Ameera masih diam. Tangannya yang berada di atas pangkuan sedikit mengepal. Namun wajahnya tetap tenang.
Jasmine menoleh, lalu tersenyum pada Ameera. “Mbak kok diam aja sih? Biasanya kamu paling semangat kalau bahas pernikahan.”
"Lagi capek aja," jawab Ameera lagi, singkat.
Jasmine tertawa, “Makanya, cepetan cuti, biar pas hari H, Mbak nggak kelihatan kuyu.”
‘Kelihatan kuyu? Maksudnya nangis bombay?’ batin Ameera sinis.
Kesal sekali melihat wajah munafik adik tak tahu diuntung ini.
“Ya udah, Mbak. Ayo turun, Bapak sama Ibu udah nungguin. Nanti keburu dingin lagi makan malamnya.” ujar Jasmine sambil menggandeng lengan Ameera, memaksanya berdiri.
Seketika tubuh Ameera membeku. Dia merasa jijik bersentuhan dengan tubuh yang tadi bergoyang penuh nafsu di atas tubuh calon suaminya.
“Aku bisa jalan sendiri,” ujarnya dingin sambil mendorong tangan adiknya.
Jasmine menatapnya terkejut, juga merasa heran karena penolakannya. Namun melihat wajah dingin kakaknya, dia melangkah lebih dulu ke pintu.
“Ayo, kak,” dia menggigit bibirnya, menahan kesal.
Ameera selama ini tidak pernah kasar padanya, dia selalu memanjakannya.
‘Udahlah, mungkin karena dia memang lagi benar-benar capek.’ batin Jasmine sambil mendahului menuruni tangga.
Ujung bibirnya terangkat, senyum sinis.
Di ruang makan, ada ayah dan ibu, yang sepertinya memang masih menunggunya.
Piring di hadapan mereka masih kosong.
Ameera duduk di kursinya dengan tenang, di samping Jasmine yang sudah menarik kursi dan duduk lebih dulu.
“Ayo makan, Nak! Ibu masak sambal hati kesukaanmu,” ujar ibu sambil mendorong piring lauk itu ke hadapan Ameera.
“Aah, bukan hanya mbak Ameera aja, Bu. Aku juga doyan,” sela Jasmine cepat sambil mengisi piringnya lebih dulu.
Ameera tidak menanggapinya. Dia mengambil sayur asem dari pada sambal hati.
“Perutku seharian ini nggak enak, Bu. Mungkin karena kemarin makan pedes di klinik. Jadi malam ini cukup dengan ini aja,” katanya sambil tersenyum pada ibunya.
“Oh.. ya udah. Tapi makan yang banyak. Hari pernikahan kalian udah makin dekat lho. Kalian harus benar-benar fit, biar bisa jalani semua prosesinya dengan baik.”
Ameera mengangguk, dan mulai menikmati makan malamnya tanpa bicara lagi.
Sambil makan, Ayahnya membahas hal-hal ringan tentang undangan pernikahan. Ibunya sesekali mengingatkan detail kecil seperti daftar tamu dan jadwal vendor.
“Dekorasi nanti aku mau yang agak lebih bright ya,” kata Jasmine sambil tersenyum. “Biar suasananya nggak terlalu kaku.”
Ibunya langsung mengangguk antusias. “Bagus itu. Biar lebih meriah.”
Jasmine tersenyum puas, lalu menoleh ke Ameera dan berkata ceria, “Aku pengen hari itu jadi hari yang paling menyenangkan buat kita berdua,” katanya manja sambil sedikit menyenggol lengan Ameera.
Ameera menatap adiknya sebentar, lalu tersenyum tipis, seolah dia ikut senang. “Ya, lakuin aja apa yang kamu mau, Dek, biar pernikahan kita lebih perfect.”
Senyum puas Jasmine bertambah lebar. “Yeay! Aku memang pengen semuanya perfect,” katanya sambil kembali melanjutkan makan.
