“Hei, makasih ya udah diizinin nebeng sama kalian”. Ucap Joshua pada Rai dan Lia, saat mereka sudah sampai di lobby depan kelas Joshua. Sesekali, Lia melirik ke dalam ruangan kelas itu.
“Wow! Joshua dateng sama siapa nih? Kenalin dong!” Seorang laki-laki berteriak dari dalam kelas, melihat kedatangan Joshua dan kedua perempuan itu.
“Duh, Josh milih yang mana tuh?” Ledek salah satu dari mereka, ikut menambahkan dan meramaikan suasana. Perkataan kedua orang itu membuat geger hampir satu kelas. Tidak hanya itu para siswa dan siswi di kelas Joshua langsung melihat ke araha Rai dan Lia, mereka terpesona akan kedua perempuan itu.
“Ah. Sama-sama ya, kak. Kita mau langsung ke kelas ya kak? Udah mau bel juga”. Rai merasa tidak enak berada di lingkungan ini. Mendengar perkataan kaka kelas itu membuat Rai menggaruk lehernyan karena sudah merasa canggung dan malu.
“Iya, kak. Lagian juga udah mau masuk juga. Sama-sama, kak”. Lia ikut berkata pada Joshua. Dengan cepat Lia menyikut Rai yang masih terdiam sehabis berbicara. Perempuan itu tahu jelas Rai tidak suka dengan suasana saat ini.
“Oh, iya memang harus cepat ke kelas. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Rai dan Lia. Hati-hati di jalan, karena pasti lantainya licin”. Joshua dengan senyum merekah berkata pada keduanya. Dan membiarkan Rai dan Lia pergi meninggalkannya sendirian, yang hanya bisa menatap kepergian mereka dari depan kelasnya.
“Siapa tuh bro? Boleh juga”. Tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba keluar dari kelas. Ia menepuk pundak Joshua sambil ikut memandang punggung belakang Rai dan Lia.
“Iya, anak baru. Oke kan? Apalagi yang sebelah kiri”. Joshua menjawab perkataan temannya, dan menunjukkan matanya ke arah Rai pada temannya.
“Inceran nih ceritanya? Iya cantik banget yang kiri. Kalo yang kanan, manis juga”. Ucap teman Joshua sekali lagi. Laki-laki itu berkata sambil menganggukkan kepalanya.
“Iya, inceran gue. Kayaknya sih, belum ada yang punya”. Joshua membalas, mereka berdua berjalan masuk ke dalam kelas sambil berbincang. Joshua yang baru saja tiba, langsung melonggarkan tali pengikat tas untuk membuka dan meletakkan tas itu di meja.
“Emang lo yakin dia mau sama lo?” Ledek laki-laki tadi, sambil memandang gerak Joshua yang saat ini mendudukan dirinya di meja sekolahnya. Saat ini, mereka sedang berkumpul bersama kelompok main yang beranggotakan kurang lebih lima orang.
“Lo lupa gue siapa? Siapa sih cewe yang belum gue taklukin di sekolah ini? Bahkan gue bisa deketin keduanya!” Joshua berkata dengan percaya diri. Senyum licik dan sinis menyeringai di wajahnya.
“Woo… kita buktiin aja deh, bro!” Sahut teman Joshua yang lain mendengar perkataan Joshua yang begitu percaya diri pada kemampuannya. Mereka lalu berbincang hal lain, sambil menunggu bel masuk dan kedatangan guru mata pelajaran hari ini.
*****
Rai menutup payungnya yang masih basah. Beberapa tetes air mengalir dari ujung payung itu. Sesekali Rai menggerakkan payung tersebut untuk membuat percikan air agar keluar dari payungnya.
Sedangkan Lia sudah masuk lebih dulu ke dalam. Perempuan itu dapat melihat dengan jelas semua mata tertuju pada dirinya. Ya, tentu saja ia adalah tokoh utama yang sedang ramai dibicaran kemarin oleh seluruh siswa dan kini hadir di antara teman-temannya.
Lia dengan percaya diri berdiri di depan kelas, menatap ke seluruh ruangan. Siswa dan siswi yang sudah lebih dulu hadir, kebingungan melihat tingkah Lia. Mereka membiarkan itu berdiri menghadap mereka, dengan rambut keriting kecil tergerai dan kaos kaki yang ia pakai sampai lutut kaki.
