Saat ini, suara di meja makan itu memenuhi ruangan. Pertemuan antara sendok dan piring itu, sukses menghasilkan suara yang merdu. Hans menikmati setiap suapan yang ia telan, begitu juga dengan Rai dan Natalie. Mereka benar-benar menyukai masakan Natalie hari ini.
“Masakan tante emang gak pernah gagal”. Hans berkata pada Natalie yang sedang makan di depannya.
“Oh, ya? Terima kasih ya Hans. Tante jadi senang. Kalau emang kamu suka, harus nambah satu porsi lagi, ya”. Natalie tersenyum, ia bahkan menyuruh Hans untuk menghabiskan makanannya hari ini.
“Iya, ma. Hans suka banget masakan mama. Waktu kemarin mama masak aja, katanya enak banget. Jadi aku setuju, kalo Hans harus habisin makanannya hari ini”. Rai ikut berbicara, kemudian ia melanjutkan suapannya.
“Iya, emang gak bisa dipungkiri kalo enak, tante. Gak cuma aku, Lia juga suka banget masakan tante”. Hans berkata pada Natalie dan juga Rai, laki-laki itu twrnyata telah menyelesaikan makan malamnya.
“Hans, kalau boleh tau kamu aslinya orang mana?” Natalie bertanya pada laki-laki muda itu. Ia sedang meneguk segelas air.
“Uhuk…uhuk…” Hans hampir saja menyembur kan air yang ia minum, saking terkejut dengan pertanyaan Natalie. Rai yang mengetahui alasan itu, langsung menepuk tangan Natalie pelan. Sedangkan Natalie tidak mengerti yang Rai maksud.
“Ah… aku gak tau tante aku asli mana”. Hans berkata setelah mengelap bibirnya.
“Mama kenapa kepo banget, sih”. Gerutu Rai, berusaha menyelamatkan Hans dari pertanyaan Natalie.
“Emangnya gak boleh? Orang Hans nya juga gak apa-apa, kok”. Natalie berkata demikian. Ia juga ikut menggerutu pada Rai. Sedangkan anak perempuannya itu, hanya melototinya karena Natalie masih tidak mengerti maksud Rai.
“Gak, apa-apa kok, Rai”. Hans tersenyum pada Rai. Ia bahkan menganggukkan kepalanya.
“Aku anak panti asuhan tante”. Hans menjawab.
Tak, suara sendok yang meleset itu mengejutkan ketiganya. Natalie menatap Hans,tidak mempercayai dengan apa yang ia dengar.
“Ah… maaf jadi berisik”. Ucap Natalie setelah menyadari perlakuaanya. Ia hanya takut menyinggung Hans begitu saja.
“Oh begitu, ya? Tapi udah lama tinggal di Jakarta?” Tanya Natalie sekali lagi pada Hans. Laki-laki itu menatapnya kembali.
“Baru tiga tahun terakhir sih tante. Sebelumnya aku tinggal di Bandung. Terus gak lama pindah ke Jakarta. Karena emang ibu beli rumah baru yang lebih besar dan lebih nyaman di Jakarta”. Hans menjawab pertanyaan itu sejelas mungkin. Laki-laki itu tetap tersenyum. Sedangkan Rai di sebrangnya hanya terdiam canggung, takut Hans merasa tertekan dengan pertanyaan Natalie.
“Oh.. berarti baru ya di Jakarta. Tante juga sama Rai pernah tinggal di Bandung, loh. Waktu Rai kecil. Tapi itu cuma setahun”. Natalie lagi-lagi menjawab. Hans membulatkan matanya, tentu saja ini benar-benar Rai yang selama ini ia cari.
“Ah… seriusan tante? Kebetulan banget, ya”. Hans tetap menjaga kerahasiannya. Memang Natalie mungkin tidak begitu ingat dirinya, karena yang ada saat kejadian itu memang ayah Rai dan Rai sendiri. Natalie tidak ada di sana.
“Iya. Soalnya tante waktu itu sering ke luar kota. Akhirnya milih pindah deh dari Bandung”. Natalie berkata lagi.
“Oh.. iya iya. Kalau menurut tante, hal yang gak paling dilupakan di Bandung apa?” Hans mencoba memancing Natalie dengan pertanyaannya. Walaupun saat itu Natalie tidak ada di tempat kejadian, tentu saja ia bisa tahu dari cerita ayah Rai atau dari Rai.
“Gak ada”. Natalie langsung menjawab dengan cepat, tanpa membuat Hans menunggu lama. Hans langsung tidak mengeti. Di dalam haitiya, Hans tidak mengerti kenapa semua keluarganya tidak mengenal dirinya. Laki-laki itu bahkan tertawa tipis.
