RAI’S POV •
Aku menangkat wajahku melihat Hans yang sudah berdiri lebih dulu. Memandangi aku yang masih sibuk merapihkan isi tasku. Terlihat wajahnya begitu bersemangat kali ini. Sampai ia bertanya sesuatu padaku.
“Apa?” Aku tidak begitu mendengarnya. Jadi, aku memintanya mengulangi perkataannya.
“Kita mau keliling kemana dulu, Rai?” Tanya Hans kembali antusias.
Benar, aku memang senang tadi. Tapi aku melupakan sesuatu. Kemenangan ini bukan membuatku bebas sendirian, namun aku harus berduaan dengan Hans mengelilingi sekolah baru yang cukup besar ini.
“Ah… benar juga. Kalo menurut kamu kita harus kemana dulu?” Aku malah bertanya, dan kembali memasukkan lipatan sweaterku ke dalam tasku. Tidak lupa aku menutup resletingnya agar isinya tidak berjatuhan.
“Haha, malah kamu yang nanya sekarang. Kemana ya? Mungkin dari depan?” Hans menanyakan sebuah saran. Dan menurutku, itu saran cukup bagus, setidaknya waktu akan terasa cepat berlalu walaupun aku harus berdua dengan Hans.
“Boleh. Yuk!” Ucapku pada Hans. Aku beranjak pergi ke luar Alua, diikuti dengan Hans dan juga beberapa teman kelompok akhir yang memenangkan permainan.
Senyap-senyap aku mendengar suara keluh beberapa orang di belakangku. Mereka iri pada kami yang dapat memgelilingi sekolah seorang diri. Harusnya aku bersyukur dan berterima kasih dengan Hans, bukan? Tapi aku malah seperti kacang lupa akan kulitnya.
Aku berjalan berdampingaj dengan Hans, sambil memainkan bola mataku ke kanan dan ke kiri. Aku mencari sosok wanita cukup tinggi dengan rambut pendek dan cantik. Siapa lagi kalau bukan Lia? Namun, sudah lama aku mencari, tidak kutemukan batang hidungnya sama sekali. Dimana dia? Aku berbatin,
“Masih nyariin Lia?” Ternyata Hans diam-diam memperhatikan aku sedari tadi. Atau mungkin, tingkah yang aku lakukan begitu mencolok sampai Hans dapat melihatnya.
“He em”. Begitulah singkatnya aku menjawab pertanyaan Hans. Dan mengalihkan pandangnku padanya.
“Kalo emang dia menang, pasti ketemu kok, Rai”. Hans berusaha menenangkan aku yang masih penasaran dimana sosok Lia berada.
“Kalo emang gak ketemu, berarti bareng sama pembimbing”. Laki-laki itu melanjutkan.
“Iya, mungkin kayak gitu”. Aku menjawab seadanya.
Kamipun berjalan mengikuti lobby yang membawa kami menuju gerbang utama sekolah. Sepanjang perjalan, aku merasa sangat canggung pada Hans. Dan memilih untuk tidak banyak bicara.
Aku dapat melihat dari sudut mataku, sesekali Hans menatapku seperti ingin mengajakku berbicara. Namun sepertinya ia juga ragu, dan memilih untuk diam sampai kami tiba di depan gerbang.
*
“Oke, ini namanya gerbang ya, Rai”. Hans tertawa pelan, seperti ingin mencairkan suasana. Ketika beberapa anak lain memilih untuk kabur dan bercanda gurau di kantin. Hans tetap memilih untuk bersamaku mengelilingi sekolah. Sejujurnya, itu membuatku sangat tersentuh.
“Bukan, ini namanya pagar”. Aku berusaha membalas candaan itu, walaupun terdengar garing sekali.
“Duh kriuk abis, hahaha! Bisa bercanda juga kamu, Rai”. Hans kembali meledek, dan mulai kembali banyak bicara seperti tadi.
Padahal aku memang bisa bercanda, hanya saja untuk orang-orang tertentu saja. Jadi, bisa aku katakan, Hans adalah orang yang cukup beruntung hari ini.
“Emangnya aku robot gabisa bercanda”. Aku menyikunya, entah mengapa, aku ingin sekali nelakukannya.
Kami tertawa bersama, lalu kembali masuk ke dalam. Aku tiba-tiba teringat waktu di mana aku pertama kali bertemu dengan Lia. Sungguh, perempuan itu benar-benar mudah meluluhkan hati seseorang. Pembawaannya yang asik juga membuat siapapun ingin bersamanya.
Jadi, seharusnya aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Malah aku harusnya mengkhawatirkan diriku sendiri. Karena, aku harus berduaan dengan orang yang masih saja mengaku bahwa ia adalah temanku dan mengenalku.
