"Jadi yang selama ini menggentayangi gue itu elo?" tanya Sheina setelah mereka duduk di bangku depan gudang.
"Kok lo terkesan nuduh gue setan sih?"
"Gue gak ngomong gitu," elak gadis itu nyengir. Lalu menggerutu pelan, "Setan aja baperan."
Nando berdecak membenarkan tuduhannya sambil melayangkan telunjuk. Cewek di sampingnya itu refleks menutup mulut.
"Nama lo siapa?"
"Mau tau aja!" ketus Sheina melengos.
"Gue serius!"
"Kenapa harus serius?"
"Karena lo pahlawan gue! Lo yang akan bantu gue buat memecahkan masalah hidup gue!"
Sheina terperangah. "Masalah hidup? Lo kan udah koid. Yang ada semenjak ketemu lo, hidup gue berantakkan!"
"Gue belum mati!" Feran bangkit dari duduknya agar lebih bertenaga dalam menghadapi makhluk bawel perempuan sepertinya. "Bahkan gue gak tau apa gue udah beneran mati atau belum?! Maka dari itu gue butuh bantuan lo buat memecahkan jawabannya!"
"Apaan sih lo? Pake nyeret-nyeret gue ke pusaran dunia lo yang gak jelas itu! Gue banyak kerjaan!" Sheina bangkit bergegas pergi dengan cara mendorong makhluk halus itu karena menghalangi jalan.
Selain bisa melihat makhluk halus seperti Feran, Sheina juga bisa bersentuhan dengannya sesekali saja.
"Atau lo mau gue suruh semua dedemit-dedemit di dunia ini buat gangguin lo?"
Gelegar kalimat bernada mengancam itu seketika menghentikan langkah kaki Sheina yang cepat. Jantungnya yang lemah karena akhir-akhir ini banyak sekali kekagetan kembali bergetar hebat lagi, memancing ribuan bulu kudunya untuk berdiri kompak.
Pikirannya menerawang jauh. Jangankan diserang oleh semua dedemit, bertemu dengan Nando saja sudah membuat hari-harinya tidak tenang karena diteror oleh banyak hal menyeramkan. Hal ini wajar karena sebelumnya dia tidak pernah bersentuhan dengan hal-hal yang berbau gaib.
"Jangan! Jangan! jangan! Ngadepin lo aja udah bikin gue stress, lo niat banget bikin gue sakit jiwa ya?" gerutu Sheina sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri.
Ia berbalik badan menatap lurus ke lelaki transparan itu dan menghampirinya. "Lo kalo milih pahlawan bisa liat-liat gak sih? Hidup gue tuh lagi di ambang kehancuran! Eh lo malah nongol!" Jemari lentiknya menunjuk-nunjuk wajah lelaki itu.
"Ini yang lo gak ngerti. Tuhan sengaja mempertemukan kita supaya lo tau kalau di dunia ini bukan cuman lo aja yang lagi merasa hancur!" Sepasang tangan Nando bergerak-gerak di udara sebagaimana emosinya yang sedang membara. Lalu duduk lagi di bangku.
Sheina termenung sejenak. Menciptakan suasana sunyi agar bisa mempertanyakan lagi pada dirinya apakah benar-benar merasa sebagai manusia paling hancur atau tidak dibandingkan dengan sosok Nando yang bahkan tidak jelas ada di dunia mana.
"Keberadaan lo adalah keberuntungan terbesar yang pernah gue dapatkan," ucap Nando dengan nada yang cukup terdengar tulus. Sepasang kakinya melebar seiring dengan badan dan kepalanya yang kian menunduk. Menciptakan suasana santai di antara keduanya.
"Satu tahun yang lalu, mereka menganiaya gue hanya karena membela seorang perempuan paruh baya. Semuanya gelap sampai akhirnya gue sadar telah terbangun di dimensi lain, ketika di mana seorang dukun suruhan mereka memenjarakan gue dalam patung manekin."
Feran menciptakan jeda untuk menikmati derasnya semilir angin yang mengalun merdu menembus dimensinya.
"Andai aja gue gak bisa dengar suara detak jantung seorang perempuan, mungkin selama-lamanya gue terjebak di patung manekin itu," lanjut Nando perlahan menatap ke arah Sheina yang juga balas menatapnya. "Dan lo adalah perempuan itu."
Sheina terjebak di antara gerak tubuhnya yang tiba-tiba saja terkunci. Nalarnya tidak bisa mengakui jika terkadang kehancuran hidupnya justru bertujuan untuk menguntungkan kehidupan orang lain. Itu terlalu gila untuk disyukuri tapi begitulah skenario yang Tuhan kehendaki di alam semesta sebagai panggung sandiwaranya.
"Apa boleh buat jika gue ditakdirkan buat bantu lo memecahkan masalah lo?!" Sheina mengembuskan napas beratnya.
