Semua siswa dan siswi baru tingkat satu telah berkumpul di aula sekolah. Perkumpulan itu dipimpin para senior yang membimbing dan memberi arahan. Para siswa diberikan pita satu-persatu dengan warna yang berbeda. Warna tersebut kemudian dikumpulkan menjadi satu kesatuan di setiap warnanya. Sayang sekali kali ini Rai dan Lia harus berpisah. Mereka mendapat warna yang berbeda.
“Yah, kalau tahu begitu, aku tadi misah sama kamu." Lia cemberut, kesal melihat pita merah muda di tangan Rai dan oranye di tangannya.
“Emang kenapa?” Rai tidak mengerti. Bukannya dia yang meminta? Pikir Rai dalam hati.
“Kan bisa jadi kita dapet warna yang beda, Rai. Jadi kita ga dipisahin, deh." Lia pun melihat sekeliling. Mencari teman seperwarnaannya. Begitu pula Rai mengikuti. Ternyata jarak mereka terpisah diantara tiga warna kelompok. Oranye, biru, kuning, hijau, dan merah muda.
Tak berselang lama, akhirnya para senior meminta para siswa berkumpul sesuai warna mereka masing-masing. Rai seperti biasa datar dan selalu begitu, selalu tidak ingin banyak bicara. Lia yang melihatnya kemudian menyentuhnya, dan pamit memisahkan diri sebentar.
“Aku kesana dulu ya, Rai. Kamu hati-hati. Kalo ada yang ganggu. Bilang sama aku." Seketika hati Rai hangat. Tapi dia benci itu. Kenapa Lia begitu baik padanya? Apa kebaikan itu akam bertahan saat Lia tau kekurangan Rai atau malah mengejeknya? Ya, setidaknya Rai akan mengetahuinya dalam dua puluh sembilah hari lagi, bukan?
“Iya. Kau juga." Rai membalas. Lia pun berjalan mundur perlahan. Tatapannya tetap pada Rai.
Kemudian dia berkata dengan senyum lebarnya, “nanti istirahat ketemu di depanAula ya, Rai! Tunggu aku!”
Lia setengah berteriak dengan kedua tangan di mulutnya. Rai seperti sudah mengenal Lia lama sekali. Perasaan yang indah yang lama tidak dia rasakan lagi. Tanpa sadar senyum tipis keluar dari mulut Rai. Beruntung saat itu Lia sudah tidak melihatnya. Bisa jadi Rai akan jadi bahan olokan Lia saat itu jika perempuan itu melihat senyumnya.
“Ayo semuanya berbaris. Tim merah muda rapihkan barisan!” Suara bariton itu keluar dari mulut speaker. Laki-laki itu terlihat sangat angkuh. Ia memakai gelang karet hitam, rambut agak tebal dengan ikat kecil.
Ya, benar, di sini tidak ada larangan siswa berambut panjang. Para siswa disini bebas berekspresi sesuai dengan jati diri mereka. Yang terpenting adalah tata krama dan perilaku yang harus dijunjung di tempat ini.
“Bagus! Bravo sudah rapih! Sekarang kalian dipersilahkan duduk dan merapatkan barisan." Rai sangat tidak bersemangat. Apa yang ada diotaknya hanya rumah, rumah, dan rumah.
Kapan selesai, ya? Mau apa, sih? Berkelana dihati dan otaknya. Jujur saja ini pertama kalinya Rai untuk ikut masa orientasi. Saat SMP ibu Rai selalu meminta izin pada pihak sekolah agar Rai tidak mengikutinya. Namun tahun ini berbeda. Ibu Rai ingin sang anak mulai terbiasa dengan bersosialisasi. Karena menurutnya, bersosialisasi adalah cara agar Rai dapat bersahabat dengan kekurangannya.
“Baiklah, adik-adik. Perkenalkan nama saya Joshua. Saya adalah kaka pembimbing kalian selama tujuh hari kedepan. Apapun yang ingin kalian tanyakan, bisa tanyakan pada saya, ya." Joshua tersenyum angkuh. Rai tidak menyukainya. Tanpa disadar tatapan mereka bertemu. Dengan cepat Rai menunduk dan mengalihkan pandangannya.
