Selama ini dirinya selalu merasa paling sial karena harus bangkrut hanya karena dua lelaki yang paling disayanginya memilih bertekuk lutut pada wanita jalang dan berhutang. Ayah dan abangnya.
Kini di hadapannya, berdirilah seorang gadis yang sangat dicintai Ayahnya berikut dengan segala harta yang bergelimang. Namun selalu ada ujian hidup yang menyulitkan rasa syukur di hati mereka. Gangguan jiwa yang dialami Alsya membuat dirinya tidak lagi menyadari kasih sayang sang Ayah dan juga tidak peduli tentang materi yang setinggi langit.
"Tidaaak! Aaaarght!" teriak Alsya selalu menjerit-jerit seperti itu sambil memukul-mukul sebuah lukisan berukuran besar yang terpampang di dinding menghadap halaman samping.
Sheina mengamati lukisan yang menggoreskan warna-warna cantik dengan bentuk tak karuan atau biasanya disebut abstrak sebagai istilahnya. Sebelumnya ia tidak pernah selekat ini hanya untuk menikmati sebuah lukisan.
"Alsya!"
Mendapati panggilan dari Ayahnya, gadis itu justru malah menjerit ketakutan dan pergi menjauh.
"Tuan, biarkan Alsya menenangkan dirinya," usul Sheina.
"Jangan mengajari saya kalau toh kamu baru beberapa hari di sini!"
"Lalu kenapa Alsya lebih takut pada Ayahnya yang sudah lama mengasuhnya?" timpal Sheina.
"Shadila!" bentak Tuan Rayn tersinggung. "Kamu baru beberapa hari juga langsung berani menentang saya?"
Sheina kaget setengah mati dan dengan dagu yang bergetar dia menyahut, "Maaf Tuan, saya hanya bertanya apa yang bisa disambungkan. Begitupun dengan lukisan ini, menurut saya terlalu indah dan cantik jika harus ada kaitannya dengan masa lalu Alsya yang menciptakan trauma berujung frustasi."
"Untuk apa kamu masih di sini? Di dalam masih banyak pekerjaan!" Tuan Rayn memimpin asistennya untuk melangkah masuk.
"Oh ya Tuan, kenapa Alsya gak dirawat di rumah sakit?"
***
Tuan Rayn membalikkan badan ke belakang di mana asistennya sedang mengekornya. Sheina lantas terperanjat kaget dan segera melipir menarik dirinya untuk pergi.
Hari-hari terus berlalu. Selama itu pula Sheina menempuh jarak yang lebih jauh untuk sampai di tempat kursusnya. Dan setiap berangkat, Nando sudah menunggunya di seberang jalan hanya untuk ikut duduk di boncengan sebagai teman ngobrol.
Seperti saat ini, Sheina sudah terbiasa dipandang aneh oleh orang-orang yang mencibir dirinya sebagai cewek tidak waras karena selalu berbicara sendiri.
Di lampu merah, dari kedua arah yang berlawanan orang-orang pengendara motor ataupun mobil tampak mengikuti ke mana Sheina melintas begitu saja dengan cueknya. Dia sedang berdebat dengan makhluk tak kasat mata itu.
"Wah lo populer juga ya sampe jadi pusat perhatian umum. Jangan-jangan lo selebgram ya?" tanya Nando antusias melambaikan tangan ke orang-orang.
"Gara-gara gue ngomong sama lo, begooo! Lo kan setan," sahut Sheina.
"Udah gue bilang, gue bukan setan!"
"Terus malaikat tanpa sayap gitu?”
Mereka berdebat sepanjang jalan, tidak peduli jika harus menjadi bahan pembicaraan di tengah kemacetan.
♡♡♡
***
Sheina lagi-lagi telat. Untung kali ini Bu Tetty lebih telat lima menit darinya. Dengan isengnya ia balik mengerjai guru pembimbingnya tersebut.
"Hayooo ... Ibu telat kan, seharusnya sih keluar," ujar Sheina yang duduk di bangkunya dan diramaikan oleh persetujuan murid lain yang mendukungnya.
"Heh! Berani kamu sama saya?" bentak Bu Tetty dengan telunjuknya yang menghakimi dan tatapan tajam bagai elang betina yang memergoki anak-anaknya diculik.
"Ampun Bu, jangan jewer saya!" sahut Sheina sambil refleks menutup kedua telinganya.
"Geer! Sekarang tugas kalian praktek membuat busana bebas!" Bu Tetty melanjutkan langkahnya ke meja depan.
"Selamat anda beruntung!" bisik Mega dari bangku samping ke arah Sheina.
