Hanya bisa berharap aku adalah tokoh utama.
Sayangnya, aku adalah tokoh sampingan yang tidak akan kau lihat.
Peran itu hanya kau berikan padanya. Tapi aku bahagia karena telah ada di kisahmu.
∞∞∞
Beberapa tahun yang lalu...
Sungguh s**l, hari ini aku terlambat bangun karena semalam tidak bisa tidur di apartemen baruku. Ketika aku tiba di kampus, semua orang sudah berkumpul di sana.
"Dek, dek, yang telat nggak boleh masuk ke barisan. Berdiri di situ ya." Ucap seorang senior ketika aku hendak duduk di barisan. Aku pun merengut dan berdiri di tempat yang dimaksud.
"Telat juga?" aku menoleh. Seorang laki-laki ber-nametag Reyhan menyapaku dengan pertanyaannya itu.
"Seperti yang kau lihat." Aku tersenyum ragu-ragu. Entah ekspresi apa yang harus aku buat.
Ia mengangkat nametag-nya, "Reyhan. Panggil saja Rey. Alvian?" tampak ia memperhatikan nametag-ku juga. Aku mengangguk.
"Sepertinya kita akan jadi badut penghibur hari ini, Rey." Ucapku ketika beberapa senior datang ke arah kami.
"Benar. Aku sangat benci hal-hal seperti menari atau menyanyi di depan banyak orang. Itu memalukan. Bagaimana kau bisa telat hari ini?" tanyanya padaku.
"Aku tidak terbiasa dengan tempat yang baru. Jadi semalaman aku terjaga. Lalu kau?" aku masih menatapnya.
"Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk telat." Ia nyengir.
Sekilas aku tahu bagaimana dirinya. Humoris, berjiwa bebas, terbuka. Dan, hangat. Setelah ini pasti ia akan populer di kalangan gadis-gadis kampus. Ia tampan dengan hidung mancung dan alisnya yang tebal itu. Bibirnya yang tipis, dan juga senyumnya yang menunjukkan gigi putihnya yang rapi. Semua orang pasti terpikat olehnya.
Selain Rey, di kampus aku juga akrab dengan Lukas. Kami bertiga selalu bersama ketika memilih kelas, ikut organisasi, bahkan ke kantin. Padahal, karakter kami sangat berbeda.
Rey dengan jiwa bebas dan ketampanannya, ia adalah seorang playboy. Ia telah memacari gadis di setiap fakultas kampus pada tahun pertamanya kuliah. Ia mengganti pasangan seperti mengganti pakaiannya.
Lukas, ia adalah orang yang pendiam dan misterius. Tapi sekali ia tersenyum, banyak gadis yang akan langsung tertartik padanya, seperti magnet menarik logam. Ia sangat kharismatik dengan jiwa cool-nya.
Dan aku, Alvian. Seorang yang paling manis di antara mereka. Lembut, lugu, tapi juga jahat ketika menolak gadis-gadis yang mulai mendekatiku. Entah, aku sama sekali tak ingin terganggu oleh mereka. Mungkin karena satu alasan.
Sebuah alasan yang mungkin orang anggap tidak etis dan berdosa. Alasan yang tabu dan dianggap merusak norma. Dan alasan yang menjijikkan bagi mayoritas yang tidak mengetahui arti sebenarnya cinta. Alasannya adalah karena aku menyukai Rey dari tahun pertama kuliah. Entah bagaimana perasaan itu muncul. Tapi ketika aku mulai mengabaikannya, justru perasaan itu malah semakin mengikat. Aku tidak ingin terjebak dalam perasaan yang seperti ini. Apalagi dengan sahabatku sendiri.
Bagiku, memendamnya sedalam mungkin adalah pilihan yang terbaik karena aku tidak ingin merusak persahabatanku dengannya. Jika begini saja sudah membuatku bahagia mengapa aku harus berharap lebih. Meskipun, aku sering juga tersakiti karenanya.
