“Tante udah duga, pasti kalian datang”. Ucap Natalie seraya melangkahkan kakinya lebih dekat pada Lia dan Hans. Wanita itu membuka gerbang perlahan, dan mempersilahkan kedua teman putrinya itu masuk.
“Iya, tante. Kita mau lihat keadaan Rai gimana. Apa udah mendingan tante?” Hans bertanya pada Natalie, saat melangkahkan kakinya menuju rumah. Lia mengikutinya dari belakang.
“Rai udah mendingan kok, nak. Kalian ke mari naik apa?” Natalie ikut bertanya, dan membawa mereka masuk ke dalam rumah. Wanita itu bahkan memperbolehkan anak-anak itu untuk duduk di sofa ruang tamunya.
“Duduk dulu di sini ya. Biar tante panggilin Rai”. Hans dan Lia belum sempat menjawab pertanyaan Natalie sebelumnya. Tapi wanita itu sudah meninggalkan mereka dengan tergesa.
“Gak usah tan—“ Hans mengurungkan perkataannya, karena Natalie sudah tidak di tempat. Lia pun menatapnya dengan heran.
“Kan kita jenguk orang sakit. Kok yang nyamperin malah yang sakitnya, sih?” Lia berkata sambil sedikit terkekeh, perempuan itu juga menunjukkan kerut di dahinya.
“Enggak ngerti juga, gue. Harusnya kita yang ke Rai gak sih? Haha”. Hans juga membalas perempuan itu dengan tawa.
“Ada lo, sih. Mungkin tante gak ngizinin lo masuk ke kamar Rai. Ngomong-ngomong, rumah Rai gede banget ya”. Ucap Lia pada Hans, sambil memutar matanya ke seluruh ruangan. Sesekali mulutnya terbuka, karena begitu kagum dengan interior dan exterior rumah Rai.
“Definisi kaya beneran. Pantes Rai tuh kayak putri terpandang gitu gak, sih?” Perempuan itu melanjutkan sekali lagi, matanya menatap Hans dengan yakin.
Klotak..klotak..klotak..
Belum sempat Hans menjawab, suara langkah kaki itu terdengar nyari dari atas. Pertemuan sendal yang digunakan Natalie dan Rai, yang bertemu anak tangga sukses membuat keempat bola mata Hans dan Lia menoleh.
Mata mereka bedua terus menunggu kehadiran anak dan ibu itu. Sampai akhirnya sosok keduanya terlihat di pandangan mereka.
“Ya ampun… ngerepotin banget kalian sampe ke sini”. Rai berkata dengan tidak enak, saat melihat Hans dan Lia yang sedang duduk menunggunya.
“Raiii!!! Gak apa-apa, tau. Kita juga khawatir sama kamu. Mangkanya kita ke sini. Biar liat keadaan kamu lebih jelas”. Lia menyapa dengan ceria, perempuan itu senang karena Rai sudah lebih membaik.
“Iya, tadi juga kita ke UKS buat jengukin kamu. Tapi dokter bilang, kamu udah dijemput pulang sama mama kamu”. Hans menambahkan, perempuan itu dengan cepat mengangguk mendengar perkataannya.
“Iya! Aku aja kaget pas tau mama tiba-tiba jemput ke sekolah. Ternyata mama langsung ke sana pas dapet kabar aku sakit. Jadi langsung bawa aku pulang”. Lia membalas perkataan keduanya.
“Ini, silahkan diminum dulu ya. Maaf kalau gak begitu enak. Soalnya tante lagi pusing karena ART di sini gak bisa balik lagi setelah pulang kampung. Tante juga gak tahu apa alesannya. Jadi ya terpaksa ngelakuin semuanya sendirian”. Natalie datang membawa beberapa camilan dan minuman dingin.
“Aduh… tante gak usah repot-repot. Keenakan Hans nanti”. Lia berkata pada Natalie yang sedang menatap piring dan beberapa gelas di atas meja. Perempuan itu juga mengajaknya bercanda.
“Heh! Bawa-bawa gue, lagi”. Hans menepuk tubuh Lia dengan pelan, dan memarahinya. Hal itu mengundang tawa dari Natalie dan Rai.
“Kalian itu…. Pacaran ya?” Tanya Natalie pada keduanya setelah tertawa. Mendengar itu, wajah Rai berubah sesaat. Dan perempuan itu juga menjadi diam.
