Ameera masih terduduk di ranjang kamarnya dalam keheningan yang menusuk. Air matanya benar-benar sudah berhenti. Dia sudah bertekad untuk tidak lama-lama menangisi kedua manusia jahat itu. Namun tangannya masih gemetar, efek dari apa yang baru saja ia lihat di kamar adiknya.
Ia menunduk, menutup wajahnya dengan tangan. Dadanya benar-benar sesak. Walaupun dia bisa menahan air mata, tapi rasa sakit itu masih meremas jantungnya, setiap kali terpikir bagaimana seseorang yang tumbuh bersamanya, dan orang yang ia cintai tanpa syarat, bisa menjadi orang-orang yang paling menghancurkannya.
Dan di dalam sunyi kamar itu, Ameera akhirnya menyadari satu hal, ini bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi. Bukan sebuah kesalahan yang muncul dalam satu malam, dan bukan pula keputusan impulsif karena emosi sesaat.
Jasmine, adik kesayangannya sudah lama seperti ini, dan Ameera yang tidak pernah benar-benar melihatnya.
Ingatan itu mulai datang satu per satu.
Di masa kecil mereka, Ameera kecil yang selalu menjadi kebanggaan keluarga. Nilainya baik, sikapnya tenang, dan sering dipuji oleh guru maupun orang dewasa di sekitarnya.
Sementara Jasmine, ia selalu ada di belakangnya, selalu tersenyum, dan selalu memeluknya di depan orang tua mereka.
Namun ada sesuatu yang dulu tidak pernah Ameera pahami. Setiap kali Ameera mendapat pujian, wajah Jasmine selalu berubah sesaat—hanya sepersekian detik, tetapi cukup untuk terlihat oleh seseorang yang cukup jeli.
Ameera mengira itu karena adiknya begitu ingin jadi seperti dirinya juga. Jadi dia berusaha membantu Jasmine belajar, dan meraih nilai-nilai yang baik.
Jasmine hampir selalu menginginkan apa yang diberikan kedua orang tua mereka pada Ameera, dan mereka mengira itu hanya karena Jasmine terlalu dimanjakan, dan mereka lebih lagi melimpahinya dengan cinta.
Ameera selalu mengalah, demi adiknya bisa tersenyum.
Lalu hari di saat Ameera diterima di fakultas kedokteran. Ayah dan ibu begitu bangga sampai mengadakan makan malam kecil di rumah. Ameera masih ingat Jasmine yang tiba-tiba menangis di meja makan malam itu.
“Kenapa sih Mbak Ameera selalu lebih hebat dari aku?” katanya waktu itu sambil tertawa kecil, tapi matanya merah.
Saat itu semua orang menganggap itu hanya drama kecil seorang adik yang terlalu dimanja, sama seperti biasanya.
Ibunya bahkan mengelus kepala Jasmine dan berkata, “Kamu juga akan berhasil seperti kakakmu nanti.”
Dan Jasmine kembali tersenyum lebar, seolah tidak terjadi apa-apa.
Kemudian klinik kecantikan itu mulai berkembang. Ameera bekerja keras bersama dua rekan dokter seniornya. Hari-harinya dipenuhi pasien, penelitian, dan pengembangan layanan estetika yang perlahan membuat namanya dikenal.
Dan di rumah, komentar Jasmine mulai berubah.
“Astaga, kakak sibuk banget ya… sampai nggak punya waktu buat keluarga.”
“Wah, klinik kakak makin besar. Pasti capek banget jadi orang penting.”
Nada suaranya selalu terdengar ringan, bahkan seperti bercanda.
Namun Ameera sekarang mulai mengingat… setiap kalimat itu selalu disertai senyum tipis yang tidak pernah benar-benar hangat.
Tapi depan orang tua mereka, Jasmine selalu berbeda. Ia akan memeluk Ameera dari belakang, bersandar manja, lalu berkata dengan suara lembut:
“Aku bangga punya kakak seperti kamu. Aku ingin seperti Mbak Ameera nanti.”
Dan semua orang percaya. Ayah dan ibunya selalu tersenyum melihat hubungan kedua anak mereka.
“Lihat itu,” kata ibunya dulu. “Jasmine sangat menyayangi kakaknya.”
Dan Ameera pun dengan bodohnya percaya begitu saja.
Ameera mengangkat kepalanya perlahan. Matanya kosong, tapi pikirannya mulai terhubung satu per satu.
Semua tanda itu sebenarnya sudah ada sejak lama, bahkan sejak mereka masih kecil. Hanya saja… ia tidak pernah mau melihatnya sebagai ancaman. Ia selalu menganggap Jasmine hanya adik yang manja. Adik yang butuh perhatian lebih, adik yang belum dewasa.
Namun sekarang, setelah semua yang ia lihat dan dengar, semua itu terasa seperti potongan gambar yang akhirnya membentuk satu wajah yang jelas. Wajah yang selama ini ia abaikan, wajah manusia serakah dan dengki.
Ameera mengepalkan tangannya pelan. Kesadaran itu datang seperti pisau yang perlahan menekan, melukai hatinya tanpa ampun.
Rencana pernikahan bersama itu bukan sesuatu yang baru. Bukan ide spontan, tapi sudah tumbuh di balik semua senyum manis yang pernah Jasmine tunjukkan padanya.
Ameera menutup matanya sebentar. Saat ia membukanya kembali, sorot matanya dingin dan keras. Ia akhirnya menyadari satu hal yang menusuk jantungnya.
Ia sudah diincar oleh adiknya sendiri sejak lama.
