Sheina merengkuh ketakutan dan mundur beberapa langkah. Namun lelaki itu malah menghampirinya dengan langkah yang teringsut-ingsut.
"Abang! Bangun!" pekik Sheina ketakutan mengingat tindakan lelaki itu akhir-akhir ini yang mencurigakan.
"Gak ada! Abang lo over dosis, syukur-syukur kalo dia koid, jadi gue bisa gantiin dia buat jadi abang lo!" gubris Satya dengan tawa yang menyeringai.
"Teman macam apa lo? Sial banget ya abang gue!" omel Sheina sambil meraih barang apapun yang bisa dilemparkan sebagai senjata.
"Gak cuman abang lo tapi ... juga lo! Hahaha!" Satya menunjuk dengan tidak sopan ke wajah gadis di depannya.
"Tapi kayanya lo duluan deh yang sial!" Sheina tanpa memberi jeda lagi langsung mengerahkan tenaganya untuk mendorong d**a lelaki sempoyongan itu dengan mudah terperosok ke lantai.
"Mau ke mana lo?" teriak Satya dengan nada suara yang berat, dia bangkit untuk mengejar gadis itu yang berhasil melarikan diri lewat pintu depan.
Sementara itu, sejak tadi Nando mengawasi Sheina dari kejauhan namun kali ini dia memiliki cara yang berbeda untuk menyelamatkan temannya itu dengan cara menghentikan sebuah mobil yang kebetulan melintas di perempatan.
Sheina benar-benar merasa kutukan dari lelaki itu telah menyelubunginya. Jalur keluar satu-satunya dari gang itu tiba-tiba terhalang oleh sebuah sedan merah yang berhenti.
"Woy minggir woy!" teriak sheina yang masih berlari mendekati mobil itu.
Dari belakang terdengar suara tawa yang menggelegar. "Hahahaha bener kan kata gue, lo itu lagi sial!"
Sheina yang merasa terkepung langsung melakukan sesuatu, kedua tangannya dengan cekatan memukul-mukul kaca jendela mobil tersebut.
"Woy pindahin mobil lo!"
Namun pada saat yang bersamaan, kaca jendela mobil itu terbuka secara perlahan dan memunculkan sosok wajah tampan yang menggetarkan hati Sheina.
"Feran!"
Lelaki tampan di balik jendela kaca yang terbuka sebagian itu tampak tidak percaya melihat cewek yang meronta-ronta di hadapannya.
Sheina mengkerutkan dahinya setelah mendapati lelaki berkaca mata hitam itu malah mengembuskan napas dengan tampang lurusnya.
Sret!!!
Tiba-tiba saja tubuh Sheina terlonjak setelah diseret dari belakang oleh Satya. Refleks kedua tangannya melayang di udara berusaha meronta.
Feran melepaskan kaca matanya dan mengerucutkan pandangannya ke arah gadis itu yang jaraknya semakin menjauh. Suaranya yang serak tak melemahkannya untuk terus meminta tolong. Tangannya melayang melambai ke arahnya dengan tatapan penuh pengharapan.
Gadis malang itu telah hilang dari pandangannya. Sekelebat bayangan buruk mengusik pikiran Feran yang kasat matanya tidak bisa menembus dinding pertigaan itu.
Tatapannya berpaling mengintip jemarinya yang bergerak membukakan kunci pintu mobil begitu saja. Sudah tidak salah lagi, dia kini mengkonfirmasi seluruh gerak tubuhnya untuk melompat dan berlari sekencang-kencangnya.
Kepalanya berputar 180 derajat mencari-cari mereka sampai pandangannya bertepi pada sebuah punggung berjaket robek yang sudah tenggelam ke dalam bangunan petak yang membuatnya berlari menyusuri jalur gang kanan.
Feran tiba di ambang pintu kontrakan Sheina dan terbelalak melihat mendapati kekerasan fisik di dalamnya. Sheina tersungkur ke sofa akibat dorongan tangan Satya yang kuat untuk menghempas tubuh mungilnya.
Dalam hitungan beberapa langkah, Feran berhasil meraih kedua tangan lelaki itu hingga memberingkusnya dari belakang dan mengunci gerakannya hingga tak bergeming lagi.
"Cepat keluar!" perintah Feran pada Sheina yang bergegas keluar dan berlari sejauh mungkin.
Di tepi jalan dia masih melihat keberadaan sedan merah dengan pintu yang terbuka lebar, memudahkan siapa saja yang berniat jahat untuk melancarkan aksinya. Sheina masuk dan langsung memenjarakan dirinya di dalam mobil itu.
Dia akhirnya bisa merasakan udara sejuk. Bernapas lega sambil bersandar di kursi empuk yang begitu nyaman. Sampai suatu ketika entah detik ke berapa, dirinya baru menyadari jika sang pemilik kendaraan tersebut belum juga tiba.
