Hans dan Rai pun tiba di depan kelas mereka. Kelas itu masih bersuara cukup kencang, bertanda kalau wali kelas Rai dan Hans belum datang.
Hans dan Rai membuka pintu perlahan, membuat suara siswa dan siswi di dalam saba berhenti sejenak. Mata mereka semua melihat kedatangan Rai dan Hans dengan penuh penasaran. Tapi, banyak dari mereka yang memilih untuk tidak ikut campur pada kehidupan teman baru mereka.
Hans dan Rai akhirnya duduk di kursi mereka masing-masing. Kemudian Rai menoleh ke belakang karena Hans memanggil dirinya. Perempuan itu dengan khidmat mendengarkan perkataan Hans.
“Semalem aku teleponan sama Lia, Rai. Sebenernya, kalau boleh jujur”. Hans berkata dengan pelan.
“Oh iya? Jam berapa?” Tanya Rai dengan penasaran, ingin tau jawaban selanjutnya Hans.
“Sekitar…. Jam dua belas malaman, lah. Terus kita cerita-cerita sampe jam tiga pagi, itu juga karena gak nyadar. Nyadarnya pas Lia udah ngantuk, jadinya tidur”. Jelas Hans pada Rai yang menunggunya berbicara.
“Ah…. Apa mungkin dia sakit karena gak tidur semalem?” Rai kembali bertanya pertanyaan lain. Dan Hans segera mungkin harus menjawabnya.
“Hm… kayaknya, sih. Tapi kalau menurut aku, dia bisa sakit kayak gini, karena lagi ada masalah sama keluarganya”. Hans menjawab pada Rai dengan jujur. Ia sadar kalau Rai harus tahu tentang Lia.
“Hah?! Emang keluarganya Lia kenapa, Hans? Kok Lia gak cerita apa-apa sama aku, ya?” Rai bertanya sekali lagi, karena tidak mengerti dengan perkataan Hans.
“Bukan gak cerita, tapi belum. Mungkin karena Lia gak punya nomer telepon kamu. Semalem juga, aku kaget tiba-tiba dia ngirim chat ‘Hai’ sama aku. Ternyata ya itu, hatinya lagi sedih dan butuh dihibur”. Hans lagi-lagi menjelaskan, dan menatap Rai dengan serius. Hans dapat melihat dengan jelas, perempuan itu yakin karena menganggukkan kepalanya.
“Kemungkinan juga, Lia gak makan karena males keluar gara-gara ada masalah. Jadinya dia mungkin kecapean karena begadang, dan juga dalam keadaan perut kosong. Jangan coba-coba bergadang ya Rai. Susah negberhentiinnya”. Hans dengan cepat langsung melanjutkan perkatannya.
“Kasian banget, Lia. Emang dia lagi ada masalah apa sih, Hans? Sampe bikin kepikiran kayak gitu? Ah… aku emang gak pernah begadang, Hans. Aku cupu”. Rai berkata pada Hans sambil tertawa dengan pelan. Tidak mereka sangka, beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka dengan kesal.
“Nanti aja kamu denger dari Lia langsung, biar gak salah kata dan salah pemahaman, Rai. Bagus kalau gitu, Rai. Soalnya kalo udah pernah begadang sekali, susah buat benerin lagi. Kayak aku nih, jadi susah banget buat tidur”. Hans menjawab perkataan Rai dengan membuat Rai tenang. Bahkan ia menceritakan keburukan yang ia lakukan sehari-hari.
“Eh, kalian liat deh. Ternyata selain ngeselin tuh cewe genit banget sama cowo”. Di selaan pembicaraan Hans dan Rai, mereka tidak menyadari kalau Luna—seorang siswi cukup populer, yang bertanya pada Rai lebih dulu tadi—membicarakan Rai pada anggota gengnya dengan kesal.
“Itu bukannya cowo yang sekelompok sama lo pas MOS ya, Lun?” Seseorang menimpali perkataan perempuan itu.
“Iya, betul. Namanya Hans, idaman semua siswi kelompok gue, termasuk gue”. Luna langsung menunjuk dirinya saat menjawab, matanya sempat melihat ke arah kelompoknya lalu kembali ke arah Hans dan Rai.
“Tapi tuh cewe dari awal MOS sampe sekarang gak pernah berenti ngintilin Hans. Awalnya ya gue biasa aja, karena emang mereka satu kelompok. Ternyata sok diem, gak mau gabung sama cewe ada alesannya, toh. Kadal juga nih, orang”. Luna berkata dengan naik darah, matanya terus menatap Rai dengan kesal.
