"Vi, tolong buatkan interbank transfer schedule dari rekening koran ini untuk memeriksa adanya kitting." Senior auditor tim kerjaku, Bu Susan, memberikanku sebuah map berwarna biru. Aku mendongak.
"Baik." Aku menunjukkan senyumku sekilas, lalu melanjutkan pekerjaanku untuk memeriksa siklus cash and financial instruments klien.
Aku adalah seorang junior auditor di sebuah kantor akuntan publik yang cukup bereputasi di dunia auditing laporan keuangan. Beginilah pekerjaanku sebagai auditor, harus lembur sampai malam untuk menyelesaikan program audit yang telah dirancang oleh seniorku. Melelahkan, pasti. Tapi aku menyukainya. Lebih baik aku sibuk sampai lupa waktu seperti ini daripada mengkhawatirkan segala hal yang sebenarnya tidak penting, seperti masa lalu.
Malam ini adalah hari ketujuh setelah penugasan audit pertama. Seperti biasanya, kami selalu lembur untuk menyelesaikannya.
"Alvian, besok kamu pergi ke klien untuk meminta salinan notes payable." Ucap bu Susan sebelum ia kembali ke tempat duduknya. Aku mengangguk. "Perhatian semuanya. Mari kita akhiri proses audit hari ini dan lanjutkan besok." Ucapnya pada lima anggota tim yang lain termasuk aku.
"Baik, Bu." Semuanya menjawab serentak. Mereka semua, termasuk aku, mengembangkan senyum kecil seakan kalimat yang diucapkan Bu Susan barusan adalah kalimat bahagia seperti ungkapan cinta seseorang yang kita sukai. Tapi tidak, aku tidak akan pernah menerimanya. Kalaupun iya, tentu saja hal ungkapan cinta itu jauh lebih menyenangkan daripada ucapan Bu Susan barusan.
Aku pun membereskan berkas dan dokumen yang ada di meja kerjaku. Tapi tiba-tiba hidungku mengeluarkan darah. Aku langsung mendongak untuk menghentikan alirannya.
"Kamu nggak papa, Vi? Mimisan lagi?" ucap Nathan, rekan kerjaku. Ia memberikanku tisu.
Aku mengambilnya. "Thank you." Aku menyumbat hidungku dengan itu. "Aku nggak papa." Aku pun menyimpulkan senyum padanya untuk menandakan bahwa aku baik-baik saja.
"Baiklah. Aku duluan ya." Aku pun membalasnya dengan anggukan. Seperti biasa, aku kembali ke apartemen untuk mengistirahatkan tubuhku ini.
Keesokan harinya, aku pergi ke perusahaan klien untuk meminta salinan notes payable seperti yang diminta Bu Susan. Aku pergi bersama Nathan. Bu Susan memintanya untuk menemaniku.
Sebagai sesama auditor junior kami cukup akrab dalam tim. Kami selalu membicarakan (baca: menggosipkan) hal yang tabu-dalam dunia auditing.
"Vi, kita nggak boleh terlihat seperti auditor junior di mata klien." Bisiknya padaku ketika tiba di depan gedung perusahaan klien.
"Lalu, apa rencanamu, Nath?" aku antusias.
"Tegakkan badanmu. Angkat dagumu. Jalan berwibawa. Dan tegaskan suaramu." Ucapnya menggebu-gebu. Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan melihat kelakuan Nathan.
"Nath, kita tidak sedang melakukan forensic auditing. Kita ke sini hanya untuk meminta notes payable." Aku memutar bola mataku kesal lalu menarik Nathan untuk masuk dengan cepat.
"Tapi, Vi...kita harus..." ucapannya terhenti ketika kami telah sampai di lobby perusahaan. Aku pun meminta pada resepsionis untuk menemui manajer bagian payable. Aku dan Nathan diantar ke sebuah ruangan. Seseorang di dalam sana berdiri membelakangi kami. Lalu ia berbalik menatap kedatangan kami. Dia adalah...orang itu.
✉️
Aku bungkam. Wajahku seketika menjadi muram.
Orang yang aku hindari selama ini mucul di hadapanku, seakan mengoyak segalanya. Meremukkan hati yang selama ini telah aku susun, menjadi serpihan, yang mungkin akan menusukku lagi. Aku tertusuk dengan pecahan hatiku sendiri yang telah ia retakkan.
∞∞∞