Ruangan Aula terasa lebih sesak dari sebelumnya. Walaupun terdapat pendingin ruangan yang terpasang di langit-langit ruangan, tetapi udara tersebut terkalahkan dengan banyaknya kerumunan orang yang hadir di tempat ini.
Sudah dua kelompok yang bergantian mencoba peruntungannya untuk memainkan permainan milik Joshua. Dan belum dari mereka yang berhasil menebak dengan benar semuanya.
Rai kali ini menulis lagi sesuatu di bukunya. Berbeda jauh dengan Hans yang sedang mencari cara untuk membunuh waktu dengan meniup berkali-kali rambutnya.
Sesekali ia menatap Rai yang asik dan sibuk sendirian. Bahkan mata nakalnya berusaha mengintip apa yang sedari tadi Rai tulis sampai begitu fokusnya.
“Duh lama banget, ya”. Hans meregangkan tubuhnya yang mulai kaku. Melihat kelompok ketiga yang sedang beradu.
“Iya. Bosen”. Rai menjawab perkataan Hans. Namun tatapannya masih menempel pada buku tersebut.
“Hans”. Suara lembut itu seketika membuat Hans sedikit terkejut.
“Iya? Tumben manggil”. Hans menoleh pada Rai. Begitu pula Rai yang mengangkat wajahnya memandang Hans.
“Gak, gak jadi”. Rai tersenyum. Dan senyuman itu langsung melekat pada Hans. Senyuman yang mirip sekali dengan senyum gadis kecil yang ia temui beberapa tahun lalu.
Di dalam otaknya berputar sebuah kejadian masa lalu. Kata-kata yang selalu ia ingat. Akhirnya ia benar-benar bertemu sosok Rai yang selalu ia cari. Ia sudah seratus persen yakin. Tapi bagaimana dengan, Rai?
Wajahnya bahkan tidak menunjukkan ekspresi senang saat bertemu dengan Hans. Bahkan, Hans merasa Rai benar-benar sedang bercanda padanya.
“Loh, kenapa? Karena aku bilang tumben?” Tanya laki-laki itu penasaran. Tiba-tiba suara aneh terdengar dari perut Rai.
Rai menatap Hans dengan malu, disambut dengan tertawa Hans yang terdengar pelan namun menjengkelkan.
“Punya cemilan?” Tanya perempuan itu dengan senyum memerah.
Hans hanya menganggukkan kepala. Tangannya dengan cepat mengambil sekotak s**u yang ia beli tadi, dan ia simpan dalam tasnya.
“Nih, minum aja. Lumayan bisa ganjel laper”. Hans menyodorkan kotak kecil itu.
“Buat kamu mana? Ini gak apa-apa?” Tanya Rai merasa tidak enak pada Hans.
“Gak, aku udah kenyang, Rai. Minum aja”. Dengan cekatan Hans bahkan membuka plastik yang membungkus sedotan s**u itu. Dan menusukannya ke tempat sedotan itu.
“Makasih”. Rai dengan cepat meminum s**u itu sampai habis. Bahkan, tidak membutuhkan waktu sepuluh menit.
“Laper banget, ya?” Hans terkekeh melihat tingkah Rai. Rai hanya tersenyum dengan sedotan yang masih ia gigit dengan kedua giginya.
*
Dari kejauhan, kelompok tiga datang dengan wajah kecewa. Karena dari lima pertanyaan, mereka hanya dapat menjawab tiga. Hal ini membuat kelompok dua jauh lebih unggul dibanding yang lain karena bisa menjawab empat teka-teki.
“Oke selanjutnya kelompok empat. Silahkan kelompok terakhir berdiri”. Teriak Joshua dengan lantang.
Merasa sudah dipanggil, Hans dan Rai serta kelompoknya pun bergegas menghampiri Joshua yang sudah menunggunya di depan.
“Ayo teman-teman, kita pasti bisa. Ayo berusaha!” Sorak seorang laki-laki berbadan besar yang tadi Rai temui di kantin. Jelas ia adalah teman Hans. Dan teman Rai juga.
Mereka berbaris menghadap ke depan. Berkumpul menjadi satu dan dipimpin oleh Joshua yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya.
“Ini adalah kelompok terakhir, ya. Skor tertinggi diraih kelompok dua yaitu empat poin. Itu hampir mendekati sempurna. Kalau kalian bisa menjawab pertanyaan dengan benar lima poin, maka kalian pemenangnya”. Jelas Joshua pada kelompok terakhir.
“Terus, kalo kita bisa jawab empat poin juga gimana kak?” Tanya seorang perempuan dari kelompok tersebut.
“Kalian akan diadu kembali. Dengan permainan baru tentunya”. Begitulah jawaban Joshua pada pertanyaan yang dilontarkan.