Luna itu cukup cantik, dan populer. Dia juga terkenal sebagai siswa yang cukup kaya, karena bapaknya seorang wali kota Jakarta. Luna memiliki sifat iri, dan tidak suka ketika ada seseorang yang melebihi dirinya. Apalagi, orang yang menyebalkan itu sekarang mendekati orang yang Luna suka, tentu saja Luna tidak akan diam dan membuat perhitungan dengan orang itu.
“Mentang-mentang cantik, kali. Tapi sayang ya gatel”. Seorang teman menimpal. Lalu mereka memperhatikan keduanya yang sedang bercanda sambil tertawa.
“Tapi kalau diliat terus, tuh anak gak cantik. Malah cantikkan gue, iya gak sih?” Luna tidak mau kalah. Bahkan tidak terima saat teman sepermainannya memuji Rai seperti itu. Tanpa Luna sadari, kedua temannya saling sikut untuk menjawab perkataan Luna.
“Em… gi-gimana ya… kalian sama-sama cantik, lah”. Tentu mereka sudah tahu dengan sifat Luna. Jelas bagi mereka, Rai jauh lebih cantik dari Luna. Tapi mereka tidak mungkin untuk berkata seperti itu, itu akan menyentil tempramental pada diri Luna.
“Ya. Tapi tetep cantikkan gue”. Luna tetap berkata dengan tidak santai. Tubuhnya kesal sampai terasa begitu panas dan mendidih karena melihat kedekatan Hans dan Rai. Tanpa ragu, perempuan itu bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju Hans.
“Hai, kenalin nama gue Luna. Nama lo Hans, kan? Oh iya, kayaknya tadi lo ngegendong anak cewe yang pingsan ya ke UKS? Ngomong-ngomong lo keren banget, loh! Itu anak kelas berapa yang pingsan? Kok lo baik banget, sih?” Luna tiba-tiba menyodorkan tangannya dan hadir di dalam percakap Hans dan Rai, membuat mereka harus menghentikan pembicaraannya.
“Hah? Oh iya, nama gue, Hans. Iyaa tadi gue ngebawa temen ke UKS namanya Lia. Dia sekelas sama kita kok. Biasa aja kali, gue gak keren. Dan, itu emang udah seharusnya bantu sesama”. Hans awalnya sempat kebingungan dengan kedatangan Luna yang tiba-tiba. Tapi saat melihat wanita itu menyodorkan tangannya, ia membalas salaman tangan tersebut dan berkata pada Luna.
“Oh iya sampe lupa, kalau ini namanya Rai”. Hans melanjutkan berkata pada Luna, perempuan itu menoleh pada Rai dan menatapnya dengan emosi. Rai lalu dapat melihat wajah kesal Luna dengan begitu jelas, tapi tentu perempuan itu tidak pernah pedulj apapun.
“Oh.. namanya Lia ya. Wah, kasian banget dia. Nanti kalau udah balik ke sini, mau gue kasih makanan deh biar cepet sehat. Ngomong-ngomong kita satu kelompok loh, Hans, pas MOS kemarin”. Luna dengan antusias berkata pada Hans, perempuan itu tidak memperdulikan Rai yang ada di depan Hans dan sedang memperhatikan mereka berdua.
“Iya, makasih ya. Oh.. masa? Gue gak begitu engeh, sih. Tapi, seneng bisa sekelas lagi”. Hans menggaruk lehernya merasa canggung berbicara pada Luna. Belum sempat perempuan itu menjawab, tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang ke dalam kelas. Memakai pakaian yang begitu rapih, lengkap dengan tas hitam yang ia kaitkan diantara ketiaknya. Tangannya juga membawa beberapa lembar kertas yang para siswa dan siswi itu tidak tahu untuk apa.
Kemudian wanita itu tersenyum melihat murid-murid yang ada di depannya. Ia begitu senang melihat berbagai macam wajah dan suku menghiasi pemandangan kelas ini. Wanita itu pun memperkenalkan dirinya di depan kelas. Ia adalah Elina, wali kelas Hans, Lia, dan juga Rai.
******
Waktu istirahat telah tiba, Rai dan Hans kemudian dengan cepat bangkit dan pergi bersama. Hal itu lagi-lagi membuat Luna begitu emosi melihatnya.
“Sumpah ya! Itu cewe gak ada kan usahanya sedikit-sedikit gabung sama cewe yang ada di kelas ini. Kerjaannya ngintilin Hans mulu, kan. Bener-bener ya itu orang, gatelnya gabisa dibiarin”. Luna terus menyerocos di depan teman-temannya. Perempuan itu bahkan menekuk kedua tangannya di pinggang sangat kesal.
“Jangan mau kalah dong, Lun. Nanti pangeran Hans keburu diembat sama Rai si cewe gatel”. Seorang teman Luna malah mencoba mengompori Luna. Jelas Luna adalah sumbu pendek, dan dengan mudahnya tersulut begitu saja.
