· RAI’S POV •
Aku berjalan memandangi sambil menundukkan pandanganku. Memandangi buku-buku bersampul merah yang ku susun di antara jemari-jemariku. Sesekali ku dengar Joshua mengajakku berbicara. Namun telingaku seperti tidak menerima suara itu. Pikiranku buyar, bahkan aku tidak tahu topik apa yang sedang ia bicarakan padaku.
Aku menggigit bibirku. Menghitung langkah demi langkah yang sudah ku tempuh untuk sampai ke Aula. Tunggu, sepertinya ada yang salah? Ya, langkah kaki Joshua lambat sekali. Otomatis membuatku harus menyamai langkahnya.
“Lo tinggal di mana, Rai?” Tanya Joshua padaku. Itu adalah kta pertama yang kudengar sedari tadi berjalan bersamanya. Aku masih terdiam, belum menjawab apapun.
“Emm, gajauh dari sini kok, kak." Ku lihat dari pelipis mataku, Joshua hanya terkekeh pelan. Mungkin aku salah bicara? Pikirku setelahnya, dan berkata dalam hati.
“Ya deket sini tuh nama daerahnya apa, Rai? Kan pasti ada namanya haha. Kalo yang deket banget tuh, ya warung bubur kacang ijo di depan. Itu rumahmu?” Joshua tertawa lagi, aku hanya tersenyum canggung.
“Santai aja, Rai. Kali aja kan searah, jadi bisa gue anter." Joshua dengan cepat menyambar, seperti tahu bahwa aku takut memberitahunya. Lagi pula, untuk apa juga aku memberi tahu rumahku pada orang yang baru saja aku kenal, kan?
“Aku dijemput kok, kak. Jadi gaperlu repot-repot. Terima kasih atas tawarannya." Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Dan berharap ia tidak bertanya apapun lagi.
Jujur saja, melihatnya saja dari kejauhan sana membuatku merasa tidak nyaman. Kini aku harus berjalan besama Joshua dan berbincang dengannya. Bagaimana tidak itu membuat suasana hatiku hancur berantakan.
“Oh, iya? Dijemput pacar, ya?” Laki-laki itu mencoba meledekku, dan mencairkan suasana yang canggung.
“Bukan, dijemput mama." Aku menjawab seadanya. Bola mataku langsung kuputar untuk melihat pukul berapa sekarang.
“Kak, sebentar lagi masuk. Ayo jalannya dipercepat." Aku menyadari bahwa mungkin aku sedikit arogan dan angkuh pada Joshua. Tapi aku tidak bisa menahannya. Lagi pula, sebentar lagi acara masa orientasi akan di mulai. Lalu untuk apa berlama-lama berjalan bersama laki-laki itu.
Aku mempercepat langkahku, meninggalkan Joshua yang masih melambatkan langkahnya. Aku mendengar suara sepatunya kini lebih dekat, ternyata laki-laki itu mempercepat langkahnya.
“Buru-buru banget sih, Rai. Kan gue mau kenalan." Laki-laki itu kembali berucap.
“Kan tadi udah kenalan, kak”. Aku tidak menoleh padanya, mataku fokus ke jalan yang ada di depanku
“Beda dong, Rai. Kenalan tuh yang baik secara langsung sama orangnya. Face to face”.
Aku memberhentikan langkahku. Di depanku telah berdiri banyak sekali senior dengan buku-buku bersampul yang berbeda di tangan mereka. Lalu aku dengan cepat memberikan buku itu kepada Joshua, dan dengan sopan meminta izin untuk masuk lebih dulu.
“Ini, Kak, bukunya. Kakak ngumpul di sini dulu, kan? Saya masuk duluan ya, kak. Pasti yan lain juga udah di dalem. Permisi, Kak." Tanpa basa-basi lagi, kakiku langsung ku bawa menjauh dari kerumunan itu.
Tentu aku tidak salah. Telingaku mendengar mereka membicarakanku saat datang bersama Joshua tadi. Sayup-sayup kudengar Joshua juga meneriaki kalimat terima kasih dari jauh sana. Lagi-lagi aku tidak menghiraukannya. Tubuhku bahkan tidak menoleh sedikitpun ke belakang.
Aku duduk sendiri di tempat di mana kelompokku berkumpul. Ku lihat beberapa perempuan di sana langsung mengakrabkan diri satu sama lain. Bahkan, mereka langsung bertukar warna pelembab bibir yang mereka pakai untuk menutupi kekurangan mereka.