“Hah?! Enggak lah tante!” Lia langsung menyambar, dan dengan jelas tidak mengakuinya.
“Aku mah gak mau sama orang senyebelin dia”. Lalu Lia memperjelas kalimatnya.
“Siapa juga yang mau sama lo?” Hans menimpal, membalas perkataan Lia pada Natalie.
“Lagian Hans udah suka sama seseorang kok tante”. Lagi-lagi perempuan itu meledek Hans. Hans menyikutnya dengan keras.
“Oh… gitu, ya. Tante kira kalian tuh pacaran. Soalnya lucu banget diliatnya”. Natalie berkata sekali lagi, kemudian duduk di samping Rai yang masih terdiam dan hanya tertawa kecil.
“Saya doang yang lucu tante, dia enggak”. Hans menunjuk Lia sambil menggelengkan kepalanya.
“Rai, kamu beneran udah gak apa-apa, kan? Apa masih ada yang dirasa?” Hans langsung mengalihkan topik pembicaraan. Laki-laki itu baru menyadari tujuan utamanya, saat ia melihat Rai hanya diam.
“Iya kok, Hans. Mungkin tadi cuma kaget sama kesel aja. Jadi sampe kayak gitu. Maaf ya kalo bikin kalian kaget sampe khawatir begitu”. Rai akhirnya membuka suara.
“Iya gak apa-apa Rai, kita juga ngerti kok. Emang awalnya kita kaget, tapi kamu gak perlu minta maaf. Kamu gak salah, kok. Emang itu Joshua aja yang ngeselin”. Lia berkata dengan kesal, tapi tidak menyadari bahwa dirinya kelepasan.
“Joshua ya…” Natalie bergumam cukup keras, membuat ketiga anak itu dapat mendengarnya. Hans langsung menyikutnya dengan cepat.
“Kok lo pake segala ngomong soal Joshua, sih?” Tanya Hans dengan berbisik, sambil mendekatkan pundaknya pada pundak Lia.
“Aduh! Keceplosan!” Lia menutup matanya, menyesali dengan apa yang mereka buat. Rai yang menyadari itu, akhirnya buka suara.
“Mama aku udah tau, kok. Aku udah ceritain semua tadi. Gak apa-apa, Lia. Kamu gak keceplosan, kok. Kalaupun iya, ya gak apa-apa”. Perempuan itu mencoba menenangkan Lia dan Hans.
“Iya, Rai udah ceritain semuanya. Yaa… mungkjn terkesan aneh ya bagi kalian. Tapi, Rai emang begitu orangnya. Mungkin karena terlalu lama sekolah dari rumah”. Jelas Natalie pada keduanya, melanjutkan apa yang Rai katakan.
“Tante, kalo boleh tau… emangnya Rai udah berapa lama sekolah dari rumah?” Tanya Lia dengan penasaran.
“Dari aku kecil, Li”. Begitu yang Rai katakan pada Lia.
“Kecilnya itu umur berapa?” Tanya Hans berusaha untuk memancing Rai. Berharap ada secercah harapan untuk mengetahui kebenaran tentang Rai.
Dihadapkan dengan pertanyaan Hans, Rai sedikit kebingungan. Perempuan itu menoleh pada ibunya seperti meminta pertolongan untuk menjawab pertanyaan Hans.
“Ini pertama kalinya Rai masuk ke sekolah formal”. Natalie yang menyadari tatapan Rai, dengan cepat berkata pada Hans. Rai mengangukkan kepala, saat mendengar perkataan Natalie.
Sejujurnya, Natalie sudah sengaja mengatur jadwal dan berdiam diri di rumah bersama Rai hari ini. Wanita itu tahu, bahwa kedua teman dari anaknya ini akan datang. Dan pasti, keduanya akan memiliki beberapa pertanyaan pada anak gadisnya itu, untuk menjawab rasa penasaran mereka.
Untuk mengantisipasi ketidakbisaan Rai untuk menjawab, Natalie memilih untuk tinggal. Dan benar saja, hal itu sudah terjadi sekali sekarang. Sudah ada pertanyaan pertama untuknya.
Jawaban itu langsung terdengar oleh Hans ditelinga Hans. Tentu saja laki-laki itu tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Tapi Hans sedang memanipulatif wajahnya, membuat ia terlihat seperti menyetujuinya saja.
