Sudah sekitar sepuluh menit Lia menunggu Rai di depan pintu aula. Sesekali matanya mencari sosok Rai yang mudah dikenali. Bagaimana tidak, Rai memiliki paras yang paling mencolok diantara yang lain. Seolah-olah dia memiliki cahaya yang paling bersinar. Sudah berapa kali matanya berputar tapi tidak ia temui Rai. Bahkan batang hidungnya saja tidak dapat ia temukan.
Lia kemudian berpikir, apa ia harus kembali ke dalam dan menyusul Rai di tempat kelompoknya? Tapi bagaimana jika saat dia kesana, Rai tiba disini? Lia berdecak seolah bingung dan tidak perduli apa yang ia katakan. Akhirnya ia memilih menunggu Rai lebih lama lagi.
Lia kembali memainkan matanya. Mencari-cari Rai yang tak kunjung datang. Lia mendengus lelas, dimana Rai? Kenapa lama sekali? Pikirnya. Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Perempuan yang ia tunggu-tunggu menampakkan dirinya. Tapi ada yang berbeda dari raut wajah Rai. Rai terlihat seperti oang yang kesal namun kebingungan. Membuat Lia bertanya kenapa. Lia melambaikan tangannya. Rai tersenyum pelan.
“Kenapa wajahmu kayak gitu, Rai? Ada yang bikin kesel kamu?” Tanya Lia penasaran.
Rai kemudian mengubah ekspresinya. Ia hanya menggelengkan kepalanya, lalu berkata "Gapapa kok, capek aja."
Rai tidak ingin cerita dengan Lia. Mungkin belum saatnya? Menurut Rai, ia baru mengetahui sifat asli Lia saat mereka bertemu tiga puluh hari lagi.
“Ah seperti itu, aku kira kamu kesal karena ada yang mengganggu kamu. Bilang padaku ya, aku biar begini jago bela diri. Biar ku hantam mereka." Lia tertawa, begitu pula dengan Rai yang ikut tertawa karena menurutnya Lia itu sangat lucu.
Tanpa sadar perut Lia berbunyi, pipinya memerah malu karena ia lapar sekali. Rai tertawa, sangat lepas. Itu pertama kalinya Lia melihat Rai tertawa. Cantik sekali, baginya.
“Hehe, ayo makan. Aku sudah nungguin kamu selama setengah jam, kau tahu?” Katanya merocos.
“Harusnya kamu traktir aku, karena aku nungguin kamu”. Lia meledek, dibalas lah ledekan itu oleh Rai.
“Kan aku gaminta ditungguin sama kamu. Kamu yang bilang mau ketemu disini”. Begitulah Rai, pintar sekali menjawab. Lia hanya cemberut, kemudian tersenyum. Merekapun berjalan menuju kantin untuk makan siang.
Sepanjang perjalanan Lia tidak berhenti cerita tentang yang ia lakukan tadi. Mulai dari permainan yang ia mainkan, hingga ia berkata bahwa ada lelaki tampan yang ia temukan. Ia menceritakan bagaimana rupanya tanpa henti. Bahkan saat sedang mengantri, ia tetap berbicara sambil menbunuh waktu. Rai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Enaknya jadi Lia, pikirnya. Ia dapat mengingat siapapun dengan jelas. Bagaimana bentuk matanya, bentuk hidungnya, bibirnya, bahkan telinganya. Itu gila sekali. Apa Lia mengingat Rai seperti itu juga? Pikir Rai.
“Kamu pasti gak percaya, Rai. Dia nanya sama aku nama aku. Terus dia senyum terus sama aku, Rai. Kayaknya dia suka deh." Perempuan yang sungguh percaya diri, pikir Rai. Mereka pun sampai pada giliran untuk mengambil makanan. Lia mengambil porsi nasi yang lumayan banyak, mengambil ayam, sayur, dan tidak lupa dengan buah-buahan, agar makanan yang ia konsumsi saat itu mendapat empat sehat lima sempurna.
Mata Rai melebar, selain anak yang percaya diri, ternyata Lia juga jago makan. “Kamu tau gak? Makanan kesukaanku itu ayam. Aku bisa ngabisin satu ekor ayam, Rai. Nikmat sekali."
Lia juga membeli s*usu stoberi. Minuman satu itu tidak boleh terlewatkan, karena bergizi baginya. Berbeda dengan Lia, Rai hanya mengambil nasi dengan porsi sedikit, lauk sayur, dan sedikit buah.
“Ambil saja ayam punyaku, Lia." Mendengar perkataan itu, Lia tersenyum lebar senang sekali bagai kuda poni.
Lia mengambil ayam itu, dan mengambil sekotak s**u yang sama dengannya.
“Ah, aku lebih suka coklat. Aku alergi stroberi." Lia mengangguk, dan mengingat ucapan temannya itu. Lalu ia mengambil sekotak s**u coklat dengan merk yang sama dengan miliknya. Mereka membayar tagihan sesuai porsi makan mereka. Kemudian mencari kursi kosong untuk diduduki. Rai pun menemukan terdapat kursi kosong disalah satu pojok kantin, dekat dengan jendela. Lalu memberitahu Lia, dan ia menyetujui itu.