Mereka pun dengan menyemangati satu sama lain. Karena sejujurnya dalam diri mereka, mereka sudah ingin menyelesaikan masa orientasi ini.
“Oke silahkan berbaris berhadap dengan pasangan kalian. Pemberi clue berada di sebelah kiri saya”. Joshua menunjuk bagian kirinya, dan mempersilahkan siswa-siswi tersebut.
“Lebih baik kamu saja yang jadi pemberi clue. Aku suka telat mikir, Rai”. Hans menggaruk pundaknya.
“Bukannya kalo gitu, nanti kamu gabisa jawab?” Rai mengerutkan dahinya, dan terkekeh.
“Iya, sih. Tapi nanti kalo aku pemberi clue malah bingung mikirnya”.
“Ayo jangan terlalu lama, waktu kita tidak banyak”. Sambar Joshua mengalihkan pembicaraan Hans dan Rai.
Dengan sigap Rai meninggalkan Hans dan berjalan ke samping kiri Joshua. Karena terlalu lama berdiskusi, akhirnya Rai menjadi orang terakhir.
“Baiklah, kita mulai dari sekarang!” Joshua mengambil sebuah kertas yang ia himpit diantara ketiaknya. Laki-laki itu dengan cepat menunjukkan sebuah kata yang harus dihapal dalam lima detik. Kemudian si pemberi clue pertama langsung memikirkan caranya.
“Jajanan”. Itu adalah kode pertama dari orang pertama. Terlihat lawan mainnya kebingungan untuk beberapa saat.
“Snack?” Tanya lawan mainnya. Si pemberi kode pun menggelengkan kepalanya.
“Bukan. Pasar”. Ia berusaha memberi kata selanjutnya. Yang berarti jajanan pasar.
“Risol?” Tanya si lawan main. Jawaban itu membuat si pemberi kode pertama kegirangan, karena ia berhasil menjawab.
Beralihlah ke pemberi kode kedua. Dia adalah perempuan cantik bernama Azka. Terlihat pakaiannya yang begitu stylist juga sangat berani. Rambut pendek dan berantakan juga membuat kesan tegas menonjol pada dirinya.
Azka menganggukkan kepala, sesaat setelah Joshua memberi kata yang harus ditebak lawan mainnya.
“Kunci”. Bagi Azka, itu adalah kata yang cukup mudah untuk ditebak. Jika lawan mainnya tidak bisa menjawabnya, Azka akan menjadi sangat kecewa.
Lawan mainnya langsung menyeringai. Merasa sangat mudah untuk menebak. Apalagi yang bisa dipertemukan dengan kunci selain pintu dan gembok. Tapi, tidak mungkin ada dua jawaban yang akan ditebak. maka ia harus memilih dengan pasti jawaban yang menurutnya benar.
“Gembok!” Dia menjawab dengan sangat yakin. Dan membuat Joshua bersorak dengan kencang sambil berkata dua poin.
Kelompok Hans dan Rai sudah berhasil memegang dua poin, mereka harus mengejar minimal dua poin lagi untuk bisa beradu setidaknya dengan kelompok dua.
Bagai dewi fortuna yang ikut bermain. Orang ketiga dan keempat berhasil menjawab pertanyaan itu dan membuat kelompok mereka mendapat empat poin.
“Sementara ini, kedudukan kelompok empat dan kelompok dua setara. Sekarang, keputusan poin ada di orang terakhir. Silahkan, Raina”. Joshua berkata sambil melangkah pelan, dan berhenti tepat di depan Rai sambil menunjukkan sebuah kertas berisi sebuah kata yang harus Hans tebak untuk bisa menang melawan kelompok dua.
“Ayo! Satu poin lagi!” Sorak seorang lawan main pertama untuk menyemangati. “Iyaa ayo semangat, Hans dan Rai!” Dilanjut dengan beberapa orang yang ikut turut serta.
Rai membaca kata tersebut. Ia menelan ludahnya, kata tersebut cukup sulit untuk ditebak. Memang sedari tadi, kata pada orang terakhir sengaja dibuat sulit untuk membuat para pemain kesulitan menambah poin mereka.
“Sudah menemukan katanya yang akan diberikan untuk kode, Rai?” Tanya Joshua setelah menunggu beberapa detik untuk Rai berpikir.
Rai mengangguk sedikit pelan, tidak yakin apakah ia bisa memberikan kode untuk Hans agar bisa ia tebak dengan benar. Mengingat Hans sendiri yang bilang kalau ia susah untuk berpikir.
Joshua meninggalkan Rai, berjalan menjauh dan mengawasi mereka dikarenakan takut melakukan kecurangan.
