· HANS’S POV •
Aku berjalan memasuk aula. Kulihat sudah banyak sekali murid disana. Aku yang tidak sabar, terus mencoba mencari dia. Aku menengok kekanan dan kiriku. kembali mencari sosok dia, sampai kuperhatikan para perempuan itu satu persatu. Aku yakin saat itu aku tidak salah. Aku melihat namanya di daftar nama siswa dan siswi yang telah diterima oleh SMA ini. Hingga seorang senior menggangguku.
“Hei, mau kemana? Ini pitamu belum diambil”. Senior itu menyodorkanku sebuah pita berwarna merah muda.
Dahiku menyerit, dan bertanya pada senior itu. “Buat apa, kak?”
“Dipake ya, di baju kamu. Buat pengenal kelompok." Senior itu menjelaskan.
“Warnanya harus pink banget ya, kak?” Aku tertawa. Laki-laki cool sepertiku mendapat warna merah muda? Yang benar saja.
“Boleh ditukar gak, kak?” Aku kembali bertanya.
Senior itu berdecak, “Emang kamu mau warna apa?”
Aku sambil terkekeh menjawab, “oranye boleh, kak. Lebih maskulin”.
Aku menunjuk sisa pita warna oranye itu. Belum sempat diambil olehnya, pita oranye tersebut kemudia dirampas oleh senior lain.
“Ini oranye di-take ya, Gi? Tadi udah bilang sama Josh dan Bella”. Laki-laki itu mengambil semua.
Kini senior itu berdecak pinggang sambil memandangku sinis. “Maskulin atau engga itu dari cara kamu berpenampilan, bukan dari warna. Oranye nya udah habis. Pakai pink saja”.
Senior itu membawa kotak-kotak yang berisi pita. Meninggalkanku dengan wajah cemberut. Padahal kan masih ada warna hijau dan kuning, pikirku.
Aku pun dengan desas-desus kecilku berjalan ke dalam. Ya, tidak apalah. Warna merah muda tidak begitu buruk untuk laki-laki, memang. Hanya saja, aku belum pernah memakai warna itu dalam hidupku. Akupun mencari dengan sigap dimana kelompok merah muda itu. Ah, ternyata diujung ya, jauh sekali, gumamku dalam hati. Aku kembali menyisir ruangan besar itu dengan mataku, terus mencari dia. Tapi masih tidak menemukan batang hidungnya. Dia dapat warna apa, ya? Tanyaku dalam hati.
Tak mendapatkan hasil apapun, aku bergegas menuju team ku. Kulihat para senior itu sudah mulai memasuki aula, mengambil posisi. Aku memilih di barisan paling belakang. Sebenarnya, itu bukan pilihan. Tetapi para laki-laki berbaris di tempat ini. Seorang senior laki-laki yang cukup keren mengambil alih kami. Dengan sebuah speaker di tangan ia memerintah kami untuk merapihkan barisan.
Cita-citaku sejak dulu, ingin sekali menjadi bagian dari anggota organisasi sekolah. Menurutku itu bukan tentang memamerkan diri sendiri. Tapi tentang bagaimana diri kita bisa menunjukkan hal yang baik dengan melakukan sebuah kontribusi. Senior itu memperkenalkan dirinya. Ternyata namanya Joshua, dan sepertinya dia paling vokal diantara yang lain. Apa itu ketua organisasi? Jika benar, itu keren sekali.
Kemudian dia kembali berbicara. Bertanya apakah adakah pertanyaan yang ingin ditanyakan. Aku memperhatian dengan hikmat. Hingga kemudian, aku dibuat terkejut karena dia menyebutkan suatu nama. Mataku membulat dengan lebar. Apa? Aku jelas tidak salah mendengar nama itu. Raina Abigail.
Seketika duniaku seperti berhenti berputar. Apa aku tidak salah mendengar? Nama itu, ada di team ini? Benarkah itu, dia? Aku langsung meninggikan posisi dudukku. Berusaha mencari perempuan itu. Ternyata, orang-orang disini pun sama dengaku. Ingin mengetahui siapa Rai yang dimaksud.
Aku mendengar pujian-pujian itu. Wajah yang cantik, tubuh yang mungil, juga disebut malaikat? Ah itu pasti benar dia. Tapi aku tidak yakin akan hal itu. Aku ingin melihat wajahnya. Tapi bagaimana caranya? Pikirku. Aku berpikir keras, terus dan terus.
Akhirnya aku mencoba sesuatu untuk menarik perhatiannya. Jika nama itu membuat semua orang tertuju padanya, apa suaraku dapat membuat dia tertuju padaku?