Laki-laki itu tahu, bahwa benar ada yang sedang ditutupi dari Natalie dan Rai. Tapi… Hans tidak mengerti maksud dan tujuan keduanya. Dan… Apa mereka tidak tahu kalau mereka sedang berbohong pada sesorang yang pernah bertemu dengannya? Ssmua itu terputar di otak Hans.
“Iya gak, Hans?” Tanya Lia pada laki-laki itu. Tapi Hans tidak bergeming, dan terlihat bahwa laki-laki itu sedang memiliki ratusan pertanyaan di kepalanya, dan tentu membuat Natalie juga menyadarinya.
“Hans? Mikirin apa, sih?” Panggil Lia sekali lagi untuk membuyarkan lamunan Hans, bahkan perempuan itu sedikit memukul tangannya dengan pelan.
“Ah, ngomgong apa tadi, Li? Sorry ya gue gak denger”. Hans menggaruk leher belakangnya sambil merasa canggung. Ia juga sedikit tertawa.
“Tadi tante nanya, kita ke mari naik sepeda berdua. Emang gak cape katanya? Gue jawab aja enggak. Iya kan?” Lia mengulangi perkataannya sekali lagi untuk memberitahu Hans.
“Oh, iya, lah. Dia gak capek karena saya yanh bawa tante. Padahal badannya berat!” Ledek Hans sambil berkata langsung pada Natalie untuk memecahkan rasa canggung.
“Hei, kamu ngatain temen aku, ya?” Rai membela Lia sambil tertawa, dan suasana itu kembali menjadi seperti awal. Tapi, masih ada sesuatu yang menjanggal di hati Natalie dan Hans.
“Aku gak maksud, Rai. Tapi emanh gitu kenyataannya”. Laki-laki itu melayangkan lambaian tangannya di udara, sambil tertawa. Hal itu malah membuatnya menerima tinju dari Lia.
“Ah… keasyikan ngobrol sama kalian sampe lupa. Kalian makan malem di sini, ya? Nanti tante masakin nasi kebuli, ya? Kebetulan tante juga pengen”. Ucapnya secara tiba-tiba pada Lia dan Hans, membuat laki-laki itu menoleh pada jam di tangannya.
“Oh.. iya, udah jam enam sore”. Hans berkata pada Natalie dan Rai. Dan Lia juga akhirnya mengetahuinya.
“Gak usah, tante. Kebetulan kita berdua bentar lagi pulang. Soalnya aku juga harus anterin adek ke rumah temennya. Jadi aku sama Hans gak bisa lama-lama. Makasih banyak tante atas tawarannya”. Ucap Lia pada Natalie setelah Hans.
“Loh.. kalian yakin?” Tanya Natalie pada keduanya, dan mereka menganggukkan kepalanya.
“Iya tante, kami izin pamit sekarang aja deh. Toh kita juga udah liat kabar Rai yang terpenting. Udah liat senyum manisnya juga”. Hans langsung memberhentikan perkataannya yang kelepasan. Tapi hal itu langsung tepat mengenai hati Rai, terlihat wajahnya memiliki tanda merah setelahnya.
“Duh… apa nih maksudnya?” Ledek Lia pada laki-laki itu, dan Natalie hanya tersenyum mendengarnya.
Keduanya bangkit dari duduk mereka, dan merapihkan barang-barang yang mereka bawa. Keduanya akhirnya berpamitan untuk pulang.
“Kita pulang dulu ya tante”. Ucap Lia lebih dulu di depan sambil mencium tangan Natalie. Di belakangnya, Hans mengikuti gerakan sopan Lia dan berkata perkataan yang hampir mirip.
“Iya, anak-anak. Makasih ya udah jauh-jauh dateng ke mari. Mau dianter ga?” Tanya Natalie pada keduanya.
“Iya, kalian dianter aja sama mama. Makasih ya udah ngerepotin sampe dateng ke mari”. Rai menambahkan perkataan Natalie.
“Gak usah tante. Sama-sama ya Rai, kami pulang dulu ya tante”. Hans berkata sekali lagi, dan melangkahkan kakinya.
Keduanya diantar oleh Natalie dan Rai sampai depan gerbang. Bahkan, Natalie dan Rai terus menunggu sampai mereka menaiki sepeda milik Hans. Lia melambaikan tangannya sambil tersenyum, sedangkan Hans hanya tersenyum sambil mengayuh sepedanya. Kedua teman Rai itu akhirnya hilang dari pandangan dirinya dan Natalie.