“Ayo masuk dulu”. Ucap Natalie sekali lagi dengan lembut. Hal itu membuat Hans sangat beruntung karena ia tidak perlu berbohong untuk menjawab pertanyaan yang sebelumnya Natalie berikan. Hans mengangguk pelan, mengikuti Natalie dan Rai yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.
“Sebelumnya kamu pernah ke sini ya?” Tanya Natalie sekali lagi, sambil berjalan di depan Hans.
“Eh? Maksudnya tante?” Hans malah membalikkan pertanyaan kepada Natalie. Laki-laki itu kebingungan. Hans langsung berpikir, apakah Natalie ingat pada Hans? Padahal, yang lebih kenal dengan Hans itu adalah ayah Rai yang belum pernah ia temui lagi.
“Iya. Kamu pernah ke sini, kan?” Tanya Natalie sekali lagi. Wanita itu duduk lebih dulu di sofa. Hans juga mengikutinya. Sedangkan Rai memilih ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan.
“Ah.. sepertinya…” Hans berkata sambil terbata-bata. Bahkan, laki-laki itu belum sempat berkata dengan jelas pada Natalie, tapi Rai sudah datang dang memotong perkataannya.
“Iya, Ma. Hans pernah kesini waktu hujan lebat itu”. Rai akhirnya membuka suara. Di tangannya terdapat nampan dengan cemilan dan minuman di atasnya. Tidak lama, perempuan itu dengan hati-hati meletakkannya ke meja.
“Oh begitu ya? Setiap hari nak Hans naik sepeda ke Sekolah? Emang rumahnya di mana?” Natalie terus bertanya pada Hans seperti sedang mengintogasi laki-laki muda itu.
“Iya, tante. Kemarin pas ujan. Aku lagi nitip makan juga sama tante. Waktu itu gak ada niatan mau ikutan nulis tante. Eh tapi Jadinya malah main doang. Udah gitu kemarin pas banget ujan juga”. Laki-laki itu menjelaskan dengan cepat tidak mau Natalie begitu khawatir pada kedatangannys.
“Oh, rumah kamu dan rumah temen kamu di mana?” Natalie masih bertanya, wanita itu sangat penasaran.
“Rumah temen aku di blok sebelah tante”. Ucap Hans berbohong pada Natalie. Laki-lani itu tidak tahu harus bagaimana lagi. Tentu saja ia harus berbohong karena memang dirinya tidak mempunyai teman di kawasan elit ini, selain Rai.
“Kalo rumahku di Kemayoran tante”. Hans kembali berkata pada Natalie. Wanita itu mengangguk dengan cepat mendengar perkataannya.
“Terus, rumah kamu deket gak sama Lia?” Kali ini giliran Rai yang bertanya.
“Kalo itu… aku belum tau, Rai. Soalnya aku belum pernah nganter atau main ke rumah Lia. Apalagi, Lia kan selalu naik bis. Sedangkan aku naik sepeda”. Hans menjelaskan pada temannya itu.
“Oh begitu, nak. Kamu gak cape dari kemayoran tiap hari naik sepeda? Oh iya, di minum sama dicicipi dulu, Hans”. Natalie berkata pada Hans, kemudian wanita itu menyuruhnya untuk mencicipi hidangan yang telah tersedia di meja.
“Udah biasa sih tante. Emang seneng aja naik sepeda. Hehe, iya tante aku minum ya jusnya”. Hans menjawab perkataan Natalie. Kemudian tangannya yang kekar langsung memegang gelas berisi jus jambu merah yang terletak di depannya. Kemudian, laki-laki itu juga mencicipi kukis coklat yang ada di salam toples.
“Wah, berarti nak Hans orang yang sehat ya?” Natalie memuji Hans dengan berkata seperti itu. Hans dengan cepat tertawa pelan, dan membuat Natalie menoleh padanya.
“Ah, semoga aja sehat seperti keliatannya”. Hans berkata dengan tersenyum.
