Sassy melepas safety beltnya begitu Luke mematikan mesin kendaraanya. Untung mereka masih dapat tempat parkir yang tidak terlalu jauh, mengingat lahan parkir luas dari bumi perkemahan ini sudah nyaris penuh.
“ Pakai jaket ini.” Luke meraih jaket di bangku belakang dan menyerahkannya pada Sassy.
“ Aku sudah pakai jaket.”
“ Pakai ini aja, jaket tipismu itu gak banyak membantu.” ditunjuknya gerimis yang menyaru dengan kabut.
Sassy melepas jaket tipisnya lalu turun sambil mengenakan jaket biru tua dengan aksen merah itu.
“ Kenapa, gak suka ?” Luke berputar kesamping Sassy sambil mengenakan jaket senada.
“ Suka … tabunganku bisa berkurang banyak untuk mengganti jaket dengan merk ini.” gerutunya ,” Aku anggap ini pemberian.”
Luke terkekeh, mengacak ujung kepala gadis disampingnya ,“ Kalau kedinginan bilang, jangan ditahan sampai bibirmu biru.”
“ Iya, pak satpam.”
“ Satpamnya kamu.” Luke membuka bagasi, mengeluarkan tas kecil berwarna abu abu dan menyerahkannya ,“ Ini punyamu selama dua hari.”
Sassy membuka resletingnya sedikit, lalu menutupnya cepat seperti tersengat ,“ Bang, ini kamera abang.”
“ Aku bawa dua. Yang itu jarang kepakai.” Luke mengunci mobil ,“ Kalau kamu rusakkan, potong gaji.”
“ Aku bukan staff abang.”
“ Belum.” sahutnya santai lalu melangkah duluan, meninggalkan Sassy yang berdiri mematung dengan tas kamera didadanya.
Meja pendaftaran berada dibawah tenda besar di mulut lapangan. Seorang lelaki setengah baya berkumis tipis mengangkat tangannya begitu melihat Luke ,“ Nah, akhirnya datang juga. Kirain batal.”
“ Macet di pertigaan pasar, om.” Luke menerima dua kartu peserta ,“ Om Rendra, ini Sassy.”
“ Peserta baru ?”
“ Belum. Baru dibawa jalan jalan dulu.” Luke menerima tanda tangan di lembar daftar hadir ,“ Kalau betah, minggu depan didaftarkan.”
“ Halo, Sassy.” Om Rendra menyalaminya ramah ,“ Ini yang selalu bikin anak ini gak fokus dua minggu terakhir ?”
Sassy menginjak sepatu Luke pelan sambil tetap tersenyum sopan ,“ Saya cuma numpang, om.”
“ Tenda perempuan sebelah kanan, dekat dapur umum. Sudah ada empat orang disana.” Om Rendra menunjuk deretan tenda kubah dibawah pohon pinus ,“ Hunting pertama jam empat sore, kalau kabutnya turun kita geser ke jam lima.”
Sassy meletakkan tasnya di tenda, berkenalan sebentar dengan penghuni lainnya, lalu keluar lagi dengan kamera menggantung di lehernya. Gerimis sudah berhenti, menyisakan kabut tipis yang tersangkut di sela pinus. Ia mulai berjalan, menunduk, mencari embun yang menggantung diujung rumput.
“ Diafragmanya dibuka lagi.” suara seseorang membuatnya menoleh. Lelaki muda berjaket panitia menunjuk kameranya ,“ Cahaya segini kalau dipaksa kecil, hasilnya gelap.”
“ Oh ... makasih.” Sassy memutar cincin lensanya ,“ Aku baru pegang yang model begini.”
“ Bagas.” lelaki itu mengulurkan tangan ,“ Panitia. Kalau bingung tanya aja, gak usah sungkan.”
“ Sassy.”
“ Coba jongkok, ambil dari bawah. Kabutnya jadi kelihatan.”
Sassy menurut, menekan tombol, lalu tertawa kecil melihat hasilnya di layar. Baru saja ia hendak bertanya lagi ketika sebuah gelas kertas berisi wedang jahe muncul di sisi wajahnya.
“ Diminum selagi panas.” Luke berdiri disampingnya, satu gelas lagi ada ditangan yang lain. Ditatapnya Bagas sekilas dan mengangguk sopan ,“ Terima kasih sudah diajarin.”
“ Siap, bang.” Bagas nyengir lalu pamit ke rombongan sebelah.
Sassy menerima gelasnya, mengangkat alis ,“ Abang dari mana ?”
“ Dari dapur umum. Antre.”
“ Dapur umumnya di ujung sana, jauh dari sini.”
“ Hmm.”
“ Terus kenapa bisa pas sekali sampainya ?”
Luke meniup gelasnya tenang ,“ Aku sudah pasang radar.”
“ Radar apa ?”
“ Radar Sassy.” dihirupnya jahe itu sedikit ,“ Jangkauannya lumayan. Termasuk yang senyum senyum dari jarak dua meter.”
Sassy tersedak wedangnya sendiri ,“ Itu panitia, bang. Dia cuma ngajarin diafragma.”
“ Aku tahu. Makanya aku bilang terima kasih, bukan yang lain.”
“ Abang ....”
“ Minum, keburu dingin.”
Sassy diam, memilih menyembunyikan wajahnya dibalik gelas kertas. Kabut turun semakin tebal, membuat lampu lampu tenda diseberang lapangan berpendar seperti kunang kunang. Dari kejauhan terdengar suara Om Rendra memanggil rombongan untuk berkumpul.
“ Ayo.” Luke menarik ujung lengan jaket yang dipakai Sassy, bukan tangannya ,“ Kalau ketinggalan rombongan, kita gak akan dicari.”
“ Katanya ada radar.”
“ Radarnya cuma satu arah.” Luke melangkah lebih dulu ,“ Aku yang mencari kamu, bukan mereka.”
Sassy mengikuti dari belakang, sengaja mengambil jarak dua langkah. Ditariknya resleting jaket biru tua itu sampai keatas, menutupi separuh wajahnya yang terasa hangat padahal udara sedang dingin dinginnya.
“ Bang.”
“ Hmm ?”
“ Radarnya bisa dimatikan gak ?”
Luke menoleh sebentar, tersenyum ,“ Bisa. Nanti, kalau kamu sudah gak ada di jangkauan.”
Sassy tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kameranya, memotret punggung lelaki yang berjalan didepannya, lalu menyimpan foto itu tanpa menunjukkannya pada siapapun.