Rai begitu terkejut saat ia melihat Hans sedang membopong Lia yang tidak sadarkan diri. Semua orang membicarakan dan memperhatikan mereka berdua. Hans tentu saja tidak mempermasalahkan apapun, yang ia lakukan hanya ingin membawa Lia ke ruangan kesehatan sesegera mungkin.
Rai sempat terdiam sejenak, ia hanya menatap Hans yang lewat begitu saja dari luar jendela. Entah kenapa, ada yang berbeda dari hati Rai saat melihat Hans begitu khawatir dan memperhatikan Lia. Tapi, semua itu dia buang jauh dari otaknya, dan akhirnya ia tersadar dari lamunannya.
Rai tanpa menunggu lagi langsung melangkahkan kakinya dengan cepat, bahkan ia hampir setengah berlari. Perempuan itu tidak lain sedang mengejar Hans yang juga berjalan dengan terburu-buru. Beberapa perempuan terpesona melihat Hans yang begitu maskulin, dan sangat keren.
“Hans! Hans!” Rai terus memanggil nama laki-laki itu. Bahkan ia berusaha terus untuk mengejar, tapi Hans tidak menghiraukannya. Karena ikut terburu-buru, Rai tersandung oleh kakinya sendiri dan membuatnya harus merasakan hantaman lantai yang cukup keras.
“Aw!” Rai berteriak kesakitan, matanya lalu menatap punggung Hans yang terus saja berjalan tanpa menoleh pada dirinya yang bahkan sedang terjatuh. Beruntung saat itu sedang banyak siswa dan siswi yang berada di sekitar Rai. Mereka membantu Rai untuk bangkit, dan menanyakan keadaannya.
“Kamu gak apa-apa, kan? Hati-hati, ya”. Kata seorang siswi yang dengan sigap membantu Rai tidak lama setelah ia terjatuh. Rai langsung membersihkan baju yang kotor terkena lantai koridor sekolah.
“Gak apa-apa, kok. Terima kasih, ya”. Rai tersenyum pada perempuan itu. Dan dengan cepat kembali berjalan meninggalkan sosok perempuan yang baru saja membantunya.
Rai tertatih berjalan karena masih merasakan sakit kaki seperti terkilir akibat bekas jatuh tadi. Perempuan itu dengan terus berusaha menahan sampai tiba di depan ruang kesehatan. Saat ia mau membuka pintu ruangan itu, seseorang dari dalam telah membukanya lebih dulu. Dan itu adalah Hans.
“Rai? Kamu ngapain kesini?” Tanya Hans yang kebingungan karena Rai tiba-tiba muncul di depan ruang kesehatan.
Rai tidak memperdulikan Hans dan pertanyaannya. Perempuan itu bahkan menerobos masuk dan tubuh kecilnya mencoba menabrak Hans. Hans makin kebingungan saat Rai bertingkah begitu aneh, dan menemukan kalau Rai langsung menghampiri Lia yang masih tidak sadarkan diri.
“Lia, lia, kamu gak apa-apa kan?” Rai mengguncang tubuh Lia dengan perlahan, berusaha membangunkan Lia agar segera sadar.
“Rai, biarin aja. Biar Lia istirahat”. Hans mengikutinya dari belakang, tangannya memegang pundak Rai berusaha menenangkan perempuan itu. Rai menatap wajah Lia yang begitu pucat, dan merasa begitu kasihan.
“Sebenernya ada apa sih, Hans? Kenapa Lia bisa pingsan kayak gini?” Rai menatap Lia yang sedang terbaring dengan lirih, kemudian Hans yang mendengar itu mencoba menjelaskan reka adegan tepat sebelum Lia tidak sadarkan diri.
******
Hans memakirkan sepedanya di tempat yang biasanya. Ia bahkan hampir seperti menteritorial tempat tersebut menjadi miliknya. Laki-laki itu bahkan tidak lupa mengeluarkan gemok dan pengaman dari tasnya, untuk ia pasang pada sepedanya agar tidak hilang.
Tanpa menghabiskan waktu sampai lima menit, Hans sudah membuat penjagaan sepedanya itu seaman mungkin.
Hans pun berjalan sambil memutar-mutar kunci sepedanya, dan sesekali melemparnya di udara. Laki-laki itu akhirnya memilih untuk menyimpan kunci itu di dalam saku baju sekolahnya di sebelah kanan.