“Ada yang ingin ditanyakan? Bagaimana? Karena setelah ini kita akan lanjut ke sesi selanjutnya." Joshua kembali bertanya, ia yang melihat Rai diam saja langsung mencari perhatiannya.
“Gimana, Rai? Siapa namanya? Raina Abigail. Mau bertanya?” Senyum menggoda itu mengejutkan Rai. Bagaimana tidak, sekarang semua mata tertuju padanya. Mulut mulut itu kembali bersuara dan terus memuji Rai tanpa henti. Seperti malaikat yang baru jatuh, mereka kagum akan kecantikan Rai. Begitu juga Joshua. Laki-laki itu sepertinya menyukai Rai pada pandangan pertama.
“Lanjut saja ke sesi selanjutnya, kak!” Suara itu datang dari barisan belakang.
“Gak ada yang mau nanya, kan? Ayo biar cepat." Suara itu menambahkan. Rai bersyukur sekali karena saat itu pandangan semua orang berubah tujuan. Tapi dia seperti tidak asing dengan suara itu. Dengan perlahan Rai mencoba menoleh dan mencari. Bertemu lah matanya dan mata Rai saling memandang lewat celah orang-orang.
Laki-laki itu menoleh, begitu juga dengan Rai. Rai yang sama sekali tidak kenal dengan laki-laki itu bersikap biasa. Jauh di belakang sana, laki-laki itu tersenyum tipis sambil berpura-pura merapihkan tali sepatunya. Seperti mendapat lotre, ia sangat bahagia.
• RAI’S POV •
Lagi lagi Lia senyum kepadaku, sebelum pergi meninggalkanku dan berpisah sementara. Senyum yang sudah lama sekali tidak aku temukan dari orang lain. Hm, mungkin begitu? Tapi senyum itu menghangatkanku. Seperti senyum ibuku. Andai aku kenal dengan Lia sedari dulu, tapi bukankah percuma? Aku juga belum tahu bagaimana sifat aslinya, bukan?
Tanpa terasa senyum kecil keluar dari bibirku. Ah, jangan! Apa dia melihat? Aku harus sembunyikan senyum ini. Bisa besar kepala Lia nanti.
Entah kenapa hatiku sangat senang bertemu dengan Lia. Aku sangat berharap dia orang yang bisa kupercayai. Dia juga bilang akan menjagaku, kan? Lia yang baik, untuk sekarang.
Aku berjalan menuju kerumunan itu. Merah muda, warna yang lucu. Aku harap aku cepat pulang, karena berada di keramaian sebentar saja membuat otakku pecah. Aku berjalan menunduk, tidak menghiraukan siapapun. Dan kupikir di barisan tengah tidak begitu mencolok. Andai saja barisan belakang tidak dipenuhi laki-laki, sudah kutempati itu lebih dulu.
Lalu seorang siswa laki-laki, yang terlihat seorang senior itu menyuruh kami untuk berbaris. Suara itu lantang sekali, menggangu telingaku. Ku perhatian dia dengan terperinci. Rambut tebal dengan ikat kecil, gaya berpakaian semaunya, dan senyum angkuh itu menyebalkan sekali. Tuhan, aku ingin pulang. Ini pertama kalinya aku ada di acara seperti ini, ucapku dalam hati.
Dia bersuara lagi, joshua namanya. Hei, tidak bisakan kamu untuk memperkecil suaramu? Ingin kuteriaki dia. Tapi aku tidak suka jadi tontonan. Kemudian mata kami bertemu, dan senyum itu membuatku merinding. Joshua terlihat enak dipandang, entah kenapa aku tidak menyukainya dan senyum itu. Ku alihkan mataku ke arah teman yang tidak ku kenali, dan menunduk perlahan.
