“Yah… Yah, Sayang…”
“Udah cukup kamu tersiksa selama lima tahun pacaran dengan perempuan frigid itu. Aku bisa berikan kenikmatan yang kamu dambakan itu, setiap saat kamu mau, Mas,”
Setiap kata yang keluar dari bibir adiknya terdengar jelas, melukai hati Ameera tanpa ampun. Lalu Jasmine menurunkan tubuhnya, menuntun tongkat keras Bimo memasuki dirinya dan mulai bergoyang, membuat Bimo menggeram keras.
Ameera masih merekam semuanya, walaupun hatinya semakin luluh lantak. Mereka bersetubuh sambil menertawakan dirinya.
Kata ituterngiang terus di telinganya.
Frigid.
Dingin, tak punya gairah dan tak mampu membahagiakan.
Itu label yang dilempar begitu saja, seolah dirinya hanyalah sesuatu yang cacat, yang pantas digantikan.
Dan Bimo… pria yang beberapa hari lagi akan mengucap janji di hadapannya, ikut memberikan cap itu padanya. Padahal Ameera berusaha menjaga kesucian hanya untuknya, sampai hari pernikahan, dan mereka sah sebagai suami istri. Ternyata pria itu tak ada bedanya dengan laki-laki m***m yang tergila-gila memuaskan syahwatnya tanpa takut dosa.
Dan yang paling menyakitkan bukan hanya apa yang mereka lakukan di dalam sana. Melainkan siapa yang melakukannya.
Adik kandungnya sendiri.
Seseorang yang dulu ia peluk saat takut gelap. Yang ia lindungi tanpa pernah berpikir akan dibalas dengan luka seperti ini.
Tangannya masih menggenggam ponsel dengan erat, jemarinya memucat karena tekanan. Ada dorongan untuk masuk, untuk berteriak, untuk menghancurkan semuanya saat itu juga. Namun tubuhnya tak bergerak. Harga dirinya menahannya.
Ameera menyerah setelah kedua tubuh full naked di dalam sana semakin menggila mengejar kepuasan syahwat sambil adiknya lagi-lagi mengejeknya sebagai perempuan frigid.
Rasa mual hebat memaksa Ameera mengakhiri rekaman dan berjalan menjauh dengan langkah sempoyongan. Dia berlari ke kamarnya dan meluapkan emosi di sana.
Ameera tidak ingin menangis, tapi air mata sakit hati dan perasaan terkhianati tak tertahankan. Ia duduk lama di atas ranjang, membiarkan emosinya meluap dalam kesunyian itu.
Entah beberapa menit telah berlalu, Ameera mengusap butir air mata terakhirnya. Kesedihan belum berakhir, tapi dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap kuat.
Dia terlalu mempercayai Bimo, dan terlalu menyayangi Jasmine, hingga rasanya tidak percaya mereka akan menikamnya dari belakang. Dia selalu memanjakan Jasmine, semua keinginannya selalu berusaha dia turuti.
Tidak menyangka balasannya akan seperti itu.
Beberapa minggu sebelum hari itu, rumah keluarga Ameera dipenuhi kesibukan yang berbeda dari biasanya.
Undangan pernikahan sudah mulai dicetak. Vendor dekorasi datang dan pergi membawa contoh bunga, kain, dan desain pelaminan. Ruang tamu yang biasanya tenang kini berubah menjadi tempat diskusi tanpa henti antara ibunya dan wedding organizer.
Ameera berdiri di dekat meja makan, memperhatikan semua itu dengan tenang. Dia ikut tersenyum melihat atusiasme sang ibu dalam mempersiapkan pesta terbaik untuknya dan Bimo.
Di atas kertas, hidupnya terlihat sempurna. Ia adalah dokter spesialis kulit yang sedang naik daun, memiliki karier stabil, dan akan menikah dengan Bimo Prasetyo—pria yang dikenal mapan, sopan, dan memiliki posisi penting di BUMN besar.
Ibunya terlihat sangat bahagia.
“Ini momen yang sudah Ibu tunggu-tunggu,” ucap sang ibu sambil tersenyum lebar. “Akhirnya Ameera menikah juga. Pestanya harus megah.”
Ameera hanya tersenyum kecil. Bukan karena tidak bahagia, tapi karena ia memang bukan tipe yang menyukai keramaian. Ia lebih suka pernikahan sederhana, intim, hanya keluarga dekat dan beberapa sahabat. Tanpa dekorasi berlebihan, dan tanpa sorotan yang terlalu besar.
Namun ibunya memiliki pandangan berbeda.
“Nggak bisa begitu,” kata ibunya tegas namun tak mengiks kelembutannya. “Kamu anak pertama, harus ada pesta yang layak.”
Ameera diam, tidak membantah. Ia terbiasa mengalah dalam banyak hal. Selama itu tidak merugikan siapa pun, ia selalu memilih jalan damai. Apalagi melihat senyum cerah dan penuh semangat ibunya, dia memilih nurut saja.
Dan saat itu, semuanya terlihat berjalan baik-baik saja. Ibunya mulai membuat berbagai rencana untuk pernikahannya nanti.
Sampai malam itu tiba.