Tiba-tiba matanya menangkap seorang perempuan yang dari postur dan bentuk potongan rambutnya sangat ia kenali. Perempuan itu berjalan begitu pelan, dan ingin menyapa perempuan itu.
“Woy, Lia”. Sapa Hans dari jauh. Suaranya yang besar dan sedikit berteriak membuat perempuan yang ia sebut namanya itu menoleh ke belakang dan mencari sosok yang memanggilnya.
Lia memberhentikan langkah kakinya, dan memunggu Hans tanpa berkata apa-apa. Laki-laki itu akhirnya tiba di samping Lia, dan terkejut karena melihat wajah Lia yang tidak biasa.
“Wow, muka lo kok pucet banget, sih? Lo gak apa-apa?” Hans bertanya pada Lia yang sedari tadi terlihat begitu tenang. Hal itu membuat Hans berinisiatif untuk mengecek suhu Lia dengan punggung tangannya.
“Gak apa-apa kok, Hans. Gue cuma kurang tidur aja mangkanya kayak gini jadinya”. Hans akhirnya menganggukkan kepala, walaupun sebenarnya ia ragu, dan yakin ada apa-apa dengan Lia.
“Seriusan, soalnya badan lo kayak orang sakit jalannya”. Hans berkata dengan khawatir, laki/laki itu terus memandang Lia dari atas sampai bawah.
“Ah apa sih, Lo. Orang gue gak apa-apa, kok. Gue mau ke kantin dulu, ya. Mau sarapan tadi gue gak sempet makan”. Lia berkata pada Hans, mencoba menenangkan Hans karena ia merasa dirinya baik-baik saja, walaupun sejujurnya ia merasa sangat tidak enak badan.
Matahari langsung menyinari keduanya, membuat mata Lia mengecil perlahan. Keringat dari tubuhnya tiba-tiba keluar begitu saja. Padahal, Lia tidak berlari, ia hanya berjalan santai.
Tubuh Lia terasa begitu dingin, kepalanya begitu berat. Ia tetap memaksakan diri walaupun sudah berjalan sempoyongan. Hans yang berjalan di belakangnya terus memperhatikan ada yang aneh dari Lia.
Tidak begitu lama, mata Lia tidak lagi dapat melihat dengan fokus. Lia merasa dirinya terbang, dan jiwanya terbang entah kemana. Bahkan kini, pandangannya mulai gelap. Akhirnya, tubuh Lia tidak mampu menahan lebih jauh lagi, perempuan itu jatuh tersungkur. Beruntung Hans yang ada di belakangnya memegang dengan tepat, dan Lia tidak jatuh ke tanah.
“Lia! Lia! Woy! Bangun, Li”. Hans duduk di tanah, dengan kedua tangan menahan tubuh Lia yang sudah kehilangan kesadaran. Sayap-sayap terdengar dari telinganya beberapa orang berteriak karena melihat Lia terjatuh pingsan.
Bebeapa orang kemudian menghampiri Hans dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Beberapa hanya penasaran, sisanya berniat untuk membantunya.
“Kenapa nih, bro?!” Seorang laki-laki berkaca mata langsung bertanya pada Hans dengan wajah yang panik. Hans yang ikut panik langsung menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
“Gue juga gatau. Tiba-tiba ini anak pingsan gitu aja. Dari tadi gue perhatiin emang ini anak kayaknya lagi gak enak badan. Tenang, gue temen sekelasnya kok”. Hans berusaha menenangkan dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Laki-laki yang bertanya itu mengangguk dan mengerti.
“Tapi gue boleh minta tolong gak?” Tanya Hans pada siapapun yang sedang berdiri di sekitarnya. Mereka pun dengan cepat langsung menyauti Hans dengan bertanya pertolongan apa yang bisa mereka berikan.
“Ini lo sangkutin tasnya dia di pundak gue. Biar ini anak gue bawa sendiri ke UKS”. Hans berkata pada seorang laki-laki yang berkaca mata tadi. Laki-laki itu langsung mengerti apa kata Hans dan dengan sigap mengambil tas dari pergelangan tangan Lia, kemudian mengaitkan tas tersebut pada tangan Hans.
Hans yang sudah mendapat tas Lia di tangannya langsung mencoba mengangkat tubuh Lia dengan tubuhnya yang kekar. Beberapa orang menawarinya bantuan, tapi Hans menolak karena merasa ia masih mampu membawa Lia sendiri sampai ke ruang kesehatan.
