Rai memandangi Hans yang sedang bercanda dengan temannya. Tanpa ia sadari, sepasang mata juga sedang memandanginya. Walaupun tangannya bekerja, tapi mata Joshua teralihkan oleh sosok Rai. Bahkan, sudah beberapa kali Joshua berbalik menumpuk buku yang sama saking tidak fokusnya.
“Woy, lo gimana, sih? Gakelar-kelar numpuk bukunya. Liatin apa, sih?” Sambar seorang senior teman Joshua, membuatnya berhenti memandangi Rai.
“Ooohhh, liat anak baru, ya. Pantesan daritadi itu-itu aja yang dikerjain." Laki-laki itu mencoba menyamai pandangan Joshua, dan menemukan bahwa Joshua sedang memandangi adik kelasnya itu.
“Ah, apa, sih. Engga, kok. Lagi nyusunin buku, kok." Dengan tersipu Joshua terkekeh pada temannya.
“Eh, tapi kayaknya dia lagi liatin anak cowok itu, deh.” Perkataan itu sontak membuat Joshua mengikuti arah mata Rai. Benar saja, tepat di depan pandangan Rai, berdirilah Hans yang sedang tertawa bersama temannya.
“Wah, saingan berat, nih. Semangat ya, bro.” Siswa itu menepuk bahu Joshua, lalu pergi meninggalkannya yang masih menatap Rai.
Joshua tertawa pelan, dan mendengus. Dalam hatinya berkata sesuatu. Baginya, yang jelas ia adalah orang yang hebat. Mendapatkan apapun sangat mudah baginya.
Setelah selesai menyusun semua buku, tangan besar Joshua mengambil pengeras suara yang ia simpan tidak jauh dari tumpukkan buku itu.
“Ayo teman-teman. Waktu istirahat sudah selesai, kita akan kembali melakukan kegiatan masa orientasi hari ini.” Jelas Joshua yang kemudian melalui pengeras suara.
Mendengar suara Joshua yang keras, para siswa dan siswi pun langsung menempati posisi mereka awal. Begitu pula Rai, ia dengan sengaja memilih posisi paling belakang. Karena, saat ini hanya Rai yang dapat merasakan betapa malasnya ia, karena jiwanya sudah melayang ke rumah.
“Aku duduk di sini, ya.” Tiba-tiba seorang laki-laki duduk kembali di sampingnya. Ia adalah siswa yang sepuluh menit lalu juga dulu di samping Rai.
Rai tidak menoleh, dan tidak juga menggubris perkataan Hans. Matanya tetap fokus ke depan, dan mendengarkan arahan yang Joshua katakan.
“Serius banget, sih. Padahal mukanya ngantuk.” Ledek Hans pada Rai yang sedang duduk tanpa berbicara dan terlalu fokus.
“Bisa diem gak, sih?” Akhirnya Rai berbicara, dan berdecak pelan.
“Gabisa, Rai. Aku gabakal diem sampe kamu inget aku. Aku tahu kamu pura-pura.” Kedua mata bulat Hans menatap Rai. Diikuti Rai yang menoleh padanya, akhirnya kedua mata mereka bertemu.
“Kamu udah denger kan dari awal, aku gakenal sama kamu. Kenapa sih ganggu terus?” Rai terus menatap lawan bicara mereka. Membuat mereka seperti sedang melakukan adu tatap.
“Bohong!” Hans bersikeras, ia tentu tidak percaya apapun kata Rai.
“Buat apa aku bohong?” Jelas Rai. Tidak lama, ia melanjutkan.
“Kalo emang kamu kekeh ngerasa aku kenal sama kamu. Buat aku yakin kalo emang itu kenyataannya”.
Rai memalingkan wajahnya dari Hans. Dan membuka telinganya lebar-lebar mendengarkan Joshua di depan sana.
“Oke deal. Tapi harus ada syaratnya.” Hans juga mengalihkan pandangannya.
“Apa?” Tanya Rai tanpa merubah posisinya.
“Kita harus jadi lebih dekat.” Ucap Hans pada Rai. Seketika wajah Rai memanas, dan ia merasa sesuatu terbang melalui perutnya. Tapi, Rai tetap berusaha tenang dan mengacuhkan perkataan Hans.
“Oke, selanjutnya. Saya akan bagikan buku-buku di depan saya. Ada yang tahu gak ini buat apa?” Suara Joshua kembali menggema.
“Tidak tahu, kak.” Begitulah sahut para murid menjawab perkataan Joshua.
