa tentang rencana keberangkatan Kak Ruri."
"Maaf, Lun. Aku lupa ngabarin kamu. Aku udah bilang kan, kemarin aku sibuk banget."
"Aku tahu tadi Papi nolongin Kak Ruri. Papi bohong sama aku. Tugas itu bukan baru Kakak terima kemarin 'kan?"
Ruri menatap mata Luna sebentar, kemudian mengangguk. "Udah dari tiga hari lalu."
"Dan Kak Ruri nggak ada niatan buat kasih tahu aku?"
"Bukan gitu, Lun. Aku cuma ...."
"Aku udah nggak penting lagi? Karena aku sekarang cacat?"
"Luna!"
Bukan cuma Ruri yang memanggilnya dengan nada tegas seperti itu. Reiki pun melalukan hal serupa. Luna hanya melirik Reiki yang berdiri di belakang Ruri sekilas, kemudian kembali fokus pada Ruri yang tak senang mendengar tuduhan Luna.
"Aku tahu aku salah karena nggak ngabarin kamu. Oke, Lun, aku minta maaf atas kesalahan aku. Tapi aku nggak suka mendengar kamu mencela diri kamu sendiri."
"Aku cuma bicara fakta, Kak." Luna menoleh ke kiri, tak mau menatap Ruri. "Mungkin Kak Ruri udah bosan sama aku. Saat aku masih bisa jalan dengan sempurna aja, Kak Ruri kadang nyuekin aku. Apalagi sekarang aku kayak gini."
"Sekali pun aku nggak pernah bermaksud mengabaikan kamu, kamu tahu itu, Lun."
"Aku nggak tahu," cicit Luna pelan.
"Tatap aku, Lun."
Luna menggeleng, menolak perintah Ruri. Tak lama kemudian, isak kecil Luna terdengar, membuat Ruri segera merengkuhnya. "Aku takut Kak Ruri pergi. Aku takut Kak Ruri bosan sama aku, malu punya pacar kayak aku."
"Buang semua pikiran buruk kamu, Lun. Aku nggak akan pergi ke mana-mana. Aku akan selalu di samping kamu, menemani kamu."
"Tapi Kak Ruri mau pergi sama Nindy nanti siang 'kan?"
"Aku pergi kan untuk urusan pekerjaan, Luna. Bukan untuk wisata."
"Cuma berdua sama Nindy?"
Ruri tak langsung menjawab, kemudian terpaksa mengangguk karena tak ingin lagi berbohong pada Luna. "Nindy sekretaris aku, Lun. Dia juga teman kamu."
Nindy ikut dengan Ruri pergi ke suatu tempat, bukan hal aneh sebenarnya. Seperti kata Ruri, Nindy bekerja di perusahaan keluarga Luna sebagai sekretaris Ruri. Hal tersebut yang selalu berhasil membuat Luna iri pada sahabatnya sendiri. Sebab yang ingin selalu bisa bepergian dengan Ruri adalah Luna, tetapi justru Nindy yang melakukannya.
"Berapa hari, Kak?"
"Cuma dua hari. Kamu mau aku bawakan apa?"
"Memangnya aku boleh request bawain sesuatu dari sana?"
Ruri tertawa kecil. Ia yakin kekesalan Luna sudah berkurang sekarang. "Tentu saja. Kamu boleh minta apa pun. Aku usahain cari nanti."
"Souvenir khas Pontianak apa aja sih? Bentar, hapeku mana? Eh, ketinggalan di kamar kayaknya. Aku pinjam hape Kak Ruri dong."
Ruri menyerahkan ponselnya pada Luna. Kekasihnya itu tak perlu menanyakan sandi pengaman ponsel, sebab keduanya sudah lama saling bertukar informasi mengenai sandi masing-masing ponsel.
"Baju adatnya lucu, Kak. Eh, tapi pasti nggak dibolehin sama Kak Ruri. Nggak bakal kepake, Lun, beli yang lebih bermanfaat aja," ujar Luna menirukan suara Ruri pada kalimat terakhir.
"Kan memang nggak bakal kamu pake, Lun."