Makan malam keluarga malam itu berlangsung seperti biasa. Ayahnya bercerita tentang perjalanan ke Bandung. Ibunya sesekali membahas detail tamu undangan. Ameera hanya mendengarkan sambil sesekali tersenyum kecil.
Jasmine duduk di seberang meja. Adiknya itu selalu pendiam seperti biasanya, namun kali ini wajahnya tampak lebih ceria.
“Aku juga punya kabar, Pak, Bu,” kata Jasmine tiba-tiba.
Semua orang menoleh.
Ibunya tersenyum. “Apa? Nilai mata kuliahmu yang terbaik lagi?”
Jasmine menggeleng kecil, lalu meletakkan sendoknya dengan tenang.
“Aku juga akan menikah.”
Seketika ruangan itu hening.
Lalu Ayah mereka bersuara dengan alis terangkat, “Menikah? Dengan siapa?”
Jasmine tersenyum kecil,wajahnya sumringah.
“Dewa.” jawabnya singkat.
‘Dewa?’
Dahi Ameera mengerut. Dia kenal Dewa, pacar Jasmine. Tapi hanya kenal sekilas saja, karena pria itu baru beberapa kali datang ke rumah mereka. Dan Dewa belum pernah datang lagi setelah mengalami kecelakaan yang membuat kedua kakinya lumpuh. Jadi pertemuan mereka yang terakhir dengan pria itu sudah beberapa bulan lalu. Rupanya adiknya masih menjalin hubungan dengan pria itu.
‘Tapi kenapa Jasmine malah buru-buru ingin menikah?’
Namun yang membuat suasana berubah bukan itu, melainkan kalimat berikutnya.
“Aku ingin menikah di hari yang sama dengan Mbak Ameera.”
Sendok ibunya berhenti di udara. Ayahnya menatap dengan ekspresi bingung. Dan Ameera… perlahan mengangkat wajahnya.
“Apa maksudmu?” tanya Ameera pelan.
Jasmine tidak tampak ragu sedikit pun. “Biar lebih meriah,” jawabnya ringan. “Aku sama mbak Ami bakal berbagi pelaminan, jadi keluarga dan teman-teman kita ngumpul sekaligus. Itu bakalan lebih indah dan meriah, kan?”
Suasana meja makan langsung menjadi sunyi. Namun sebelum Ameera sempat menjawab, ibunya justru tersenyum lebar.
“Wah, itu ide bagus!” katanya antusias. “Sekalian saja jadi pesta besar keluarga!”
Ameera menoleh ke ibunya, sedikit terkejut. “Bu… ini pernikahan, bukan acara kumpul keluarga,” ucapnya pelan.
Namun ibunya sudah terlanjur bersemangat. “Justru karena itu! Jarang-jarang ada dua anak menikah di hari yang sama. Hemat, meriah, dan berkesan!”
Jasmine tersenyum manis, lalu berdiri dan berjalan ke arah Ameera. Tanpa ragu, ia memeluk kakaknya erat dan hangat.
“Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan Mbak Ameera,” bisik Jasmine lembut. “Aku sangat mengagumimu, Mbak. Tolong jangan keberatan, ya?” suaranya manja, namun penuh bujukan.
Sepasang mata Jasmine yang menatap kakaknya, lalu beralih ke ayah dan ibu mereka sampai berkaca-kaca, benar-benar membuat hati tersentuh.
“Ayah sama Ibu juga nggak keberatan, kan?”
Kalau sudah ditatap seperti itu oleh si bungsu, siapa yang berani nolak?
Ayahnya mengangguk bangga ke arah putri bungsunya itu.
Ibunya yang tampak terharu sampai mengusap ujung mata.
Ameera seperti biasa tidak pernah tega pada adik semata wayangnya ini. Dia sangat menyayangi Jasmine, dan hampir semua permintaannya selalu dia turuti. Sejak mereka masih kecil, Jasmine selalu mengaguminya dan seolah menjadi bayangan kedua Ameera.
‘Mungkin karena itu Jasmine mau nikahnya bareng juga,’ pikir Ameera, lalu mengangguk kecil.
“Kalau itu membuat adikku senang, baiklah, aku nggak keberatan,” ujarnya pelan.
Dan sejak malam itu, semuanya berubah tanpa Ameera benar-benar menyadarinya.
Gedung pernikahan yang sudah disepakati sebelumnya diganti, dekorasi yang sudah dipilih ibunya disesuaikan ulang, dan vendor harus mengatur ulang semua jadwal dan rangkaian prosesi pernikahan.
Dan bukan itu saja, konsep acara perlahan dibagi dua, dan entah bagaimana, bagian Jasmine mulai mengambil ruang yang semakin besar.
Awalnya Ameera tidak mempermasalahkan. Ia berpikir ini hanya soal kebersamaan keluarga. Hanya soal Jasmine yang ingin ikut merasakan momen bahagia bersamanya, kakak yang sangat ia kagumi.
Dia pun mengikuti semua permintaan Jasmine, dan hanya mempertahankan konsep prewedding yang sudah ia sepakati. Lalu Jasmine membuat konsepnya sendiri dan Ameera tidak tega meredupkan semangat adiknya.
Dan ternyata semuanya tidak sesederhana itu.