“Jadi setelah ini, saya akan menugaskan kalian menjadi berpasang-pasangan. Bebas, kalian boleh milih mau cowo-cowo, cewe-cewe, atau campur.” Laki-laki itu kembali menjelaskan.
“Sekarang pilih dulu, habis itu saya kasih tau kita mau ngapain. Waktu memilih lima menit dari sekarang.”
Semua siswa dan siswi langsung berhamburan mencari pasangan mereka. Hanya Hans dan Rai yang terdiam di tempat duduknya masing-masing.
“Kok gak bangun? Gak nyari temen?” Tanya Hans pada Rai yang hanya terdiam.
“Duluan aja.” Rai menggigit bibirnya pelan.
“Em… kamu gak kenalan sama yang lain emangnya?” Tanya Hans lagi pada Rai. Rai hanya diam, kemudian menggeleng pelan.
Hans meregangkan badannya dan tersenyum lebar. Tentu saja ini merupakan kesempatan emas untuk bisa dekat dengan Rai.
“Aah. Kayaknya temenku juga udah pada dapet pasangan. Lagian kalau diliat, emang ada cowo sama cewe yang harus satu tim."
“Tapi aku gamau satu tim sama kamu." Kebahagian Hans runtuh seketika, kemudian Rai bangkit dari duduknya.
“Kamu ga liat kita ini orang buangan? Mereka udah dapat pasangannya masing-masing. Coba kamu perhatiin sekeliling kamu." Suara Hans meninggi, namun masih terdengar santai.
Rai berhenti sejenak, dan melihat sekitar. Ternyata benar apa kata Hans, semua siswa dan siswi disini sudah memiliki pasangannya masing-masing. Hanya dirinya dan Hans yang tersisa.
Rai kembali melihat sekelilingnya, terlihat Joshua sedang membagikan buku kepada teman-teman satu kelompoknya.
Rai menarik nafas panjang. Dan kembali menuju ke arah Hans yang masih duduk pada posisinya. Dengan perasaan malu dan tidak enak, Rai menghampiri laki-laki itu.
“Masih diterima?” Tanya Rai pada Hans, yang baru saja duduk di sampingnya.Hans awalnya tidak mengerti apa yang Rai katakan. Setelah beberapa detik, ia menyadarinya.
“Kalo gak diterima nanti aku gapunya pasangan team”. Dengan terkekeh ia tersenyum. Lagi-lagi menyentuh hati Rai. Rai merasa mungkin ia terlalu keras pada Hans yang berusaha baik padanya.
“Kalian satu team?” Suara itu mengalihkan suasana. Ternyata itu Joshua yang datang membagikan buku pada mereka.
“Iya, kita satu team, kak”. Tentu saja Hans yang menjawab pertanyaan itu, Rai hanya mengangguk pelan.
“Wah, pasangan terakhir ya”. Ledek Joshua sambil melirik sekitarnya.
“Ini buku kalian, ambil masing-masing satu ya”. Joshua memberikan buku tersebut pada Rai dan Hans. Kemudian ia kembali ke posisinya semula, dan tetap memandangi ke arah mereka berdua.
“Mau ngapain sih ini, kayaknya kita dikasih tugas, deh?” Hans membuka buku kosong itu, kebingungan.
“Mungkin”. Rai hanya menjawab singkat, berusaha menjadi lebih terbuka pada Hans.
“Kamu pinter kan, Rai?” Ledek Hans padanya. Diikuti Rai yang terkekeh pelan.
“Apa, nih? Ketawa kok pelan banget?” Hans menundukkan punggunga sedikit, wajahnya berusaha memandang Rai yang sedang tertawa kecil.
“Cantik. Gak berubah”. Hans berkata pelan, membuat Rai menoleh padanya.
“Apa? Ngomong kok kecil banget”. Kali ini Rai yang protes padanya.
“Enggak, gak apa-apa”. Jawab Hans singkat dan tersenyum pada Rai.
*
“Oke temen-temen, jadi sesuai yang saya janjikan di awal, akan ada pemenang dalam games yang akan kita mainkan kali ini. Kalian kan sudah memilih pasangan, ya? Nah pasangan kalian ini yang nanti akan menjadi partner kalian saat kalian menang nanti”. Para siswa dan siswi mendengarkan Joshua dengan hikmat.
“Partner apa? Kalian bisa mengelilingi sekolah tanpa pembimbing, dan ditugaskan untuk membuat essay mengenai sekolah ini”. Seketika suara kecewa datang dari para siswa dan siswi.
