Murid-murid tampak antusias saat memasuki ruangan galeri di mana terdapat deretan patung manekin yang bersetelan pakaian beraneka ragam desain hasil karya alumni sebelumnya. Namun Sheina malah menutupi sebagian pandangannya dengan telapak tangannya karena masih trauma pada benda tersebut.
Dia mengingat jelas betapa menyeramkan patung-patung manekin itu jika ditatap berlama-lama dalam jarak yang begitu dekat. Peristiwa itu tak pernah lekang dari pikirannya.
"Shein, sebenarnya lo kenapa sih?" tanya Mega teman barunya yang sudah dekat sejak pertama kali bertemu, di mana dia mendapati banyak keanehan dari tingkah laku cewek itu.
"Nggak apa-apa kok cuman kelilipan," dalih Sheina tak ingin membuat temannya itu ketakutan.
"Mana sini aku tiupin!"
"Ogah, bau jigong!"
"Waktu itu lo kenapa jerit-jerit di kelas? Bikin belajar gak fokus aja," tanya Mega sambil mendapati patung anak kecil berbalut dress yang kemudian langsung dilayangkan ke hadapan temannya itu.
"Setaaan!" lagi-lagi Sheina latah dengan kebiasaannya itu.
Merasa suara teriakan salah satu muridnya itu mengganggu, Bu Tetty yang sedang mendeskripsikan kegiatan tersebut, membuatnya tidak ragu lagi untuk menghampiri anak itu dan langsung menjewer kupingnya. Sheina menjerit kesakitan.
"Kamu memang biang keroknya selama ini! Tau gini, saya nyesel ngasih kesempatan kamu lolos seleksi!" gerutu Bu Tetty sambil melepaskan jewerannya setelah muridnya itu memohon ampun berkali-kali.
"Memangnya di sini ada setannya hah?" pekik Bu Tetty lagi di kuping muridnya itu.
Karena berisik dengan ruangan di samping, Nando terbangun dari istirahatnya dan keluar dari tubuh patung manekin pria. Dari dinding yang tembus pandang di matanya, dia jadi tau apa yang sebenarnya terjadi.
Nando berjalan menembus dinding dan mendekati guru pembimbing itu, tangan kekarnya menjulur sampai bisa meraih kuping ibu-ibu itu yang sibuk memarahi Sheina sampai akhirnya berhenti dan berganti jeritan Bu Tetty karena merasa telinganya ditarik oleh sesuatu yang padahal tidak ada siapa-siapa di sampingnya.
"Kayanya di sini memang ada setannya," ujar Bu Tetty sambil mengusap kupingnya.
Otomatis semua murid tampak menciut ketakutan dan bergidik ngeri. Termasuk Mega yang malah bersembunyi dibalik punggung Bu Tetty.
"Ngapain kamu ngumpet di belakang saya hah?" tegur Bu Tetty.
Sambil nyengir Mega menyahut, "Kan Ibu lebar." Sontak jawabannya membuat murid-murid lain tertawa sampai melupakan suasana mencekam di ruangan itu.
"Heuh! Sudah-sudah, kita lanjutkan kegiatannya!" Bu Tetty bergegas jalan ke depan memimpin para murid untuk mendeskripsikan setiap karya yang ada di dalam ruangan galeri itu.
Sementara Sheina masih cekikikan bersama Nando di sudut ruangan. Dia menyampaikan rasa terimakasihnya dengan ekspresi tak biasa. Terlihat begitu sumringah.
"Tolooong ... temen gue kesurupan!" pekik Mega mengundang semua orang mengikuti arah telunjuknya.
Sheina langsung melongo dari sudut ruangan sambil merutuki tindakan gegabah dari sahabatnya.
♡♡♡
***
Sheina mengetuk pintu kontrakan beberapa kali. Namun masih belum dibukakan pintu oleh abangnya yang biasa menyambutnya di rumah.
"Masuk! Gak dikunci!"
Mendengar ada sahutan dari dalam, Sheina langsung membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Baru saja ingin mengucapkan salam, gerakan lehernya langsung kaku seketika melihat pemandangan di dalam.
Sendy dan kedua temannya sedang berpesta miras di dalam. Bahkan ketiganya tampak tepar dan tidak peduli jika kulit kacang tanah dan bungkus cemilan lainnya berserakan di mana-mana. Jelas itu mengundang amarah adiknya yang seharusnya istirahat karena kelelahan.
"Abang! Apa-apaan ini?" pekik Sheina menginterogasi.
"Berisik!"
"Jadi lo minjem uang ke gue buat niat beginian? Untung gue gak sebego itu. Ayo bilang dapat duit dari mana?" gerutu Sheina bergegas mengecek laci-laci di ruangan kerjanya.
