Sendy Anggara begitu mantap menandatangani surat serah terima sertifikat tanah dan rumah milik keluarganya yang baru saja jatuh bangkrut. Menurun dari tindakan sang ayah yang meluluhlantakkan perusahaannya hanya demi seekor keong racun yang meludahi pernikahannya dengan sang istri.
"Hentikan!"
Teriakan seorang perempuan paruh baya mengejutkan keempat lelaki yang kini serempak berdiri bagai segerombol serigala yang dihadiahi mangsa.
"Jangan lakukan itu Sendy! Apa kamu tega merenggut satu-satunya tempat bersandar keluargamu sendiri? Kembalikan!" gerutu perempuan paruh baya bersetelan daster batik dengan rambut berantakan. Wajahnya yang menua mengguratkan kesedihan yang terus menjalar di setiap deru napasnya.
"Sudahlah, pergi saja sana! Dipikir Ayah saja yang bisa melakukan semua ini? Aku juga bisa! Kalian memang payah!"
Perempuan paruh baya itu beringsut masuk dari ambang pintu untuk merebut berkas-berkas penting itu namun apalah dayanya yang berujung terhempas ke lantai karena disikut putranya sendiri.
Seorang pemuda yang baru saja tiba setelah dipanggil lima belas menit yang lalu oleh Tuan rumah tampak terkejut melihat pemandangan itu dan lantas membantu perempuan itu untuk bangkit.
"Ibu mari saya bantu ... ada apa ini, Tuan?" tanyanya pada atasan dan ketiga lelaki lainnya yang sedang tersulut amarah.
"Tolong jangan jual tempat tinggal kita!" rengek perempuan itu lagi sebelum mereka menjawab.
"Tidak usah ikut campur ya Anda! Biarkan perempuan itu pergi sekarang juga!" perintah Sendy pada pemuda yang seusia dengannya itu.
"Harusnya Anda mendiskusikan dahulu apapun itu dengan keluarga."
"Bacot!" pekik Sendy tanpa spasi langsung melayangkan kepalan tangannya ke wajah pemuda bersetelan jas itu.
"Kamu diam! Kamu hanya bawahan tidak sepantasnya mencampuri urusan client saya!" tegur Tuan rumah.
Pemuda itu berusaha merapikan setelan jasnya sambil berkata, "Di sini saya hanya berusaha melerai permasalahan antara mereka, Tuan."
"Habisi dia!" Tuan rumah itu mengerahkan kedua anak buahnya untuk menganiaya pemuda itu bersama dengan terjangan kaki Sendy di hadapan ibunya yang berteriak histeris tak berdaya.
Seorang gadis cantik nan elegan turun dari kamarnya menyusuri anak tangga untuk mencari tau sumber kegaduhan di rumahnya. Betapa kagetnya dia melihat pemuda itu telah terkujur lemah bersemburat darah.
"Nando!" teriaknya histeris berlari ke ruangan utama dan bertekuk lutut meraih kepala korban yang terpejam tak sadarkan diri.
Sang Tuan rumah tampak cekatan menyeret putrinya itu agar menjauh dari jasad korban, kemudian dibawa oleh ketiga lelaki itu untuk dibereskan.
♡♡♡
"Apa lihat-lihat? Tempat ini bukan wilayah teritorial lo lagi!"
Kelopak mata Sheina mengerjap seketika merasakan kecutnya cibiran seorang murid yang terlihat memimpin suatu kelompok penghuni gedung megah di mana yayasan sekolah perancangan kelas elit berada.
"Apa ini kalian yang sebenarnya?" tanya Sheina menahan gejolak panas yang memuncak membasahi bola matanya yang penuh curiga.
"Kenapa? Lo gak bisa bangun dari mimpi indah lo dan terima kenyataan bahwa diri lo udah berubah jadi upik abu!" gerutu cewek berambut indah tanpa poni.
"Jangan-jangan ... lo lupa lagi, kalau pagi ini awal yang buruk karena lo udah minggat dari sini hahaha!" gelegar cewek berambut cepol yang tampak asyik menjilati permen lolinya.
Sheina memalingkan wajahnya sejenak ke penghujung jalan yang sebenarnya tak pernah bertepi. Sekelebat angin melapangkan dadanya yang mulai terbebas dari sesak akibat menerima kenyataan pahit bahwa selama ini ketiga sahabatnya tidak pernah tulus.
