***
"Emang harus ya gue ceritain semuanya ke elo?" tanya balik Nando.
"Ya harus lah! Segala sesuatu yang ada di kehidupan ini tuh pasti berkaitan satu sama lain. Katanya lo nyuruh gue jadi detektif, gimana sih?"
Nando menyapu pandangannya ke seisi ruangan khusus menyetrika dan menata pakaian. Kemudian berhenti di satu titik di mana setiap aliran waktu berdetik di sana. Jam dinding. Argumen gadis itu benar juga. Mungkin saja silsilah keluarga bisa membantu menguak misteri yang selama ini ingin mereka pecahkan.
"Udah malam, lo pasti belum masak kan?" tanya Nando mengingatkan.
Sheina sekilas menoleh ke arah dinding di mana jam terus mendentingkan waktu setiap detiknya di sana. "Yaelah itu bukan tugas gue!"
"Tapi bukan berarti lo lupa ngasih makan Alsya!"
Sheina menatap kaget melihat perubahan ekspressi Nando yang mendadak. Akhirnya berhasil menarik perhatian gadis itu ke hal lain sampai melupakan bahasan sebelumnya.
"Biasa aja kali! Gak usah bentak-bentak gue!" Sheina meletakkan setrika panasnya ke tempatnya dengan penuh penekanan sambil mencabut kabelnya.
♡♡♡
Seperti biasa Sheina mati-matian membujuk Alsya untuk makan bersama di meja makan. Kali ini suasananya terasa berbeda dengan keberadaan Feran. Setidaknya situasi yang biasa tegang di atas meja makan dapat sedikit tercairkan oleh wajah damai pemilik kobaran api dalam dirinya itu.
Sejak tadi Feran menceritakan hubungan pertemanannya dengan Sheina yang putus-nyambung kepada Tuan Rayn yang merupakan pamannya. Rupanya pria itu bisa sedikit tersenyum juga karena memahami bagaimana dunia anak muda. Sama seperti dirinya yang merindukan masa itu, masa di mana hanya ada masalah-masalah sepele yang bisa diselesaikan dengan cara yang konyol.
"Alsya ... coba lihat di depanmu ada siapa?" tanya Sheina berusaha mengulik ingatan gadis yang seumuran dengannya itu.
Namun gangguan jiwa yang dideritanya membuat Alsya harus diperlakukan selembut mungkin layaknya membujuk anak kecil yang mengamuk kehilangan permen. Sheina mulai menyukai pekerjaannya itu, rasanya seperti pahlawan bagi jiwa yang resah.
"Oh ya Om, aku lihat di depan ada sepatu yang sepertinya bukan milik penghuni rumah ini," ucap Feran menyampaikan rasa penasarannya.
"Oh itu salah satu anak buah Om."
"Yang mana?"
Tidak lama kemudian munculah para pelayan yang menyajikan makan malam mereka dan meletakannya di meja. Mereka menatap kedua gadis itu dengan perasaan yang damai, untuk pertama kalinya Rayn mau menerima orang asing untuk menjaga putrinya, tapi itu terbukti tidak sia-sia.
Kesempatan itu dimanfaatkan Tuan Rayn untuk mengalihkan perhatian keponakannya yang sejak tadi melemparkan banyak pertanyaan. Bagaimana pun anak muda itu sangat dikenal olehnya, tidak akan mungkin mampu membiarkan Om-nya sendiri menyembunyikan kejahatan.
Di tengah kehangatan suasana keluarga, tiba-tiba jeritan histeris Alsya menggema di seisi ruangan makan yang luas setelah dirinya mendapati sekelebat bayangan hitam di lorong keluar.
Apa itu Nando? Tapi kan dia tidak bisa menembus istana ini. Eh tapi kenapa tadi dia bisa masuk ke ruangan pakaian? Pikir Sheina kebingungan. Sosok arwah itu memang selalu mengundang penasaran.
Alsya melarikan diri menyusuri lorong itu begitu Sheina sibuk dengan pikirannya dan lengah. Tuan Rayn dengan tegas memerintahnya untuk menangani putrinya itu.
Sheina menyusulnya. Dia sudah terbiasa lagi mencari-cari Alsya yang hilang di tengah megahnya rumah. Namun satu yang pasti diingatnya jika gadis malang itu selalu berkeliaran di area samping rumah sebelah utara.
Ketika kakinya melangkah ke arah tersebut, sekelebat sudut mata Sheina menangkap lukisan abstrak besar di dinding yang bergerak sekilas.
Sheina pun sejenak lupa dengan tugasnya untuk mencari Alsya. Ia terfokus mendekati lukisan yang menarik perhatiannya itu. Jemarinya menyapu pelan permukaan lukisan yang bertekstur itu kasar khas permukaan kanvas yang digeres banyak warna.
Tring!
Ada sesuatu yang terjatuh di bawah lukisan itu. Sheina menunduk mengamati benda kecil yang sedikit bergelinding di atas karpet rumput alami lalu berjongkok dan memungutnya.