Akupun berteriak. Huh, apa semua orang mendengar? Apa dia mendengar? Jantungku kemudian berdebar kencang. Tidak berselang lama, akupun kembali berteriak dengan kedua tangan dimulutku. Aku meminta senior itu untuk melanjutkan saja, memang sedikit tidak sopan. Tapi, dengan cara inilah aku bisa membuatnya menoleh padaku. Sampai setelah aku berteriak itu, aku berpikir. Ah, mungkin terlalu keras untuk yang kedua.
Dugaanku benar, semua mata tertuju padaku. Tapi bukan itu yang aku inginkan. Aku menunggu mata itu. Mata yang pernah menjadi sedingin salju diatas bola apiku sepuluh lima tahun lalu. Aku mohon, menolehlah kepadaku.
Saat itu aku, dewi fortuna seperti sedang berpihak kepadaku. Benar saja, seorang perempuan menoleh dengan perlahan. Terlihat sangat hati-hati, dia menoleh kepadaku dari sela-sela pundak itu. Hingga akhirnya, mataku dan matanya bertemu. Seperti mengulang waktu itu. Tapi kali ini tatapannya tidak sendu. Itu dia, benar sekali. Dia tidak berubah sedikitpun.
Tidak, maksudku dia berubah. Berubah menjadi lebih cantik, berubah menjadi lebih dewasa, dan berubah menjadi lebih baik. Tidak kusangka hari ini tiba, hari yang selalu ku tunggu. Bertemu dengannya merupakan suatu keajaiban. Dan ini adalah keajaiban yang kedua. Aku mengalihkan pandanganku. Pipiku memanas, dan rasa bahagiaku seperti meledak keluar dari kepalaku. Kulihat dari sudut mataku, ia juga menoleh dariku. Apa dia mengingatku? Yang jelas, aku mengingatnya. Mengingat semua tentang dia. Perkataannya, perbuatannya, dan genggaman tangan itu. Aku menunduk, berpura-pura mengikat tali sepatuku, padahal aku sedang menyembunyikan senangku. Mungkin wajahku tak bisa menutupi itu.
* POV END
Barisan siswa itu kini berubah menjadi saling berhadapan dengan jarak satu sama lain. Ditengah-tengah mereka telah berdiri Joshua, mencoba memberi intruksi. Joshua mulai menjelaskan secara rinci.
“Baik adik-adik, seperti yang saya bilang bahwa akan ada games untuk kita mainkan hari ini. Team yang menang, akan diberikan hadiah untuk mengelilingi sekolah tanpa pendamping. Jadi bermainlah dengan sportif, dan juga dengan sungguh-sungguh."
“Kenapa? Karena ketika kalian mendapat keuntungan untuk mengelilingi sekolah tanpa pendamping, itu tandanya kalian bisa explore kebagian manapun di sekolah ini. Sedangkan untuk kalian yang mengelilingi sekolah dengan pendamping, kalian hanya bisa meng-explore beberapa bagian sekolah sesuai pendamping kalian." Joshua kemudian menjelaskan maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut.
“Dengan mengelilingi sekolah, kalian bisa mengetahui fasilitas apa saja yang akan kalian dapatkan disini. Mulai dari bagaimana bentuk kelas, lapangan sekolah indoor ataupun outdoor. Bagaimana suasana perpustakaan, laboratorium, bahkan kalian bisa meliat bagaimana sekolah ini memanjakan mata kalian dengan taman." Siswa dan siswi mendengarkan dengan seksama. Termasuk Rai dan Hans.
“Selain itu kalian juga dapat membangun pertemanan dengan teman baru kalian. Bertukar pendapat tentang sekolah ini. Dan banyak hal lain." Joshua terus menjelaskan. Kemudian dia menjelaskan tentang permainan pertama yang akan dimainkan oleh para siswa dan siswi.
“Oke, permainan ini dinamakan ‘Siapa Dia?’, permainan ini dimulai dari orang pertama, menyebutkan nama, asalnya, dan hobi. Kemudian dilanjutkan oleh orang kedua, mengulangi apa yang diberitahu oleh orang pertama dan menjawab dirinya."
Semua siswa dan siswi masih tidak mengerti yang dimaksud oleh Joshua. Akhirnya Joshua mencontohkannya. “Jadi kurang lebih seperti ini. Ibaratnya saya orang pertama bernama Agus. ‘Nama saya Agus, saya asal Bandung, dan hobi saya menulis’. Kemudian, dilanjut dengan orang kedua. ‘Teman saya bernama Agus, asal dari Bandung, dan hobinya menulis. Nama saya Joshua, asal saya dari Jakarta, hobi saya main basket’. Begitu cara mainnya adik-adik, mengerti ya?”
Siswa dan siswi yang mengerti menganggukkan kepalanya. Menurut mereka itu begitu mudah untuk sebuah permainan. Namun itu hanya permainan awal, bukan permainan penentu pemenang. Permainan dimulai dari siswa barisan paling pertama. Kemudian dilanjutkan ke orang kedua, dan seterusnya. Mereka menyebutkan nama mereka, asal, dan hobi yang terkadang membuat beberapa orang tertawa.