Ia kembali melirik ke arah gerombolan murid-murid itu yang sedang asyik menertawakannya dibumbui decakan remeh.
"Oke, justru hari ini adalah awal kehidupan yang menguntungkan bagi gue karena terlepas dari persahabatan yang penuh dengan kemunafikan!" ujarnya mantap penuh percaya diri. Mereka terperangah sesal.
"Cepat pergi dari sini rakyat jelata!" usir murid cewek berponi yang sejak tadi memulai penghujatan berencana.
"Ooh ... kenapa?" Mata Sheina mengerucut. "Kalian kira gue bakal menebar bakteri? Sorry-sorry to say ya! Sejelata-jelatanya gue gak akan pernah nemplok-nemplok sama kalian, kucing dalam karung!" Bola mata bundarnya melotot dan langsung mengayuh sepeda untuk pergi.
Sepeda berwarna putih itu melaju dikendalikan oleh Sheina yang juga diiringi decak remeh orang-orang tadi.
♡♡♡
"Kamu anak baru sudah telat, jadi jangan protes jika kehabisan material praktek!" omel seorang Ibu paruh baya berperawakan gempal dan wajah galak.
"Tapi bagaimana bisa saya praktek seleksi kalau gak ada bahan, Bu? Lagian tadi di jalan ada sekelompok orang yang menghadang saya."
"Saya gak peduli! Mau kamu dikeroyok kek, tawuran kek. Saya gak butuh alasan kamu!" Perempuan paruh baya itu sibuk mendata para calon murid kursus yang mengikuti seleksi kelulusan.
"Saya bukan tawuran ... ah ya sudahlah Bu, jadi gimana dengan nasib saya?" keluh Sheina frustasi.
Karena lelah berdebat dengan darah muda yang tidak pernah mau mengalah akhirnya Bu Tetty memberi kesempatan untuk Sheina mengambil sendiri bahan praktek di gudang belakang.
Sheina yang kepalang riang refleks memeluk Bu Tetty meski berujung dihempaskan. Setelah bertanya pada satpam dan kejeliannya melihat petunjuk jalan akhirnya ia berhasil menemukan sebuah gudang yang terdapat di penjuru paling belakang gedung yayasan kursus menjahit tersebut.
Suasana di dalam begitu hening. Sheina langsung disambut oleh pelukan udara dingin yang mencekam. Keadaannya tertata rapi dan nyaris tidak ada debu karena mungkin terawat setiap hari pikirnya.
Teriakan histeris keluar dari mulut Sheina begitu dikagetkan oleh sepenggal kepala patung yang tiba-tiba saja terlepas dari leher patung manekin. Ada beberapa di sana namun dalam keadaan tidak lengkap anggota tubuhnya.
Sheina terus mencari hingga pada akhirnya menemukan patung manekin paling lengkap yang begitu tinggi perawakannya dan masih berbalut kemeja hitam berdampingan dengan manekin perempuan berbalut gaun pengantin.
Dari keadaannya sepertinya ruangan ini lebih pantas disebut ruang galeri karena dijadikan tempat penyimpanan karya perancangan busana pula.
"Mbak pinjam dulu suaminya ya, dah!" Sheina melambaikan tangan ke arah wajah kepala manekin perempuan yang semakin ditatap lekat semakin terasa hidup.
Sheina berlari menjauh untuk segera keluar karena berada di ruangan yang penuh patung seperti itu juga memacu jantungnya berdetak lebih kencang.
Ia membawa patung manekin berbahan plastik itu dengan cara menggandengnya di samping sampai suatu keanehan mulai terjadi. Sheina mendengar degup jantung selain di dalam dadanya.
Sheina melangkah pelan berusaha mengamati sekeliling, adakah orang lain di sekitarnya. Tidak ada. Halaman belakang begitu sepi dan sunyi. Namun telinga kanannya menangkap suara degup itu lagi.
Ya, suaranya berasal dari dalam patung manekin tersebut. Sheina mengamati patung pria itu dan manatap wajahnya lekat-lekat. Titik hitam di tengah bola matanya bergerak. Sontak dirinya berteriak lagi dan melemparkan patung ringan itu dengan cepat sampai terjatuh ke lantai.
"Aaaaah setaaan!" teriaknya histeris sambil berlari terbirit-b***t menyusuri lorong koridor yang sepi.