Namun, tiba-tiba suaranya kembali membuat ku terkejut. Seakan mencari perhatian di tengah keramaian, ia bertanya padaku. Senyum itu berubah jadi seperti penggoda. Kenapa harus aku? di antara banyak siswa di sini, kenapa harus namaku yang ia sebut dengan speaker itu? Aku bersumpah aku benci dia. Aku benci dia melakukan itu padahal aku tidak melakukan apa-apa.
Semua mata kini melihatku. Lagi-lagi mereka bergumam satu sama lain. Meskipun itu sebuah pujian, aku tidak menyukainya. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Aku tidak ingin menatap wajah mereka. Biar otakku hanya bekerja satu saja hari ini. Jangan lagi.
Aku tetap menunduk, suara-suara itu masih mengelilingiku. Entah apa yang ada dipikiran ku saat itu. Aku hanya butuh Lia. Aku butuh Lia dengan segala kecerewetannya. Jika ada Lia saat ini pasti dia akan menjagaku. Membantuku menjawab laki-laki itu. Lia, tidak bisa kah kamu ke kawasan merah muda sebentar saja? Bantu aku.
Tak lama dari itu, aku mendengar satu suara bariton lagi. Kali ini suaranya kencang dan tegas, tapi enak didengar. Apa katanya? Dia berteriak untuk meminta laki-laki menyebalkan itu melanjutkan sesi lain. Setidaknya suara itu menolongku hari ini. Menolongku dari tatapan orang-orang. Sekarang dialah pusat perhatiannya, setelah berteriak pada Joshua begitu lantang.
Suara itu kembali kudengar. Entah, menyejukkan sekali. Dan, sepertinya aku pernah mendengar suara ini. Tapi dimana? Siapa pemilik suara ini?
Tidak, aku tidak mau mengacak-acak diri ku hanya karna penasaran. Ku berani kan diri untuk melihat sang pemilik suara. Tidak disengaja mata kamu bertemu.
Lima detik, sepuluh detik, ah mungkin setengah menit? Kami bertatapan. Kemudian dia mengalihkan pandangannya, dan mengikat tali sepatunya yang terlepas. Aku pun ikut mengalihkan pandanganku. Ternyata aku tidak mengenalinya. Tapi mengapa suara itu sangat tidak asing?
Rai bodoh, di dunia in banyak orang dengan suara yang serupa. Mengapa juga aku harus pusing memikirkan seseorang yang tidak aku kenali.
Aku pun kembali melihat Joshua sekilas, dia kembali mengambil speakernya dan menghampiri temannya. Menanyakan sesuatu seperti agenda hari ini. Saat dia kembali, dia kembali menatapku. Dan kemudian berbicara kembali.
“Baiklah adik-adik. Setelah ini barisan akan dibagi jadi dua. Kalian akan diatur secara hadap-hadapan dengan teman baru kalian. Pertama, kalian harus berkenalan satu sama lain. Setelah itu, kalian berdua akan bergabung jadi team untuk permainan." Jelas Joshua.
Laki-laki itu kemudian menambahkan, “Team yang menang akan diberi hadiah untuk meng-eksplore seluruh sekolah tanpa pendamping. Oleh karena itu silahkan berbaris ulang, dari sekarang!”
Aba-aba itu membuat para siswa dan siswi berlarian mencari pasangan. Bagaimana mungkin mereka bisa menemukan pasangan masing-masing? Sejak kapan mereka kenal? Aku gundah gulana. Bingung untuk memilih siapa yang jadi pasangan teamku. Hingga pada akhirnya, aku dipertemukan kembali. Dengan laki-laki itu, si penolongku.
• POV END •
Waktu itu menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi. Semua siswa dan siswi terlihat semangat sekali dengan acara orientasi sekolah. Terlihat dari raut wajah para siswa dan siswi yang sangat ceria dan gembira. Jika dilihat dari mata memandang, maka akan ditemukan satu wajah tanpa semangat yang terpampang. Siapa lagi kalau bukan, Raina.
Ketika aba-aba itu datang dari Joshua, seluruh siswa dan siswi berlarian mencari pasangan mereka. Tidak dengan Rai, tak peduli soal ini. Dengan raut wajah bingung dan tubuh kaku bagai manekin, Rai hanya melihat teman barunya berhamburan satu sama lain. Sedangkan dia, mematung sendiri.