“Tapi emang Hans ini kayaknya kuat dan sehat banget tau, ma. Buktinya kemarin dia ngegendong Lia yang pingsan sendirian. Padahal kalo yang pernah Rai liat, beberapa siswa lain tuh pasti nganggkat temennya bareng-bareng sama yang lain”. Rai menyambar, ikut berbicara dengan mereka berdua.
“Keren dong, Hans?” Natalie kembali memuji. Wanita itu kemudian merasa lengket pada tubuhnya. Membuatnya berinisiatif untuk dirinya sendiri.
“Duh, kayaknya tante mau mandi dulu, nih. Bau banget takut kecium”. Ledek Natalie pada kedua anak muda di depannya. Padahal, perempuan itu masih tetap cantik dan wangi seperti baru saja selesai berdandan.
“Iya, mama bau banget, nih”. Rai yang tahu mamanya ingin dipuji malah meledeknya.
“Loh, kamu juga bau loh, Rai. Malu loh sama Hans”. Natalie dengan cepat membalas candaan anak semata wayangnya. Ketiga tertawa begitu saja.
“Yaudah, tante mandi dulu ya. Kalian ngobrol dulu aja. Biar nanti tante masak juga buat kam makan Hans, oke?” Natalie berkata pada keduanya, kemudian bergegas bangkit dan ingin pergi begitu saja.
“Aduh, gak usah repot-repot, tante. Hans kesini emang buat mampir bentar aja tante. Paling bentar lagi Hans pulang”. Laki-laki itu berkata pada Natalie yang sudah berdiri. Matanya menatap jam ke dinding untuk melihat pukul berapa saat ini.
“Oh tidak boleh. Nak Hans harus makan dulu ya, sayang. Nanti kamu pasti ketagihan karena makan masakan tante”. Natalie masih berbicara pada Hans, dirinya terhenti sejenak.
“Udah pernah makan masakan tante, kok. Emang iya tante bikin ketagihan”. Hans tersenyum pada Natalie, dan tentu saja Natalie tahu dirinya pintar dalam memasak. Dan wanita itu tersenyum saat mendengar jawaban Hans.
“Pokoknya kamu baru boleh pulang, kalo udah makan lagi masakan tante. Yaudah tante tinggal dulu ya”. Natalie berkata pada Hans. Laki-laki itu mengangguk dan melihat Natalie yang terus berjalan menuju kamar mandi.
“Mama aku bawel ya Hans?” Tanya Rai pada Hans sambil terkekeh.
“Iya. Beda banget sama kamu. Kamu mah pendiem banget”. Hans menjawab perkataan Rai. Perempuan itu duduk di depannya, masih menggunakan seragam sekolah.
“Maaf ya, aku main tiba-tiba dan gak bilang-bilang dulu sama kamu”. Hans kemudian dengan cepat melanjutkan perkatannya. Laki-laki itu dengan tidak enak, menggaruk lehernya.
“Gak apa-apa, Hans. Santai aja. Aku malah senang kalo ada yang main ke rumahku”. Rai berkata dengan senyum. Tangannya ia gunakan untuk mengambil cemilan di meja. Rai ikut menikmati makanannya.
“Kalo kamu mau bersih-bersih dulu gak apa-apa kok Rai”. Hans memberikan solusi pada Rai. Sejujurnya, Hans ingin segera mengganti pakaian. Tapi, laki-laki itu tidak mungkin melakukan itu di tempat Rai.
Hans paham betul bagaimana rasanya tetap berkeringat saat sudah di rumah karena masih memakai baju seragam. Maka Hans dengan inisiatif mempersilahkan Rai jika memang perempuan itu sudah kegerahan.
“Emangnya kamu gak apa-apa ditinggal sendiri?” Tanya Rai pada Hans, di dalam mulutnya masih mengunyah kukis coklat. Setelahnya, perempuan itu meneguk jus di depannya.