“Tenang-tenang. Essaynya hanya berisi tentang hal-hal baik yang kalian temukan di sekolah ini. Dan itu bisa dikerjakan secara team”. Lanjut Joshua kembali.
Joshua memandang para siswa dan siswi yang sibuk berdiskusi satu sama lain. Begitu pula ia melihat Hans dan Rai yang sedang berbicara dengan sangat dekat dari kejauhan.
“Ayo teman-teman boleh disimpan dulu bukunya. Setelah ini saya akan menjelaskan tentang games yang akan kita mainkan setelah ini”.
Hans menyimpan bukunya di dalam tasnya. Sedangkan Rai tidak menggubris perkataan Joshua dan tetap menulis sesuatu di halaman pertama buku itu.
“Nulis apa?” Tanya Hans penasaran. Melihat Rai begitu serius sampai coretan itu ia tutupi dan tidak boleh dilihat oleh orang lain.
“Nulis namaku. Biar bukunya gak ketuker”. Rai menyelesaikan tulisan itu dengan cepat, menutup dan kemudian menyimpannya dalam tas.
“Nulis nama sampe ditutupin gitu, Rai. Namanya rahasia ya?” Ledek Hans pada Rai.
“Suka-suka aku, dong!” Rai cemberut, merasa diganggu lagi dan lagi oleh Hans.
Hans hanya tertawa melihat wajah imut dan menggemaskan Rai. Matanya terus memandangi sudut wajah Rai dari samping. Dalam hatinya terus berpikir mengapa Rai bisa begitu berpura-pura tidak mengingatnya.
Bukannya Hans tidak ingin memberitahu Rai siapa dia sebenarnya. Hanya saja, hal pertama adalah Hans takut bahwa mungkin itu adalah Rai yang berbeda. Hal yang kedua, Hans hanya ingin Rai menepati janjinya untuk tidak pernah melupakannya.
*
Joshua membagi pasangan kelompok kedalam satu kelompok berisi lima pasangan. Semua dikumpulkan dan berbaris sesuai tempat masing-masing.
“Mau main apa, sih? Diputer-puter, deh. Tadi suruh bikin kelompok dua orang, sekarang jadi sepuluh orang”. Keluh seorang wanita dari depan kelompok Rai.
“Iya nih, ini MOS gak kelar-kelar deh kayaknya”. Sahut teman yang lain.
Perkataan itu tentu tidak terdengar oleh Joshua yang sedang sibuk mengatur barisan siswa dan siswi agar tertata dan terlihat rapih. Setelah selesai melakukannya, Joshua kembali ke posisinya semula dengan membawa pengeras suara di tangannya.
“Oke temen-temen, kali ini kita akan memainkan permainan bernama ‘Siapa Aku’. Ada yang tahu gak kira-kira permainannya seperti apa?” Tanya Joshua pada siswa dan siswi yang kini sedang berdiri berbaris.
Para siswa itu terdiam dan tidak ada yang menjawab. Bisa dikatakan alasannya mungkin mereka tidak tahu, atau tidak mengerti tentang apa permainan yang akan di mainkan oleh Joshua.
“Sebelum permainan ini dimulai, saya akan memberi nama grup sesuai alfabet, ya. Yang pertama A, B, C, dan D”.
“Nah permainannya itu mudah sekali temen-temen. Setiap anggota grup, akan dihadapkan berpasangan sesuai pasangan masing-masing. Setiap pasangan, harus menebak dengan benar satu kata yang diberikan ‘clue’ oleh temannya sendiri”. Joshua berusaha menjelaskan.
“Contohnya seperti ini, misalkan saya berpasangan dengan seseorang bernama Rara”. Joshua mulai memperagakan seperti sedang menunjuk seseorang, walaupun orang tersebut tidak ada.
“Kata yang harus saya tebak adalah, ‘kue’. Maka, Rara hanya boleh memberikan clue seperti ‘manis’, ‘acara’, ‘enak’, dan sebagainya. Paham gak kira-kira?” Para siswa mendengarkan dengan serius dan beberapa dari mereka menjawab Joshua dengan mengganggukkan kepala mereka masing-masing.
“Mantap. Kalau begitu kita mulai permainannya dari kelompok A dulu boleh maju ke depan”. Joshua meletakkan pengeras suara tersebut di meja. Diikuti dengan kelompok pertama yang akan mencoba keberuntungan dalam permainan.
Rai hanya mendengus dengan kuat, sejujurnya ia ingin menghilang saja saat ini juga. Perempuan itu sudah sangat malas sekali, dan berharap waktu berputar dengan sangat cepat.