"Kalau pun lo keukeuh gak mau, gue akan tetep paksa lo." Nando mengembangkan senyumannya dengan pesat.
Nando bangkit dengan hentakan yang mengagetkan cewek di depannya. "Oke! Sebagai imbalannya gue bakal nyomblangin lo sama guru pembimbing yang sok ganteng itu!"
"What?" pekik Sheina sengaja merangkum wajahnya sendiri membentuk emotikon kaget.
***
"Terimakasih banyak mbak, jangan lupa buat kembali lagi ke sini."
Sendy berkacak pinggang di belakang adiknya yang sedang mengantarkan kepergian pelanggannya di depan rumah. Begitu berbalik, Sheina langsung menabraknya.
"Abang! Ngagetin aja!"
"Pinjem duit dong!"
"Pinjem mulu, mana figure seorang kakak yang harusnya memberi sama ade? Bukannya dipalakin!" Sheina mendelik sinis sambil melipir menuju area kerjanya.
Sendy berbalik mengikutinya. "Lo tau kan gue gak kerja!"
"Ya cari kerjaan aja sana!"
"Lo berani sama abang lo sendiri? Gak takut durhaka?"
"Abang macam apa dulu? Lagian kenapa duit hasil gadai rumah itu dikasih semua ke cewek yang jelas-jelas udah mengkhianati lo?"
Sret!!!
Sendy mengoyak lembaran kain yang sedang dikerjakan oleh adiknya itu sambil berteriak keras di depan wajah polosnya, "Lo gak tau perasaan gue dek! Kurang ajar lo!"
Untaian harapan Sheina yang telah lama dirajut terputus seketika melihat pekerjaannya diporak porandakan oleh abangnya sendiri. Sekelebat pemasukan musnah dan berubah menjadi pilu mengingat harus ganti rugi kepada pelanggan.
Emosinya bergemuruh menciptakan badai hujan yang terjun dari binar redup matanya. Sheina melemparkan kain itu ke hadapan abangnya sekaligus memaki-maki.
"Gue gak tau perasaan lo bang! yang gue tau lo itu bego karena dengan mudahnya bertekuk lutut sama mantan pacar lo yang udah nyelingkuhin lo! Harga diri lo sebagai cowok udah kelar di mata gue!"
Sheina memberi jeda beberapa detik karena bibirnya gemetaran. "Bahkan lo korbankan kebahagiaan gue dan Bunda!" lanjutnya setelah itu bergegas pergi.
♡♡♡
Tangisan Sheina menghambur ke pelukan seorang perempuan berhijab yang baru saja membukakan pintu untuknya. Aurin yang kebingungan lantas membalasnya dengan pelukan agar gadis itu bisa merasa lebih tenang.
"Shein, ada apa?"
Telapak tangan Sheina mengusap lembut punggung gadis dewasa berambut keriting panjang itu.
"Aku gak kuat kak! Bang Sendy semakin hari makin bocah pikirannya! Dia gak cuman ngabisin harta dengan foya-foya bareng cewek jalang itu! Tapi juga memeras adiknya sendiri buat dijadikan tambang duit!"
Mendengar suara gerutuan Sheina yang diiringi isak tangisnya, membuat Aurin menuntunnya untuk duduk di sofa ruang utama dan membuatkannya minuman dingin agar suhu badannya yang panas kembali turun menjadi normal.
Sheina meminta bantuan agar Aurin bisa lebih tegas menghadapi abangnya yang masih menjadi kekasihnya itu. Namun Aurin dengan berat hati menolak, mengingat kehadirannya di rumah itu beberapa bulan yang lalu justru berujung pilu dengan kedatangan Sonia yang berhasil menghasut Sendy untuk tidak berpihak padanya.
"Kalau abang aku aja berani menyakiti kak Aurin, maka kak Aurin pun berhak banget buat melawan abang aku. Ayolah kak, jangan lemah cuman karena cowok semena-mena sama kita!" bujuk Sheina berusaha memotivasi calon kakak iparnya itu.
"Enggak bisa, Shein, kakak mundur bukan berarti kalah, melainkan kakak sadar kalau abang kamu bukan yang terbaik buat kakak."
"Tapi di mataku, kak Aurin yang terbaik buat Bang Sendy dan juga aku!" timpal Sheina terlihat bersikukuh dengan pendapatnya.
"Tapi kakak berhak mendapatkan kehidupan yang terbaik tanpa abang kamu, Shein."
Sheina menangkap gerakan bola mata lawan bicaranya yang seakan ingin mendapat pengertian. Sheina sadar bahwa kekecewaan seorang perempuan sudah tidak bisa lagi digugat oleh paksaan meski kelihatannya tampak lemah.
♡♡♡