“Wah, aku jadi malu makan disamping kamu, Rai." Lia membandingkan porsi makan siang yang ia makan, dengan porsi yang Rai makan.
“Kamu diet ya, Rai? Badan kamu kan sudah bagus, Rai." Tanya Lia penasaran.
“Tapi badan kamu juga gak gendut, Lia”. Lia tertawa.
“Yaiyalah, aku rajin olahraga, Rai. Mangkanya badanku stabil. Kalau gak mungkin aku udah penyakitan”. Lia tertawa, tapi tidak dengan Rai.
Rai terdiam saat Ia mendengar kata-kata yang Lia ucapkan barusan. Rai bahkan menelan makanan yang ia kunyah dengan perlahan. Memangnya apa yang salah dengan penyakitan? Sebut perempuan cantik itu dalam hatinya. Tapi Lia tidak menyadari perubahan dari teman sebayanya itu. Lia terus mengoceh tentang dirinya sendiri.
Saat sedang berbagi cerita satu sama lain, Lia dan Rai dikejutkan dengan kebisingan yang datang tidak jauh dari mereka. Mereka pun dengan cepat menoleh dan melihat sekumpulan pria sedang bercanda dan bercengkrama.
“Wah, kalau anak cowok emang gampang banget ya, Rai, buat temenan. Gak kayak cewek." Begitulah ucap Lia pada Rai, sembari mengaduk makanannya dengan sendok. Perkataan itu juga membuat Rai menoleh pada mereka, dan mengangguk pelan.
“Kamu lihat laki-laki yang paling mencolok disana? Dia sangat populer di grupku, loh." Ucap Lia kembali, Rai memperhatikan dengan serius kerumunan itu, dan melihat sosok menyebalkan yang mengganggunha sekitar lima belas menit yang lalu.
“Kayaknya namanya, Hans. Ia tampan, banyak teman kelompokku menyukainya. Gak sedikit para siswi di sana berbisik tentang dia." Rai masih memperhatikan sosok laki-laki itu. Otaknya berpikir keras tentang siswa yang mengaku mengenalnya itu. Padahal dengan sangat jelas bagi Rai bahwa mereka baru saja bertemu.
Tanpa disadari, mata mereka bertemu. Hans kini membalas tatapan Rai. Ia tersenyum pada perempuan yang menatapinya, membuat Rai malu karna sudah tertangkap basah sedang memperhatikan laki-laki sedari tadi. Bahkan Rai merasa mungkin Hans melihat pipinya memerah kali ini.
“Rai? RAI!” Rai terkejut mendengar teman sebelahnya meneriakinya dengan sedikit keras. Teriakan itu membuat Rai berhenti menatap Hans di sebrang sana.
“Ah, maaf Li. Tadi kamu ngomong apa?” Rai menaruh sendoknya, dan mulai mendengarkan Lia dengan hikmat.
“Kamu liatin apa sih? Cowok itu ya? Itu teman kelompokmu kan?” Lia memutar badannya sampai bisa melihat Hans, dengan cepat Rai menghalangi perempuan itu dan mengajaknya pergi dari kantin.
“Ah engga kok, tadi aku ngelamun aja. Aku udah kelar makannya, nih. Yuk.” Dengan wajah malu, Rai dengan cepat membawa kotak tray dengan makanan yang sudah tidak bersisa. Berjalan cepat hampir meninggalkan Lia yang kebingungan. Lia yang tentu saja tidak mau tertinggal langsung menyusul Rai dan menyamai langkahnya.
*
“Kamu dari mana? Jalannya cepet banget, kayak ketinggalan bis aja. Aku nungguin kamu di sini. Ku kira kamu ninggalin aku.” Lia menggerutu, melihat Rai yang menghampirinya dengan santai setelah meninggalkannya begitu saja di kantin.
“Tadi aku kebelet pipis, jadi aku buru-buru. Maaf ya, Li.” Jelas Rai berusaha menenangkan Lia.
Lia hanya mendengus kecil, dan mengangguk dengan sedikit kecewa. Rai menyamai posisi Lia dan duduk di sampingnya. Lia mengeluarkan sebotol s**u dari kantungnya, membuat Rai sedikit tertawa padanya.
“Belum kenyang?” Tanya Rai dengan terkekeh. Pipi Lia pun memerah, namun perempuan itu tidak menghiraukan dan terus menyeruput s**u itu dengan sedotan yang ia miliki.
“Enak aja, minum s**u, Rai.” Dengan sekejap, minuman berasa dan sehat itu habis tak bersisa. Bahkan sesekali, Lia bersendawa karena begitu kenyang.
Mereka tertawa karena tingkah yang Lia lakukan, tiba-tiba seseorang menhampiri mereka berdua, dan mengajak mereka berbicara.
“Rai? Benar, Rai kan?” Suara berat itu mengalihkan suasana. Membuat gurauan mereka berhenti secara mendadak. Rai dan Lia tentu saja menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu Joshua, datang dengan setumpuk buku yang ia bawa dengan kedua tangan kekarnya.
