Sheina terpaksa mengikuti praktek seleksi susulan yang dilakukan setelah bubarnya peserta yang tadi. Untung saja ada Mega, teman barunya yang berbaik hati meminjamkan patung manekin perempuan. Meski begitu ia tidak bisa tenang setiap kali harus melihat wajah patung yang membuatnya trauma sejak kejadian tadi pagi.
Terlebih di depan duduklah seorang Bu Tetty yang sorot matanya ditembakan pada satu titik fokus di mana seorang peserta perempuan tampak gelisah di tengah kesunyian ruangan kelas.
"Jangan gitu liatnya dong Bu, saya takut," protes Sheina cemberut.
"Kamu pikir saya setan penunggu? Lagian siapa suruh mengganggu jam istirahat saya!"
"Kebetulan tadi pagi saya abis ngeliat setan, Bu," sahut Sheina polos.
Bu Tetty langsung membalasnya dengan gebrakan meja yang membuat pesertanya itu tercekat sambil latah mengucapkan kata setan berkali-kali.
Suara Sheina padam seketika melihat seorang lelaki berwajah damai memasuki ruangan untuk menghampiri Bu Tetty yang tampak salah tingkah.
"Feran?" gumam Sheina terkejut melihat tokoh masa lalunya kini hadir di masa sekarang.
"Biar saya gantikan untuk sementara, Bu Tetty istirahat dulu saja," ujar lelaki itu dengan nada suara yang datar.
Bu Tetty berterimakasih sambil membelai pipi Feran dengan manja. Selang dia pergi, lelaki itu duduk di meja mengarahkan pandangannya ke satu-satunya peserta.
Sheina berusaha menyembunyikan wajahnya dibalik patung, terlihat mencurigakan di mata pengawasnya.
"Mbak, namanya siapa?"
"Shadila," jawab Sheina sengaja memberikan nama panjangnya agar pengawasnya tidak curiga.
"Oke."
Setengah jam kemudian, hasil pengukuran selesai dan Sheina meletakkannya di atas meja. Sementara dirinya keluar dengan membawa patung itu di sampingnya guna menutupi wajah.
Hampir saja dirinya bernapas lega. Baru saja ingin menarik napas, tiba-tiba saja melintaslah bayangan sosok transparant yang berkelebat cepat. Sontak sheina berteriak histeris lagi.
"Setaaan!" teriaknya sambil melemparkan patung yang dipegangnya ke arah luar.
"Ada apa?" tanya pengawas yang langsung keluar menghampirinya.
Sheina memejamkan mata karena diserang dua ketakutan. Pertama setan dan kedua diketahui oleh Feran.
Feran membalikan badan pesertanya itu dan betapa menegangkannya saat keduanya mulai beradu tatap dan mengetahui wajah masing-masing.
***
Wajah Feran yang tadi menyiratkan kekhawatiran seketika berubah menjadi tegang kala sepasang manik mata cokelatnya itu menangkap jelas ukiran wajah yang terlibat dalam kehancuran hidup di masa lalunya.
Lantas dengan dinginnya menarik kedua tangannya sendiri dari bahu cewek itu untuk segera menghilang dari hadapannya.
"Feran!" panggil Sheina namun punggung tegap itu terus berlalu.
"Astagaaah ... kok dia bisa ganteng banget sih? Padahal dulu kan selain cupu dia juga tukang ngupil terus ditempelin ke kolong bangkunya!" Sheina masih meraba d**a atasnya yang berdegup makin kencang.
Sejenak bayangan hantu terlupakan di pikirannya karena tertutupi oleh sosok Feran yang tampangnya sekarang bagai ukiran wajah seorang Arjuna.
Semilir angin perlahan mengembalikan ketenangannya lagi. Matanya berputar menyapu sekeliling hingga mendapati patung manekin yang terkapar di tengah koridor. Sheina langsung mengernyitkan alisnya sebelum bergegas pergi.
♡♡♡
Suara deru mesin kendaraan roda dua terdengar bising di halaman kontrakan di mana Sheina tinggal bersama Sendy. Abangnya itu langsung tiba disambut oleh semburan emosional adiknya.
"Berisik bang! Kenapa motor butut itu masih aja dipake? Gak kapok dilaporin warga ke Pak RT hah?"
"Lu yang berisik! Cuman erte doang ditakutin, dia gak punya jurus kameha-meha ini kan!" gubris Sendy sambil menggebrak kusen ambang pintu di mana adiknya bersandar sambil melipat tangan.
"Abang gak kerja lagi?" Sheina mengekor ke dalam rumah.
Abangnya tidak menjawab kecuali hanya membuka tudung makanan di meja dapur dengan tatapan penuh nafsu seperti kelaparan sejak abad ke dua belas.