“Ayo temukan pasangan kalian. Perempuan boleh digabung perempuan, dan sebaliknya. Atau laki-laki bergabung dengan perempuan, juga tidak apa-apa." Teriak Joshua kembali seakan menyemangati.
Rai yang kemudian tersadar tidak punya teman, membuat dia kebingungan untuk memilih. Kemudian datang seorang laki-laki berdiri tepat disebelahnya. Suara itu tedengar lagi di telinga Rai. “Gak ada teman? Aku juga."
Ternyata dia. Laki-laki penolong Rai sepuluh menit yang lalu. Rai hanya mengangguk, namun tidak berbicara apapun.
“Mau bergabung?” Laki-laki itu bertanya kembali. Raut wajah Rai berubah ragu, tapi entah kenapa dia tidak bisa menolak.
“Boleh. Gaada pilihan lain, kan?” Balas Rai tanpa menatap laki-laki itu. Kemudian mereka berdua berjalan memasuki barisan. Seketika semua mata melihat mereka berdua. Karena saat itu, hanya mereka pasangan kelompok yang berbeda jenis.
Bagi remaja seumur mereka, hal itu adalah hal yang sangat lucu melihat sepasang perempuan dan laki-laki dalam satu team. Jika dilihat pun, Rai dan laki-laki itu sangat serasi. Rai yang mungil dan laki-laki itu berbadan tinggi membuat teman-temannya gemas. Tak sedikit dari mereka menoleh dan tersenyum menggoda. Seperti tahu apa yang mereka maksud, Rai dan laki-laki itupun merasa canggung.
Rai seketika meremas sedikit roknya, sedangkan laki-laki itu menggaruk lehernya. Laki-laki itu juga berdeham beberapa kali.
“Kamu gapapa, kan? Sekelompok sama cowo?” Tanya laki-laki itu sekali lagi. Rai yang merasa canggung hanya mengganguk. Diikuti dengan anggukan dari laki-laki itu.
Sambil menunggu aba-aba selanjutnya. Para siswa dan siswi berbincang satu sama lain. Sedangkan Rai hanya bisa melipat bibirnya saat mereka semua terlihat langsung sangat akrab. Mulai dari tertawa, bercerita santai, dan saling menanyakan perihal diri masing-masing. Para team yang harmonis.
Sungguh, sangat berbanding terbalik dengan team Rai. Rai dan laki-laki itu hanya terdiam satu sama lain. Mata Rai menunduk kebawah, memandangi sepatunya dan sesekali memainkan kakinya. Berjinjit dan turun lagi. Begitu saja, agar tidak berkomunikasi dengan laki-laki itu. Sedangkan laki-laki itu sibuk memandang kesana-kemari, seperti mencari sesuatu tapi tidak tahu apa itu.
“Aku Hans”. Rai berhenti memainkan kakinya. Laki-laki itu memulai pembicaraan. Terdengar laki-laki itu menelan ludahnya pelan.
“Nama kamu?” Tanya Hans berusaha mencairkan suasana.
“Bukannya tadi kamu sudah dengar, ya?” Rai membalas. Hans kembali menelan ludahnya. Tanpa sadar ia mengerutkan alisnya seperti berpikir.
“Cuma ingin tahu langsung saja dari kamu”. Hans yang pantang menyerah, bukan?
“Raina. Panggil saja Rai”. Akhirnya Rai menjawab dengan santai. Rai sempat berpikir mungkin dia perlu menurunkan sedikit rasa malasnya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Suasana kembali diam. Mata Hans masih kesana kemari mencari topik pembicaraan. Ternyata sulit untuk mengajak Rai berbicara. Bagi Hans, Rai terlalu diam. Saat matanya masih sibuk melihat sekitar, Hans pun menoleh kepada Rai.
Ternyata perempuan itu bertanya padanya, “Hans? Namamu Hans?”
Dan Hans pun menjawab dengan senyum lebarnya, seperti bahagia akhirnya Rai mengerti. “Iya, Hans. Dari Hansol”.