“Hello! Di kamus gue itu, gak ada yang boleh ngalahin Luna. Apalagi tentang cowo yang gue suka. Liat aja! itu orang bakal kena akibatnya, karena udah berani sombong di depan gue dan deketin Hans”. Luna berkata dengan tegas sambil melihat kepergian Hans dan Rai yang hanya menyisakan punggung mereka. Kemudian sekelompok itu pergi dari kelas dan bergegas menuju kantin untuk makan siang.
Hans dan Rai lalu sudah tiba di depan ruangan kesehatan. Di tangan mereka sudah memegang sekotak makan siang dan sebuah teh hangat untuk mereka berikan pada Lia. Hans dan Rai dengan perlahan membuka pintu ruangan, takut mengganggu para pasien yang sedang sakit, termasuk teman mereka Lia.
Hans dan Rai mencari gorden yang menunjukkn tempat Lia tidur. Rai mengintip lebih dulu, dan melihat Lia sudah terbangun dan sedang duduk di atas kasur. Rai menolen pada Hans, seperti memberi aba-aba kalau Lia sudah tersadar. Dengan perlahan, perempuan itu membuka gorden dan dengan tersenyum menyapa Lia yang sedang melamun.
“Liaaa! Kamu udah bangun? Selamat siaang! Akhirnya kamu sadar juga”. Perempuan itu menoleh mendengar sapaan Rai yang datang tiba-tiba, ia yang masih lemas hanya tersenyum tipis. Wajah pucat masih menghiasi Lia.
“Akhirnya.. sadar kapan lo, Li? Nih, gue sama Rai bawain makan siang. Makan dulu sana, lo. Biar enakan juga, abis itu nih minum teh anget”. Hans memberikan sekotak makan siang itu dan meletakkannya di dekat kaki Lia. Laki-laki itu dengan telaten menaruh teh hangat itu di meja samping kasur Lia.
“Kamu ini loh, Lia, ada apa? Kamu tuh bikin khawatir semua orang. Kalau emang kamu gak enak badan, harusnya gak usah masuk sekolah aja. Jangan dipaksain kayak gitu”. Rai melanjutkan untuk berbicara, ia kini sedang duduk di kursi yang tersedia di sana. Menunggu dan memperhatikan Lia yang masih terlihat begitu linglung dan lemas.
“Aku gak apa-apa kok, Rai. Beneran deh. Emang cuma pusing dikit aja”. Lia menjawab perkataan Rai, berusaha membuat teman perempuannya itu tidak mengkhawatirkannya.
“Bohong, Lo! Tadi dokter bilang lo kemungkinan telat makan. Kok bisa sih lo sampe gak makan gitu? Emang lo gak kasian sama perut sendiri?” Hans menimpal, tidak percaya dengan apa yang Lia katakan. Ia bahkan melihat Lia hanya masih memegangi kotak makan tersebut, dan belum memakannya.
“Terus itu kenapa diliatin doang? Rai sampe makan buru-buru loh, gak tau itu dia kenyang apa engga, biar lo bisa makan. Buruan di makan”. Hans berkata dengan tegas pada Lia, membuat Lia memautkan bibirnya dengan kesal. Rai yang melihat itu hanya terkekeh dan memukul Hans dengan pelan.
“Sini, Lia. Kamu mau aku suapin?” Tanya Rai dengan lembut pada temannya itu. Lia dengan cepat mengangguk dan meledek Hans karena Rai sangat baik padanya.
“Huu. Manja, deh”. Ledek Hans pada Lia yang malah dibalas ledekan juga oleh perempuan itu.
“Hans…” Rai memanggil nama laki-laki itu, matanya menyuruh Hans untuk diam dan berhenti menggoda Lia.
“Li, kamu kalo ada apa-apa cerita aja ya sama aku. Siapa tau, aku bisa bantu kamu”. Ucap Rai pada Lia sesaat setelah temannya itu menelan suapan pertamanya.
“Kamu pasti dikasih tau Hans, ya?” Lia bertanya sambil menoleh pada Hans yang mengangkat kedua bahunya.
“Iya. Tapi dia belum cerita apapun, cuma bilang kamu kayaknya lagi ada masalah. Aku maunya denger langsung dari mulut kamu. Gak usah mikir malu atau gak enak, justru aku dan Hans di sini ada buat bantu kamu, dan saling bantu”. Rai terus menyuapi Lia agar ia mau menghabiskan makanannya. Lia hana mengangguk mendengar perkataan Rai, dengan tersenyum dan rasa hati yang begitu lega, Lia kembali bercerita hal yang sama kali ini untuk Rai.