Lia mengangkat panggilan yang baru saja berdering di ponselnya. Suara laki-laki itu langsung terdengar dari sebrang sana. Suara Hans cukup berbeda saat berada di telepon, sampai Lia berpikir ia tidak mungkin tidak bisa mengenali Hans jika tidak mempunya kontaknya.
“Lo kok belum tidur?” Tanya Lia pada laki-laki di sebrang sana. Perempuan itu meregangkan tubuhnya, mencari posisi ternyaman di atas kasurnya.
“Iya, gue emang jarang tidur cepet, sih”. Hans menjelaskan alasannya masih terjaga. Laki-laki itu memang seperti mengidap insomnia, bahkan pernah semalaman ia terjaga, tapi bisa beraktivitas seperti biasa.
“Lo sendiri, kok belum tidur?” Hans kali ini berbalik bertanya, suara perempuan itu terdengar tidak seceria biasanya.
“Lo gak apa-apa, kan? Suara lo kok kayak orang abis nangis”. Hans sebenarnya ragu ingin bertanya, tapi rasa penasaran di hatinya membuatnya terpaksa menanyakannya.
“Ah… engga… gue gak apa-apa, kok. Karena hawa dingin kali ya. Mendadak kayak orang sakit”. Lia menjelaskan pada Hans sambil berbohong, matanya mematap langit-langit kamar berusaha memikirkan jawaban apa yang akan ia lontarkan jika Hans tidak percaya padanya.
“Hah? Dingin lo bilang? Ngigo ya lo! Haha, gue kira lo kenapa-kenapa. Soalnya kan… lo yang bilang sendiri sih tadi di chat”. Hans berkata sambil tertawa. Laki-laki itu saat ini sedang menunggu Lia untuk menjawab.
“Em… iya, sih. Biasa lah, masalah keluarga doang, kok”. Lia mencoba menjawab dengan jujur, tapi Lia belum bisa untuk berceria lebih lanjut.
“Oh… bikin sedih banget ya? Sampe lo gabisa tidur?” Tanya Hans yang mencoba membantu Lia untuk melegakan hatinya. Mungkin saja ia bisa lebih tenang, jika bercerita segalanya padanya pikir laki-laki itu.
“Iya… Biasa bapak sama ibu gue berantem, Hans. Hehe, gara-gara gue”. Lia berusaha tegar, dan mempercayakan Hans untuk menjadi tempatnya bercerita.
“Hah? Kok berantem gara-gara lo? Emang lo kenapa? Lo nakal ya sampe mereka berantem gara-gara lo?” Hans bertanya bertubi-tubi. Rasa penasarannya makin bertambah saat ia mengetahui itu.
“Enak aja, lo! Gue gak nakal, ya! Mereka berantem karena soal biaya sekolah gue. Sedangkan bapak sama ibu juga keduanya punya cicilan hutang yang harus di bayar”. Lia akhirnya membuka suara, tidak perduli walaupun ia baru kenal Hans beberapa hari. Tapi, entah mengapa hatinya sudah mempercayai laki-laki itu untuk berbagi.
“Ah… biaya sekolah, ya?” Hans bertanya dengan singkat. Laki-laki itu juga menjawab dengan lirih.
“Iya… gue juga pas tau bakal sekolah di sana, gue bilang sama bapak kalau sekolah itu mahal biayanya. Tapi, gue anak pertama harapan bapak, jadi bapak ngebela-belain biar gue dapet pendidikan yang layak. Ya, buat apa lagi kalau bukan biar gue jadi orang sukses, ya kan? Padahal bapak juga punya dua tanggungan lagi, adik-adik gue”. Lia bercerita dengan panjang lebar.
“Kalo ibu lo? Setuju juga lo sekolah di sini? Kalo setuju, kok dia ngeributin biaya sekolah lo, sih?” Hans kembali lagi bertanya, bahkan sudah tidak terhitung berapa kali ia mengajukan pertanyaan. Sepertinya laki-laki itu sangat penasaran.