Giliran itu kemudian sampai pada Hans, ia pun mengucapkannya dengan lantang. “….teman saya bernama Rahmat, asal dari Jogjakarta, dan hobinya…” Hans berhenti sejenak, tidak kuat menahan untuk tertawa. Kemudian ia melanjutkan, “hobinya memakai celana boxer. Nama saya Hans, ehm maksudnya Hansol. Asal saya dari Jakarta, hobi saya melakukan kegiatan olahraga”.
Hans melirik Rai sekilas, dalam pikirannya mengapa Rai seperti tidak mengenalnya. Hans berpikir itu hanya keraguannya saja. Buktinya Rai sempat menanyakan namanya seperti meyakinkan. Kini giliran Rai untuk memperkenalkan diri. Terlihat Rai sangat ragu untuk memulai. Ia terus menunduk beberapa saat. Kemudian Rai mengambil nafas dalam, dan mengangkat kepalanya. Kini semuanya siswa dapat melihat Rai dengan jelas, mereka terpesona kembali.
“Teman saya bernama Hansol, ia berasal dari Jakarta, hobinya melalukan kegiatan olahraga." Rai akhirnya memulai.
“Nama saya Raina, asal dari Jakarta, hobi saya mendengarkan musik." Kemudian Rai melanjutkan.
Tentu musik merupakan suatu hal yang paling disukai Rai. Karena baginya, musik adalah tempat berlindungnya. Pada musik dia dapat seperti meringkuk did alam ruang kesendirianya. Buktinya, musik selalu menemaninya, saat tidak ada teman untuk berbagi.
Hans menatap Rai, lagi-lagi jantungnya berdebat. Suara Rai masih sama seperti saat mereka pertama bertemu. Jika ia bisa meminta permintaan. Ia ingin Rai berbicara tanpa henti. Bahkan Hans menerima walaupun itu sebuan makian yang keluar dari mulutnya. Seperti cinta buta, bagi Hans perempuan itu sangat luar biasa.
Permainan pertama pun selesai. Para siswa kini telah mengenal nama mereka satu sama lain. Mereka mulai menikmati kegiatan tersebut. Joshua mengatakan bahwa selanjutnya adalah games penentuan pemenang. Bertepatan dengan itu, bel tanda istirahat sekolah berbunyi. Joshua mengizinkan para siswa baru untuk merehatkan diri sejenak, dan melaksanakan makan siang.
Saat hendak pergi ke depan aula, Hans menghampiri Rai. Kemudian bertanya apakah ia ingin bergabung untuk makan siang. “Hei, kamu mau ikut makan siang sama kami?"
Hans kemudian menunjukkan lima orang yang sudah berdiri menunggunya. Terdapat tiga laki-laki—empat dengan Hans, dan dua orang perempuan. Mereka tersenyum kepada Rai seperti menerima Rai untuk bergabung.
“Tidak, temanku sudah menunggu”. Begitulah jawaban Rai, tanpa tersenyum ia kemudian meninggalkan Hans. Hans dia terpaku, perkataannya tentang Rai telah berubah itu benar. Rai tidak seperti saat hans bertemu dengannnya. Kemudian Hans berkata setengah teriak pada Rai.
“Apa kamu gak ingat aku?” Hans masih berdiri di tempat yang sama.
Rai menghentikan langkahnya, kemudian menoleh. Rai menaikkan satu alisnya, tampak kebingungan. Rai yang tidak mengerti apa yang dimaksud Hans, langsung meninggalkannya. Tanpa menjawab pertanyaan Hans. Hans terus memandangi Rai yang perlahan meninggalkannya. Kemudian ia bergabung dengan kelima temannya itu, dan bergegas untuk makan siang.
· RAI’S POV •
Kini para siswa sudah berhadapan satu sama lain. Dan aku berhadapan dengan dia, Hansol yang tadi menolongku. Jika saja saat itu Has tidak meneriaki Joshua, mungkin aku harus berbicara padanya. Aku sedikit lega. Entah kenapa saat aku tau bahwa aku bahwa aku satu team dengannya, aku merasa dia akan membantuku lagi dan lagi.
Aku dan yang lain mendengarkan intruksi dari Joshua. Ternyata permainan itu cukup mudah. Aku berharap Hans dapat membantuku memenangkan permainan ini. Agar aku bisa melepaskan diri dari kerumunan, dan memilih di dalam kelas. Ku lihat Hans di sebrang sana, memandangi Joshua dengan sangat serius. Seperti orang yang kagum akan sesuatu, matanya tidak berkedip.
