***
Sheina memilih jalan pintas untuk keluar menuju jalan raya dengan menyusuri gang jalur kiri yang menempuh jarak lebih jauh karena harus melewati banyak lika-liku belokan. Seperti nasibnya kini yang semakin yakin sebarapa terjal pun kehidupannya pasti akan menemukan titik terang di ujung sana.
"Dor!"
"Huaaaa!" Sheina berhenti, berteriak setelah mendapati sosok lelaki mengenakan setelan jas seperti biasanya. "Kebiasaan deh! Kalo warga pada keluar gimana?"
Nando tibat-tiba muncul di pintu keluar gang. Munculah seorang anak kecil melipir memasuki gang tersebut dan menangkap basah Sheina sedang menggerutu sendiri.
"Ih cantik-cantik miring!"
Sheina langsung menatap anak kecil yang berlari ketakutan itu dengan perasaan kikuk. Untuk pertama kali dalam hidupnya ada orang tak dikenal yang menghujatnya seolah tidak waras. Ini semua gara-gara makhluk halus itu! Pikirnya dengan wajah yang berubah galak seketika.
"Minggir!" bentak Sheina melipir keluar untuk melanjutkan perjalanannya.
"Lo mau ke mana? Entar disangka cabe-cabean loh!" tanya Nando mengekor dari belakang.
Sheina tidak menyahut dan semakin mempercepat langkahnya.
"Kok jadi gini sih? Kan rencana gue tuh bikin lo sama si Feran deket!"
Sheina berhenti sejenak. Tangannya yang pegal langsung mengepal sempurna. Kemudian berbalik dan meninju perut Nando namun sayangnya malah menembusnya.
"Haha gak kena!" gelegar Nando kegirangan.
Sheina menghembuskan napas beratnya. "Jadi tadi itu rencana lo? Lo yang bikin mobil dia mogok?"
Nando tertawa lebar sambil mengangguki pertanyaan cewek di hadapannya.
Wajah imut gadis itu cemberut. "Kenapa sih semua cowok sukanya mempermainkan cewek terutama gue? Termasuk lo setaaan!" gerutunya menunjuk lelaki transparant di depannya dengan penuh dendam.
"Kok gue sih? Niat gue kan baik!"
"Gak selamanya niat baik itu akan menuai buah yang manis!" sahut Sheina mantap. "Gara-gara lo, gue gak bisa pulang!" lanjutnya berujung pilu dengan segenap aura kebingungan.
Sheina mendongak ke langit malam yang dipenuhi bintang, megah tak seperti kehidupannya sekarang. Bola matanya kian bergulir berusaha menahan jatuhnya air mata.
"Pekerjaan gue hancur! Duit gue dibobol abang gue sendiri! Dan sekarang gue gak tau harus ke mana lagi!"
"Sesuai perjanjian lo ke gue, lo harus mengunjungi rumah mewah di komplek sebelah," ucap Nando serius.
Sheina menoleh sinis ke wajah lelaki gaib itu yang tampak bercahaya di bawah binar rembulan. "Apa-apaan lagi?"
♡♡♡
"Cepat masuk!"
Sheina menyeringai ilfeel pada lelaki transparant yang terus memerintahnya untuk memasuki sebuah rumah mewah yang berdiri kokoh di seberang jalan.
"Gak mau!" tolak Sheina bersikukuh.
"Kalau sikap lo begini, apa bedanya dengan cowok b******n? Lo mau mengecewakan gue? Ingat, konsekuensi yang akan lo terima kalau di awal aja udah nyerah gini!"
Sheina memutar bola matanya berusaha memadamkan semua ingatan yang muncul begitu saja, bagaimana ketika makhluk halus itu mengancamnya dengan sekelompok hantu-hantu lainnya. Sekejap dirinya langsung merinding.
"Iya bawel!"
Sheina berjalan menyeberangi jalan yang cukup sepi hingga tiba di hadapan gerbang jeruji besi yang berukirkan bentuk binatang singa berlapis warna emas. Kehadirannya menggundang kedatangan satpam yang langsung menginterogasi.
"Maaf, malam hari kami tidak menerima orang yang meminta santunan," tegas seorang satpam berperawakan tinggi besar dan berkumis tebal itu.
Sheina ternganga kaget. "Yaelah Pak, saya di sini mau kerja!"
"Dan kami tidak kekurangan pegawai," timpal satpam itu lagi dengan sorot mata menyelidik.
Haduh ... gimana ini? Pikir Sheina frustasi menoleh ke seberang jalan di mana Nando mengawasinya dari sana.
"Oh iya lupa, dukun sialan itu juga udah jampi-jampi rumah ini supaya gue gak bisa nembus!" teriak Nando dari seberang.
"Ah elu ngerepotin aja!"
"Kamu gak sopan ya, dasar berandalan, pergi sana!" usir satpam yang merasa kalimat yang dilontarkan gadis itu tertuju kepadanya..
Sheina kembali menatap orang tua di balik gerbang itu. "Eh bukan Pak, saya ngomong ke temen saya tuh," sambil menunjuk ke arah seberang jalan di mana hanya ada kehampaan di mata satpam itu.