Sudah sering aku dibuatnya sakit, terluka. Tapi entah kenapa perasaanku padanya masih sama. Aku begitu peduli padanya. Aku selalu mengkhawatirkannya. Aku tahu aku bodoh. Aku mengerti jika cinta di antara kita tidak akan pernah mungkin terjadi.
"Rey, kau tidak apa-apa?" saat itu adalah akhir semester tiga dan aku khawatir padanya karena ia terus bersedih sepanjang hari. Benar, aku sangat peduli padanya.
"Umm..." ia hanya mengangguk pelan.
"Tapi kelihatannya tidak. Kau masih bersedih karena putus dengan gadis ilmu politik itu?" aku tahu apa yang terjadi dengannya. Bahkan aku tahu segala tentangnya. Daftar nama-nama pacarnya, makanan kesukaannya, film favoritnya, bahkan hubungan buruk dengan ayahnya.
"Buat apa aku bersedih. Di sini kan ada sahabat yang sangat aku sayangi." Kalimat terakhirnya sukses membutku speechless. Aku tahu, bahkan sangat tahu, bahwa yang dimaksudnya bukanlah hal seperti itu. "Mau jalan-jalan ke mall malam ini?" bahkan tanpa ditanya pun aku dengan senang hati akan menjawabnya mau. Aku mengangguk dengan antusias.
Tiba-tiba ponsel Rey berdering. Ia permisi untuk mengangkatnya lalu keluar dari ruang kelas. Iseng, aku mengikutinya. Aku penasaran siapa dan apa yang ia perbincangkan. Bukankah ia baru saja putus dengan pacarnya.
"Oh, tentu, sayang, aku sangat kesepian malam ini. Aku sendirian. Tidak ada seorang pun yang memedulikanku." Ucapnya lewat telepon yang tidak sengaja aku dengar. Menyedihkan. Aku mengkhawatirkan orang yang tidak pernah sekalipun melihat keberadaanku.
Sebenarnya, aku telah melakukan segala cara untuk melupakan perasaan itu. Pernah aku mencoba mengabaikannya tapi malah aku sendiri yang terluka. Atau, ada cerita lucu saat tahun ketigaku kuliah. Mungkin itu tidak lucu, tapi menyakitkan.
Kala itu ia baru saja putus dengan pacarnya dan mengajakku untuk menonton film yang biasa kami tonton bersama, Toy Story, yang sekarang sudah ada seasons empatnya. Aku yang merasa kasihan tentunya langsung mengiyakan. Lagipula sudah lama kita tidak menonton film bersama. Namun setelah aku siap, ia membatalkannya begitu saja. Padahal tiket sudah aku pesan, tinggal datang dan duduk di bioskop berdua.
"Aku harus kencan dengan Gaby dari fakultas Kedokteran." katanya. Memang hanya satu kalimat, tapi entah kenapa begitu menyakitkan untukku. Seharusnya aku sudah biasa menerimanya. Karena pembatalan janji seperti ini sudah sering terjadi.
Keesokan harinya ia menyuruhku untuk mengembalikan barang milik mantan pacarnya, Sofia, dari fakultas Sains. Ia memohon padaku begitu sangat hingga membuatku luluh. Aku melakukannya. Dengan menahan malu aku pun menemuinya dan mengembalikannya.
"Sofia, Rey mengembalikan barang-barangmu."
"Terima kasih tapi aku tidak perlu. Pacarku sudah membelikannya yang baru. Dia bisa membuangnya. Aku tidak masalah." Ucapnya dengan angkuh. Aku pun menjadi emosi.
"Yang benar saja. Dia tidak memintaku untuk mengembalikannya padamu. Dia sekalipun tidak mengingat itu milik siapa. Aku hanya berpikir itu mengacaukan kamar. Jangan khawatir, aku akan membuangnya. Mulai sekarang kamar Rey akan diisi dengan barang-barang pacar barunya." Aku sangat kesal dengan keangkuhannya itu.