“Haha, ibu gue mana peduli, Hans. Dia mau gue sekolah di mana juga gak peduli kayaknya. Gue gak sekolah pun, dia gak peduli, Hans. Mana peduli dia sama gue yang bukan anaknya”. Suara Lia kesal sampai menggebu-gebu. Ia menyadari mungkin ia begitu berisik, sampai ia menutup mulutnya takut bapaknya mendengar kalau Lia belum tidur.
“Hah? Jadi… gimana maksudnya? Dia? Bukan ibu kandung lo?” Hans terkejut, dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Lia menganggukkan kepalanya, dan baru menyadari kalau Hans tidak dapat melihat anggukan itu.
“Iya, Hans. Mama kandung gue udah meninggal pas gue SMP. Terus bapak gak lama ketemu sama ibu, dan milih buat nikah sama ibu. Emang ya, semua orang itu manis di awal. Dulu, waktu sebelum nikah, dia baik banget sama gue, Nina, dan Tasya. Ya, kayak berusaha ngambil hati gitu, lah. Sekarang aja, keliatan sifat busuknya”. Lia berkata dengan kesal. Bahkan ia tidak ingin memuji ibunya.
“Heh, gak boleh gitu, Li! Gimana pun dia, lo harusnya bersyukur masih ada ibu! Mungkin aja, nih. Pikiran dia emang lagi kalut, gara-gara masalah cicilan yang lo bilang tadi. Kan lo tau, semua orang rese kalo soal duit, iya kan? Ngomong-ngomong, Nina sama Tasya itu adik lo?” Hans bertanya pada Lia.
“Gak, Hans. Lo gak ngerti, gue mending gak punya ibu daripada harus dia jadi ibu gue. Dia itu egois, munafik. Selama ini bapak bayarin cicilan dia buat foya-foya. Beli baju-baju mahal, supaya keliatan lebih hebat dari yang lain. Bapak kerja banting tulang cari duit tuh, sampe bener-bener kurus sekarang”. Seperti yang Hans duga, Lia ternyata memang sudah terlanjur membenci ibunya. Laki-laki itu hanya menghela napas saat ia mendengar jawaban itu keluar dari mulut Lia.
“Iya. Nina sama Tasya itu adik gue, Hans”. Lalu dengan cepat Lia melanjutkan perkataannya.
“Lo yakin gak mau punya ibu? Emang menurut lo enak, Li? Lo pernah kan ngerasain, gimana rasanya kehilangan ibu? Bahkan, dengan cepet lo dapet pengganti kasih sayang mama lo yang pergi ninggalin lo. Gue yakin, ibu lo yang sekarang itu emang cuma karena kalut pikirannya. Gue yakin, ibu lo sebenernya sayang sama lo, sama Nina juga Tasya. Kalo emang dia gak sayang, dia dari awal gak akan mau nikah sama bapak lo yang notabene nya duda anak tiga. Buktinya, dia udah bertahan sejauh ini, kan?” Hans menjawab perkataan Lia dengan berusaha memberinya suatu titik terang. Hans dengan bijak berusaha mengingatkan Lia untuk tidak membenci ibunya.
“Lo beruntung, Li. Di luar sana bahkan banyak orang yang gak pernah di anggap sama keluarganya. Mereka di buang, dan di titipin ke panti asuhan. Lo beruntung, tidur di kamar yang enak, sendirian. Sedangkan mereka? Tidur di kamar yang banyak orang, layaknya asrama. Dan itu yang gue alamin sekarang”. Hans malah ikut terbawa suasana. Dan ikut menceritakan kisah hidupnya pada Lia.
“Hans?.. Lo…” Lia menjawab dengan terbata-bata. Ia takut untuk berkata lebih lanjut, takut perkatannya menyakiti hati laki-laki itu.