“Olahraga”. Sebuah kata keluar dari mulut Rai. Matanya menatap lurus dan tajam ke arah mata milik Hans. Dalam hati Rai, ia terus menyemangati Hans untuk bisa menebak dengan benar.
“Bola?” Hans menjawab dengan ragu, diikuti dengan Rai yang menggelengkan kepalanya.
“Otot”. Rai memberi kode kedua. Suasana begitu menegangkan. Sampai semua orang disebelah mereka ikut geregetan.
“Tinju”. Rai menarik napasnya saat mendengar jawaban Hans. Lagi-lagi Ia menggelengkan kepalanya, membuat Hans kecewa untuk kedua kalinya.
“Beban”. Itulah kata ketiga yang Rai berikan. Itu adalah kata terakhir penentu kemenangan mereka. Jika Hans dapat menjawab dengan benar, maka ia bisa membuat kelompoknya menang dan dapat keliling sekolah secara bebas.
Itu juga artinya, Hans dapat berdua dengan Rai mengelilingi sekolah tanpa diganggu oleh siapapun. Ini adalah kesempatan besar bagi Hans untuk membuat Rai mengenalnya lebih dalam.
Hans terdiam sejenak, menyambungkan kata-kata tersebut di dalam otaknya. Olahraga-otot-dan beban. Apa yang bisa ia tebak dari kata-kata yang sudah Rai sebutkan.
Rai menggigit bibirnya. Sementara seseorang teman kelompok dengan gemas meneriaki Hans karena sepertinya ia berhasil menebak.
“Ayoo itu mudah, Hans!” Begitulah ia berteriak.
Hans berpikir sejenak. Konsentrasinya buyar saat Joshua mulai menghitung mundur dari sepuluh. Ya, Hans hanya diberi waktu sepuluh detik untuk menjawab.
“Empat, tiga, dua…” Belum sempat Joshua menyelesaikan hitungannya. Hans mencoba mengeluarkan jawaban dari mulutnya, walaupun ia tidak tahu apakah dewi fortuna bersama dirinya.
“Em… binaraga?” Tanya Hans pada Rai. Hal itu membuat Rai tersenyum sangat lebar untuk pertama kalinya pada Hans. Semua orang yang melihat senyum Rai pun sampai diam terpesona, karena untuk pertama kalinya mereka melihat Rai begitu antusias karena kelompok mereka berhasil memenangkan permainan ini.
“Wah, pemenangnya adalah kelompok empat!” Sorak Joshua dengan pengeras suara. Membuat semua kelompok mendengarnya.
Raut wajah kelompok lain terutama kelompok dua mendadak lesu. Mereka juga ingin berada di posisi kelompok empat. Bagaimana tidak, mereka akan menghabiskan waktu sampai pulang untuk mengelilingi sekolah secara mandiri. Itu bisa dimanfaatkan dengan baik, bukan?
Kelompok empat terlihat melakukan selebrasi. Kemudian mereka kembali ke tempat mereka semula. Mereka merapihkan diri dan mengemas barang-barang mereka ke dalam tas untuk bersiap.
Rai juga merapihkan miliknya. Ketika tanganna bekerja, Rai memperhatikan sekelilingnya. Tentu saja tidak lain mencari temannya, Lia. Rai dari kejauhan berharap bahwa semoga Lia juga memenangkan permainan ini.
Namun, matanya masih tidak mendapatkan sosok Lia. Begitu banyak orang yang berdiri saat ini. Meskipun tubuh Lia lumayan tinggi, tapi jangan lupakan masih banyak orang tinggi yang berada di sekitarnya.
“Sudah selesai?” Rai dikejutkan dengan sebuah suara berat dari sebelah telinganya.
“Ah, kaget! Bilang-bilang dong kalo mau ngomong!” Rai menggerutu padanya, saat ia tahu itu adalah Hans.
“Habisnya daritadi kamu bengong, ya tapi tangan kamu kerja, sih”. Jelas Hans.
“Nyariin siapa? Lia?” Laki-laki itu bertanya lagi, sambil memandangi Rai yang sedang merapihkan sweater dan juga botol minum untuk dia masukkan ke dalam tas.
“Iya. Kira-kira dia menang juga gak, ya?” Kali ini giliran Rai yang bertanya.
“Entah, mungkin iya. Mungkin juga tidak”. Mendengar itu, Rai sedikit kecewa. Padahal jika boleh memilih, Rai lebih memilih mengelilingi sekolah bersama Lia dibanding bersama Hans. Karena, Rai masih merasa canggung berada di dekat Hans.
“Jadi, kita mau kemana dulu?” Itu adalah sebuah pertanyaan yang dimulai mereka untuk memulai pendekatan.