“Rai.. ada yang mama mau omongin sama kamu sebentar”. Natalie berkata pada anak perempuannya yang berdiri di sampingnya. Wanita itu belum mendengar jawaban apapun dari Rai, tapi langkah kakinya lebih dulu meninggalkannya.
“Hah? Ada apa-“ Rai menghentikan perkataannya, lalu dirinya dengan cepat menyusul langkah Natalie yang masuk ke dalam rumah.
“Ada apa, ma?” Tanya Rai mengulangi perkataannya. Dirinya mengikuti Natalie yang kini merebahkan tubuhnya di ranjang. Wanita itiu terlihat memijat dahinya, seperti kelelahan.
“Ma? Mama capek, ya? Mama mau ngomong apa sama aku? Kalau emang mama capek, mama istirahat aja dulu. Besok kan mama pasti banyak kerjaan”. Rai menghadap ke Natalie. Perempuan itu menggunakan tangannya untuk memijat bahu Natalie. Dan ibu Rai itu hanya tersenyum tipis.
“Capek itu wajar, sayang. Yang ada dipikiran mama saat ini yang penting, kamu baik-baik aja. Dan… Gak ada orang yang ganggu kamu setelah ini”. Natalie berkata pada Rai, sambil menyingkirkan tangan anaknya itu perlahan.
“Nak… soal temen kamu… kira-kira tanggapan mereka apa ya ngeliat kamu sampe segitunya kayak tadi?” Tanya Natalie pada Rai, wajahnya menunjukkan sedikit kekhawatiraan.
“Hmm… aku juga bingung, ma. Aku bener-bener lepas kontrol banget tadi. Aku minta maaf ya, ma. Harusnya aku bisa tahan, dan berusaha untuk tetap tenang. Padahal, aku belum ngelupain siapa-siapa”. Rai menggigit bibirnya sambil berkata. Bahkan, perempuan itu menunndukkan kepalanya terlihat takut.
“Gak apa-apa, sayang. Mama paham kondisi kamu, kok”. Natalie berkata dengan lembut pada Rai, sambil mengangkat wajahnya.
“Iya. Aku percaya mama paham sama aku. Tapi, temen-temen aku belum tentu, ma”. Rai berkata lagi sambil menghela napasnya. Perempuan itu sudah pasrah untuk hal yang akan terjadi esok hari.
“Itu dia yang mama khawatirkan, Nak. Em.. temen-temen kamu suka nanyain tentang kamu secara mendalam gak?” Natalie betanya lagi pada Rai.
“Enggak, ma. Paling tentang mama aja. Atau tentang aku sekolah dulu”. Rai menjelaskan sesuai yang ia bisa. Perempuan itu kemudian berpikir dengar keras.
“Kalau Hans juga gak pernah nanya apa-apa, nak? Atau mungkin, ada yang pernah ngaku kenal kamu gitu?” Natalie berkata pad Rai, berusaha membantu anak semata wayangnya untuk meningat sesuatu.
“Ah! Iya, ma. Dulu pertama ketemu Hans aku kesel banget sama laki-laki itu”. Rai menjawab perkataan Natalie dengan bibir yang terpaut.
“Loh, kenapa emangnya, sayang?” Natalie mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan ucapan Rai. Wanita itu bahkan menunggu dengan fokus penjelasan yang akan ia terima.
“Iya. Dia tuh selalu bilang sama aku, ma. Katanya gini, “Rai, kamu gak inget apa sama aku?” Gitu, ma. Sampe sering banget dia nanyain itu”. Rai memjelaskan pada Natalie, dan menghentikan perkataannya sejenak untuk meneguk segelas air.
“Terus?” Tanya Natalie lagi pada Rai. Wanita itu hamper tidak mempercayai apa yang ia dengar.
“Ya, begitu terus lah, ma. Ada kayaknya seminggu ketemu dia, dia nanyain it uterus. Terakhir dia bilang, dia bakal bikin aku inget dia, ma. Aneh ya? Padahal kan aku emang gak pernah kenal dia. Kalau emang aku kenal, pasti dia udah ada di buku diary aku kan, ma?” Rai melanjutkan perkataannya. Semua kalimat itu langsung masuk ke dalam otak Natalie, dan ia makin tidak mengerti.
“Ya.. harusnya sih gitu, sayang”. Natalie dengan cepat membalas perkataan Rai. Wanita itu merubah wajahnya dengan santai, berharap Rai tidak melihat kekhawatirannya.