Setelah mengatakan itu aku berlalu. Kali ini Rey mengajakku menonton film yang sempat tertunda kemarin karena harus berkencan dengan Gaby. Aku pun sangat antusias. Memakai pakaian terbaikku sampai Lukas meledekku.
"Kau mau pergi ke London dengan pakaian itu, hah?"
"Biasanya aku kan memakai pakaian ini." Elakku saat itu.
"Pergi dengan Rey?" aku mengangguk. "Tapi bukankah dia sedang..." ucapan Lukas terputus ketika ponselku berdering. Aku langsung mengangkatnya.
"Aku tidak bisa menonton film denganmu sekarang karena ada acara keluarga." Ucapnya dalam telepon. Aku pun tak dapat melakukan apa-apa.
"Kenapa, Vi?" tanya Lukas padaku.
"Rey membatalkannya." Aku hanya bisa menunduk kecewa.
"Aku tadi melihatnya mengendarai mobil dengan seorang perempuan ke arah mall."
"Tidak mungkin, katanya dia sedang ada acara keluarga." Lukas hanya mengedikkan bahunya.
"Mau nonton bersamaku?" tawarnya.
"Tidak usah, aku mau pulang saja."
Otak ini ingin pulang, tapi entah mengapa kakiku melangkah ke mall itu. Aku berjalan dan menunggu di depan bioskop, berharap mungkin saja Rey akan berubah pikiran dan datang. Lucu sekali, kan? Hingga tayangan terakhir aku tidak menemukannya. Perutku lapar dan aku melangkah ke sebuah restoran untuk membeli sepotong sandwich. Di dalam sana aku tidak sengaja melihat Rey bersama Sofia. Mereka tampak bahagia, tersenyum, dan bercanda bersama. Hingga akhirnya Rey mencium Sofia. Tepat di hadapanku. Aku bergetar. Tanganku lemas. Sandwich yang kupegang jatuh begitu saja ke lantai. Air mataku tumpah tak terhindarkan. Aku berbalik. Sialnya, Rey melihatku.
"Alvian!" panggilnya.
Aku tak berani berbalik. Aku hanya mengacungkan jempol kananku dan berjalan keluar restoran. Aku melemas. Sakitnya minta ampun. Tidak ada yang bisa aku katakan.
Keesokan harinya, Aku, Rey, dan Lukas makan di kantin seperti biasanya. Aku tak sanggup melihat wajah Rey untuk waktu yang lama.
"Aku ke toilet dulu." Aku pun berlalu.
Setelah sampai di toilet, aku hanya berdiri di depan cermin sambil menyalakan wastafel. Aku terkejut ketika Rey sudah berdiri di sampingku.
"Kalau kau marah tentang kemarin, aku minta maaf." Ucapnya padaku sambil menatapku dalam cermin.
"Kenapa kau tidak mengatakan dengan jujur kalau kau akan berkencan dengan Sofia?"
"Aku...aku..."
"Sudahlah. Aku mengerti." Aku hendak berlalu.
"Mengenai barangnya Sofia, kau masih membawanya, kan?"
"Aku sudah membuangnya."
"Aku tidak menyuruhmu membuangnya, aku hanya menyuruhmu untuk mengembalikannya." Nada bicaranya meninggi. Aku pun ikut terbawa emosi.
"Sofia yang menyuruhku untuk membuangnya!"
"Aku tidak mau tau, kau harus mengembalikan barang itu. Atau persahabatan kita akan berakhir!" Rey keluar lebih dulu dari toilet dengan meninggalkan kalimat itu. Menyakitkan.
Jika hanya masalah barang dapat menghancurkan persahabatanku dengannya, lalu bagaimana dengan masalah yang lebih besar nantinya?
Sambil menahan tangis, malam itu aku mencari barang Sofia di beberapa tong sampah apartemenku. Aku mengoreknya satu per satu dengan teliti untuk menemukannya. Aku tidak ingin persahabatanku dengan Rey berakhir.