"Tuh, kan .... Padahal tadi katanya aku boleh minta apa pun."
"Kalau cuma untuk koleksi kamu, mending nggak usah."
Padahal Luna hanya bermaksud mengetes Ruri. Ia tidak benar-benar menginginkan baju adat khas Kalimantan Barat tersebut. Hanya ingin tahu, apakah Ruri akan menuruti keinginan Luna demi membujuk Luna yang tengah merajuk?
"Kalau tas ini?" Luna menunjukkan gambar tas manik yang menjadi salah satu souvenir khas kota Pontianak. "Dipake kok, beneran deh."
"Iya, boleh."
"Yeey ...." Luna bersorak riang bak anak kecil. Membuat Ruri tertawa melihat kelakuan kekasihnya itu. Bukan hal sulit memang membujuk Luna jika tengah merajuk.
Seketika Ruri ingat jika Luna mengatakan bahwa ponsel gadis itu tertinggal di kamarnya. Berarti, yang Ruri lihat tadi memang bukan Luna tengah menelepon seseorang. Ruri juga tak melihat Luna menyumpal telinga dengan earphone. "Sebelum aku nyamperin kamu ke sini, kamu lagi ngapain, Lun?"
Luna menggeleng, masih sibuk bermain dengan ponsel Ruri di tangannya. "Cuma duduk aja," jawabnya. "Nunggu Kak Ruri datang bujuk aku." Kemudian gadis itu menyengir santai.
"Aku sempat lihat kamu seperti lagi ngobrol sama seseorang."
Luna langsung menghentikan gerak jarinya saat itu juga.
***
Reiki berdiri di kamar Luna, memandangi langit-langit kamar yang dicat warna putih polos. Lebih tepatnya, Reiki hanya berpura-pura memandangi kamar Luna, tanpa berniat menoleh ke pemilik kamar yang memandanginya sengit sedari tadi.
Belum ada sepatah kata pun yang dikeluarkan Luna, tetapi Reiki tentu sadar jika gadis itu tengah menahan emosi.
"Aku balik ke rumah sakit dulu."
"Jangan kabur!"
"Aku nggak kabur," bantah Reiki santai. "Aku cuma ... mau lihat ragaku di rumah sakit."
"Masalah kita belum selesai."
"Come on, Lun ..., aku nggak salah. Aku nggak tahu pacarmu bakal lihat kamu ngobrol sama aku."
"Masalahnya Kak Ruri nggak bisa lihat kamu. Yang Kak Ruri lihat, aku ngomong sendiri." Lalu Luna mengacak rambutnya frustrasi. "Pasti Kak Ruri mikir aku gila, Rei. Udah cacat, gila pula."
"Kamu nggak cacat dan kamu nggak gila, Luna ...."
Luna tak peduli. Mendengkus kemudian kembali mengerang frustrasi.
Ruri sudah pamit bekerja beberapa saat lalu. Sekaligus pamit untuk keberangkatannya menuju kota Pontianak siang nanti. Tak bisa mengumbar janji akan mampir menemui Luna sebelum ke bandara, karena alasan pekerjaan, tentu saja.
Luna bersyukur, beberapa detik setelah Ruri melayangkan pertanyaan yang tak mampu ia jawab tadi, Mami datang menghampiri. Pada detik itu juga, Luna seperti ingin memeluk Mami yang telah menyelamatkannya dari pertanyaan Ruri. Yang tentu saja tak Luna realisasikan, sebab tak ingin memancing rasa penasaran Ruri dan Mami.
"Kamu seharusnya nggak ngajak aku ngobrol, Reiki. Huaaaa ... gimana kalau Kak Ruri benar-benar nganggap aku aneh? Gimana kalau Kak Ruri ninggalin aku? Memangnya kamu mau tanggung jawab, hah?"
"Kok kamu malah nyalahin aku?" Reiki tetap tak terima Luna terus menyalahkan dirinya. "Kalau pacarmu memang beneran sayang sama kamu, dia pasti bisa menerima kamu apa adanya. Sekalipun kamu ...."
"Kamu mau bilang aku gila?"