“Mungkin, sayang… Hans emang dulu pernah punya temen mirip sama kamu, nak”. Natalie berkata lagi pada putrinya. Dan Rai hanya menganggukkan kepalanya setuju.
“Emm… tapi mama juga gak pernah ketemu sama, Hans? Siapa tau ternyata emang dia temen aku, tapi mama lupa”. Rai berkata pada Natalie, membuatnya tersedak oleh air yang sedang wanita itu teguk karena mendengar Rai.
“Ya ampun, ma. Pelan-pelan, dong”. Rai menepuk pundak Natalie denga lembut, berusaha meringankan rasa sakit di tenggorokan Natalie.
“Iya, tadi airnya masuk ke hidung, nak”. Natalie berkilah, dan membersihkan sisa air yang tersiram sedikit di sekitar mulutnya.
“Tadi apa kata kamu, sayang? Mama kenal sama Hans apa enggak? Duh, mama aja kayaknya baru liat mukanya deh Rai”. Natalie kali ini berkata dengan jujur, kemudian menganggukkan kepalanya berusaha meyakinkan Rai.
“Ya udah, kamu gak perlu mikirin banget, Rai. Kalaupun emang bener Hans temen kamu, nanti juga bakal ketauan sendiri, kok”. Natalie berkata pada putri dengan santai.
“Kayak penyakit aku yang sebentar lagi ketauan ya, ma?” Rai sekali lagi menghela napasnya setelah berkata.
“Sayang… kamu kan tau kita gak pernah bisa sembunyiin apapun. Semua itu pasti akan ketemu aja cepat atau lambat, kan?” Natalie berkata pada perempuan itu, sambil mengelus punggung rai.
“Iya, ma. Rai cuma takut hal itu keulang lagi, ma. Rai masih gak siap dibenci sama orang-orang karena Rai berbeda”. Rai menjentikkan jari-jarinya.
“Mama aka nada di barisan paling depan buat ngelindungi kamu, sayang. Kamu selalu bawa polaroidnya, kan?” Natalie berkata sambil menenangkan Rai, dan memastikan Rai selalu membawa alat bantunya.
“Selalu, ma”. Rai mengangguk.
“Tapi belum aku gunain sama siapapun”. Perempuan itu melanjutkan perkataannya.
“Pasti nanti berguna, sayang. Nanti aka nada waktu yang tepat untuk mereka mengetahui kamu dan siapa kamu sebenernya”. Natalie berkata sambil tersenyum. Tangan kanan wanita itu merapihkan rambut Rai, dan membuat anaknya itu menganggukkan kepalanya.
Beep… beep… beep…
Rai terkejut sejenak mendengar suara itu keluar dari ponselnya. Perempuan itu baru ingat, kalau ia mengganti nada dering ponselnya saat ia di ruangan kesehatan tadi. Ia mengambil ponsel itu di sakunya, matanya melihat nama Hans yang terpampang di sana. Rai tanpa sadar menyulingkan senyumnya. Dan membuka pesan yang Hans kirim padanya.
“Hai, Rai. Kamu udah tidur belum, ya? Aku cuma mau ngabarin kalau aku udah nganter temenmu sampe depan rumah dengan utuh. Dan aku juga udah sampe rumah dengan selamat”.
Natalie yang menyadari tingkah Rai yang tidak biasa, berusaha mengintip apa yang sedang anaknya itu lihat di ponselnya. Tapi, sayang sekali baginya. Anak perempuannya itu menggunakan proteksi layar yang dapat menghalau seseorang di sampingnya untuk melihatnya. Dan Natalie baru ingat, kalau hal itu merupakan suruhan Natalie agar privasi Rai lebih terjaga saat di sekolah.
“Dari siapa? Kok senyum-senyum?” Natalie akhirnya bertanya pada anak perempuannya itu. Dirinya tidak kuasa menahan rasa penasarannya.
“Hah? Enggak, ma. Ini, Hans. Dia ngabarin kalau dia sama Lia udah sampe di rumah”. Rai sedikit tersentak saat tertangkap basah oleh Natalie. Perempuan itu juga sedikit malu saat berkata pada ibuya.
“Aku ke kamar dulu ya, ma”. Belum sempat Natalie menjawab perkataannya, perempuan itu sudah pergi meninggalkan lebih dulu. Natalie hanya bisa menatap punggung putrinya. Ia benar-benar baru menyadari kalau Rai sudah tumbuh dewasa. Selama ini, dipikirannya Rai hanyalah anakk kecil yang harus ia lindungi dari dunia luar. Tentu saja, Natalie menyadari dengan jelas kalau anak satu-satunya itu sepertinya sedang jatuh cinta.
