Bel berbunyi dengan kencang, waktu istirahat telah datang. Rai dengan cepat mengeluarkan kotak makan yang ia bawa hari ini. Pagi ini, Natalie masak begitu banyak. Jadi Rai begitu beruntung karena ia bisa membawa masakan Natalie ke sekolah.
“Bawa bekal?” Tanya Hans yang sudah berdiri di sampingnya, laki-laki itu awalnya berniat untuk mengajak Rai makan siang bersama. Saat melihat Rai sudah ingin menyantap makanannya, Hans mengurungkan niatnya.
“Iya. Kamu mau?” Rai mengusap tangannya dengan alkohol pembersih, ia juga tidak lupa mengelapnya dengan tissue.
“Em, enggak deh. Aku mau makan mie di kantin. Lia kemana? Kamu mau nitip sesuatu?” Tanya Hans sekali lagi. Matanya mencari keberadaan Lia, karena baru saja bel itu berbunyi perempuan itu sudah tidak ada di samping Rai.
“Lia? Kayaknya tadi dia mau ke toilet deh. Lia juga katanya bawa bekel hari ini, jadi mungkin gak ke kantin”. Jawab Rai menjelaskan keberadaan temannya itu.
“Em.. aku nitip es teh boleh?” Rai bertanya pada Hans yang belum beranjak pergi dari kelas.
“Boleh. Buat kamu apa yang enggak”. Laki-laki itu tersenyum. Kemudian ia menepuk pundak Rai dan dengan segera berjalan keluar kelas, Rai hanya tertawa dan memandang punggung Hans dari jauh.
Rai memisahkan beberapa potong daging untuk ia bagi kepada Lia. Perempuan itu belum juga tiba. Padahal menurut Rai, Lia sudah begitu lama pergi ke toilet. Tapi temannya itu juga belum kembali.
“Heh, anak so cantik!” Tiba-tiba seseorang datang menghadap ke arah Rai. Perempuan itu ternyata ditemani oleh beberapa kawan dari gerombolannya. Rai menatap mereka dengan santai. Satu hal yang masih Rai ingat adalah, perempuan itu bernama Luna.
“Gue minta lo gak usah gatel-gatel sama Hans!” Luna dengan wajah sinis berkata pada Rai. Rai berusaha untuk tidak menghiraukannya, ia tetap saja asyik mengunyah makanan lezat di hadapannya.
“Heh! Lo denger gak gue ngomong apa?!” Luna mengebrak meja Rai, dan membuat makanan Rai sedikit berantakan. Rai mengangkat wajahnya, langsung merubah tampangnya seratus delapan puluh derajat.
“Gue baru tau kalo di sekolah normal, ada orang yang begitu kurang kerjaan!” Entah ia menyadari atau tidak, tapi sepertinya Rai kelepasan saat berbicara dengan kesal.
“Maksud lo apa gue kurang kerjaan?! Hah?!” Luna membalas lagi perkataan Rai. Rasa emosinya kini sudah memuncak. Sepertinya, rasa bencinya pada Rai sudah di ubun-ubun.
“Ya iya. Lo itu kurang kerjaan! Ngapain juga lo gangguin gue makan?! Oh, apa jangan-jangan lo gak punya uang buat beli makan sampe gak bisa makan siang?!” Rai dengan mata yang hampir keluar menyauti Luna. Ia juga sedikit mengebrak meja, sambil meletakkan sendoknya. Rasa nafsunya seperti sudah lenyap begitu saja.
“Jaga ya mulut lo! Lo gak tau gue siapa?! Kalo lo tau, pasti lo bakal nyesel ngomong kayak gitu sama gue!” Luna menaik kerah Rai, dapat Rai dengan jelas perempuan itu sangat kesal padanya.
“Terus lo mau apa? Kalo gue tau lo siapa? Hah?! Gue gak pernah takut sama siapapun! Paham lo?!” Rai menghempas tangan Luna dengan keras. Teman-teman Luna di sekitar mereka hanya memperhatikan.
“Rai, aku beli bakpao…” Tiba-tiba suara itu datang dari arah pintu kelas. Lia yang dengan semangat datang, langsung berhenti sejenak saat melihat Luna dan gerombolannya berkumpul di meja Rai. Tidak lama, perempuan itu berjalan kembali menuju Rai.
“Ngapain kalian?” Tanya Lia dengan kebingungan. Perempuan itu langsung menyingkirkan tubuh siswi yang menghalangi pandangannya untuk melihat Rai.
“Kita mau kenalan sama temen lo, ini. Emang gak boleh?” Luna berkata dengan santai, berbeda sekali saat ia berbicara dengan Rai.
“Ya, boleh aja. Tapi kok suasananya agak beda, ya?” Lia meletakkan kantung berisi bakpao ayam di meja. Matanya menatap sekitar dan Luna yang berada di depannya.