Sementara itu Sheina melanjutkan aktifitasnya menjahit. Untunglah ia punya kemampuan berkreatifitas sehingga bisa mendulang pundi-pundi dengan membuka jasa vermak.
"Gimana keterima kursusnya?" tanya abangnya bersuara lagi.
"Nggak tau hari ini belum dapat email konfirmasi yang masuk. Gara-gara si setan kampret!"
Abangnya refleks menoleh dengan tatapan tersinggung. Sheina segera menjelaskan sebelum dirinya tertimpa oleh tudung saji yang melayang dari tangan abangnya. Namun lelaki itu malah tertawa terbahak-bahak mengingatkan Sheina pada setan itu lagi.
"Gimana hubungan abang sama kak Aurin?"
"Dia sok jual mahal pas gue mau minta maaf!"
"Iyalah cowok b******n kaya begini mana pantas dimaafkan!" celetuk Sheina langsung menutup mulut.
Sekarang tudung saji itu benar-benar melayang dan terhempas menimpa rak kain-kain milik pelanggan adiknya itu.
Gubrak!
Semua hancur berantakan.
***
Senandung nada dering panggilan dari sebuah ponsel yang tergeletak di meja, mengundang telapak tangan Sheina menjulur meraihnya. Sebuah retakan di tepi mata kameranya membuat ia harus mengelus d**a akibat tertimpa piring terbang ciptaan abangnya.
"Waalaikumsalam, dengan siapa?"
"Heh tukang tawuran dengar baik-baik!" Suara menggelegar itu sontak membuat Sheina menjauhkan ponsel yang dipegangnya dari telinga dengan mulut ternganga.
"Kamu cukup beruntung ya! Karena ada murid yang mengundurkan diri maka kamu diterima untuk mengikuti kursus meski gak lolos seleksi!"
Sepersekian detik kemudian Sheina melompat-lompat kegirangan dan menjatuhkan diri di kasur tanpa mempedulikan ponselnya yang terhempas ke pojok ranjang.
"Terimakasih Bu Tett! Muaaah!" teriak Sheina kiss bye dari jauh sebelum benar-benar mengakhiri panggilan tersebut menggunakan telunjuknya.
Ia mengubah posisinya menjadi duduk tidak sabar ingin menghubungi Ibunya untuk memberi tau kabar baik. Namun baru saja memencet tombol hijau justru operator langsung menyahut dengan informasi bahwa pulsa telah habis.
Tangan Sheina mulai lemas seiring dengan ingatannya yang kembali menayangkan pemandangan masa lalu di mana sang ibu harus pamit sebelum bertolak ke luar negeri untuk bekerja.
Kelopak matanya yang terpejam beberapa saat lalu kini kembali terbuka setelah mendengar suara ketukan pintu. Lantas Sheina beranjak untuk membukakan pintu.
"Kenapa bang?" Baru saja membuka pintu, bibir Sheina sudah terkatup mengetahui sang pengetuk bukanlah abangnya melainkan teman abangnya.
"Di mana abang lo?" tanya lelaki bersetelan jaket denim sobek-sobek itu dengan mata jelalatan.
Sheina yang menaruh curiga karena tak biasanya lelaki itu sampai mengetuk kamarnya hanya untuk menemui Sendy, langsung merapatkan pintu kamarnya guna me-minimalisir kesempatan jahat yang tidak diinginkan.
"Di kamar!" Sheina menunjuk kamar sebelah dengan tatapan menegaskan.
"Oh sorry salah kamar," sahut lelaki itu beringsut ke kamar sebelah setelah berhasil mencubit pipi Sheina.
Sheina langsung merangkum wajah berpipi gempalnya tersebut dengan rasa geli. Nyaris setiap berjumpa dengan lelaki yang satu itu pasti tangannya yang gelayapan selalu berhasil mencubit pipinya.
Sheina harus lebih berhati-hati lagi, pikirnya. Ia tau bahwa wajahnya memang menggemaskan tetapi cukup berlebihan juga jika harus dicubit oleh lelaki dewasa setiap pertemuan.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan langsung mencegah lelaki itu untuk masuk ke kamar sebelah. "Bang Satya!"
Lelaki itu menoleh dengan senyuman yang menyembunyikan sesuatu.
"Maaf aku baru ingat kalo Bang Sendy lagi ke luar," kata Sheina sembari was-was karena lelaki itu kembali berjalan menghampirinya.
"Mendingan Bang Satya nanti ke sini lagi, takutnya Bang Sendy lama pulang," ujar Sheina menyarankan lelaki itu untuk segera pulang dengan cara yang santun.
"Kalau gue maunya nunggu di sini gimana?" tanya lelaki itu dengan alis terangkat sebelah. Membuat Sheina bergidik ngeri.