Sesuai dugaannya. Uangnya hilang dan hanya tersisa beberapa koin logam saja. Sheina kecewa untuk ke sekian kalinya, ternyata dirinya tak secerdas sesuai kepercayaan dirinya.
"Abang tega ya ngambil uang jerih payah gue demi ngasih makan serigala-serigala liar ini!"
Mendengar ocehan cewek itu, ketiga lelaki yang merasa tersinggung itu langsung membuka mata dengan beringas dan mendapati ujung jari telunjuk Sheina yang sedang mendiktenya satu persatu.
"Apa maksud lo?" Satya bangkit benar-benar seperti serigala kelaparan yang menatap mangsanya dengan mata memerah.
Sheina merengkuh ketakutan dan mundur beberapa langkah. Namun lelaki itu malah menghampirinya dengan langkah yang teringsut-ingsut.
"Abang! Bangun!" pekik Sheina ketakutan mengingat tindakan lelaki itu akhir-akhir ini yang mencurigakan.
"Gak ada! Abang lo over dosis, syukur-syukur kalo dia koid, jadi gue bisa gantiin dia buat jadi abang lo!" gubris Satya dengan tawa yang menyeringai.
"Teman macam apa lo? Sial banget ya abang gue!" omel Sheina sambil meraih barang apapun yang bisa dilemparkan sebagai senjata.
"Gak cuman abang lo tapi ... juga lo! Hahaha!" Satya menunjuk dengan tidak sopan ke wajah gadis di depannya.
"Tapi kayanya lo duluan deh yang sial!" Sheina tanpa memberi jeda lagi langsung mengerahkan tenaganya untuk mendorong d**a lelaki sempoyongan itu dengan mudah terperosok ke lantai.
"Mau ke mana lo?" teriak Satya dengan nada suara yang berat, dia bangkit untuk mengejar gadis itu yang berhasil melarikan diri lewat pintu depan.
Sementara itu, sejak tadi Nando mengawasi Sheina dari kejauhan namun kali ini dia memiliki cara yang berbeda untuk menyelamatkan temannya itu dengan cara menghentikan sebuah mobil yang kebetulan melintas di perempatan.
Sheina benar-benar merasa kutukan dari lelaki itu telah menyelubunginya. Jalur keluar satu-satunya dari gang itu tiba-tiba terhalang oleh sebuah sedan merah yang berhenti.
"Woy minggir woy!" teriak sheina yang masih berlari mendekati mobil itu.
Dari belakang terdengar suara tawa yang menggelegar. "Hahahaha bener kan kata gue, lo itu lagi sial!"
Sheina yang merasa terkepung langsung melakukan sesuatu, kedua tangannya dengan cekatan memukul-mukul kaca jendela mobil tersebut.
"Woy pindahin mobil lo!"
Namun pada saat yang bersamaan, kaca jendela mobil itu terbuka secara perlahan dan memunculkan sosok wajah tampan yang menggetarkan hati Sheina.
"Feran!"
***
Sheina mengetuk pintu kontrakan beberapa kali. Namun masih belum dibukakan pintu oleh abangnya yang biasa menyambutnya di rumah.
"Masuk! Gak dikunci!"
Mendengar ada sahutan dari dalam, Sheina langsung membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Baru saja ingin mengucapkan salam, gerakan lehernya langsung kaku seketika melihat pemandangan di dalam.
Sendy dan kedua temannya sedang berpesta miras di dalam. Bahkan ketiganya tampak tepar dan tidak peduli jika kulit kacang tanah dan bungkus cemilan lainnya berserakan di mana-mana. Jelas itu mengundang amarah adiknya yang seharusnya istirahat karena kelelahan.
"Abang! Apa-apaan ini?" pekik Sheina menginterogasi.
"Berisik!"
"Jadi lo minjem uang ke gue buat niat beginian? Untung gue gak sebego itu. Ayo bilang dapat duit dari mana?" gerutu Sheina bergegas mengecek laci-laci di ruangan kerjanya.
Sesuai dugaannya. Uangnya hilang dan hanya tersisa beberapa koin logam saja. Sheina kecewa untuk ke sekian kalinya, ternyata dirinya tak secerdas sesuai kepercayaan dirinya.
"Abang tega ya ngambil uang jerih payah gue demi ngasih makan serigala-serigala liar ini!"
Mendengar ocehan cewek itu, ketiga lelaki yang merasa tersinggung itu langsung membuka mata dengan beringas dan mendapati ujung jari telunjuk Sheina yang sedang mendiktenya satu persatu.
"Apa maksud lo?" Satya bangkit benar-benar seperti serigala kelaparan yang menatap mangsanya dengan mata memerah.