"Masa gue enak-enakan di sini? Kalo dia koid gimana?" gumamnya sendiri setelah memutuskan untuk keluar lagi dan mengecek ke tempat tadi.
Sheina baru saja memasuki jalur gang kanan dan langkah gelisahnya mendadak berhenti setelah mendapati sesuatu yang menghujam jantungnya.
Feran baru saja keluar dengan tenang dari rumah petak itu. Tubuhnya yang gagah masih bisa berjalan dengan santai walau badannya bermandikan keringat.
Sheina masih terpesona memandangi Pahlawannya di tengah siang bolong itu kini sibuk menyisir rambutnya dari depan ke belakang dengan jemari. Terlihat begitu sexy dan maskulin.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Sheina seolah tidak mempercayai kenyataan.
Feran mengacuhkannya dan malah melipir. Sementara Sheina berlari mengintip rumah petaknya dan betapa kagetnya melihat ketiga lelaki mabuk itu sedang terikat di lantai. Lantas Sheina kembali menyusul pahlawannya yang nyaris sampai di mobilnya.
"Tunggu!"
Feran menoleh ke belakang di mana gadis malang itu membungkuk bertumpu pada lutut karena kelelahan setelah berlari.
Tapi lagi-lagi lelaki itu mengacuhkannya dan malah memencet tombol di layar ponselnya lalu menempelkan ke telinganya.
"Selamat siang Pak Polisi," sapa Feran membuat mulut Sheina terbuka lebar.
Dalam hitungan detik cewek itu sudah bangkit melompat demi meraih ponsel Feran dan merebutnya lalu mematikannya di hadapan sang pemilik.
"Anda apa-apaan?"
Sheina mencibir gaya bicara lelaki itu yang kini selalu terdengar kaku sebelum menjawabnya. "Heh, jangan jebloskan abang gue ke penjara ya!"
Feran mengangkat sebelah matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Yang barusan itu abang anda?"
"Kalau yang barusan sih dijebloskan ke got juga gue setuju! Asal jangan abang gue yang pake kaos oblong. Terus satu lagi temannya yang jaket kulit juga boleh tuh di lempar ke laut!" tutur Sheina menjelaskan.
Feran menyeringai remeh. "Keringatku sia-sia!" celetuknya kemudian memasuki mobil.
Sheina berusaha menahan pintu agar tidak tertutup namun apa daya tenaganya yang sudah kehabisan.
"Menjauh dari saya! Dasar drama queen!"
"Gue gak drama, Ran! Abang gue tepar, mana mungkin dia ngeuh kalo gue dalam bahaya! Sejahat-jahatnya dia, gue gak mau jeblosin dia ke penjara!"
"Abang sama ade biasanya gak jauh-jauh sifatnya!" Feran kembali tersenyum miring.
Brak!!!
Sheina menggebrak kaca jendela sampai pemilik di dalamnya tercekat.
"Jangan pernah sambungkan masa lalu dan masa sekarang cuman karena lo masih dendam sama gue!" ujar Sheina kali ini dengan nada yang lebih rendah tapi tegas.
Feran hanya menatapnya sinis. "Markas itu harus disita pihak berwajib sebelum menjadi sarang manusia abal-abal!"
Dengan jelas dirinya melihat jemari Sheina yang gemetaran di kaca jendelanya yang setengah terbuka.
"Itu kontrakan gue." Sheina berbalik badan tidak ingin bulir air mata pertamanya disaksikan oleh sepasang mata lain yang menyimpan dendam di dalam hatinya.
"Bokap gue bangkrut karena hutang yang melilit memaksa perusahaannya disita sekaligus diperes sama perempuan penghibur dan abang gue ... menjual semua aset yang tersisa juga karena diperes sama mantan pacarnya yang jelas-jelas berkhianat!"
Senyuman miring Feran mendadak menjadi garis bibir yang lurus mendatar setelah mendengar penekanan nada suara Sheina di akhir kalimatnya.
"Shein, " lirih Feran tiba-tiba.
"Dan gue juga harusnya benci sama lo!" Sheina berbalik dengan serangan telunjuknya yang langsung menghujam tatapan lelaki itu.
"Pantas aja kalo emang lo gak nerima kata maaf dari gue! Karena bokap dan abang gue sendiri pun dengan teganya menyakiti gue!" Sheina sekarang tidak peduli lagi dengan air matanya yang berderai deras meski di hadapan lelaki itu.
Sheina kembali membelakangi lelaki itu untuk segera enyah dari pandangannya tanpa menyadari bahwa Feran baru saja ingin mengulurkan tangannya secara otomatis.
Feran menatap jemarinya yang menggenggam udara hampa.