Ameera masih duduk di tepi ranjang.
Tubuhnya terasa berat, seolah seluruh tenaganya sudah terkuras habis dalam waktu singkat. Kepalanya berdenyut pelan, bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi juga karena pikirannya yang terus berputar tanpa henti.
Laporan yang seharusnya sudah ia bawa ke klinik dan diserahkan ke dokter Yoga masih tergeletak di atas meja samping ranjang. Ameera sudah tidak punya tenaga untuk itu. Ia bahkan tidak lagi memikirkan pernikahan itu.
Ameera menatap ponselnya cukup lama sebelum akhirnya menekan satu nama di layar.
Dokter Yoga.
Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara khas dokter senior itu.
“Hallo, Ameera?” suara pria itu terdengar tenang seperti biasanya.
Ameera menarik napas pelan. “Dokter Yoga… maaf, aku nggak balik ke klinik...”
Ada jeda singkat di seberang sana, lalu terdengar suara dengan nada khawatir, “Kamu sakit?”
“Bukan sakit berat, Dok,” jawab Ameera pelan. Ia memejamkan mata sejenak. “Tapi kepalaku mendadak terasa pusing. Bisakah kita bisa bahas laporan itu besok saja, Dok?”
Suara di seberang terdengar lebih lembut. “Nggak apa-apa,” jawab Dokter Yoga. “Kamu memang kelihatan terlalu memaksakan diri akhir-akhir ini.”
Ameera terdiam. Semua orang berkomentar kalau dia terlalu sibuk ngurusin pernikahan. Itu memang benar, dan sekarang terasa seperti ejekan.
“Calon pengantin itu harusnya nggak boleh terlalu capek,” lanjut Dokter Yoga dengan nada sedikit bercanda, mencoba mencairkan suasana. “Istirahat saja, dokter Ami, jangan terlalu berat mikirin urusan pernikahan.”
Ameera merasa hatinya semakin retak.
‘Pernikahan apa?’ gumamnya sedih.
Bayangan tubuh Bimo, calon suaminya yang bergelut dengan adiknya membuat air matanya Ameera perlahan meleleh lagi, walaupun dia berusaha kerasa menahan. Dadanya sesak oleh isak tertahan.
Namun, ia tidak mau dokter Yoga curiga dan berubah jadi mode kepo kalau mendengar suaranya, jadi dia buru-buru menjawab singkat,
“Aku ngerti, Dok!” jawabnya.
“Kalau ada apa-apa, kabari ya,” kata Dokter Yoga sebelum panggilan berakhir.
*
“Mbaak…”
Sebuah suara ringan dan manja mengusik keheningan kamar Ameera.
Seperti tidak pernah terjadi apa-apa, Jasmine mendorong pintu dan melangkah masuk dengan senyum cerah di wajahnya, rambutnya tergerai, sepertinya baru habis keramas.
Kembali bayangan adegan m***m Jasmine dan Bimo terbayang. Kata-kata penuh penghinaan mereka bahkan masih terngiang jelas di telinga Ameera.
Rasanya aneh melihat seseorang yang baru saja menusuknya dari belakang kini berdiri didepannya dan tersenyum seolah tidak pernah melakukan apa-apa.
‘Sialan kamu, Jasmine.’
Tangan Ameera terkepal di sisi tubuhnya, bertumpudi ranjang. Ia setengah mati menahan amarah, dan dorongan kuat untuk melampiaskan sakit hatinya.
‘Nggak. Aku nggak boleh terlihat rapuh sekarang dan hanya jadi korban yang mengenaskan.’
Pemikiran itu muncul begitu dia melihat wajah dan senyum tak berdosa Jasmine. Dia tidak rela membiarkan adiknya menang mudah. Kalau dia ingin merebut kebahagiaannya dan menghancurkannya, dia harus berusaha lebih keras.
Jadi Ameera memutuskan menyimpan kebenaran itu. Nalurinya seolah mengarahkannya untuk menonton terlebih dahulu drama adiknya ini.
“Kenapa di kamar terus, Mbak?” Jasmine bertanya sambil mendekat tanpa ragu. “Aku nyariin Mbak di ruang makan, nggak tahunya masih di sini.”
Ameera menatapnya datar, memulai sandiwara dengan penuh tekad.
“Aku capek,” jawab Ameera singkat.
“Ah, mbak terlalu ngoyo kerjanya, padahal harusnya udah cuti, kan?” Jasmine duduk di tepi ranjang tanpa permisi, lalu mulai membuka ponselnya.
“By the way,” katanya dengan suara riang, “aku sudah lihat dekorasi terbaru dari wedding organizer kita.”
Ia menunjukkan layar ponselnya dengan antusias.
“Bagian pelaminannya sekarang lebih bagus. Aku minta tambahan bunga putih dan lighting emas, biar lebih elegan.”
Ameera tidak menjawab. Matanya hanya mengikuti gerakan Jasmine.
“Terus aku juga bilang ke Ibu,” lanjut Jasmine tanpa henti, “nanti kita harus ada sesi foto keluarga yang lucu. Aku mau foto kita berdua yang pakai gaun pengantin, terus…”
Jasmine tertawa kecil sendiri, seolah sedang membayangkan sesuatu yang indah. “orang-orang pasti bilang kita pasangan kakak-adik paling kompak.”
Ameera diam, nyaris tidak percaya kalau orang yang tertawa ringan di hadapannya ini adalah orang yang sangat menginginkan kehancurannya.
‘B@jingan!’ hanya umpatan dalam hati yang bisa Ameera lakukan.
Belum waktunya.