Reiki menggeleng. "Aku nggak bilang gitu. Kamu yang menyimpulkan sendiri."
Luna semakin frustrasi. Melemparkan bantal ke arah Reiki yang tentu saja melewati Reiki begitu saja. "Aku balik ke rumah sakit aja deh."
"Tunggu, Rei," tahan Luna. Gadis itu memperbaiki posisi duduknya. "Kak Ruri kan nggak bisa lihat kamu. Kamu juga bisa menghilang dalam satu kedipan mata. Aku boleh minta tolong?"
Luna memang belum mengutarakan maksudnya pada Reiki. Namun Reiki bisa merasakan, Luna pasti meminta yang tidak-tidak padanya. "Aku nggak bisa. Aku pergi dulu."
"Jangan pergi dulu, Rei. Kamu harus bantu aku. Anggap aja sebagai penebus kesalahan kamu karena udah ngajak aku ngobrol tadi."
"Biasanya juga aku ngobrol sama kamu. Sekarang pun kita lagi ngobrol 'kan?"
"Reiki ...."
"Oke, oke. Apa?"
Merasa Reiki akan memenuhi pintanya, Luna menyengir. "Tolong kamu ikuti Kak Ruri, cari tahu apa yang dipikirkan Kak Ruri tentang aku tadi."
"Aku nggak bisa."
"Reiki ...."
"Aku nggak bisa, Lun. Aku nggak bisa mengikuti orang sembarangan."
"Please, Rei ...."
"Nggak bisa, Luna." Sebenarnya bukan tak bisa, Reiki hanya malas mengikuti seseorang yang tak ada kaitannya dengan dirinya. Ia ada di tempat Luna juga hanya karena Luna mampu melihatnya. Luna bisa berinteraksi dengannya. Sesuatu yang tak didapatkan Reiki selama dua bulan menunggui jasadnya di rumah sakit. "Kamu cukup percaya sama pacarmu, Lun. Kelihatannya dia orang baik kok. Aku yakin dia nggak bakal berpikir kamu gila, apalagi sampai ninggalin kamu. Positive thinking aja. Mungkin dia cuma sedikit kaget lihat kamu ngomong sendiri. Karena sebelumnya, kamu nggak punya kemampuan bicara sama makhluk halus 'kan?"
Luna menggeleng. "Aku juga cuma bisa lihat kamu doang, Rei. Eh, kamu sendiri kan arwah, bisa lihat makhlus halus lain nggak?"
Reiki mengangguk. Matanya melirik ke arah jendela kamar Luna. Di mana ada seorang perempuan melintas di sana saat Reiki menoleh ke sana. "Ada cewek yang lewat di jendela tadi."
"Rei ...." Luna nyaris menjerit ketakutan. "Jangan dikasih tahu. Cukup bilang kamu bisa melihat makhlus halus." Takut-takut, Luna mengintip ke arah jendela kamarnya. Ia tak melihat apa-apa, selain kain gorden yang bergerak pelan terkena embusan angin. Pasti Bibik yang membuka jendela saat Luna sarapan pagi tadi.
"Udah nggak ada kok. Dia cuma lewat aja tadi. Tempat dia bisa di-"
"Rei ...."
Reiki lantas terbahak melihat wajah ketakutan Luna. "Oke, oke, aku nggak bahas lagi. Tapi mukanya ser-"
"Reikiiiii ...."
Satu buah bantal kembali Luna lempar ke arah Reiki. Yang tentu saja melewati arwah laki-laki itu begitu saja.
"Non Luna ada apa teriak-teriak? Ya ampun ... bantalnya kenapa bisa di lantai begitu, Non?"
Luna menggigiti bibir bagian dalamnya. Mengutuk diri karena berteriak terlalu keras. Akibatnya, tentu saja orang lain akan mendengar teriakannya. "Dasar Reiki sialan," desisnya pelan.
Sayang, yang dimaki sudah menghilang setelah puas membuat Luna emosi. Meninggalkan Luna yang harus menghadapi Bibik seorang diri.
Ah, Luna lupa. Kalaupun Reiki ada di kamarnya, arwah laki-laki itu sama sekali tak berguna.
To be continued.