Kancing? Kenapa ada benda seperti ini yang jatuh dari balik lukisan? Pikir Sheina ketika jemari lentiknya menggenggam benda kecil yang memiliki 4 lubang itu.
Sheina bangkit dan mendekatkan wajahnya ke dinding. Sebelah matanya menyipit untuk mengintip sehelai spasi yang menjadi jarak antara lukisan yang menempel di dinding itu.
Sreeeg!
Tanpa sengaja lukisan besar itu menggeser otomatis setelah Sheina tidak sengaja menyentuhkan keningnya ke tepian lukisan. Alangkah terkejutnya ia begitu menyaksikan sebuah lorong berbentuk segi empat yang entah tembus ke mana.
"Shadila! Apa kamu menemukannya?" terdengar suara Tuan Rayn.
Sebelum pria paruh baya itu memergoki peristiwa tersebut, Sheina bergegas masuk ke dalam lorong itu dan menggeser kembali lukisan dari dalam hingga tertutup.
Dengan bantuan cahaya ponselnya Sheina mengetahui jika di balik lukisan tersebut memiliki semacam mekanisme seperti yang ada di pintu geser.
Dia memutar badannya ke arah dalam dengan perasaan tegang takut-takut ada sesuatu yang membuatnya kaget. Ah tapi dia sudah biasa jika tiba-tiba ada cowok tak kasat mata itu muncul meski tidak mungkin sekalipun.
"Shadila!"
Teriakan Tuan Rayn yang memanggilnya itu refleks membuatnya menutup mulut yang menganga karena pria paruh baya itu berada di balik lukisan. Di luar.
Setelah memastikan suaranya menjauh, Sheina kembali melanjutkan menelusurannya. Ia menemukan sebuah lorong panjang yang dingin dan pengap.
Dengan penuh keragu-raguan ia mulai menapaki kakinya di sana dan setelah berjalan beberapa langkah dia menemukan sebuah pintu papan kayu.
Apa ini? Pikir Sheina berusaha mencoba-coba membuka papan kayu itu dengan berbagai cara hingga akhirnya terbuka. Kok tidak terkunci ya? Pikirnya tanpa ragu segera masuk.
Secercah cahaya kilau membuat mata Sheina mengerjap kaget. Selanjutnya ia bisa mengelurkan dirinya dari lubang itu dan menyembul melalui pintu kayu itu.
Seketika sebuah pemandangan ruangan misterius menarik perhatian Sheina yang memutar badannya 360 derajat demi merekam semua hal mengagetkan yang dilihatnya.
Ruangan apa ini? Pikirnya sekelebat setelah titik fokusnya berhenti pada suatu objek yang merupakan ranjang di mana seseorang terbaring di sana. Lengkap dengan segala alat-alat medis.
Dimulai lututnya yang lemas, disertai gemetar yang menjalar dari sudut-sudut kukunya, Sheina menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya. Ya, Ia harap dengan apa yang ada di hadapannya mampu mengakhiri beban yang ditanggungnya selama ini. Bola matanya yang bundar sempurna itu perlahan menunjukkan setitik embun di sana. Sulit dipercayai jika dirinya benar-benar berhasil.
***
Dentingan suara nada opname mengiringi Sheina pada situasi yang menegangkan. Perlahan-lahan ia mulai melangkahkan kakinya ke arah ranjang yang menyajikan seseorang terbaring lemah dengan bantuan alat-alat medis.
"Na ... nan ... do," gumam Sheina terbata-bata saking kagetnya dengan apa yang dilihatnya.
Tanpa disadarinya ada yang sedang memperhatikannya dari sudut yang tersembunyi. Seorang lelaki berpenampilan urakan sedang menyalip di antara deretan pakaian yang menggantung.
"Sheina?" gumamnya kaget melihat ada sosok asing yang memasuki tempat rahasia tersebut. Dan lebih kagetnya itu adalah sang adik.
"Jadi selama ini Sheina tinggal di rumah ini?" gumam lelaki yang tak lain adalah Sendy yang masih menggeleng kepala.
"Dia gak boleh sampe tau kalau gue terlibat di dalam ini semua! Eh tapi apa benar dia gak ngenalin gue waktu itu?" mendadak Sendy membayangkan memorial di mana dirinya dibukakan pintu oleh seorang gadis.
Sheina menitikan air matanya yang tidak terbendung lagi. Tangannya terjulur semakin dekat menyentuh pipi berahang tegas yang tampak pucat itu.
"Nando ... aku menemukanmu," ucapnya diselingi isak tangis yang ditahan.
Dari balik pakaian yang tergantung, bola mata Sendy terangkat sempurna menanggapi apa yang dikatakan adiknya itu begitu mengagetkan.
"Dia mencari pahlawan kesorean itu? Apa-apaan ini? Gak mungkin mereka saling mengenal. Gue benar-benar terancam sekarang!" gerutu Sendy dengan nada yang amat rendah.
Diam-diam tangannya mengendalikan ponsel untuk memotretnya.