“Iya, Li. Gue sama adik gue dibuang sewaktu kecil. Sekarang gue beruntung di terima sama ibu, walaupun dia bukan ibu kandung gue. Tapi, dia sayang sama semua anak panti, gapernah melebihkan, gapernah mengurangkan. Semua kasih sayang yang dia kasih itu rata sama anak-anaknya”. Akhirnya, Lia tahu bahwa ada kehidupan yang lebih buruk darinya. Hans bahkan tidak tahu asal keluarganya dari mana.
“Terus, yang namain lo Hansol ibu panti lo? Sorry ya, Hans. Gue gak tau kalau cerita gue bisa nyinggung hati lo”. Lia berkata dengan lirih, tangannya menggaruk belakang lehernya karena merasa canggung pada Hans.
“Ibu bilang, pas gue ditemuin. Gue sama adik gue dipakein kalung dengan tulisan korea. Pas ibu gue nyari tahu, ternyata nama gue Hansol, dan adik gue namanya Tae Ra. Karena Ibu itu cuma orang kampung, dia gabisa nyebut nama Tae Ra dengan mudah, akhirnya sekarang ibu manggil adik gue Tara, dan adik gue gak marah soal itu”. Hans menceritakan asal usul namanya.
“Berarti lo bohong pas lo bilang, dulu orang tua lo naksir orang korea?” Lia mengingatkan Hans soal kebohongan yang pernah laki-laki itu bicarakan. Hans hanya tertawa mendengar perkataan perempuan yang sedang berbicara di sebrang telinganya.
“Haha. Iya, lah. Waktu itu gue cuma bercanda, kalian aja yang nganggepnya terlalu serius. Ibu bilang, kemungkinan gue sama Tara punya darah keturunan Korea. Mangkanya bisa dinamain kayak gitu”. Hans berkata lagi pada Lia.
“Eh, tapi bener, loh. Lo tuh mukanya oriental banget. Gue pikir emang bapak atau nyokap lo tuh orang Korea tadinya”. Lia menyetujui perkataan Hans pada dirinya.
“Haha, gue mah udah gak ada orientalnya. Udah sering kena matahari Jakarta. Lo belum liat Tara, sih. Dia lebih korea lagi, sampe waktu itu banyak yang ngira, Tara itu ulzzang. Bahkan lucunya, pas Tara jalan sama gue nih, ada anak kecil nyapa kita pake ‘anyeong’ gitu”. Hans bercerita dengan semangat.
“Ohiya? Wah gue jadi penasaran banget sama adik lo, pasti cantik banget, ya? Gue tuh kadang suka heran loh, kenapa ya orang-orang tuh bisa cantik? Kayak… Rai gitu, resepnga tuh apa ya sampe ada gitu orang kayak Rai”. Lia lagi-lagi memuji teman baiknya, walaupun Rai tidak mendengar pujian itu.
“Iya, cantik banget, kok”. Hans langsung menjawab dengan singkat, membuat Lia meledek jawaban itu.
“Oh jadi Rai cantik ya, Hans? Cie, ngaku deh. Lo suka kan sama dia?” Lia bertanya denhan penasaran.
“Eh? Maksud gue, gue jawab pertanyaan lo soal Tara tadi”. Jelas Hans, dan pipinya memerah. Beruntung laki-laki itu saat ini, karena Lia tidak bisa melihatnya.
“Oh.. Tara. Tapi, Rai cantik ga?” Ledek lagi Lia pada Hans.
“Hm.. cantik”. Hans menjawab dengan singkat. Lagi-lagi perempuan itu meledeknya.
Mereka begitu asik bercerita dan bercanda gurau. Sampai tidak menyadari, percakapan mereka sudah memakan waktu hampir tiga jam lamanya.
“Pantes kuping gue panas banget. Ternyata kita udah teleponan lama banget, ya. Sekarang udah mau jam tiga. Gue juga udah mulai ngantuk, nih”. Lia berkata demikian pada Hans, kemudian tanpa sadar menguap begitu saja.
“Wah, iya ya. Udah lama banget. Padahal kayaknya, baru tadi gue nelepon lo”. Hans melihat layar ponselnya sejenak, tidak percaya sudah begitu lama.