✉️
Kalau hidupmu adalah sebuah film, adegan ini adalah di mana karakter berada di titik terendah. Dia mati-matian, putus asa, dan menyedihkan. Mengetahui betapa bodohnya apa yang dia lakukan. Dia masih melakukannya, karena satu hal: CINTA.
∞∞∞
Kejadian yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika aku hendak mengembalikan barang itu. Di depan pintu apartemen Rey yang sedikit terbuka, aku mendengar sebuah erangan dan desahan. Aku dengan sengaja mengintipnya di sela-sela pintu karena penasaran. Aku terkejut lalu membungkam mulutku dengan tangan kanan dan menjatuhkan barang itu di begitu saja di sana. Aku langsung berlari keluar dan masuk ke dalam kamar apartemenku. Mengambil semua foto-fotoku bersamanya, kenangan-kenangan indah bersamanya, dan merobek semuanya. Aku sudah benar-benar menyerah kali ini. Selamat tinggal, Rey.
Tangisku tak tertahankan. Hatiku sangat terluka parah. Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Ini sangat menyakitkan.
Tanpa kuketahui sebelumnya ternyata ada Lukas yang melihatku. Aku lupa mengunci pintu apartemenku.
"Apa kamu jatuh cinta pada Rey?" tanyanya pelan.
✉️
Alasan utama mengapa sulit untuk mengungkapkan cinta kepada seorang teman adalah ketakutan akan penolakan.
Setidaknya, lebih baik menjadi teman daripada tidak sama sekali.
∞∞∞
Malam itu aku menceritakan segalanya pada Lukas. Bagaimana perasaan aneh itu mucul secara tiba-tiba pada Rey. Mengapa aku bisa begitu bodoh dengan memendam semuanya sendiri dan tidak pernah berani mengungkapkannya. Aku benar-benar kacau saat itu.
"Aku akan membantumu mendapatkannya." Lukas tersenyum yakin.
"Tapi..." aku ragu.
"Kau harus mengungkapkan perasaanmu padanya."
Entah kenapa saat itu ucapan Lukas begitu mengena dan aku menjadi antusias karena bantuannya. Aku pun mengiyakan dan bertekad untuk memberanikan diri mengungkapkan perasaanku pada Rey.
Hari itu adalah satu minggu setelah kejadian pengembalian barang milik Sofia. Rey putus dengan Gaby, pacarnya dari fakultas kedokteran. Entah kenapa saat ia putus seperti ini, sosok iblis dalam diriku selalu tertawa nakal seakan punya kesempatan untuk mendapatkan Rey. Dan benar, Lukas juga mendorongku untuk segera bersiap menyatakan perasaanku yang sebenarnya.
Saat itu adalah seminggu sebelum ujian akhir semester tujuh. Aku dan Rey sedang belajar bersama di perpustakaan. Sebenarnya dia buka tipe orang pembelajar sepertiku, tapi aku memaksanya. Lagipula, aku akan mengungkapkan perasaanku padanya sekarang.
"Rey..." panggilku pelan. Ia mendongak dan melihat ke arahku.
Aku mengambil beberapa lembar kertas yang telah aku siapkan lalu membukanya satu per satu.
Rey...
Aku ingin menyatakan sesuatu padamu
Sesuatu yang selama ini aku pendam,
sejak tahun pertama kuliah
Aku ingin mengatakan bahwa
Aku...
menyukaimu
Ia tampak sedikit terkejut dengan tulisan itu. Lalu aku menambahkan. "Aku serius, Rey."
"Itu trik yang bagus, Vi, lain kali sepertinya aku harus mencobanya pada calon-calon pacarku. Hahaha." Ponselnya berdering.
"Iya sayang, aku akan segera menjemputmu." Ucapnya dalam telepon.