Apa yang dia lihat dari sosok Joshua? Kupikir dia seperti itu, karena Joshua terus menjelaskan permainan itu tanpa henti. Aku dan para siswa-siswi mengerti tentang permainan itu. Dan akhirnya permainan dimulai dari Joshua sebagai orang pertama. Dilanjutkan dengan yang lain
Aku mulai kehilangan semangatku. Sebenarnya bukan kehilangan, tapi memang hari ini aku tidak memiliki semangat sama sekali. Bisakah kita skip saja kegiatan orientasi dan langsung belajar di kelas? Batinku. Aku mendengarkan mereka, menyebutkan nama, asa, dan hobi. Nama-nama yang unik, dan hobi yang unik, ku harap aku bisa mengingat nama itu dan wajah-wajah itu.
Seketika aku rindu dengan Lia. Sedang apa ya dia? Pikirku. Aku yakin saat jam istirahat nanti dia akan menceritakan banyak hal tanpa henti. Aku tidak sabar bertemu dengannya. Karena saat ini hanya dia yang mengerti aku kan.
Kini giliran Hans tiba, Hans sempat tertawa menyebutkan hobi dari salah satu teman bernama Agus. Kemudian ia memperkenal kan dirinya. Kusadari Hans melirikku sekilas dan memperhatikanku. Kupikr maksudnya adalah, memberitahu bahwa saat itu giliranku. Aku mulai menarik nafasku perlahan, dan menaikkan pandanganku. Lagi-lagi mataku dan matanya bertemu. Dengan cepat kualihkan mataku melihat kea rah lain. Aku memandang langit- langit aula dan mulai memperkenalkan diri.
Aku berkata soal Han dan kebiasaannya untuk memulai. Apakah suaraku terlalu pelan? Gumamku dalam hati. Tapi tidak ada yang menegurku, jadi sepertinya tidak ada masalah dengan itu. Aku melanjutkan perkataanku, memberitahu pada mereka semua nama, asal tinggalku dan kebiasaan yang kusukai. Hobi yang klasik. Kupikir itu yang ada dipikiran mereka saat tahu hobiku hanya sebatas mendengarkan musik. Tapi hey, bukankah hobi itu yang mendamaikan hatimu? Karena musik mendamaikan jiwaku.
Lagi-lagi aku melihat Hans menatapku. Tatapan itu begitu teduh. Ia melakukan itu sama seperti Joshua. Tapi tatapan itu berbeda, aku tidak menyukai cara Joshua menatapku. Beda dengan Hans, tatapan itu mempunyai arti lain bagiku. Permainan itu terus berlanjut hingga orang terakhir. Kami telah mengenal satu sama lain.
Sesaat setelah permainan itu selesai, bel istirahat pun berbunyi. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Joshua mengizinkan kami untuk melaksanakan makan siang. Para siswa dan siswi pun bergegas untuk pergi ke kanti.
Begitu pula denganku. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju pintu aula. Tentu saja untuk menemui Lia disana. Aku dan Lia sudah berjanji untuk saling bertemu saat waktu istirahat tiba. Huh, lelahnya. Batinku. Tak lama dari itu, Hans tiba-tiba memanggilku dan mengajakku untuk bergabung.
Suara itu terdengar setengah berteriak. Karena jarak Hans yang agak jauh dariku. Bersama kami? Lalu ku lihat di belakang Hans telah berdiri teman-temannya yang dimaksud itu. Aku yang sudah berjanji dengan Lia, lebih tepatnya tidak suka berkerumun memilih untuk tidak ikut bersama mereka.
Aku menggeleng dan menolak, juga memberikan jawaban singkat. Tanpa menunggunya membalas perkataanku, aku meninggalkannya. Berjalan perlahan kembali ke arah pintu Aula. Akupun dibuat terkejut oleh Hans, dia menanyakan sesuatu yang membuatku menyeritnya dahiku.
Katanya mungkin aku mengingatnya, setengah berteriak. Ku lihat dia masih berdiri disana saat aku menoleh padanya. Dengan memasang wajah sinis tak mengerti, aku menatapnya sebentar. Apa yang ia maksud? Sudah jelas kami baru saja bertemu sekitar satu atau dua jam yang lalu. Aku mengenalnya. Sebagai Hans yang baru aku temui hari ini. Tidak lebih dari itu.
Tanpa menjawabnya akupun meninggalkannya. Meninggalkan Hans yang sepertinya masih berdiri melihatku perlahan pergi. Entah apa maksud yang ia ucapkan, aku tidak mengerti. Aku sempat memikirkan hal itu beberapa saat. Apa aku dan dia pernah bertemu? Apa kami pernah berteman? Tanya ku pada otakku. Tapi aku tidak menemukan jawaban apapun. Akupun tiba di depan pintu aula. Ku lihat Lia sedang mecari-cari aku. Saat mata kami bertemu, ia melambaikan tangannya padaku.
· POV END •