Wanita itu menghela nafasnya, ia juga mengambil ponsel yang ia letakkan di meja. Wanita itu menekan beberapa digit sandi untuk membuka kunci ponselnya. Pada layar utamanya, terdapat foto dirinya bersama mantan suaminya.
“Betapa jahatnya aku berusaha mencuri rahasa dari ponsel Rai, sayang”. Wanita itu berkata dengan lesu pada pria yang berada di dalam foto itu.
“Andai aja kamu masih ada di sini. Kamu pasti bisa bantuin aku sama Rai melalui semua ini”. Natalie tahu ia seperti orang gila yang berbicara pada benda mati. Tapi, ia tidak peduli dengan itu. Yang penting, ia dapat melegakan perasaanya.
“Dave, anakmu sudah dewasa sekali, kamu tau. Sepertinya kupu-kupu mulai tumbuh di perutnya. Dan, dewi cinta sedang bersiap menembak panah yang ia bawa pada hati anakmu itu”. Natalie berkata lagi, sambil menarik napasnya panjang.
“Iya, anak kita akhirnya menemukan waktunya merasakan jatuh cinta, sayang”. Wanita itu menghela napasnya, lalu terdiam sejenak. Natalie kemudian menyadari sesuatu.
Jemari lentiknya dengan cepat menarik layar ke bawah. Matanya dengan serius, mencari nama Hendra di kontaknya. Setelah wanita itu menemukannya, ia segera mungkin menekan tombol pangilan. Saat ia meletakkan ponsel itu di telinganya, Natalie tahu bawa panggilan itu bordering tersambung.
“Halo, Nat. Akhirnya kamu telepon aku. Aku nunggu kabar kamu loh sama Rai. Gimana dia? Is everything alright?” Tanya pria itu dengan panjang, setelah ia menerima telepon dari Natalie.
“Iya, maaf baru ngabarin kamu. Maaf juga tadi aku gak bales pesan kamu, Ndra. Rai.. dia baik-baik aja kok, Ndra. Makasih juga kamu sama Niko dan Rachel udah bantuin aku buat nge-handle semuanya. Aku gak tau lagi harus gimana kalo gak ada kamu”. Natalie berkata sambil mengusap wajahnya yang kebingungan.
“Tapi, Ndra. Aku boleh minta tolongl lagi sama kamu satu hal, gak? Ah, salah kalau aku bilang satu hal. Aku udah dibantu banyak hal sama kamu”. Natalie melanjutkan perkataanya, dan dengan jelas ia mendengar suara tertawa Hendra yang pelan.
“Aku seneng kalau Rai gak apa-apa, Nat. Kamu ini, Nat, kayak sama siapa aja loh. Aku kan selalu bilang jangan pernah sungkan sama aku”. Hendra berkata dengan lembut pada wanita di sebrangnya itu.
“Apa ada yang kamu khawatirin soal hari ini, Nat?” Tanya Hendra pada Natalie.
“Tentu, Ndra. Aku gak bisa percaya gitu aja sama teman Rai ini, jelas aja mereka belum ketemu Rai selama sebulan. Apalagi… sama anak laki-laki bernama Hans itu. Kayaknya ada sesuatu yang dia tau dan dia sembunyikan sama aku dan Rai, Ndra”. Natalie menjelaskan keluhannya pada Hendra.
“Apalagi, aku gak tau siapa aja yang nyaksiin itu semua di sekolah Rai hari ini. Aku gak siap, Ndra. Takut Rai diapa-apain lagi sama temen-temennya”. Wanita itu kembali berkata.
“Iya, kamu bener, Nat. Rai beruntung banget ya punya mama yang perhatian dan kritis kayak kamu”. Hendra menjawab perkataan Natalie.
“Aku begini karena aku waspada, Ndra, di luar sana. Aku gak tau orang seperti apa yang bakal anak aku temuin dan hadapin sendirian”. Natalie kembali mengeluarkan isi hatinya.
“Iya, Nat. Aku paham, kok. Terus kamu mau aku ngelakuin apa buat kamu?” Hendra mencoba bertanya ke intinya.
“Aku.. pengen kamu minta niko buat cari tau tentang, Lia dan Hans. Terutama Hans, Ndra. Kayaknya, anak itu berhasil ngambil hati anakku deh”. Natalie menghela napasnya sekali lagi.
“Wah… Oh iya? Kayak mama nya dong? Ketemu cinta pertamanya waktu SMA?” Ledek Hendra pada Natalie.
“Ndraa, I’m not in the mood for some jokes, sorry”. Natalie langsung menepis ucapan Hendra padanya.
