***
Dering panggilan video masuk otomatis melayangkan sepasang tangan Sheina yang terlampau sumringah membaca kata ’Bunda’ di layar ponselnya.
Dalam hitungan detik, telunjuk lentiknya langsung meluncur menekan ke tombol hijau dan menggeser layarnya. Sesaat kemudian menampilkan sosok wajah wanita yang mulai banyak kerutan di wajahnya.
"Bundaaa! Aku kangen bun, kapan pulang?" pekik Sheina antusias sambil mengecup layar ponsel berkali-kali.
Wajah yang tertampil di sana tampak gemas dan membalas kecupan anak gadisnya. "Apalagi kangen seorang Bunda pada anaknya yang cantik, itu terlalu berat untuk ditimbang, Nak."
Sheina yang sedang menyapu dan tadi sempat melemparkannya begitu saja, kini dipungut dan dikesampingkan di balik anak tangga. Kemudian melangkah ke atas dan duduk.
"Sayang, bagaimana kabar kamu dan abangmu?" tanya Bundanya lagi.
Sheina menunduk sejenak, mencari alasan yang lebih kepura-puraan agar jawabannya tidak memusingkan Bundanya di sana.
"Kami berdua baik-baik saja Bun, Bang Sendy juga rajin bekerja meski serabutan."
"Syukurlah, Bunda seneng dengernya. Oh iya kamu sedang apa?"
"Barusan lagi nyapu, Bun."
Wajah yang tertampil di layar ponsel itu mengerucutkan matanya untuk mengamati latar belakang sang anak. "Kamu lagi di mana ya? Perasaan kontrakan kamu gak punya tangga semegah itu."
Sheina terperangah, lagi-lagi mencari jawaban yang hanya sebatas alibi.
"Ini lagi ... kerja kelompok di rumah temen, Bun. Barusan abis praktek potong kain terus aku sapuin deh," jawab Sheina sambil garuk-garuk kepala.
"Terus mana temen kamunya?" Bunda tampak menelisik.
"Barusan ke warung, Bun."
"Lah kok Bunda ngerasa gak asing ya sama rumah itu, coba lihat?"
Sheina mulai merentangkan tangannya agar kamera ponselnya dapat menjangkau pemandangan rumah yang lebih luas sambil berputar secara perlahan.
Mata sayup Bundanya yang lelah mendadak keluar nyaris melompat ketika merekam sebuah ruangan utama yang dihiasi ornamen serba mewah. Sontak memorinya kembali memutar kenangan satu tahun yang lalu di mana Sendy dan ketiga lelaki penguasa itu menghabisi seorang pemuda hanya karena mencoba membelanya.
"Sheina, cepat kamu pulang!"
"Kenapa, Bun?" tanya Sheina kaget karena dirinya tidak mungkin kembali ke rumah petak yang sudah menjadi markas para bandit itu.
"Pokoknya kamu harus keluar dari sana!"
Sheina menatap curiga Bundanya yang seakan menyimpan suatu maksud di rumah itu terlebih dirinya memang sedang dalam penyamaran.
Tanpa dia ketahui juga bahwa sang Bunda hanya ketakutan kalau-kalau anaknya itu diseret ke dalam pusaran masalah abangnya atas tindakan pembunuhan. Terlebih menduga bahwa teman Sheina merupakan seorang gadis yang dulu turun tangga dan mengaku sebagai kekasih korban.
"Shein, sedang apa kamu?"
Mata Bundanya semakin melotot mendapati sesosok pria paruh baya tinggi gagah. Ya, itu adalah Tuan Rayn yang menjadi dalang dibalik pembantaian itu.
Sheina terlanjur memperkenalkan dia pada Bundanya yang segera menutupi mulut sambil pura-pura batuk agar tidak bisa dikenali wajahnya.
♡♡♡
Seorang lelaki dewasa yang berpenampilan urakan tampak kontras saat memasuki rumah mewah. Seorang satpam memberinya ijin begitu saja karena sudah terbiasa.
Dia mengetuk pintu. Dari dalam seorang perempuan menyahutnya. Namun keduanya saling mematung di antara pintu yang masih tertutup sebagai bentengnya.
Keduanya adalah sepasang adik-kakak yang peka terhadap suaranya masing-masing yang tidak asing di dengar. Sendy dan Sheina sama-sama berusaha menyangkal dugaan mereka. Masa sih seorang Sendy bisa menjadi tamu istana? Begitu pun sebaliknya, masa sih seorang Sheina bisa ada di dalam istana?
"Hey, sedang apa?" tiba-tiba Tuan Rayn muncul dari belakang.
