Feran membanting kap mobilnya hingga tertutup rapat. Kemudian berlari kecil menyusuri jalan yang seharusnya dilewati dengan lancar. Ah tidak, bahkan kakinya memilih untuk berlari mengejar cewek yang diyakini menghamburkan air matanya itu.
"Udahlah Shein, lo terlalu bego buat nangisin cowok yang bertranformer kaya dia! Ada yang lebih menghargai bantuan lo dibanding dia. Nando dan Alsya!" Sheina memelankan laju sepedanya untuk mengusap air matanya sendiri.
"Shein tunggu!"
"Oh iya Nando ketinggalan!" Sheina baru ingat temannya setelah mendengar teriakan suara berat dari belakang.
Namun ketika berhenti hingga lelaki itu ada di sampingnya dengan napas tak beratur, ia baru menyadari kalau orang itu bukanlah Nando melainkan lelaki yang sudah membuatnya menangis.
"Belum cukup lo ngehina gue?" bentak Sheina kembali membasahi pipi keringnya dengan setetes air mata.
"Shein, gue butuh bantuan lo!"
Sheina tersenyum miring. "Oh gitu, tapi maaf cewek baik-baik kaya gue gak pantes nolongin cowok macam lo yang hatinya sampah!"
"Bantu gue buat memahami lo!"
Telunjuk Sheina yang menghujam d**a bidang Feran yang berbalut kemeja biru itu berubah gemetar setelah mendengar pernyataan mengagetkan darinya.
"Maaf gue sibuk!"
"Shein!" tangan Feran menahan telapak tangan Sheina yang baru saja ingin melaju pergi.
"Dengan satu syarat," ucap Sheina menunggu wajah itu mengangguk kemudian melanjutkan penuturannya, "dengarkan semua penjelasan gue karena itu satu-satunya cara agar lo tau yang sebenernya terjadi."
"Oke, sebelumnya, biarin gue yang bawa sepeda!"
Dalam waktu singkat mereka sudah berubah di posisinya masing-masing. Feran membonceng cewek itu di belakang dan keduanya mulai menyusuri jalanan bersama-sama dengan perasaan gelisah dirundung awan mendung yang membuat keduanya tenggelam dipekatnya suasana.
***
Di tengah perjalanan yang semakin mencekam. Menerpa keduanya yang menggigil dengan hembusan angin yang berkolaborasi bersama daun-daun berguguran.
Sheina mulai mengajak lelaki yang menjadi driver dadakannya itu untuk menyusuri lorong waktu bernamakan masa lalu yang selalu memaksanya untuk merasakan sesak napas.
Dua tahun yang lalu ketika Sheina dan sahabatnya bernama Syifa saat duduk di kelas 11, mereka didekati oleh kakak kelas.
Cowok itu bernama Feran. Benar-benar siluman kutu buku gara-gara jarang bergaul dan lebih suka menjadi penunggu kelas atau sudut perpustakaan. Anak-anak kala itu menyebutnya seperti itu.
Diam-diam dia menyukai Syifa yang merupakan salah satu anggota Squad yang digawangi oleh Sheina. Mereka adalah sekelompok murid cewek penguasa sekolah. Dan terkesan begitu sempurna di mata dunia.
Suatu hari Feran menyatakan cintanya pada Syifa dan memintanya untuk menjadi pacarnya. Syifa bingung. Dia sebenarnya tidak masalah dengan penampilan Feran yang cupu namun berat sebelum ada ijin dari petinggi squad-nya.
Syifa mengulur waktu agar Feran mau menunggu jawabannya. Cewek elegan itu berdiskusi dengan teman-temannya terutama yang paling dekat yaitu Sheina.
"Shein, Feran nembak gue. Gimana dong?"
Sheina menggebrak meja kelas. "Pake nanya lagi! Jelas lu harus tolak lah!"
"Gue gak mau nyakitin perasaan dia Shein. Bagaimana pun dia cowok baik-baik dan murid teladan," sanggah Syifa melakukan negosiasi.
"Terus lo mau mencoreng image kita hah? Masih banyak cowok-cowok lain yang lebih keren ngejar-ngejar kita, tapi kita hindarin karena alasan harga diri. Dan sekarang lo mau nerima cowok macam dia gitu aja? Apa kabar kita?"
Beberapa teman yang ikut menimbrung juga menyuarakan penolakan. Syifa semakin dilema. Dia tidak ingin menyia-nyiakan cowok sebaik Feran namun di satu sisi ia pun tidak mau dikucilkan oleh teman-temannya.
"Anak-anak sedang melakukan rapat apa kalian ini?"
Keseriusan mereka terpecah belah begitu seorang guru memasuki kelas. Lebih kaget lagi ketika mereka mendapati sosok Feran yang mengekor guru tersebut sambil membantu membawakan buku-bukunya.
"Feran ... a apa kamu dengar?" tanya Syifa dengan suara gemetar, takut-takut cowok itu akan tersinggung dan sakit hati.
Feran berusaha mengabaikan dengan cara menyibukkan diri meletakan buku-buku yang dibawanya ke atas meja guru. Namun lima detik kemudian suara seseorang menyambar dadanya kian sesak.
"Syukur deh kalo denger, biar tau diri! Kadang manusia harus sadar level biar ngerti arti sosial!"
"Shein!" tegur Syifa.
"Apa?" Shein balas melotot.
Sebelum Syifa melanjutkan kata-katanya, Sheina sudah cekikikan melihat mental Feran yang menciut dan memilih melarikan diri dari kelas, kala itu.