“Jelas beda. Gue gak ngerti kenapa temen lo yang satu ini sombongnya bukan main”. Luna berkata pada Lia, sedangkan matanya masih menatap Rai dengan sinis.
“Iya. Padahal kita sama Luna mau kenalan, tapi temen lo ini gak friendly abis!” Seorang siswi yang sedang berdiri itu juga ikut mengomentari Rai. Ia melipat kedua tangannya, berkata dengan angkuh.
“Rai? Emangnya kamu gak mau kenalan sama mereka?” Lia berbisik pada Rai, walaupun masih dapat terdengar oleh Luna dan kawan-kawannya.
“Gak gitu, Li. Aku…” Rai menarik nafasnya dalam. Berusaha menjelaskan pada Lia alasannya, tetapi perkataannya dipotong oleh Luna.
“Mungkin kita gak cantik, jadi Rai gak mau temenan sama kita”. Luna membual, ia juga memelaskan wajahnya berkata pada Lia. Lia yang baik hati itu merasa iba padanya.
“Ah.. gak gitu, Luna. Rai mungkin cuma malu aja”. Lia menjelaskan dan berusaha menenangkan Luna. Sedangkan Rai merasa kesal karena luna mencoba mengadu dirinya dengan Lia.
“Li, kamu tuh gak ngerti. Mereka duluan yang mulai”. Rai dengan sabar berusaha kembali lagi menjelaskan pada Lia. Lia menoleh padanya kebingungan.
“Udah, lah. Kita mau pergi makan dulu. Nanti dikira Rai, kita mau minta makannya dia lagi. Padahal kita kan mau kenalan”. Luna memelas kembali, mencoba mengambil hati Lia.
“Kita pergi dulu ya, Lia. Dan juga Rai”. Luna berkata pada mereka berdua, dan memberi penekanan saat mengatakan nama Rai. Rai yang sudah mengetahui sifat Luna hanya bisa memutar bola matanya.
Luna dan kawan-kawannya pergi begitu saja. Meninggalkan Rai yang kesal dan Lia yang kebingungan dengan tingkah mereka semua.
“Rai, ada apa sih? Kok aneh banget mereka”. Lia bertanya pada Rai dengan kerut yang terpampang di dahinya.
“Gak kenapa-kenapa kok, Li. Udah mending kamu makan aja. Soalnya bentar lagi mau masuk. Aku udah pisahin daging teriyakinya nih buat kamu”. Rai yang sudah begitu kesal, tidak ingin membahas persoalan Luna dengan dirinya. Perempuan itu malah menyodorkan semangkuk daging pada Lia yang sudah membuka kotak makannya.
“Wah, pasti enak banget, ini. Makasih ya Rai. Oh, iya. Aku juga beli bakpao dulu tadi, mangkanya aku lama”. Lia mengalihkan pembicaraan. Matanya berbinar saat melihat lauk yang Rai berikan padanya. Hari ini, Lia membawa lauk sayur bayam serta tempe goreng di dalam kotak makannya.
“Kok kamu tau aku suka bakpao ayam?” Tanya Rai dengan tersenyum saat Lia memberikan kue bulat berwarna putih itu padanya.
“Nebak aja. Soalnya aku juga suka sama bakpao ayam”. Lia berkata sambil memotong daging di depannya. Ia juga memasukkan nasi dengan lauk yang sudah ia campurkan di sendoknya.
“Dulu mendiang mama aku, suka buatin aku bakpao ayam. Eumm.. ini enak banget, Rai. Masakan mamah kamu juara!” Lia berkata lagi setelah mengunyah dan menelan suapan pertamanya. Senyum senang merekah di wajanya, ia terlihat begitu menikamati makan siangnya itu.
“Uhuk..uhukk…” Rai tiba-tiba tersendak. Saat ia tahu bahwa Lia sudah tidak memiliki ibu.
“Maaf ya, Li. Aku gak tau”. Ucap Rai pada Lia sambil menghentikan suapannya.
“Ah, santai aja, Rai. Wajar kalau kamu gak tau. Soalnya emang aku belum pernah cerita”. Lia berkata dengan santai. Seperti sudah kebal akan rasa sedihnya. Malahan, perempuan itu terus saja mengunyah makanannya.
“Begitu, ya. Terus, ayah kamu gimana? Di rumah, yang masak kamu? Apa ayah kamu?” Tanya Rai dengan penasaran, ingin mengetahui Lia lebih lanjut.
“Bapak aku gak bisa masak, Rai”. Perempuan itu tertawa, kemudian meneguk air dari botol minumnya.
“Iya. Kadang yang masak aku, kadang ibu tiri aku”. Lia melanjukan. Ia menyadari makanannya sudah hampir habis ia makan.