Sebelum Bu Tetty duduk di bangkunya tiba-tiba sebuah patung manekin di atas meja memelototinya dengan sadis.
"Setaaan!!!" Bu Tetty langsung balik arah dan berlari terbirit-b***t keluar.
Sementara murid-murid malah tertawa kegirangan melihat gaya berlari gurunya itu dan bersorak penuh kemenangan karena hari ini bebas.
♡♡♡
Di tepi jalan sebuah mobil sedan berwarna merah tampak mogok dilihat dari sang pengendara yang kebingungan di balik kap depan mobilnya.
"Gebetan lo mogok tuh, tolongin gih!" perintah Nando yang berada di boncengan sepeda Sheina.
"Ogah! Rasain aja. Itu derita bagi orang nyebelin kalo ada apa-apa gak ada yang nolongin!" gerutu Sheina bersungut-sungut.
"Justru ini kesempatan lo buat naklukin dia lagi!"
"Naklukin apaan? Emangnya gue pawang buaya? Gue udah gak peduli!"
"Jangan lupdir lu! Inget dia udah nyelamatin lo dari si Satya!" Nando seakan ingin menjambak kepala cewek itu dari belakang.
"Gue nyesel diselamatin dia! Abis itu gue dihina sama dia!" Sheina berusaha membela diri.
"Itu karena dia gak tau yang sebenernya, kan dia masih dendam sama lo! Harusnya tuh lo berusaha jelasin ke dia, kecuali kalau emang lo pengen dia terus-rerusan mikir buruk tentang lo dan merasa dirinya paling benar!"
Cekiiittt!!!
Sheina mengerem sepedanya mendadak sehingga arwah tampan itu terjungkal ke aspal.
"Hahaha puas lo!"
"Tapi gue yakin lo belum puas dengan penjelasan di antara kalian!"
Sheina mendadak terdiam dihujam oleh tatapan tajam Nando yang masih dalam posisi terbaring di aspal.
"Gue duluan," Sheina kembali menggoes sepedanya dan meninggalkan arwah tampan itu sendirian di tengah jalan.
"Shein! Kemana lo? Bukannya ngerti malah ninggalin gue …."
Belum saja Nando mengakhiri kalimatnya, bibirnya sudah ternganga setelah memergoki temannya itu menghampiri Feran. Seulas senyuman terlukis di bibirnya.
"Mobil lo kenapa?" tanya Sheina masih dengan nada ketus.
Feran menoleh kaget mengetahui keberadaan Sheina. Dan tanpa menyahut masih sibuk memeriksa kabel-kabel mesinnya.
"Ran! Mobil lo kenapaaa?" teriak Sheina dengan nada setinggi-tingginya.
"Lo yang kenapa? Dasar gila!" Feran balas membentak.
"Jaman now kayanya orang gila lebih waras ya, meskipun udah dihina tetep aja mau nolongin!" gumam Sheina menyindir.
"Makanya jangan bego!"
Sheina menoleh dengan matanya yang terangkat beringas. "Lo ngehina gue lagi?" lalu merasakan napasnya bergejolak. "Padahal gue cuman mau ngasih tumpangan ke elo! Tapi balasan lo begini!"
Dengan mengatur napasnya, Sheina berusaha mendongak ke atas untuk menahan bendungan air mata yang bisa membuncah kapan saja. Lalu menggerakkan kakinya untuk menggoes.
"Pergi sana! Gue bisa panggil orang buat jemput!"
Sheina yang baru melaju beberapa goes kembali berhenti dan menoleh untuk menyahut, "Jujur gue masih dendam atas penghinaan lo waktu itu, gue akan lewat ke sini sambil mencibir lo, tapi gue pikir itu hanya akan bikin citra gue lebih buruk di pikiran lo. Gue berusaha nolongin lo biar lo ngerti kalau gue gak seburuk yang lo pikirin ... tapi sekarang gue sadar, gak selamanya kebaikan kita akan direspon positif dan mulai detik ini gue gak akan peduli lagi dengan apapun yang dipikirkan orang lain tentang gue!"
Feran terdiam lemas melihat kepergian cewek itu. Kata-katanya begitu ajaib dan langsung menelusuri relung pikirannya. Menelisik setiap labirin yang ada di hatinya untuk memahami kenyataan.
Bahkan egonya kali ini terlalu rapuh untuk mengelak kenyataan bahwa dirinya tidak mungkin membiarkan cewek itu lepas membawa sayatan luka yang terbentuk sejak bertahun-tahun lalu lamanya.
Brak!!!