“Hai, temen-temen. Kenalin nama gue Lia. Em… mungkin kalian udah ada yang tau nama gue, dan beberapa mungkin ada yang belum. Jadi senang bertemu kalian! Gue harap kita semua bisa jadi teman baik di kelas ini. Makasih”. Lia tanpa terbata dan dengan jelas berkata pada semua orang di sana. Rai yang sudah selesai merapihkan dirinya, tersenyum sambil melihat Lia yang begitu bersemangat.
“Hei. Udah dirapihin payungnya?” Tanya Lia pada Rai saat perempuan itu melihat kedatangan Rai.
“Udah, tapi masih basah sedikif. Cuma ya gak apa-apa”. Ucap Rai pada Lia lalu bergegas duduk di sampingnya.
“Oh gitu. Eh, Hans belum sampe?” Tanya Lia kembali pada Rai.
“Mungkin bentar lagi. Tadi kan dia udah ada di parkiran. Palingan lagi jalan ke sini. Kenapa emangnya?” Kini giliran Rai yang bertanya pada temannya, Lia.
“Gak apa-apa, Rai. Kasian aja kalau itu anak sampe telat”. Lia menjawab perkataan Rai dengan santai, sambil mengambil ponsel di dalam tasnya.
“Oh, iya. Kemarin aku minta sesuatu saran sama Hans”. Lia berkata pada Rai. Matanya terfokuskan pada layar ponsel yang sedang ia genggam.
“Saran apa?” Rai menatap perempuan itu. Dan menunggu perempuan itu berbicara lalu matanya menatap sekitarnya.
Lia masih belum menjawab, kedua jari tangannya masih sibuk memijat layar ponsel itu. Rai hanya diam, dan dapat ia rasakan beberapa mata sedang menatap dirinya dengan sinis. Tetapi, Rai berusaha untuk tidak menoleh dan menghiraukannya.
“Ini, loh”. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, Lia mulai membuka suaranya. Perempuan itu menunjukkan dua gambar baju berwarna berbda pada Rai.
“Menurut kamu, aku lebih cocok yang mana? Kalo kata Hans, sih, dia bilang aku lebih cocok pake style nomer satu”. Lia juga dengan cepat mengetuk layar ponselnya sambil menunjukkan gambar yang dimaksud.
Rai memandangi gambar itu dengan serius. Pikirannya ia coba untuk membayangkan Lia untuk memakai kedua baju tersebut. Lia itu sesekali melihat wajah Rai yang begitu serius, sembari menunggu Rai untuk menjawab pertanyaannya.
“Kayaknya kamu lebih bagus style yang pertama”. Rai akhirnya berkata, tepat saat Lia mematikan ponselnya.
“Oh, ya?” Lia bertanya dengan penasaran.
“Iya. Tapi kalau kamu penasaran buat coba, kamu masih cocok pake style nomer dua”. Jawab Rai pada Lia untuk membuatnya tenang.
“Emangnya kamu ada acara apa?” Rai melanjutkan, bertanya pada perempuan di sampingnya.
“Buat reuni sekolah, Rai. Aku mau tampil beda. Soalnya….” Lia memberhentikan ucapannya sejenak. Dan Rai menoleh pada perempuan itu menunggunya melanjutkan.
“Mantanku bakal datang ke acara itu, Rai”. Perempuan itu berkata sambil tersenyum malu. Tepat setelah Lia berkata, Hans datang ke kelas sambil membawa jas hujan yang sudah ia lipat di tangannya.
“Rambut kamu basah”. Ucap Rai pada Hans seraya melihat kedatangannya. Hans yang mendengar itu langsung mengusap rambutnya dengan cepat, pemandangan itu terlihat begitu mempesona.
Rai berusaha mencari sapu tangan miliknya di dalam tas, ia ingin memberikan itu pada Hans untuk ia gunakan mengeringkan rambutnya. Tangan Rai dengan cekatan sudah menemuinya, dan langsung mengambil kain kecil tersebut.
“Nih”.
“Nih”.
Tanpa sadar, Lia dan Rai menyodorkan sebuah potongan kain pada Hans secara bersamaan. Mereka langsung memandang satu sama lain, saat mereka tahu mereka melakukan hal yang sama. Hans yang sedang terduduk itu langsung terdiam menatap mereka berdua. Mereka saling memandang satu sama lain beberapa detik.
“Ah, baik sekali kalian rupanya”. Hans menggaruk lehernya, tapi belum mengambil keduanya.