“Ah.. syukurlah kalau kamu udah punya mama baru”. Rai merasa lega, saat mendengar perkataan Lia saat itu. Ia juga melanjutkan suapannya untuk menghabiskan makan siang.
“Tapi aku gak bersyukur, Rai. Aku jahat ya?” Lia berkata pada Rai. Teman Rai itu sudah menyelesaikan makan siangnya. Kini ia mencoba memasukkan bakpao ke dalam mulutnya. Lia makan begitu banyak.
“Em.. gak bersyukur kenapa emang, Li? Kalau aku boleh tau”. Rai berkata lagi pada Lia, ingin mengetahui alasan perempuan itu. Kemudian, Lia menceritakan pada Rai tentang ibu tirinya, bahkan begitu detail. Dan Rai menganggukan kepalanya, mengerti mengapa Lia begitu kesal pada ibu angkatnya itu.
“Iya, baru keliatan buruk dan niat buruknya sekarang lah, Rai. Apalagi kemarin, aku denger dengan jelas dia nelepon temennya sambil bilang kayak gini. “Laki-laki tua itu mah, sekarang jadi kere. Sebel aku!” Begitu katanya. Gimana gak kesel loh aku sama dia”. Lia berkata dengan kesal, dapat terlihat dari mata dan terdengar dari cara bicaranya.
“Gimana ya caranya ngasih tau bapakku, Rai? Soalnya kayaknya bapakku sayang banget sama dia, Rai”. Lia memelas, menundukkan kepalanya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.
“Em… kamu harus buat bapak kamu tau semua tentang dia, Li.” Rai dengan cepat membalas, memberi solusi pada Lia di sebelahnya.
“Tapi gimana caranya, Rai?” Tanya Lia lagi, kali ini wajahnya berubah sangat serius. Rai dengan cepat mendekatkan tubuhnya pada Lia. Ia mengarahkan bibirnya mendekati telinga Lia. Dan membisikkan solusi yang sempat terpikirkan di dalam otaknya.
Lia mendengarkan dengan serius, dan memasukkan perkataan itu ke dalam pikirannya dengan hati-hati. Lia menganggukkan kepalanya, dan senyum sinis tersimpul dari wajahnya. Tentu perempuan itu setuju dengan perkataan Rai.
“Hayo bisik-bisik apa, kalian?” Suara itu mengalihkan Rai dan Lia. Kedua perempuan itu langsung menoleh ke sumber suara yang tiba-tiba terdengar begitu dekat. Saat mereka menoleh, dapat dengan jelas mereka lihat sosok Hans dengan sebuah cup es teh di tangannya.
“Nih, buat kamu, Rai”. Hans segera memberikan minuman dingin yang hampir mencair itu, setelah ia berkata pada mereka berdua.
“Ih, kepo deh lo! Kok belinya cuma satu?” Lia meledek, lalu dengan cepat wajahnya berubah cemberut saat Hans hanya membelikan sebuah gelas pada Rai.
“Tadi lo gak ada. Ini Rai emang nitip tau. Gue mana tau lo mau es teh juga”. Hans dengan cepat membela diri.
“Ah, alasan. Emang lo tuh baiknya sama Rai doang, kan? Padahal lo punya dua temen di sini”. Lia makin mempautkan bibirnya karena kesal dengan Hans.
“Haha, yaudah, Li. Berdua aja ya sama aku. Kalo Hans beliin kamu lagi, nanti dia telat masuk. Kan kasian”. Rai mengambil gelas itu. Dan meletakkannya di antara dirinya dan Lia.
“Gak, Rai. Gak usah. Aku bercanda, kok. Cuma ngomong ke Hans aja”. Perempuan itu membalas Rai dengan sungkan, tapi matanya masih menatap Hans dengan sinis.
“Hu! Beli aja sendiri”. Ledek Hans sekali lagi pada perempuan itu. Ia dengan cepat pergi ke bangkunya, dan duduk di sana.
“Awas ya lo!” Sahut Lia pada Hans, Rai hanya menggeleng sambil tertawa.
Tepat sebelum bel berbunyi. Seorang siswi dengan santai berjalan ke arah mereka bertiga yang kebetulan duduk di posisi paling belakang. Perempuan itu dengan sangat percaya diri melangkah ke arah Hans yang memang duduk sendirian. Ia tanpa permisi langsung menduduki kursi kosong di sebelah Hans.
“Hai! Gue mau kenalan sama lo. Kenalin, nama gue Luna. Nama lo Hans kan?” Perempuan itu datang bersama segerombolan temannya. Namun hanya dirinya yang menghampiri Hans. Hans dengan dahi yang berkerut mendiamkan perempuan itu sejenak. Benar-benar aneh, batin Hans dalam hati.