*****
“Jadi gitu Rai ceritanya”. Hans telah selesai menceritakan kejadian tersebut pada Lia.
“Tadi kata petugas UKS, biar Lia istirahat aja. Tadi sempet di periksa sebentar, kok. Dia sih baru ngediagnosa kemungkinan Lia ini telat makan. Soalnya gak begitu ada hal yang serius”. Jelas Hans yang kemudian melanjutkan, ia terus berusaha menenangkan Rai yang hanya terdiam.
“Gak usah khawatir, Rai. Lia kayaknya gak apa-apa”. Hans lagi-lagi berbicara pada Rai.
Kemudian laki-laki itu menyadari tadi Rai berjalan dengan tertatih, dan berusaha menanyakan keadaan Rai kali ini.
“Tadi, kamu kayak habis jatoh, Rai? Kok jalannya kayak gitu”. Hans bertanya dengan nada santai, perempuan itu langsung menatapnya dengan ketus.
“Ya semuanya gara-gara kamu!” Jawab Rai dengan tegas.
“Hah? Kok gara-gara aku, sih? Perasaan aku gak ngelakuin apa-apa deh, Rai”. Hans tidak mengerti maksud perkataan Rai. Hal yang sangat ia ingat adalah ia sangat sibuk menolong Lia sampai tidak tahu ada Rai di belakangnya.
“Ya kamu, aku panggil berkali-kali gak denger, sampe aku kesandung. Gatau deh, kamu emang gak denger atau pura-pura gak denger!” Rai masih menjawab laki-laki itu dengan ketus.
“Loh aku bener loh, gak tau kalau kamu ada di belakang aku, Rai. Sumpah”. Hans berkata dan bersumpah pada Rai, sambil mengangkat dua jarinya tepat di depan wajah Rai. Perempuan itu tidak menghiraukannya dan memilih untuk tetap diam.
“Yaudah maaf, deh. Tadi aku kepikiran sama Lia. Mangkanya buru-buru sampe gak sadar sama kamu. Tapi kamu gak apa-apa kan? Sekarang jadi kepikiran kamu deh, aku”. Hans membujuk Rai untuk memaafkannya, perempuan itu hanya memutar bola matanya.
“Gak, gak apa-apa. Udah ah, mau balik ke kelas. Biarin Lia istirahat, lagian juga udah mau masuk”. Rai masih dengan nada kelas mulai berjalan meninggalkan Hans yang masih di samping ranjang Lia tempat perempuan itu terbaring.
Hans lalu menyadari bahwa waktu ternyata sudah menunjukkan pukul hampir tujuh pagi, dan tentu saja benar kata Rai kelas akan segera di mulai. Laki-laki itu tidak mungkin telat pada hari pertama, ia dengan cepat menyusul Rai yang sudah pergi lebih dulu di depannya.
*****
“Kira-kira wali kelas kita kayak gimana ya, Rai? Baik gak ya? Jadi penasaran”. Hans terus mengajak Rai berbicara, berusaha mencairkan suasana karena Rai masih saja jengkel pada laki-laki itu. Hans menoleh pada Rai yang wajahnya sangat lucu karena ia masih saja cemberut.
“Biasa aja dong mukanya, nanti cantiknya ilang loh. Eh tapi kamu tetep lucu sih pas lagi ngambek juga”. Hans terkekeh dan berusaha menggoda Rai. Rai yang mendengar itu langsung merasa hangat di pipinya, pasti wajahnya sudah memerah sekarang.
“Senyum, dong”. Hans berkata pada Rai walau tidak menatap wajahnya. Perempuan itu tidak kuat menahannya lagi dan langsung tersenyum.
“Nah, gitu dong kan cantik”. Hans terus berkata pada Rai, padahal ia menatap ke depan.
“Kata siapa aku senyum? Emang kamu lihat?” Tanya Rai pada Hans dengan nada masih sengaja ia jengkelkan.
“Liat dong. Meskipun mata aku gak liat, tapi hati aku tau dan liat, Rai”. Hans berusaha gombal pada Rai, perempuan itu akhirnya tertawa.
“Apa sih, Hans. Gak banget, deh”. Hans akhirnya ikut tertawa karena Rai kembali tertawa padanya. Walaupun Hans tidak tahu, di dalam hatinya Rai begitu senang karena Hans ternyata bisa mengambil hatinya.