“Aku gapernah nyangka bisa sekolah disini”. Tiba-tiba Hans berbicara padaku, matanya fokus memandang beberapa piagam yang di pajang di ruangan utama.
“Kenapa gak nyangka?” Aku bertanya karena penasaran padanya. Karena, memang aku benar-benar tidak mengetahuinya.
“Iya, yang sekolah disini, kan, kalau gak pinter ya kaya”. Hans berhenti sejenak. Tubuh kekarnya ia hadapkan dengan lemari kaca untuk dapat melihat piagam tersebut dengan jelas.
“Dan aku bukan keduanya”. Aku menoleh pada Hans, kulihat wajahnya meredup. Bahkan, tangannya mengelus kaca tersebut dengan hati-hati.
“Tapi kamu disini sekarang. Berarti kamu mampu. Terlepas kamu pintar atau engga, kaya atau engga. Ya kamu udah di sini. Tandanya, emang udah rezeki kamu”. Aku berusaha menenangkan hati Hans. Entah mengapa melihat wajahnya sejuk sekali.
“Orang-orang hanya melihat hasilnya ya, Rai? Tapi ga pernah tau proses dibaliknya seperti apa”. Hans menatapku, dengan wajah sendu dan senyum tipisnya.
“Ya, biar kita aja yang tau, Hans”. Aku mengangguk padanya, dan ikut memandangi piagam-piagam tersebut.
“Rai”. Panggil Hans padaku.
“Iya?” Aku menjawab panggilan itu. Dapat kurasakan bahu kami beradu, dan suara Hans terasa dekat sekali.
“Kamu liat ga, ada satu bagian piagam kosong di sana yang belum ditempatin?” Hans menunjukknya dengan jari telunjuk, dan bertanya padaku.
“Iya, liat. Kenapa emang?” Aku tidak mengerti mengapa Hans bertanya seperti itu padaku, dan hal itu membuatku berbalik bertanya padanya.
“Itu bakal jadi tempat aku naro piagamku, Rai. Dan orang yang pertama harus liat itu, kamu”. Aku merasa suhu di pipi aku meningkat seketika. Aku juga merasakan sesuatu mengalir di tubuhku, hingga tepat ke hatiku.
“Kenapa aku?” Aku lagi-lagi bertanya. Dan wajah Hans lebih lesu dari sebelumnya.
“Kamu kenapa sih, Rai?” Hans kecewa. Dapat kulihat dengan jelas wajahnya kecewa.
“Kamu berubah, kamu kenapa?” Kali ini, wajahku juga berubah. Aku pun ikut merasa kecewa. Mengapa Hans begitu ambisius ingin mengetahui segala sesuatu yang ada dalam diriku.
Dan mengapa juga ia selalu mengaku padaku, tanpa memberitahu tentang dirinya terlebih dahulu. Bukankah itu tidak adil? Hatiku berubah seketika. Membuat wajahku juga berubah kesal pada Hans.
Dengan tanpa aba-aba, kaki ku melangkah sendiri dan meninggalkan Hans yang benar-benar berubah menjadi menyebalkan. Yang harusnya bertanya itu aku, bukan? Apa yang terjadi pada dirinya? Siapa dia? Apa yang mau ia lakukan?
Aku tidak perduli dengan suaranya yang memanggil namaku berkali-kali. Kaki ku terus berjalan dan ku biarkan ia sendiri melihat kepergianku menjauh.
POV END
“Rai! Tunggu, Rai!” Hans memanggil Rai terus menerus. Ia tahu jelas ia salah, dan dengan jelas ia dapat melihat wajah Rai begitu marah.
Ini adalah pertama kalinya Hans melihat wajah Rai yang berbeda. Marah, kecewa, sedih, bahkan wajah itu tercampur membuat Hans tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada gadis cantik itu.
Tapi, Hans seperti tidak bisa melangkahkan kakinya. Ia hanya memandangi Rai yang melangkah semakin cepat dan semakin jauh. Hans merasa kesal dengan dirinya sendiri. Harusnya ini menjadi momen berharga untuk bisa dekat dengan Rai. Ia malah menghancurkan dengan membuat Rai marah dan pergi begitu saja.
*
Rai membasuh wajahnya di dalam kamar mandi. Sekali, dua kali, tiga kali, ia melakukan itu untuk menghapus rasa sedihnya.
Setelah itu, ia memandangi wajahnya di cermin. Wajah cantik tanpa goresan dan kemerahan. Wajah mulus dan simetris yang indah hampir tidak semua orang bisa miliki.