"Maafkan aku Feran," tiba-tiba saja pernyataan bersalah itu keluar dari mulut Sheina diiringi sedikit sesenggukkan yang berusaha mati-matian disembunyikan.
"Kenapa kamu melakukan itu, Shein?" tanya Feran, berselang kemudian hujan turun dengan derasnya tanpa mengantarkan gerimis sebagai sapaan manis.
Keduanya telah kembali dari kenangan masa lalu yang seperti mimpi buruk.
"Aku ... aku salah, Ran!"
"Selalu ada alasan dibalik setiap kesalahan, dan aku pengen tau itu apa?" tanya ulang Feran sambil menerawang jauh menembus ribuan rintik hujan.
Keduanya sudah terlihat basah kuyup membiarkan semesta alam meluruhkan semua rasa perih yang tertinggal. Bagus-bagus kalau rasa dendam itu ikut luntur.
"Itu adalah soal level sosial yang aku ciptakan dengan versiku sendiri."
"Dan sekarang dunia udah jungkir balik!" tegas Feran.
"Aku tau, tapi kamu gak ada niatan untuk balas dendam kan? Misalnya balik membuatku jatuh cinta sama kamu terus kamu bakalan bilang aku ini udah bukan level kamu!"
Feran tertawa. Sheina kaget menoleh ke arahnya yang sedang mendongakkan wajahnya ke langit. Menantang jutaan tetes hujan yang menghakimi.
Sheina mengusap wajahnya sembari menunggu jawaban cowok itu.
"Yah, ketebak. Idemu bagus juga, kaya penulis skenario dan aku sama sekali gak terpikirkan tuh." Akhirnya Feran menyahut dengan santai.
Sesekali mengendalikan sepeda dengan cara meliuk-liuk hingga akhirnya telat mengerem saat memasuki jalanan yang menurun. Reflek Sheina memeluk pinggang Feran.
"Sampe," kata Feran berhenti di depan gerbang megah sebuah rumah mewah setelah memasuki kawasan komplek elit.
Hah? Sheina terkesiap ketika cowok itu harus menyadari dirinya yang baru bisa melepaskan tangannya yang melingkar dipinggang yang berbalut kemeja biru itu.
Sheina terkejut saat dirinya sudah tiba di tempat Tuan rumahnya. Mungkin saja cowok itu pernah tidak sengaja melihatnya memasuki rumah ini. Pikirnya.
Sheina turun dari boncengan dan terdiam menunggu cowok itu mengembalikan kendaraan miliknya itu.
"Ini," Feran turun dan menyerahkan sepeda itu.
"Oke, kamu gak apa-apa kan kalau harus jalan lagi? Atau ... pake aja sepedanya."
Feran menautkan kedua alis tebalnya. "Kamu ngapain masih di sini?"
Keduanya sama-sama bingung. Sheina tidak mengerti dengan pertanyaan cowok itu.
Tidak ingin terjadi perdebatan selanjutnya. Keduanya dengan kompak tanpa sadar melangkah masuk ke pintu gerbang samping dan otomatis saling menoleh dengan tatapan tanya.
Loh?
"Ini rumah Om aku."
Sheina terbelalak mendengar pernyataan cowok jangkung di hadapannya itu. Ia sadar kenapa sejak tadi ada kekeliruan di antara mereka.
"Kamu ngapain masuk sini? Jangan-jangan ...," tanya Feran.
"Hmm, aku bukan lagi kepergok pura-pura ngakuin rumah orang ya."
"Terus?"
"Ini rumahnya ... aku penjaga Alsya," Sheina menundukkan wajahnya. Tidak sanggup melihat respon cowok itu yang mungkin akan menertawakannya.
"Demi apa?"
Mendengar pertanyaan cowok itu dengan nada kaget, Sheina tanpa mau meladeninya lagi langsung melipir masuk menuntun sepedanya.
"Hey, pantesan dari tadi aku bingung." Feran mengekor dari belakang.
"Sama, aku kira kamu tau tempat tinggal aku yang sekarang."
♡♡♡
"Kok si setan itu gak pernah cerita sih kalo Feran sepupunya Alsya!" ujar Sheina pada dirinya sendiri di tengah kesibukannya menyetrika pakaian.
"Gua bukan setan!"
Tiba-tiba sesosok wajah muncul dari tembok dan nyaris membuat Sheina melayangkan setrikanya.
"Huaaaa setaaan!"
Nando tertawa terbahak-bahak sambil mengeluarkan seluruh tubuhnya yang masuk ruangan menembus dinding.
"Gimana gak gue sebut setan kalo cara lo nemuin gue kayak gini!" gerutu Sheina sambil menyentuh d**a atasnya sendiri yang masih jantungan.
"Iya deh lain kali gue bakal datang dengan cara lebih sopan."
"Tapi gak usah nyuruh gue buat bakar kemenyan juga ya, soalnya gak pantes rumah semewah ini bau asep!"
"Tuh kan pikiran lo selalu mengarah ke setan-setanan. Musyrik lo!"
"Diem lu set!" Sheina segera menutup mulutnya dengan menyisakan sepasang matanya yang menyipit.
"Oh iya, lo belum jawab kenapa gak ngasih tau kalau Feran itu ponakannya Tuan Rayn?" tanya ulang Sheina.
Lelaki tak kasat mata itu tampak mencerna kalimat yang dilayangkan padanya. Ia bingung harus menjawab apa, ralat, tepatnya baru menyadari bahwa ternyata hal itu penting juga diketahui oleh Sheina.