" Terima kasih ya sudah nganter." ujar Sassy saat mobil yang dikemudikan Rey mendekatpi gerbang rumah nenek ," Disini aja, katanya tadi mau langsung pulang."
" Gak jadi." sahut Rey, berpandangan dengan tampang jahil dengan istrinya saat melihat mobil hitam Luke terpakir disana.
" Kangen teh nenek." Reina mendahului keluar.
Sassy mengangkat bahu, dan menghela nafas panjang saat menyadari kehadiran Luke didalam sana.
" Abang sering kesini ?" tanya Reina.
" Beberapa kali." sahut Sassy pelan, merasa tidak ada gunanya menyembunyikan dari mereka.
" Kok kamu gak cerita ?"
" Gak nanya, emang harus laporan ya ?"
" Gak berani kakak ipar pertama." goda Reina ," sore, nek ... ada tamu nih ?" serunya sambil menghapiri dan memeluk perempuan kurus itu.
Nenek terkekeh ," sehat kandunganmu ?"
" Sehat, nek ... cuma kalau pagi masih suka mual sedikit.“ Reina menempati kursi rotan disamping nenek ,” Sudah masuk bulan kelima.“
“ Bagus. Jangan banyak pikiran, yang didalam itu ikut mendengar.” nenek menepuk punggung tangan Reina ,“ Suamimu mana ?”
“ Masih di mobil, nek. Bawa titipan mama.”
“ Sore, nek.” Rey muncul dengan dua kardus ditangannya ,“ Ini dari mama, katanya nenek suka yang ini.” diletakkannya kardus itu di meja, lalu menyalami perempuan kurus itu ,“ Sehat, nek ?”
“ Sehat. Kalian ini kompak sekali, janjian ya ?” nenek melirik Luke yang sudah berdiri dari kursinya.
“ Gak janjian, nek.” sahut Rey cepat sambil menyalami kakaknya ,“ Justru itu yang aneh.”
“ Aku bikinkan minum dulu.” Sassy berbalik ke dapur, meninggalkan tawa di ruang tamu.
Reina menyusul, bersandar di kusen pintu dapur sambil mengelus perutnya ,“ Serius nih, masih lanjut ?”
“ Lanjut apanya ? Acaranya sudah selesai minggu kemaren.”
“ Terus itu siapa yang duduk di ruang tamu ?”
Sassy menuang air panas ke teko, pura pura sibuk ,“ Tamu.”
“ Tamu yang tahu jalan ke rumah nenekmu tanpa dikasih alamat.” Reina terkekeh lalu keluar sebelum sempat dilempar sendok.
Di ruang tamu, Rey menurunkan suaranya ,“ Bang, mama nanya terus kapan pulang.”
“ Besok pagi.” Luke bersandar ,“ Kenapa ?”
“ Gak apa apa. Cuma baru kali ini aku lihat abang bolak balik enam jam buat nganter orang yang katanya cuma satpam.”
Luke tersenyum tipis, memilih tidak menjawab.
“ Silakan.” Sassy meletakkan nampan berisi lima gelas teh.
“ Duduk sini.” Luke menggeser posisinya.
“ Aku bantu nenek di dapur aja.”
“ Neneknya lagi duduk disini.” sahut nenek tanpa menoleh.
Sassy menelan ludah, lalu duduk di ujung sofa yang paling jauh yang masih masuk akal.
“ Bang.” panggilnya pelan setelah semua sibuk dengan gelas masing masing ,“ Perjanjian kita sudah selesai. Hari ketujuh, jam dua belas.”
Luke meraih gelasnya dengan tenang ,“ Sudah aku baca ulang semalam. Ada satu pasal yang kamu lewatkan.”
“ Gak mungkin. Aku yang ngetik.”
“ Pasal tujuh. Kalau sampai tiga hari sebelum hari terakhir gak ada pemberitahuan pembatalan, perjanjian diperpanjang otomatis.” Luke meneguk tehnya ,“ Kamu tanda tangan tanpa membaca ulang. Itu kelalaian penyedia jasa, bukan kelalaian pengguna.”
Rey tersedak tehnya sendiri. Reina tertawa sampai memegangi perutnya.
“ Itu curang !” Sassy hampir berdiri ,“ Kapan abang nambahin ?”
“ Sebelum aku tanda tangan. Semuanya tertulis diatas materai, gak ada yang aku sembunyikan.” Luke meletakkan gelasnya ,“ Filenya masih ada di ponselmu. Silakan dicek.”
“ Aku ajukan pembatalan sekarang.”
“ Pemberitahuannya harus tiga hari sebelum berakhir. Sekarang sudah lewat.”
Sassy meraih ponselnya, membuka file perjanjian yang sudah berbulan bulan tidak disentuhnya. Matanya berhenti di baris paling bawah, ditulis tangan dengan huruf tegak yang rapi, lalu diparaf. Wajahnya memanas.
“ Nek ....” Sassy menoleh, meminta pertolongan.
Nenek mengangkat gelasnya, tenang sekali ,“ Nenek gak ikut campur urusan kontrak orang dewasa.”
“ Nenek !”
“ Tehnya enak.” sahut nenek, membuat Reina kembali terpingkal.
Sassy menghembuskan nafas panjang, menyerah untuk sore ini ,“ Terus maunya apa ?”
“ Sabtu depan komunitas fotoku ada acara dua hari di bumi perkemahan, arah utara. Kamu ikut.”
“ Aku kerja.”
“ Sabtu minggu kantor libur.”
“ Aku gak punya kamera.”
“ Kameranya sudah ada di bagasi sejak kemaren.”
Sassy membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi tanpa mengeluarkan suara.
“ Berangkat sana.” nenek menyahut sambil membereskan gelas ,“ Nenek sudah tinggal disini tiga puluh tahun sebelum kamu lahir. Gak akan hilang ditinggal dua hari.”
“ Nek ....”
“ Bawa jaket tebal. Diatas sana dingin.”
Rey menepuk bahu kakaknya sambil bangkit ,“ Perpanjang otomatis.” gumamnya menahan tawa.
Luke hanya mengangkat sudut bibirnya, menatap gadis yang menekuk wajah menghadap gelas tehnya sendiri.