“Persetan dengan semuanya”. Rai mengumpat dengan lantang, memandang wajahnya di cermin.
“Percuma walaupun kamu cantik, bodoh. Kamu itu tidak sempurna!” Rai memukul wajahnya yang menempel di cermin. Kemudian air mata keluar dari mata cantiknya.
Tidak berapa lama, sebuah suara terdengar datang dari luar pintu kamar mandi. Membuat Rai dengan cepat menyeka air matanya dan mengeringkan wajahnya.
Ia juga dengan terburu-buru menguncir rambutnya dengan tinggi, yang membuatnya menjadi tambah cantik sekali.
Krak, pintu tersebut terbuka. Dapat Rai dengan perempuan itu bersenandung. Rai dengan cepat melarikan diri masuk ke dalam bilik toilet dan menunggu seseorang itu masuk ke dalam.
“Kamu adalah, perempuan paling cantik”. Perempuan itu masih bersenandung, Rai mendecak sedikit.
“Duh, kenapa lama banget, sih!” Rai menggerutu pelan, hampir tidak dapat terdengar bahkan oleh telinganya sendiri.
Suara air mengalir dari keran yang terbuka juga dapat Rai dengan, perempuan itu masih berdiri di depan westafle.
“Loh, jepit rambut siapa ini”. Perempuan itu terdengar sedang menemukan sesuatu, dan Rai menyadari bahwa itu adalah jepitan rambut miliknya yang lupa ia kenakan kembali.
“Lucu banget, gaada yang punya apa, ya?” Mendengar perkataan itu, Rai membuka pintu dan berlari ke arah perempuan itu dengan cepat.
“Itu punya aku!” Rai sedikit bertiak padanya. Ternyata itu adalah Bila, teman satu kelomponya tadi.
“Eh, Rai? Tadi gue kira gaada yang punya. Lucu juga, nih gue balikin”. Dengan nada santai, Bila membalas Rai.
Rai meraih jepitan itu, dan segera mengaitkannya di rambutnya.
“Maaf ya, aku gamaksud ngebentak, aku cuma takut jepitan ini ilang”. Rai meminta maaf pada Bila, merasa tidak enak sudah dengan tidak sopan berbicara begitu lantang padanya.
“Santai. Jepitannya berharga banget, kenang-kenangan ya? Dari siapa?” Tanya Bila berusaha membuka topik pembicaraan.
“Dari… temen”. Rai menjawab pertanyaan itu dengan sedikit terbata.
“Ooh, pasangan lo kemana? Si Hans? Kok gue galiat, sih? Dia gak nungguin lo?” Perkataan Bila membuat Rai diam seperti tersambar petir.
Benar, Rai tahu Hans salah. Tapi, meninggalkannya sendirian juga salah untuk Rai. Karena, Hans adalah teman kelompoknya bagaimanapun. Otomatis, harusnya mereka masih bersama.
“Eh, gue duluan ya. Ga enak sama temen gue”. Belum sempat menjawab perkataan Bila, ia sudah lebih dulu meninggalkan perempuan itu seorang diri.
Rai mengigit bibirnya. Rasa kesal masih menyelimuti hatinya ketika ia memikirkan Hans. Lagipula, Hans seperti tidak merasa bersalah seperti dengan mengejarnya atau bagaimana. Ia hanya meneriaki nama Rai dari jauh yang membuatnya tidak suka. Rai hanya takut, ia menjadi pusat perhatian karena orang-orang mendengar teriakan Hans tadi.
Lagi-lagi pintu terbuka, kali ini orang yang Rai cari sedari tadi dapat ia temuka. Sahabatnya Lia, muncul dari balik pintu. Membuat Rai merasa tenang.
“Loh Rai? Kamu disini? Ku kira kamu sama pembimbing”. Lia menghampiri Rai yang terdiam.
“Rambut kamu kok agak basah, dan kenapa kamu dikuncir kayak gitu? Kamu gapapa, kan?” Mendengar suara Lia dan melihat sosoknya membuat Rai dengan cepat memeluknya.
Hari ini, walaupun ia baru bertemu dengan Lia, namun hati Rai berkata kalau Lia benar-benar sangat tulus kepada Rai. Dan itu membuat Rai sangat menyukai Lia.
Air mata Rai tanpa ia sadari terjatuh, suara Rai yang berubah pun mengejutkan Lia.
“Li, aku seneng banget ketemu kamu. Jangan tinggalin aku ya, Li. Tetep jadi temen aku, terima aku jadi temen kamu. Walaupun aku punya banyak kekurangan”. Lia yang melihat temannya berkata seperti itu, hanya bisa mengerutkan dahinya.