“Soalnya cuma setahun, sih. Jadinya gak ada yang spesial. Iya kan, Rai?” Natalie menyambar Rai yang sedari tadi hanya diam karena mendengarkan keduanya berbincang.
“Iya, bener ma. Kalau lebih lama mungkin bakal ada sesuatu yang lebih indah buat dikenang”. Rai menyetujui perkataan Natalie, ia menganggukan kepalanya.
“Kalau kamu? Apa yang bikin betah di Bandung? Terus apa yang kamu suka dari Jakarta?” Rai kali ini ikut bertanya, setelah sekian lama hanya menjadi pendengar setia.
“Hm… apa ya? Mungkin cuaca sejuknya yang aku kangenin dari Bandung. Kalau di Jakarta, aku juga belum nemu sesuatu yang wah sih”. Hans menjawab perkataan Rai.
“Tapi, yang bikin makin terkesan di Bandung itu saat aku ketemu sama seseorang yang bajk banget udah nolongin aku. Dan di Jakarta inj, aku ketemh sama orang itu”. Hans kembali memancing keduanya untuk mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu itu.
“Wah… beruntung banget! Terus orang yang bantuin kamu itu deket sama kamu dong sekarang?” Tanya Rai sekali lagi, sedangkan Natalie hanya duduk kekenyangan dan memilih untuk diam.
“Iya. Deket banget, Rai. Cuma ya itu…” Hans berkata lagi, tapi ia ragu untuk melanjutkan.
“Cuma itu apa, Hans?” Rai bertanya dan ingin tahu jawaba Hans. Sedangkan Natalie, sedari tadi menatap Hans segitunya. Wanita itu seperti sedang meneliti setiap inci wajah Hans.
“Cuma nyesel aja gitu, kenapa ketemunya baru sekarang”. Hans mengurung niatnya. Ia selalu ingin Rai atau Natalie setidaknya mengingat tentang dirinya da Tara.
“Hei, Nak”. Natalie tiba-tiba memotong pembicaraan keduanya. Wajahnya berubah menjadi sangat serius.
“Iya, tante?” Hans menjawab panggilan itu. Lalu matanya ia fokuskan pada Natalie di depannya.
“Ah.. gak jadi. Kamu… cuma mirip sama seseorang yang pernah aku temui juga”. Natalie mengurungkan perkataannnya, dan itu membuat Hans penasaran.
“Oh ya? Siapa emangnya tante?” Kali ini, gilran Hans yang bertanya.
“Ada.. seorang temen”. Natalie menjawab singkat. Dan Hans hanya menganggukkan kepalanya.
“Ehem.. kalau boleh tau.. kok ayah Rai belum pulang tante?” Hans mencoba memberanikan diri bertanya pada Natalie. Dapat Hans lihat dengan jelas, Natalie agak sedikit terkejut dengan pertanyaan Hans. Dan Rai pun sama terkejutnya dengan Natalie.
“Oh… itu, ya. Em.. ayah Rai…” Natalie menjawab dengan terbata-bata. Wanita itu terlihat sangat kebingungan.
“Ayah aku kerja di luar kota, Hans. Dan dia jarang pulang. Bukannya aku pernah ngasih tau kamu?” Rai membantu Natalie untuk menjawab pertanyaan yang sangat mudah itu.
“Iya, benar. Ayah Hans ke luar kota”. Natalie menganggukan kepalanya mendengar jawaban Rai. Dapat terlihat jelas oleh Hans, dari wajah Natalie ada sesuatu yang wanita itu sembunyikan. Hans yang menyadari itu memilih untuk diam.
“Oh… jarang pulang, ya? Pasti bikin kangen ya”. Hans menjawab perkataan itu.
“Iya, tentu saja, Nak. Tapi mau gimana lagi. Itu kan tuntutan kerja”. Natalie tersenyum palsu, dan ia hanya berkata yang ia bisa.
“Di panti, ada berapa orang anak yang ditampung?” Natalie bertanya pada Hans, perempuan itu berusaha mengalihkan percakapan mereka sebelumnya.
“Eum….” Terlihat Hans sedang berpikir sambil menghitung.
“Sekitar lima belasan, tante”. Ucap Hans pada Natalie. Dan membuat keduanya mengangguk.
“Banyak juga, ya”. Ucap Natalie.
Ting.. sebuah pesan muncul dari ponsel Hans. Laki-laki itu dengan cepat dan membuka ponselnya. Dan ia menemukan tulisan ibu yang terpampanh di layar.
“Nak… kok belum pulang? Ini udah makin malem. Ibu khawatir sama kamu takutnya kamu kenapa-kenapa. Apalagi kamu naik sepeda, pulang ya sekarang”.
Hans lalu melihat jam yang tertera di ponselnya. Benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul delapan Lebih lima belas menit. Dan waktunya Hans untuk pulang telah tiba.