"Aku pergi dulu ya." Ia mengatakan itu padaku dan berlalu dari hadapanku.
Sial. Ia menganggap ungkapanku itu sebuah bercandaan. Ia tidak tahu betapa sulitnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan ini, meskipun hanya melalui media kertas.
Cukup. Aku sudah menyerah sekarang.
Tapi Lukas terus saja mendorongku. Ia menyarankanku untuk menginap di apartemen Rey dengan alasan apartemenku sedang dalam renovasi. Awalnya aku menolak. Luka yang diberikan Rey sudah cukup untuk membuatku berhenti saat itu. Tapi, entah kenapa aku masih penasaran dan tetap ingin mengejarnya. Katanya, pengorbanan harus dilakukan untuk cinta.
Ketika aku, Rey, dan Lukas makan di kantin bersama aku mulai melakukan apa yang disarankan Lukas.
"Guys, apartemenku sedang direnovasi untuk beberapa minggu kedepan. Apa yang harus aku lakukan?" aku mulai merengek dan mengikuti skenario yang disuruh Lukas.
"Orang tuaku sedang datang dan menginap di apartemenku untuk beberapa minggu ke depan." Jawab Lukas untuk meneruskan skenario.
"Kau bisa tinggal di apartemenku untuk sementara, Vi." Ucap Rey yang menjadi tujuan utama skenario ini. Aku dan Lukas kemudian tersenyum karena berhasil.
Pada hari-hari awal aku tinggal bersama Rey sangat menyenangkan. Aku bisa belajar bersama dengannya, memasak dan sarapan bersamanya, berangkat ke kampus dan pulang bersama-sama. Menyenangkan. Aneh, begini saja aku sudah bahagia. Sangat.
"Vi, bisa ajarkan aku tentang pengauditan? Besok ada kuis dan aku tidak paham sama sekali materinya. Jika nilaiku buruk, kau tahu sendiri kan ayahku akan membunuhku." Rengeknya.
"Akan aku pertimbangkan jika kau tidak tidur ketika aku baru menjelaskan kalimat pertama." Aku memutar bola mataku kesal. Sudah sering seperti itu.
"Karena suaramu itu lembut dan menenangkan seperti cerita pengantar tidur. Hahaha." Aku merengut. "Oh ayolah, Vi, kasihani aku. Ya, ya?" ia mendekat dan merengek sambil menempelkan kepalanya di bahuku. Bagaimana aku bisa tidak luluh ketika ia melakukan hal seperti ini?
"Baiklah. Aku akan mengajarimu." Aku mengambil buku auditnya. "Di bab Audit of Cash and Financial Instruments?" ia hanya mengangguk. "Jadi, dalam siklus audit kas dan instrumen keuangan itu lebih kompleks dibandingkan siklus audit yang lainnya karena kas adalah muara dari semua transaksi. Kamu mau beli atau jual, bayar gaji pegawai atau dividen kas, semua akan berhubungan dengan kas." Kulihat ia hanya mengangguk-angguk perlahan.
"Lalu di sini ada istilah kitting. Apa maksudnya itu?" ia menunjukkannya lalu menatapku. Lucu sekali ekspresi wajahnya ketika ia antusias mendengarkan penjelasan dariku.
"Kitting adalah suatu kecurangan yang dilakukan dengan cara mentransfer uang dari satu bank ke bank yang lainnya dan sengaja mencatat transaksi tersebut dengan salah. Nah, untuk memeriksa adanya tindakan ini, auditor harus menyiapkan interbank transfer schedule dari rekening koran perusahaan." Ia hanya mengangguk pelan mencoba mencerna yang aku jelaskan. Lalu ia menyenderkan kepalanya ke meja karena lelah katanya.
"Sepertinya aku harus memeriksa transfer schedule-mu dengan gadis-gadis yang kau kencani itu untuk memastikan apakah kau ada waktu untukku." Ucapku lirih. Mungkin ia tidak mendengarkannya.