Belum juga selesai mengunyah makanan, dia sudah mengangkat garpunya, dan kembali berbicara dengan penuh semangat.
“Mbak, pengambilan foto prewedding besok lusa aku sama Mas Dewa ikutan ke lokasi Mbak Ami sama mas Bimo aja, ya?”
“Lha, emang nggak apa-apa ikutan ke lokasi yang sama? Lagian, pengambilan gambarnya siang lho, sementara kamu nggak suka panas-panasan di pantai, kan?” Ameera menatap adiknya dengan dahi mengerut, seolah terkejut.
Sepasang mata jasmine berkedip, sesaat raut wajahnya berubah muram. Namun, dengan cepat sudah berganti senyum lebar.
“Nggak apa-apa, Mbak. Ini kan momen sekali seumur hidup, jadi selain pestanya barengan, aku juga mau preweddingnya juga barengan. Sekalian aku bisa bantu-bantu fotografer buat mikirin pose dan angle foto yang bagus,”
Ibunya langsung tersenyum. “Bagus itu. Kamu memang kreatif, Nak,”
Ameera hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya sambil menunduk, pura-pura sibuk dengan makanannya. Sekalipun dadanya bergolak dengan amarah, namun dia tetap berusaha terlihat tenang, seolah dia juga menyukai semua ide Jasmine.
Jasmine tambah bersemangat, mengira rencananya telah berjalan dengan sempurna. Sepanjang waktu makan malam itu, dia terus berceloteh tentang semua hal terkait semua prosesi pernikahan nanti. Saking semangatnya, dia tidak lagi memperhatikan perubahan sikap Ameera yang terlihat lebih acuh tak acuh.
“Aku pengen semuanya perfect sih,” kata Jasmine sambil tersenyum.
Ameera hanya mengangguk pelan. “Ya, pasti, Dek!” jawabnya singkat.
Namun di dalam pikirannya, ia menambahkan kalimat lain, ‘Tenang saja, Jas. Aku juga sudah lihat betapa “perfect”-nya rencana kalian itu.’
Begitu makan malam selesai, Jasmine berdiri lebih dulu. “Aku duluan ke kamar ya,” katanya ceria. “Besok aku ada kelas pagi.”
“Iya, jangan tidur terlalu malam,” jawab ibunya.
“Baik, Bu,” Jasmine tersenyum lalu menoleh ke Ameera. “Selamat malam, Mbak,”
“Selamat malam,” Ameera menjawab sembari memberi senyum manis.
Senyum itu bukan untuk Jasmine, tapi buat dirinya sendiri yang bisa bertahan sejauh ini tanpa menunjukkan kehancuran sedikitpun, walaupun di dalam hatinya sudah luluh lantak.
‘Aku harus kuat, demi bisa membuat rencana pembalasan atas perbuatan kedua manusia bajing@n itu.’
*
Malam semakin larut, namun Ameera masih duduk di atas ranjang dengan mata menyala seperti lampu 100 watt.
Hari ini benar-benar membawa kejutan yang meruntuhkan dunianya, namun juga memberinya kekuatan untuk tetap berdiri tegak di atas reruntuhan itu.
Walaupun, fakta bahwa hubungan dengan Bimo yang sudah terjalin selama 5 tahun membuat rasa sakit itu berkali-kali lipat sakitnya, namun dia bukan orang yang bisa dihancurkan semudah itu.
Setiap kalimat yang ia dengar siang tadi terasa seperti berputar ulang tanpa henti. Tawa kecil Jasmine, nada santai Bimo saat membicarakan rencana itu dan bagaimana tubuh polos mereka menyatu tanpa ingat dosa sama sekali.
Ameera menutup matanya sebentar. Dadanya terasa sesak, namun matanya kering. Ia tidak akan menangis lagi untuk manusia-manusia b***t itu. Dia diam dan terus berpikir akan hari pernikahan yang sudah dekat. Sebelum hari itu tiba, dia harus menemukan cara untuk membalas mereka.
