Sebuah epilog...
Lukas mendorong kursi roda Rey keluar dari rumah sakit. Rey menatap kosong ke depan. Lalu tersentak seakan mengingat sesuatu.
"Aku harus segera menemui Alvian. Aku belum sempat mengatakan sesuatu padanya." Lukas yang mendengar itu hanya bisa menahan air matanya. Ia mengantar Rey ke apartemen Alvian.
"Vi! Vi! Alvian! Buka pintu apartemenmu!" Rey menggedor-gedor pintu apartemen Alvian tapi tak ada respon dari dalam sana. "Ah, mungkin Alvian masih bekerja." Ucap Rey. Lalu ia menyuruh Lukas untuk mengantarnya ke kantor akuntan publik tempat Alvian bekerja.
Kantor itu tutup. Rey hanya berteriak-teriak memanggil Alvian dari luar sana. Sebenarnya di dalam kantor itu ada Nathan yang membungkam mulutnya dengan tangan kanan untuk meredam isakannya.
"Rey..." panggil Lukas pelan.
"Ke mana perginya Alvian? Apa dia menghilang seperti dulu lagi?"
"Jika kamu ingin bertemu Alvian, aku akan mengatarmu." Lukas membukakan pintu mobil. Lalu mulai berkendara ke suatu tempat.
"Kenapa kau membawaku ke pemakaman?" tanya Rey yang tampak bingung.
Lukas kemudian menuntun Rey ke sebuah nisan. Nisan itu tertulis nama Alvian Hervianto, wafat 9 Juni 2019. Seketika Rey lemas dan terduduk.
"Ini tidak benar, kan? Lukas! Katakan kalau ini adalah mimpi!" Rey meronta. Ia terisak tak tertahan. Lukas hanya menunduk menyeka air matanya.
"Rey...sebelum meninggal, Alvian menitipkan surat ini untukmu." Lukas menyerahkan selembar kertas pada Rey. Lalu dengan cepat Rey membaca surat itu.
Untuk sahabatku tercinta, Reyhan.
Jika surat ini telah sampai padamu,
berarti aku sudah tidak ada di dunia ini.
Aku ingin berterima kasih karena kau sudah mau menjadi sahabatku.
Kau ingat pertama kali kita kenal? Saat ospek kampus, dan kita sama-sama terlambat.
Kau tahu, mungkin ini terdengar menjijikkan bagimu, tapi aku menyukaimu sejak saat itu.
Tahun berganti, dan kau tetap menjadi seorang playboy,
berganti-ganti pacar layaknya berganti pakaian.
Aku sangat kecewa ketika kau lebih memilih kencan dengan pacarmu itu daripada menonton film yang telah kau janjikan bersamaku,
Aku juga sangat kecewa ketika aku harus mengorek tempat sampah untuk mencari barang milik mantan pacarmu yang padahal ia sudah menyuruhku untuk membuangnya,
Tapi hal itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakitku ketika mendengar desahanmu bersama pacarmu malam itu.
Aku sudah mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku padamu dengan tulisan yang kubuat pada kertas itu.
Namun, kau menganggap itu sebagai lelucon. Aku bisa apa?
Lalu Lukas menyarankanku untuk tinggal bersama denganmu,
untuk lebih dekat denganmu.
Tapi apa?
Aku malah dipertontonkan adegan ranjang di depan mata kepalaku sendiri.
Itu menyakitkan, Rey.
Setelah itu aku memutuskan pergi dan menghilang dari kehidupanmu, dan juga Lukas.
Aku tidak ingin terus-terusan mengingatmu, karena perasaan itu masih ada.
Namun, ternyata Tuhan memberikanku kenyataan lain.
Aku divonis dokter menderita fibrosis yang sudah mengarah ke sirosis.
Sejak saat itu aku fokus untuk menyelesaikan studiku dan bekerja untuk menghasilkan uang,
untuk biaya pengobatanku. Lalu aku menjadi seorang auditor junior hingga sekarang.
Jujur, aku sangat terkejut melihatmu saat itu.
Aku sangat rindu padamu.
Tapi, hal yang lebih mengejutkanku lagi adalah ketika kamu dibawa ke UGD karena serangan jantung. Ingin sekali aku melihatmu untuk terakhir kalinya saat itu,
tapi aku tidak bisa.
Rey, selamat ya atas pernikahanmu, dan juga bayi yang ada dikandungan istrimu.
Aku bahagia jika kau juga bahagia.
Aku memutuskan untuk mendonorkan jantungku padamu karena aku yakin kau jauh lebih membutuhkannya di kemudian hari, lagipula umurku juga sudah akan berakhir saat itu.
Aku ingin kau tetap hidup untuk menjaga istri dan anak-anakmu.
Aku akan selalu mencintaimu,
Melalui jantungku yang ada di dalam tubuhmu,
Aku akan selalu bersamamu.
Aku mencintaimu, Reyhan.
Dari sahabatmu tersayang,
Alvian Hervianto
-END-