Sedangkan aku? Caraku menutupi kekuranganku adalah dengan menyendiri dan tidak bergabung dengan siapapun. Ah aku lupa, aku hanya bergabung dengan Lia. Kira-kira, temanku itu sedang apa ya?
“Hei, kamu mau gabung bareng kita? Kamu dari tadi sendirian terus”. Seorang siswi melontarkan kalimat itu dari jauh, diikuti dengan tatapan teman sekumpulannya. Kalaupun aku menolak, harus dilakukan dengan baik, bukan?
“Gak apa-apa, kok. Aku cuma pengen duduk di sini aja. Makasih ya tawarannya." Aku tersenyum pada mereka, begitu pula mereka yang mengangguk dan tersenyum padaku.
Sejujurnya aku merasa sangat tidak enak, mereka begitu baik padaku. Bahkan, mengajakku untuk bergabung di saat teman sekumpulannya sudah banyak itu hal yang aneh bagiku. Tapi, mereka melakukan itu, hanya saja aku yang salah pada mereka.
Tiba-tiba, mataku tertuju pada sosok sepasang perempuan dan laki-laki yang berjalan agak jauh dari tempatku duduk santai. Lia? Bagaimana Lia bisa mengenal laki-laki sok kenal itu? Siapa namanya? Hansol.
Mereka berjalan sambil tertawa, sesekali Lia menyikutnya dengan pelan. Mungkin, mereka teman satu sekolah dulu? Tapi, barusan Lia berkata tidak mengenalnya sama sekali. Apa mungkin mereka bertemu dan berkenalan begitu saja? Semua perkataan itu berputar di kepalaku. Aneh sekali.
Aku masih memandangi mereka, yang kini berpisah di barisan kelompok pertama milik Lia. Aku pun dengn cepat langsung mengalihkan pandanganku, hanya karena takut kepergok oleh laki-laki itu, kalau aku sedang memperhatikannya.
Aku memandangi sepatuku, sesekali mengetuknya dengan jari. Tiba-tiba sepasang kaki menghampiriku, dan menyamai posisinya denganku. Aku pun menoleh ke atas memandang pemilik sepatu itu. Lagi-lagi itu dia, laki-laki yang kepercayaan dirinya lebih tinggi dari ukuran tubuhnya.
“Ada salam dari temanmu." Dengan tanpa dosa, Hans duduk di sampingku. Padahal, aku belum berkata apapun, tentu saja aku tidak mengizinkan laki-laki itu duduk di sini.
“Temanku? Siapa?” Tanyaku dengan alis berkerut, maksud itu ditunjukkan bahwa aku sedikit jengkel padanya. Tentu saja aku tahu siapa yang ia maksud.
“Temanmu dari kelompok pertama. Lia, kan namanya?” Laki-laki itu bertanya padaku.
Aku tidak menggubris pertanyaannya. Mataku kucoba alihkan pada kerumuman di depanku. Tapi Hans tidak pernah menyerah, ia terus mencoba mengajakku berbicara jika ia punya kesempatan.
“Bener kan namanya Lia?” Tanya Hans sekali lagi.
“Em”. Aku mengangguk dan menjawabnya singkat.
“Tadi aku nabrak dia di depan toilet." Mendengar perkataan Hans, mataku seperti ingin keluar dari tempatnya. Aku langsung menolehkan wajahku menatap wajahnya, yang dengan jelas bertanya seperti apa yang sudah kau lakukan?
“Tenang-tenang, Rai, dia baik-baik aja, kok." Hans yang mengerti berusaha menjelaskan dengan sigap.
“Lagian tadi nabraknya juga gak begitu kenceng. Itu juga karena tali sepatu Lia copot, gasengaja keinjek." Lanjutnya
“Terus, kalian kenalan?” Entah kenapa, mulutku tiba-tiba bertanya pada Hans. Karena selanjutnya aku ingin mendengar kawaban itu, diriku merasa sangat penasaran.
“Iya, kami kenalan”. Mendengar itu, entah kenapa aku merasa seperti aku tidak bersemangat, entah aku cemburu karena Lia kenal dengan Hans, atau Hans kenal dengan Lia. Entah, mereka sangat cocok karena sama-sama orang yang ramah pada siapapun. Walaupun, cara Hans lebih menjengkelkan dari Lia.
“Hans!” Aku dan Hans sama sama menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu datang dari teman sepermainan Hans. Dengan sigap Hans bangkit dari duduknya, dan langsung menghampiri temannya setelah berkata padaku.
“Lia anaknya asik ya. Seru juga. Pasti kamu seneng temenan sama dia." Hans hanya berkata seperti itu, lalu pergi meninggalkan aku yang terpaku memandanginya.