"Ada tamu, Tuan."
"Cepat buka pintunya!"
Sheina mengiyakan dengan perasaan gugup yang menjalar ke seluruh tubuhnya yang gemetar. Tangannya menarik pintu dan dengan gerakan yang rapi, ia melangkah ke belakang mengikuti gerakan pintu. Dan tamu itu pun masuk menghadap Tuan rumah.
"Ah! Bang Sendy!" pekik Sheina dalam hatinya yang cukup terlonjak melihat abangnya dari belakang.
Tanpa pamit dirinya berusaha melangkah sepelan dan secepat mungkin menyusuri koridor yang ada di samping kanan ruang utama.
"Hey!" Saat itu juga Tuan rumah memanggilnya, "buatkan minuman!"
Sendy ikut menoleh ke arah cewek yang hanya menunduk tanpa menoleh itu, kemudian hilang dari pandangannya.
"Sepertinya saya baru melihat orang itu," ujar Sendy dengan niatan sengaja untuk mencari tahu.
"Ah, itu pegawai baru beberapa hari," sahut Tuan Rayn menggiring tamunya ke sofa.
Sementara itu Sheina tampak membuka pintu kulkas dan mendekatkan tubuhnya ke dalam untuk mendinginkan suhu tubuhnya yang naik drastis.
"Uhhh adem! Tapi kenapa abang bisa sampe sini dengan mudahnya? Kaya terbiasa ke sini. Padahal gue yang tampilan rapi aja musti babak belur dulu buat diterima di sini!"
Sheina yang menggerutu dengan ketidak habis pikirannya, juga tiada henti mengibas-ibaskan telapak tangannya. Lalu jemarinya berjalan mendikte setiap minuman di dalam lemari pendingin tersebut dan meraih sebuah minuman bir kaleng tanpa alkohol.
Lantas dirinya bangkit untuk mengambil masker dari kotak P3K sebagai penyamaran. Dengan berat segera melangkah ke ruangan utama beriringan dengan degup jantungnya yang kian memompa darah bergejolak ke seluruh tubuh.
"Silakan," lirih Sheina memindahkan dua kaleng bir dari nampan ke meja.
"Kamu kenapa?" tanya Tuan Rayn melihat penampilan asistennya itu.
"Ekhm ... saya lagi flu, terlalu beresiko jika mempersiapkan makanan atau minuman tanpa masker, bukan begitu Tuan?" tutur Sheina dengan suara yang dibuat-buat.
Tidak hanya sekadar itu, totalitas penyamarannya disempurnakan dengan gaya berjalannya yang sengaja agak digontangkan setelah selesai dalam urusannya.
Sheina berbelok ke kiri dan menyandarkan punggungnya di tembok marmer dengan segenap perasaan terancam. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh kedua lelaki beda generasi dan level itu.
"Satpam tua bangka itu mulai mengendus kejanggalan di antara kita. Matanya gak bisa berhenti mengintimidasi keberadaan saya di sini setiap minggunya."
Mendengar kalimat yang memulai lagi pembicaraan itu, Sheina kini tau kalau selama ini abangnya rutin ke sini. Tapi untuk apa?
"Kalau begitu cepat kamu eksekusi, hati-hati ... jangan sampai Alsya menerobos tempat itu!" Tuan Rayn melemparkan pandangannya ke arah lebih dalam istananya.
Eksekusi? Apanya yang dieksekusi? Alsya memang sangat merepotkan dalam segala hal selama gangguan jiwanya masih dideritanya. Namun tempat seperti apa yang ingin dia terobos?
Belum saja pertanyaan yang berkecambuk dipikirannya terjawab, Sheina melirik abangnya yang berjalan lurus ke bagian dalam rumah itu.
Sheina diam-diam mengikutinya jauh dari belakang. Mengendap di antara barang-barang furniture dan sesekali berputar ke belakang pilar.
Satu belokan ke arah kanan sebelum ruangan dapur, Sheina mengikutinya tapi begitu mentok di sebuah ruangan penyimpanan alat-alat pel lantai dan vakum, abangnya menghilang entah ke mana.
Namun di sebelah barat, dirinya kembali mendapati Alsya yang sedang mengamuk entah ke berapa kali terhitung sejak dirinya bekerja.
"Alsya! Ada apa?" tanya Sheina yang merasa pertanyaan itu terlalu bodoh.
Namun gadis yang lebih dewasa darinya itu malah membalasnya dengan bengisan dan kemudian tangisan. Sheina bisa menangkap kesedihan yang mendalam dari manik matanya yang membesar.
"Alsya tenanglah," lirih Sheina kali ini ikut menangis.