Aku melirik padanya. Ia memejamkan matanya. Tapi, "Kau tak perlu memeriksanya, Vi, aku akan selalu ada untukmu." Dengar, itu ucapnya ketika tidur, sangat menggemaskan. Bagaimana aku bisa melupakan perasaan ini, Rey, kalau kau begitu sangat ingin aku miliki.
Sampai suatu ketika, aku sedang memasak makan malam. Rey membawa Sofia ke apartemennya. Aku sedikit terkejut.
"Sofia akan menginap di sini malam ini." Ucapnya. Aku hanya menganggukkan kepala. "Aku sudah makan malam dengan Sofia tadi. Kau makan saja. Aku mau ke kamar dengan Sofia." Aku hanya mematung dan terdiam. Tak bisa mengatakan apa-apa.
Aku duduk di ruang makan dan memandangi dua piring hasil masakanku tadi. Rasa laparku terkalahkan oleh rasa sakit ini. Entah kenapa air mata ini jatuh tak tertahankan. Ingin rasanya aku pergi dari tempat itu sekarang. Aku pun beranjak dan pergi ke kamar Rey untuk berpamitan. Karena pintu kamarnya tidak terkunci, aku masuk begitu saja.
Aku melihat sebuah kejadian. Kejadian yang membuatku sangat yakin untuk melupakan segalanya tentang Rey. Kejadian yang menamparku dengan hebatnya. Aku melihat Rey dan Sofia t*******g di atas ranjang. Kedatanganku mengagetkan mereka berdua.
"Maaf!" seruku, lalu aku berlari keluar. Entah ke mana kaki ini membawaku pergi. Aku tak dapat menahannya. Sudah kuputuskan, aku berhenti mengejarnya mulai sekarang.
Aku menceritakan kejadian itu pada Lukas. Ia tak dapat mengatakan apa-apa lagi. Semuanya sudah terlalu rumit untuk dijelaskan.
"Aku akan pindah kuliah mulai semester depan." Ucapku pada Lukas tegas.
"Tapi Vi, tinggal satu semester lagi kita kuliah. Apa kau tidak ingin bertahan untuk sebentar saja, untuk menyelesaikan skripsimu?"
"Aku sudah nggak kuat lagi. Dari awal aku sudah memendam semuanya. Aku menahan perasaanku sekuat tenaga. Bahkan aku berusaha mengungkapkannya, tapi ia menganggapnya sebagai lelucon. Aku tidak tahan lagi, Lukas. Sangat sakit rasanya ketika melihat dia berhubungan s*****l dengan pacarnya." Aku meluapkan segalanya.
"Alvian..." Lukas mencoba menahanku.
"I know, I'm not a main character. I'm a side character." Sudah tak terukur lagi berapa tingkat kesedihanku. Seperti bilangan yang dibagi dengan nol. Ibarat bagaimanapun aku berusaha, sayangnya aku adalah nol. Hasilnya akan sama dengan tak terhingga seperti tingkat kesedihanku sekarang.
Lukas memelukku untuk menengangkan.
"Jika itu keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu. Kamu adalah sahabatku yang terkuat." Ia menepuk-nepuk pundakku pelan.
Malam itu adalah terakhir kalinya aku melihat Lukas dan Rey. Aku meninggalkan apartemen dan kampusku di Surabaya untuk transfer ke salah satu universitas di Jakarta. Meskipun harus transfer di semester delapan, aku tidak masalah. Lebih baik aku menghilang dari mereka daripada terus-terusan terluka seperti ini.
✉️
Jika jarak mampu meredakan sakit yang kurasa, maka aku akan pergi sejauh mungkin.
Jika melupakanmu mampu menghilangkan perasaan ini,
maka aku akan mencoba sekuat tenaga untuk melakukannya.
Tapi, kenapa kau tiba-tiba muncul di kehidupan masa depan
dan meruntuhkan pertahananku?
∞∞∞