Sebenarnya aku masih tidak mengerti, siapa Hans sebenarnya? Mengapa walau ia menjengkelkan, tapi aku tidak merasa kesal di sampingnya. Mengapa Hans terus berkata ia mengenalku. Dan, mengapa aku sedih saat Hans berkenalan dengan Lia. Mengapa hatiku seperti hanya ingin, Hans mengenalku saja?
· POV END •
BRAK….
“Aduh, hati-hati, dong! Bisa jalan dengan benar gak, sih?!” Lia tersungkur di lantai, dapat ia rasakan lututnya sedikit menghamtam lantai itu. Walaupun tidak luka, tadi rasa sakit dan malunya dapat Lia rasakan.
“Eh sorry-sorry gue gak sengaja beneran." Laki-laki itu menjulurkan tangannya. Tidak lain tidak bukan, ia adalah Hans.
“Gak sengaja gimana, jelas-jelas gue udah jalan pelan-pelan. Masih aja lo tabrak." Lia berusaha bangkit dari jatuhnya. Sesekali menepis debu yang menempel di bajunya karena bertemu dengan lantai tadi.
“Mba, sebelum marah-marah liat dulu, tali sepatu lo diiket dengan benar apa engga." Hans yang sabar berusaha menjelaskan pada Lia. Lia pun menyadari itu dan langsung merasakan pipinya merah begitu saja.
“Tapi, lo gapapa, kan?” Laki-laki itu bertanya. Lia mengangguk dengan malu.
“Lagian, tadi lo juga buru-buru, kok. Kayaknya lo anak baru ya? Buru-buru banget mau ke Aula?” Hans bertanya sekali lagi pada Lia.
“Iyalah! Lo galiat nih udah jam berapa? Nanti gue telat lagi." Lia menggerutu kesal, lalu membenarkan tali sepatunya yang lepas.
“Yaudah bareng aja. Kalo telat kan, gue ada temennya kalo dihukum”. Hans tertawa kecil, disambut dengan wajah Lia yang mengerut.
“Telat ya telat aja sendiri, enak aja ngajak orang!” Lia menggertak.
“Hahaha santai kali, gue cuma bercanda. Ayo ah jalan!” Ajak Hans pada Lia yang masih terdiam kesal. Mau tak mau perempuan itu mengikuti Hans dari belakang.
“Ngomong-ngomong, lo kelompok berapa?” Tanya Hans pada Lia yang hanya terdiam.
“Masih marah, nih? Kan gue udah minta maaf."
“Engga, gue cuma kepalang malu aja. Terus… sakit juga”. Rasa kesal Lia mulai mencair. Mereka pun berbincang satu sama lain.
“Ada yang luka? Diobatin aja kalau gitu." Hans menawarkan diri untuk menemani Lia ke klinik sekolah, namun perempuan itu menolak dengan cepat.
“Engga sakit banget, sih.” Lia menjawab pas setelah ia menggelengkan kepalanya.
“Gue Lia, dari kelompok awal.”
“Gue Hans, dari kelompok akhir.” Tentu saja Lia sudah mengetahui tentang Hans. Bagaimana tidak, hampir seluruh siswi di kelompoknya terkena panah pesona milik Hans.
“Temen gue juga di kelompok lo. Namanya Rai.” Lia menjelaskan pada Hans.
Seketika laki-laki berhenti sejenak, dan memandang Lia sambil bertanya, “Serius?”
“Iya, Raina. Yang cantik itu loh”. Lia menjelaskan pada Hans, “kenapa lo kaget banget?”
“Engga, cuma kaget aja. Gak pake banget”. Jelas Hans pada Lia.
“Kenapa? Gue gak cocok ya temenan sama Rai?” Tanya Lia dengan wajah sedikit memelas. Hans menggeleng dengan cepat dan berusaha menenangkan hati Lia.
“Emangnya temenan diukur dari wajah dan cocoknya? Engga lah! Temenan tuh gamandang apa-apa. Toh Rai juga seneng kan temenan sama lo?”
“Iyasih, tapi Rai itu unik. Pendiem, tapi kadang engga. Unik lah. Mau gue kenalin?” Kali ini Lia bersemangat. Begitu pula Hans yang seperti mendapat hadiah dari sesorang yang tidak dikenal.
“Boleh." Jawaban itu disusul dengan senyum yang merekah dari bibir Hans.
"Kalo emang temen lo itu gak keberatan kenal sama gue." Lanjutnya padaku.