Manajer payable klien audit kami, Tuan Reyhan, mempersilahkan aku dan Nathan duduk di ruangannya. Tatapannya tajam padaku, masih sama seperti dulu. Aku tak ingin membahas masa lalu yang kelam itu. Tuhan begitu lucu sudah menemukan kami kembali di sini.
Senggolan Nathan menyadarkanku dari lamunan, "Ehm..." aku sedikit berdehem untuk menghilangkan kegerogianku. "Kami adalah tim audit eksternal yang mengaudit perusahaan ini. Dan maksud kedatangan kami adalah untuk meminta salinan notes payable." Ucapku tanpa basa-basi. Rey berdiri dari kursinya dan mengambil beberapa map lalu menyerahkannya.
"Katakan saja apa yang dibutuhkan. Kami akan dengan senang hati bekerja sama dengan tim audit eksternal." Ucapnya dengan nada yang berwibawa. Tidak berubah sama sekali.
Aku dan Nathan beranjak. "Baiklah. Sementara ini yang kami butuhkan." Aku dan Nathan hendak keluar dari ruangan itu. Tapi...
"Alvian..." panggil Rey menahanku. Aku pun menyuruh Nathan untuk menungguku di luar ruangan. Aku berbalik dan menatap Rey.
"Ke mana saja kau sejak malam itu?" tanyanya. Aku menatapnya datar. "Aku sudah bertanya pada Lukas, tapi ia juga tidak tahu." Aku memang menyuruh Lukas untuk merahasiakannya.
Tiba-tiba seseorang masuk dari pintu ruangan itu. Dan ia adalah Lukas. Aku baru tahu kalau Lukas juga bekerja di sini, menjadi manajer pembelian.
"Alvian?" ia terkejut melihatku. Aku sekilas melihatnya. Lalu menatap Rey lagi untuk menegaskan sesuatu.
"Aku tidak bisa membahas hal pribadi yang akan mempengaruhi independensi hasil audit kami. Selamat siang." Aku pun keluar dari ruangan itu.
Nathan yang menungguku di luar sudah menyimpan beberapa pertanyaan. Aku hanya menjelaskannya bahwa manajer payable itu adalah temanku kuliah.
Tiba-tiba aku merasa pusing. Nathan menopangku.
"Vi, kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. "Hidungmu mengeluarkan darah lagi." Ia panik.
"Nath, bawa aku ke alamat ini..." ucapku semampuku setelah menyerahkan kartu nama yang ada di saku celanaku. Tiba-tiba semua menjadi gelap dan sunyi.
Aku terbangun di sebuah ruangan putih dan ada infus di lenganku. Aku melihat Nathan dan bu Susan khawatir.
"Sudah lebih baik?" tanya bu Susan dan aku hanya mengiyakan.
"Kenapa kau tidak bilang, Vi?" Nathan tampak sedih. "Jika aku tahu bagaimana kondisimu yang sebenarnya pasti aku akan menyuruhmu untuk tinggal di kantor dan biar aku saja yang mengambil notes payable itu." Nathan menyesal.
"Nggak papa, Nath. Aku sudah lama menderita penyakit ini." Aku mencoba untuk berbaring. Aku terbatuk dan mengeluarkan darah lagi.
"Vi..." Nathan tampak panik. Sementara bu Susan keluar untuk memanggil dokter.
"Aku nggak papa, Nath."
"Aku akan menghubungi orang tuamu. Berikan ponselmu."
"Tidak ada yang perlu dihubungi, Nath. Aku sudah tidak punya orang tua." Jawabku dengan parau sambil menahan tenggorokanku yang perih.
"Bagaimana dengan saudara-saudaramu?"
"Aku tidak punya siapa-siapa." Aku menghela napas dalam. "Boleh aku meminta sesuatu padamu?" Nathan mengangguk. "Nanti, jika aku mati, gunakan rekeningku ini untuk mengurus pemakamanku. Aku sudah bicara dengan pengacaraku."
"Alvian, kenapa kau bicara seperti itu? Kau tidak akan mati." Nathan menggeleng cepat.
"Nathan...ini fibrosis stadium akhir. Sirosis. Aku hanya tinggal menunggu kematianku di sini."
"Alvian..." Nathan memelukku sampai dokter datang.
"Kami hanya bisa memberikan obat pencegah rasa sakit. Sejatinya sirosis hanya bisa disembuhkan dengan pencangkokan hati." Jelas dokter itu.
"Lalu apakah sudah ada pendonor hati?" tanya bu Susan. Dokter itu hanya bisa menggeleng lalu pergi.
Bu Susan hendak pamit untuk pergi dan melanjutkan proses audit.
"Maaf aku telah merepotkan kalian. Maaf, Bu, harusnya aku menyelesaikan audit siklus kas dan instrumen keuangan itu." Sesalku.
Bu Susan mendekat. "Vi...kesehatan jauh lebih penting dari segalanya. Meskipun menyelesaikan proses audit adalah tujuan tim kita, namun kesehatan tetap menjadi prioritas utama. Dan aku mengizinkan Nathan di sini untuk menjagamu." Aku tak dapat berkata-kata hingga bu Susan berlalu. Sosoknya sudah seperti ibuku sendiri. Meskipun dia sebagai atasan, tapi ia sangat peduli pada anggota timnya.