"Gak ada! Jangan halusinasi deh!" satpam itu segera kembali ke pos jaganya.
Sementara Sheina mengetuk-ngetuk keningnya ke pagar setelah menyadari kecerobohannya. "Bego! Dasar bego!" hujatnya pada diri sendiri.
Secercah semburat cahaya menerobos gerbang jeruji besi itu hingga menciptakan bayangan Sheina sendiri yang terlihat olehnya. Ia membalikan badan dan mendapati sebuah mobil mewah yang merangkak maju ke arahnya lalu berhenti.
"Cegah siapa pun yang ada di dalam mobil itu sampai lo berhasil masuk ke dalam!" teriak Nando dari kejauhan.
Sheina merentangkan tangannya tapi kemudian nyaris tersungkur setelah sebuah lengan kekar yang menembus jeruji besi mendorongnya dari belakang.
"Awas kamu!" usir satpam itu yang langsung membukakan gerbang.
"Ayo Shein, semangat! Gue di sini bantu lo pake doa!" teriak Nando lagi penuh semangat sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
Sheina sangat ingin melepas sepatunya untuk di lemparkan ke makhluk jadi-jadian itu tapi untuk apa tidak akan kena. Lagi pula ia harus bersikeras menghalangi mobil itu agar keluar dengan gerakan tangannya yang membentuk permohonan.
"Tuan ... saya ingin bicara, sebentar saja."
Kaca jendela depan samping kiri mobil tersebut terbuka memunculkan sosok seram seorang bodyguard sebagai perwakilan sang Tuan rumah yang duduk nyaman di belakang memilih aman.
"Siapa kamu? Ada apa ke sini?"
"Saya ingin bekerja di sini, jadi apapun, tukang kebun, tukang pel, tukang ngasuh ... yah?" pinta Sheina yang langsung berlari ke arah samping sambil melayangkan permohonannya dengan cerewet.
"Ah bawel! Kami sudah memiliki banyak pegawai!"
"Tuh denger!" sambung satpam yang dengan gemas menyentil kuping Sheina.
"Ayolah Pak, saya jauh-jauh dari luar kota masa tega membiarkan saya luntang-lantung di jalanan tengah malam?"
"Itu urusanmu! Cepat pergi!"
Sheina pasrah, dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi kecuali berdiam diri membiarkan mobil itu melaju memasuki halaman rumah yang luas.
"Tidaaak! Tidak mungkin!"
Suara jeritan histeris tiba-tiba saja mengguncang damainya malam. Seorang gadis tampak keluar dari pintu depan dan berlari keluar gerbang.
"Tangkap dia!" teriak Tuan rumah mengerahkan satpam dan bodyguard-nya.
Sementara itu dari seberang jalan, Nando tampak memanfaatkan kesempatan itu untuk memerintah Sheina agar menangkap perempuan yang dilanda frustasi itu.
"Sheina cepat tangkap dia!"
"Ogah ah, takut!"
"Lo mau masuk gak?"
"Oh iya iya!" Akhirnya Sheina menangkap maksud dari taktik Nando.
Dia mulai berlari mengejar perempuan frustasi itu yang berada beberapa meter di depannya. Pemandangan itu selayaknya persaingan maraton tatkala Nando terus memberi dukungannya dari tepi jalan.
Sheina berhasil meraih daster gadis itu dan menariknya ke belakang. Perempuan berambut gimbal yang menutupi sebagian besar wajahnya itu tampak meronta dan melawannya dengan dorongan.
Untunglah dari belakang ada tangan kekar yang menangkap tubuh Sheina. Seorang satpam menyelamatkannya. Sementara perempuan itu ditangani oleh bodyguard hingga berhasil membawanya masuk ke dalam rumah.
"Bapak perhatian juga ya, makasih banget Pak!" ujar Sheina kegirangan di tengah ringisannya menahan sakit dan lelah.
"Geer! Saya nggak sengaja!"
Keduanya lantas berjalan menuju gerbang rumah itu lagi.
"Bagaimana? Saya berguna kan di rumah ini? Belum apa-apa udah berkorban!" celetuk Sheina dengan percaya dirinya sambil berakting pegal-pegal.
"Ya sudah, suruh dia masuk!"
Gelegar perintah Tuan rumah tersebut pada satpam sontak membuat Sheina terlonjak kegirangan bahkan sampai melompat-lompat ke sana ke mari.
"Makasih banyak bapak-bapak kece semuanya!" selorohnya sambil menempelkan kedua telapak tangannya di udara kemudian bergerak ke bawah ke atas seperti memuja yang dibuat-buat.
Selang beberapa detik terdengar suara cekikikan dari mulut gadis frustasi tadi yang dicekal oleh bodyguard. Barulah Sheina menyadari bahwa ini adalah awal dari kehidupannya yang mengerikan.
"Dia menyukaimu, rasakan itu!" bisik satpam itu setelah mereka berlalu masuk ke rumah.
Sheina hanya menyeringai sambil bergidik ngeri. Dia menoleh ke belakang, Nando sudah tidak ada di seberang jalan.