“Aku nggak bisa jadi bahan lelucon mereka,” gumamnya pelan.
Ameera berdiri dari tempat tidur dan berjalan ke meja kecil di sudut kamar. Ia duduk, menatap kosong ke depan selama beberapa detik, mencoba menata pikirannya agar bisa berpikir jernih.
Bimo sudah mengkhianatinya, membuat hubungan lima tahun mereka seperti lelucon. Dan Jasmine telah menghancurkan hubungan persaudaraan di antara mereka, karena keserakahan dan rasa dengki akut yang telah meracuni nuraninya.
Dia harus memikirkan ara terbaik untuk membalas perbuatan mereka. Sesuatu yang akan membuat rencana mereka berbalik menyerang diri mereka sendiri.
Ameera memikirkan berbagai opsi pembalasan, hingga pikirannya berhenti pada seseorang yang juga sudah dikhianati dan menjadi target kedua manusia bajing@n itu.
Dewa, calon suami Jasmine, yang bahkan belum pernah ia kenal secara pribadi dengan baik. Namun, Dewa juga korban, orang yang sama-sama akan dipermalukan di hari yang sudah direncanakan itu. Orang yang bahkan tidak tahu apa-apa, mengira akan menikahi adiknya, padahal calon istrinya sudah menyiapkan jebakan untuknya.
‘Dasar manusia-manusia bajing@n!’
Tangan Ameera kuat. Ia menatap ke depan dengan lebih fokus sekarang.
Perlahan, sebuah ide muncul di kepalanya, ide yang membuat napasnya sedikit tertahan karena terlalu bersemangat. Ini mungkin akan sangat mengejutkan, dan butuh usaha lebih untuk meyakinkan pria itu. Tapi Ameera akan berusaha hingga Dewa setuju melakukan itu.
Tapi yang Ameera ketahui tentang pria itu sangat sedikit. Dia hanya tahu nama pria itu Dewa Mahendra saat minggu lalu ia bersama ibunya datang untuk melamar Jasmine, lalu membicarakan persiapan pernikahan.
Ameera saat itu sibuk di klinik, jadi tidak bertemu mereka langsung, tapi hanya sempat mendengar ceritanya dari Jasmine dan Ibu. Pantas saja Jasmine tidak terlalu antusias membicarakan calon suaminya. Semangatnya hanya saat membahas persiapan pernikahan saja.
‘Ternyata karena dia dan Bimo sudah punya rencana lain. b******k!’
*
Malam itu, Ameera mulai mencari tahu tentang Dewa Mahendra. Namun, tidak terlalu banyak informasi tentang pria itu. Interaksi di media sosialnya terakhir enam bulan lalu. Sepertinya pria itu sengaja menutup diri setelah kejadian kecelakaan yang membuat kedua kakinya lumpuh.
Ameera terdiam sambil menatap layar ponselnya yang perlahan meredup. Dia tidak mungkin mencari tahu mengenai pria itu dari Jasmine, pun dari ibu. Bisa-bisa Jasmine curiga dan rencana pembalasannya gagal total, bahkan sebelum dieksekusi.
Menolak pasrah, Ameera kembali membuka media sosial. Hampir lelah menggulir layar, tiba-tiba dia melihat sesuatu di salah satu laman berita online. Sebuah berita yang baru diposting beberapa jam lalu menarik perhatiannya.
Ameera memusatkan perhatiannya. Itu adalah berita tentang sebuah kegiatan aksi sosial untuk anak-anak disabilitas, yang dilaksanakan oleh PT. Nusantara Globalindo, sebuah perusahaan besar di Jakarta. Ada satu foto yang memberinya petunjuk yang sangat berguna, foto Dewa, yang sedang duduk di kursi roda, memberikan bantuan kaki palsu pada seorang anak.
‘Nusantara Globalindo, mungkin Dewa bekerja di perusahaan itu.’
Otak Ameera langsung bekerja cepat, mulai menyusun rencananya sendiri.
**