“Gak apa-apa, Rai. Santai aja. Kasihan kamu masih pake seragam, pasti gerah”. Hans berkata pada Rai. Meyakinkan dirinya baik-baik saja.
“Kamu juga masih pake seragam”. Perempuan itu terkekeh, dan memandang Hans.
“Ya kan aku gak ada baju ganti. Lagian aku kan lagi di rumah temen, Rai. Masa loh aku mandi?” Ucap Hans sekali lagi.
“Iya juga, ya. Yaudah aku tinggal dulu ya Hans sebentar buat pergi mandi”. Rai berkata pada Hans dengan cepat, dan laki-laki itu langsung menganggukkan kepalanya setuju. Dirinya menatap kepergian perempuan itu, dari belakang tubuh Rai.
Hans membuka ponselnya, tentu saja tidak lain untuk mengabari sang ibu yang takut khawatir karena Hans belum juga kembali. Sejujurnya, Hans sendiri tidak mengerti kenapa hari ini tiba-tiba ia pergi ke rumah Rai. Padahal, laki-laki itu tidak pernah memiliki niat sebelumnya. Tapi sepeda kesayangannya membuatnya datang kemari.
“Bu, Hans telat pulang ya. Lagi di rumah temen dulu. Maaf baru ngabarin, soalnya tadi Hans lagi di jalan”.
Hans dengan cepat mengirim pesan itu. Berharap dengan segera ia dapat menerima balasan dari ibunya. Laki-laki itu menatap sekita rumah Rai yang begitu besar. Kemudian pikiran Hans terbentuk tentang ayah Rai yang masih belum ia temui. Hans benar-benar penasaran dengan kabar pria itu. Dan Hans berharap ayah Rai masih mengingatnya.
Ting..
Sebuah pesan ia terima. Hans dengan cepat membuka ponselnya dan membaca dengan segera pesan dari ibunya.
“Iya, Nak. Hati-hati ya, sayang. Jangan lupa minta makan kalau lagi laper. Hehehehe”.
Hans langsung tertawa membaca pesan dari sang ibu. Ia benar-benar beruntung dirawat oleh ibunya walaupun ia hanya ibu panti yang menemukan dirinya dan Tara.
“Maaf ya nunggu lama”. Suara Natalie tiba-tiba datang mengejutkan Hans. Wanita itu terlihat makin mempesona saat menggunakan baju santai. Sungguh Natalie sangat awet muda untuk seukuran umurnya.
“Rai mana?” Tanya Natalie melanjutkan. Matanya mencari keberadan sang anak perempuannya.
“Rai lagi bersih-bersih juga, tante”. Hans menjawab perkataannya.
“Loh anak itu, harusnya nanti aja bersih-bersihnya. Kasian kan kamu sendirian”. Natalie berkata pada Hans, sambil menggelengkan kepalanya.
“Gak apa-apa, tante. Emang Hans yang nyuruh kok biar Rai mandi dulu. Kasian, pasti Rai juga kegerahan”. Hans berkata pada Natalie, dan memberi tahu bahwa dirinya yang menyuruh Rai.
“Oh begitu ya. Yaudah kita ke meja makan duluan yuk, Nak. Nanti paling Rai nyusul”. Natalie mengajak Hans untuk segera pergi ke meja makan. Belum sempat beranjak, suara putri semata wayangnya muncul dengan lantang.
“Hayo… ngomongin aku, ya”. Rai yang baru saja selesai mandi langsung mengajak mereka berbicara.
“Iya, habisnya kamu mandinya lama”. Natalie meledek, memandang kedatangan putrinya. Sedangkan Hans hanya tertawa melihat tingkah Natalie dan Rai yang terlihat seperti teman.
Mereka bertiga kemudian langsung beranjak ke meja makan. Semerbak harum sudah memenuhi ruangan membuat perut mereka berbunyi tanda lapar. Hari ini, Natalie memasak ayam mentega dan sayur bayam. Sederhana namun sangat enak.