“Ah maaf ya ganggu waktu kalian. Tapi, Rai kira kira kamu sibuk, ga? Mungkin bisa bantu saya bawa buku-buku ini. Lagian sebentar lagi, kan, jam masuk. Jadi mungkin sekalian saja. Boleh?” Dengan suara lembut, Joshua meminta tolong pada Rai.
Lia menoleh pada Rai yang hanya menunduk terdiam. Dengan sigap Lia menyiku Rai agar segera sadar dari lamunannya. “Rai, kamu denger, kan?”
Rai mengangguk, dengan cepat bangkit dari duduknya. “Aku duluan gapapa kan, Li?”
“Iya gapapa, Rai. Aku juga bentar lagi mau ke Aula, kok”. Lia tersenyum kepada Rai. Memandangi Rai yang sedang menyusun tumpukan buku yang akan ia bawa.
“Kalo terlalu berat, mungkin bisa aku bantu, kak?” Lia berusaha menawarkan diri pada Joshua. Tetapi laki-laki itu dengan senyum manis menolak.
“Gausah, dek. Ini juga berdua udah kebantu. Kamu bisa bantu kaka pembimbing kamu aja, karena emang kita mau bagi-bagi buku buat kalian ngerjain tugas dari kita. Jadi lebih baik, kamu bantu aja kaka pembimbing kamu nanti, terima kasih ya atas tawarannya”.
Dengan senyum cerah, Joshua dan Rai kemudian meninggalkan Lia yang sedang memandangi punggung mereka yang hampir hilang dari pandangan Lia. Namun, Lia menyadari sesuatu bahwa Rai seperti tidak nyaman saat berada di samping kaka kelas itu. Bahkan, raut wajah Rai berubah drastis saat Joshua datang memanggil namanya.
Lia berusaha tidak menghiraukan pikirannya. Tapi, hatinya semakin penasaran dengan Rai yang menurutnya sangat aneh. Rai sangat berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang ia temui hari ini. Menurut Lia, Rai seperti takut saat bertemu orang lain. Bahkan, Lia sering memergokj Rai sedang melamun bahkan memandangi sesatu dengan tatapan kosong.
Lia menggelengkan kepalanya pelan, berusaha membuang jauh-jauh pikirannya. Lia melihat jam yang terkait di tangannya. Menunjukkan sebentar lagi waktu masuk akan tiba. Merasa masih memiliki sepuluh menit tersisa, Lia memilih untuk pergi ke kamar kecil sejenak.
Baru saja memasuki kamar kecil, Lia mendengar suara-suara para siswi yang sedang bergosip ria di depan wastafel. Bahkan ia mendengar mereka sedang membicarakan temannya, Rai.
“Iya, yang namanya Raina itu cantik banget ya! Sampe heran aku ada orang secantik itu. Tapi sayang, diem banget orangnya”.
Lia yang mendengar itu hanya tersenyum dan tertawa bangga. Tentu benar perkataan mereka bahwa Rai sangat cantik, dan Lia akui Rai sangat pendiam. Mungkin, karena mereka belum begitu mengenal Rai. Jadi, pasti menganggap Rai sangat pendiam.Padahal, Rai agak sedikit banyak berbicara, hanya saja memang tidak sebanyak Lia.
“Terus juga, itu loh, ah siapa namanya? Kak Joshua ganteng banget, cool gitu gak, sih? Sama yang kelompok Rai juga, Hans. Ah mereka udah cocok banget, kalo pacaran pasti populer banget”.
“Hahaha, lucu kali ya, kalau mereka terjebak dalam cinta segitiga”.
Krak, suara pintu terbuka. Membuat para siswi itu terdiam secara cepat. Mereka pasti menjadi takut dan menganggap Lia mungkin bisa saja membocorkan pada seseorang bahwa mereka sedang membicarakan orang-orang.
Padahal, Lia hanya ingin mencuci tangannya. Namun, mereka yang merasa tertangkap basah, dengan cepat meninggalkan kamar kecil dan Lia sendirian yang sedang mencuci tangannya.
“Kok pergi, sih? Padahal kan aku pengen ngedenger gosip lagi." Lia hanya menggeleng dan tertawa melihat mereka yang kabur dengan wajah cemas dan canggung.
“Aku gak jelek-jelak amat kan, ya, temenan sama, Rai?” Lia menoleh ke kanan dan ke kiri di depan cermin. Memandangi wajahnya yang manis dan menggemaskan. Sesekali ia menunjukkan senyum manisnya di depan cermin.
“Hah, udah tiga menit lagi?! Ah keasikan dengerin gosip, nih!” Setelah melihat waktu yang berputar pada tangannya. Lia menyadari bahwa waktunya untuk masuk Aula tinggal sedikit lagi. Dengan cepat ia berjalan dan pergi meninggalkan toilet.
Baru saja melangkahkan kakinya keluar, tiba-tiba sesuatu menghantamnya dari berlakang. Yang ternyata ditemukan Lia menabrak sesorang dan terjatuh. Namun dapat ia dengar dengan jelas, suara bariton itu meminta maaf padanya. Dan laki-laki itu menjulurkan tangannya.