Keesokan harinya Lukas datang. Ia mendengar kabar bahwa aku dirawat di rumah sakit.
"Vi...bagaimana bisa kau jadi seperti ini? Kenapa kau mengganti nomor telepon dan menonaktifkan semua sosial mediamu setelah malam itu?" mata Lukas berkaca-kaca melihat kondisiku saat ini. Lukas sekarang sudah lebih dewasa dan berkharisma.
"Lukas, terima kasih ya karena sudah menepati janjimu untuk merahasiakan ke mana aku pergi malam itu." Aku menunduk menahan tangis. "Malam itu adalah malam yang berat bagiku." Aku menghela napas panjang. "Aku harus merelakan semuanya. Rasa cintaku pada Rey, studiku di Surabaya yang hanya tinggal skripsi, persahabatan kita, kenangan-kenanagan indah yang kita lalui bersama Rey selama hampir empat tahun itu, semuanya. Sejak malam itu aku tidak ingin berhubungan lagi dengan kalian dan masa lalu. Aku memutuskan untuk menata kembali kehidupanku yang baru. Tanpa perasaan yang salah ini." Aku tak dapat menahan isakanku.
"Kamu tidak seharusnya menghilang seperti itu, Vi. Aku juga sangat khawatir padamu."
"Kalau menghilang mampu menjauhkanku dari perasaan itu kenapa enggak? Perasaanku sangat tulus pada Rey. Aku tak ingin perasaanku diartikan sebagai perasaan yang menjijikkan seperti anggapan mayoritas. Banyak orang menganggap perasaan cinta seperti ini adalah dosa. Menjijikkan. Dan hanya menuruti hawa nafsu. Maka dengan aku menyimpannya dan mengabaikannya aku ingin orang lain tahu bahwa perasaanku ini benar-benar tulus dan nyata adanya. Perasaan yang bukan hanya nafsu semata seperti anggapan orang lain." Aku tertahan karena batuk dan mengeluarkan darah lagi. "Lihat, Tuhan sudah menghukumku, kan, dengan penyakit ini? Padahal aku hanya menyimpan perasaan ini." Aku terkekeh.
"Alvian, kamu tidak sedang dihukum Tuhan. Justru Tuhan sangat sayang sekali padamu. Kamu tahu, saking sayangnya Tuhan padamu, Dia memberikanmu penyakit ini. Untuk apa kau tahu?" aku menggeleng. "Untuk menguatkanmu. Untuk memberikan pelajaran berharga bagi orang-orang di sekitarmu, termasuk aku. Aku jadi tahu sudut pandang lain mengenai arti cinta yang ada dalam dirimu. Bahwa cinta seperti itu juga ada. Hanya masyarakat saja yang terlalu berpikiran heteronormatif dan mengucilkan minoritas sepertimu." Lukas menghapus air mata yang menetes di pipinya.
"Apa kabar dengan Rey? Kulihat kemarin dia semakin tampan." Aku tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan.
"Dia sudah menikah dan istrinya sedang mengandung lima bulan."
"Dengan Sofia?"
Lukas tersenyum dan menggeleng pelan. "Dengan perempuan pilihan papanya." Lalu ia melanjutkan, "Apa kau masih membenci Rey?"
Aku menggeleng pelan. "Sedikit pun aku tidak pernah membencinya. Aku hanya membenci perasaanku padanya." Aku tersenyum pelan. "Andai saja perasaan itu tidak pernah ada." Aku menghela napas dalam. "Aku bahagia jika dia bahagia." Ucapku sebelum batuk lagi. Kali ini semakin parah dan aku tidak bisa berkata-kata lagi. Tenggorokanku sangat sakit.
Tiba-tiba ponsel Lukas berdering. Ia dikabari bahwa Rey mengalami serangan jantung dan di bawa di UGD rumah sakit ini.
"Rey sudah menderita penyakit jantung selama setahun ini. Penyakitnya hanya bisa disembuhkan dengan transplantasi jantung." Lukas menunduk. "Kau tahu Vi, apa hal yang paling menyakitkan di dunia ini? Melihat orang yang kita sayang menderita. Aku menyayangi kalian seperti saudaraku sendiri." Lukas berlalu dan keluar dari ruanganku.
Aku menatap kosong ke depan. Entah kenapa rasanya sakit mendengar bahwa Rey mengalami serangan jantung. Aku batuk berdarah lagi. Pusing dan lemas.
"Nath, tolong ambilkan aku kertas dan pulpen." Nathan menyerahkannya padaku. Dengan sekuat tenaga yang kupunya aku menulis di kertas itu. Air mataku menetes tak tertahankan. Tubuhku melemas dan semuanya menjadi gelap.
✉️
Aku hanya berharap suatu hari ketika kau merasa sedih dan kecewa, kau tak perlu mencari siapa pun. Kau masih memiliki aku yang tak akan pergi dari sini.
∞∞∞