“Oh, pake punya Lia aja gak apa-apa”. Rai yang menyadari itu langsung mengurungkan niatnya. Tangannya dengan cepat ia turunkan dan menyimpan sapu tangan itu lagi.
Lia dengan cepat memberikan sapu tangan itu pada Hans, dan diterima dengan canggung oleh laki-laki itu. Hans mencuri tatapan dalam diam pada Rai. Laki-laki itu kini mengusap rambutnya.
“Rai. Kayaknya kurang nih sapu tangannnya. Jadi gak begitu kering kalau cuma pake satu”. Hans tidak lama berkata pada perempuan di depan kanannya.
“Ah, serius?” Tanya Rai langsung menoleh pada Hans, perempuan itu langsung memberikan sapu tangan miliknya sekali lagi.
“Hm. Makasih”. Hans mengangguk dan dengan senang hati menerima sapu tangan milik Rai.
“Tapi menurut kamu, aku bener bener cocok pake style nomer dua, Rai?” Tanya Lia kembali mengingat percakapan mereka sebelumnya. Hans yang sedang mengeringkan rambutnya itu, hanya diam mendengarkan percakapan keduanya.
“Iya. Cocok kok”. Rai mengangguk dengan pasti, meyakinkan Lia.
“Aku pengen tampil beda aja di depan mantanku. Pengen buat dia nyesel gitu”. Lia tertawa renyah, dibalas senyum oleh Rai. Tidak lama, perempuan itu terdiam dengan cepat.
“Em… Li”. Panggil Rai pada Lia yang saat ini sedang memainkan ponselnya.
“Iya, Rai?” Perempuan itu menyautinya, dan memandang Rai yang duduk di sampingnya.
“Rasanya jatuh cinta itu kayak gimana, sih?” Lia langsung mengalihkan ponselnya begitu mendengar perkataan Rai. Begitu juga dengan Hans yang langsung terdiam setelah mendengar perkataan Rai yang baru saja keluar dari mulutnya. Sedangkan Rai, perempuan itu menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jarinya.
“Ah… kamu belum pernah jatuh cinta emangnya?” Lia berusaha bertanya, walaupun sebenarnya perempuan itu ragu untuk berucap. Hanya saja, Lia harus membalas perkataan temannya itu.
“Aku baru jatuh cinta sama mama ku dan ayah aku aja, Lia”. Perempuan itu berkata dengan santai, kali ini wajahnya ia tampakkan dan menatap Lia dengan lembut. Tidak lama ia menolehkan pandangannya pada Hans. Laki-laki itu dengan berpura-pura tidak mendengar, langsung mengalihkan pandangannya.
Teng…teng…teng…
Belum sempat menjawab perkataan Rai, tidak lama bel berbunyi begitu saja. Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang membawa tas dengan beberapa buku ditangannya.
“Selamat pagi, anak-anak”. Wanita itu menyapa dengan lembut namun sangat bersemangat. Lia dan Rai yang mendengar itu, langsung membalikkan tubuhnya menghadap depan.
Hans dengan cepat menyudahi kegiatannya, dan menyimpan sapu tangan milik Lia juga Rai di dalam tasnya. Laki-laki itu sesekali mencuri pandang pada Rai, dan pertanyaan Rai terngiang-ngiang di otaknya.
“Pagi, bu!” Sahut semua murid di dalam kelas. Nama guru itu adalah Isabell. Beliau masih terlihat muda dengan kacamata hitam yang selalu dipakai saat mengajar. Beliau bercerita sudah mengalami miopi sejak dirinya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Hal itu dapat terlihat dengan tebalnya lensa yang ia kenakan.
Semua murid menyukai Ibu Isabell. Beliau tentu terlihat sangat bugar dan cantik di usianya yang sudah menempuh hampir kepala empat. Wanita itu adalah wali kelas mereka sekaligus guru fisika di sekolah.
“Hari ini, kita mengenal mekanika Kuantum ya. Silahkan buka buku masing-masing untuk belajar”. Isabell dengan cepat mengatakan demikian.
“Baik, bu!” Semua murid mengambil buku mereka. Mereka meletakkannya di meja masing-masing. Ada yang telihat begitu bersemangat mempelajari bab baru, ada yang terlihat begitu malas untuk memulai hari. Bahkan, beberapa siswa tertangkap sedang menguap saat mereka baru membuka buku halaman pertama. Itu adalah kondisi kelas Rai pagi ini.