“Yaudah, lo tidur sana. Udah kedengeran banget tuh ngantuknya”. Hans menyuruh Lia untuk segera tidur, dan Lia menyetujinya.
“Iya. Makasih ya, Hans. Lo udah nemenin gue dan dengerin gue cerita. Dan, gue cuma bisa ngasih semangat aja buat lo. Semangat terus!” Lia kembali ceria lagi, dan Hans senang mendengar suara perempuan itu kembali.
“Iya, santai aja, Lia. Kalo lo butuh apa-apa bilang aja sama gue. Ya kalo terlalu sungkan, bilang aja sama Rai. Kita kan temenan, gak perlu mikir gak enak segala”. Hans membalas.
“Iya, kalian emang terbaik, lah. Gue tidur dulu ya Hans. Udah ngantuk berat, nih. Dah!” Lia tidak kuat menahan rasa kantuknya lebih lama lagi, langsung pamit pada Hans untuk tidur lebih dulu.
“Oke, dah. Selamat tidur”. Tit. Suara panggilan itu terputus, perempuan itu benar-benar langsung memutuskan panggilannnya. Hans hanya tertawa dibuatnya. Hans akhirnya meletakkan tubuhnya di atas kasur. Berusaha ikut terlelap, dan menghadapi hari esok di sekolah.
****
Rai turun dari mobil dan menyalami Natalie yang tentu saja bergegas untuk segara berangkat menuju kantor. Hari ini, Rai dengan mengikalkan rambutnya. Tentu saja karena moodnya begitu baik karena semalam bisa bertemu dengan ayah Hendra dan mengantarnya ke bandara.
Ia berjalan selangkah demi selangkah memasuki gerbang sekolah. Rai merasa hari ini begitu cerah, termasuk dirinya. Dia merasa hari ini dia begitu cantik bahkan mengirimkan swafoto pada Hendra yang menurutnya jauh di sana.
Ternyata, yang menganggapnya begitu cantik bukan hanya dirinya. Semua mata tertuju oada Rai yang sedang berlenggak lenggok layaknya jalan itu sepenuhnya miliknya, semua mata memandanginya sampat tidak berkedip.
Tapi, Rai tidak pernah menghiraukan semua pandangan itu. Hari ini, Rai tidak lagi menundukkan kepalanya, matanya mencari sosok Lia dan Hans yang sepertinya belum tiba di sekolah.
Akhirnya langkah kakinya membawa Rai sampai pada kelasnya. Perempuan itu lagi-lagi membuat ribut orang-orang di kelas karena melihat penampilannya yang begitu berbeda. Rai duduk dan menunggu Lia.
“Hai, nama lo Rai ya? Kenalin nama gue, Luna”. Tiba-tiba seorang wanita dengan penuh gaya menghampiri meja Rai dan duduk di depannya. Rai kebingungan, lalu hanya tersenyum tipis pada perempuan itu dan mengangguk pelan.
“Kok lo cantik banget, sih. Wajah lo juga halus banget. Pake skincare apa?” Luna terus bertanya dengan antusias pada Rai.
“Engga pakai apa-apa”. Rai menjawab dengan jujur.
“Ah masa? Lo gak bohong kan?” Luna mencibir, tidak mempercayai apa yang Rai katakan.
“Kalo gak percaya, kenapa nanya?” Rai menjadi kesal, lalu memutar bola matanya.
“Ye, biasa aja dong, lo. Sombong banget”. Perempuan itu kemudian menghantam meja, dan meninggal Rai sendirian menuju gerombolannya. Tentu saja membawa gosip yang akan ia sebarkan. Tapi Rai tidak peduli pada perempuan itu.
Tidak lama kemudian suara ramai muncul dari depan kelas, semua orang langsung berdiri dan mengintip dari arah jendela. Rai yang penasaran akhirnya ikut keluar untuk melihat.
Ia begitu terkejut, ternyata yang sedang dibicarakan adalah Hans yang sedang menggendong temannya, Lia, yang baru saja pingsan.