“Iya, Nat. Maaf ya. Aku cuma mau kamu lebih rileks aja. Kayaknya kamu berpikir terlalu jauh, deh. Siapa tau mereka gak pernah ada maksud apa-apa sama Rai. Murni kalau mereka emang mau temenan doang”. Hendra berkata panjang pada Natalie.
“Iya, Ndra. Aku berharapnya seperti itu. Tapi aku mohon ya sama kamu, aku cuma mau jaga-jaga aja. Setidaknya kalau aku tau siapa temen Rai, asalnya dari mana, terus juga mereka orangnya seperti apa, aku bisa tenang”. Natalie berkata sambil menepuk hatinya. Walaupun Hendra tidak dapat melihatnya.
“Iya, Nat. Aku bakal sampaikan ke Niko segera. Besok, kalau dia gak sibuk, mungkin dia bakal ngasih kabar ke kamu data mereka berdua. Semoga aja dia ngasih, ya. Soalnya, ini gak menyangkut privasi kedua anak itu juga”. Hendra berkata dengan ragu pada Natalie.
“Ya apapun itu, aku tunggu kabar terbaik dari Niko ya, Ndra. Makasih banget”. Natalie menjawab dengan cepat perkataan Hendra. Pria itu sempat berkata ia ingin menghubungi Niko setelah ini, dan akhirnya mereka memilih untuk mengakhiri panggilan dan bergegas untuk mengistirahatkan tubuh mereka masing-masing.
******
Rai menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya. Perempuan itu masih tersenyum menatap layar ponsel yang ia letakkan sejauh panjang tangannya di udara.
Ia dengan cepat membalas pesan pada Hans, supaya pria itu tahu kalau dirinya masih terjaga.
“Hai, Hans. Akhirnya kamu ngabarin juga. Syukur, deh, kalau kamu dan Lia udah sampe rumah. Makasih ya, maaf bikin kalian khawatir *emotikon sedih*”.
Rai mengirim pesan itu, dan meletakkan ponsel itu di tubuhnya. Perempuan itu menatap langit-langit kamarnya, sambil menunggu balasan yang ia terima dari Hans.
Di sisi lain, Hans sedang membawa secangkir kopi di tangannya. Laki-laki itu ingin terjaga malam ini. Oleh karenanya, ia membutuhkan kafein untuk menemaninya. Hans duduk di depan komputer yang usianya mungkin sudah hampir setengah usianya. Komputer itu dihadiahkan dari almarhum ayah angkatnya untuknya.
Tidak lama, laki-laki itu menerima pesan dari Rai. Saking tidak fokusnya, Hans melahap kopi panas itu tanpa meniupnya terlebih dahulu.
“Aduh! Panas-panas!” Laki-laki itu menjulurkan lidahnya kepanasan, sesekali ia mengibas tangannya di depan mulutnya.
Kemudian, tangannya meletakkan cangkir kopi itu di meja. Dan mengambil ponsel yang menyala karena menerima pesan dari Rai.
Hans membaca pesan itu, dan tersenyum juga. Entah mengapa, sebuah pikiran berani muncul di dalam otaknya. Lalu ia menuang itu dalam karakter yang ia susun di pesannya pada Rai.
“Aku mau ngobrol sama kamu, kira-kira ganggu gak? Hari ini kan aku belum ngobrol sama kamu *emotikon tersenyum lebar*”.
Hans menyalakan komputernya, setelah mengirim pesan kepada Rai. Laki-laki itu menyaksikan layar biru yang terputar di layar sekitar empat belas inci itu. Ia menunggu terus sampai komputer itu menyala sempurna. Dan menghubungkannya dengan koneksi internet dari ponselnya.
Tangan Hans mengambil sebuah mouse untuk mengarahkan anak panah di komputer. Laki-laki itu dengan cepat menekan tombol pencarian internet terbesar di dunia yang berlambangkan satu huruf. Setelah tampilan layar itu terbuka, laki-laki itu mengetik dengan cepat sebuah kalimat pada kolom pencarian.
‘Lowongan kerja Part Time barista untuk siswa SMA’
Tidak menunggu lama untuk berputar, laki-laki tiu dihadapkan dengan berpuluh-puluh atau mungkin ratusan situs yang terhubung dengan percariannya itu.
Tidak lama, ponselnya berdering. Tanpa ia duga, Rai menghubunginya lebih dulu. Laki-laki itu merasa bunga bertebaran saat ini, dan jantungnya lebih cepat berdebar dari sebelumnya.