Alesha bersiap mengakhiri prasesi dengan kliennya. Seorang penyintas kanker. Setelah menjalani kemoterapi, radiasi, dan terapi hormon yang amat panjang dan menyakitkan, seorang penderita atau penyintas kanker tidak jarang mengalami gangguan kesehatan mental. Lebih-lebih setelah pernah divonis umurnya tidak akan panjang. Banyak yang memilih mengabaikan kesehatan mental mereka. Karena untuk mengobati kankernya saja sudah habis banyak biaya, kenapa harus mengeluarkan uang lebih untuk membayar psikiater atau psikoterapis?
Cancer-related cognitive dysfunction. Atau CRCD. Alesha sudah menjelaskan kepada kliennya apa yang tengah terjadi pada dirinya. Bukan hanya pada daya ingat dan analisis, CRCD juga meninggalkan dampak negatif pada aspek psikososial dan menurunkan kualitas hidup seseorang. Selain melakukan cognitive rehabilitation, cognitive training, dan occupational therapy, Alesha juga akan memperbaiki pola tidur dan mengatur diet kliennya.
“Apa Dokter punya cita-cita yang belum tercapai?” tanya kliennya tiba-tiba.
Alesha sudah berhenti mengoreksi setiap kali orang memanggilnya dokter. Karena hanya buang-buang waktu. Bukan, Alesha bukan dokter. Sekolah kedokteran saja tidak pernah. Gelar yang tertera di papan namanya adalah Doktor. Kalau belum tahu, gelar doktor diperoleh setelah seseorang menempuh pendidikan doktoral. Ada perbedaan besar antara dokter dengan doktor. Tetapi karena dia bekerja di rumah sakit, orang selalu mengasumsikan dia adalah dokter.
“Suatu hari nanti saya ingin menikah.” Pertanyaan tadi membuat Alesha sadar bahwa dia sudah memiliki segala yang diinginkan orang. Kecuali pernikahan. Suami dan anak.
“Apa Dokter merasa terbebani karena belum bisa mewujudkan keinginan itu?”
Alesha tersenyum. “Karena saya manusia, tentu saja kadang-kadang saya kepikiran. Tapi belum sampai terbebani.” Tidak apa-apa. Kalau pembicaraan ini membuat kliennya tidak merasa menderita sendirian—sebab tahu seorang ahli kejiwaan pun punya masalah dalam hidupnya—Alesha akan menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
“Jangan pernah merasa tertekan, sebab itu hanya akan menggerogoti kebahagiaan kita,” kata kliennya dengan penuh kesungguhan. “Seseorang tidak akan bertemu dengan pendamping hidupnya, hingga Tuhan memutuskan keduanya telah siap. Selama masa penantian, sebaiknya gunakan waktu untuk meningkatkan kualitas diri.
“Cobalah untuk belajar mengelola keuangan, memasak, membaca buku mengenai motherhood untuk menambah kesiapan mental dan sebagainya. Jika menjadi istri dan ibu menjadi rezeki kita, kita telah lima puluh persen siap menjalankan peran tersebut. Kalau bukan rezeki, kita tetap menjadi orang yang lebih baik daripada diri kita yang dulu.”
Sepenuhnya Alesha setuju. Sebab pasangan setiap orang diciptakan setara. Semakin baik kualitas diri kita, semakin baik pula kualitas pasangan kita kelak.
Alarm berbunyi. Alesha menutup file di depannya dan kembali mengambil alih kekuasaan. “Terima kasih untuk nasihatnya, Ibu Mira. Saya sangat memerlukannya. Kita akan lanjutkan hari Selasa. Tapi saya yang menerapi Ibu, ya. Kalau sebaliknya, nanti saya harus bayar Ibu.”
Kliennya tertawa sebelum meninggalkan ruangan Alesha dan menutup pintu.
Alesha menjatuhkan tubuhnya di kursi. Ibu Mira adalah klien terakhirnya. Hari yang sangat panjang. Tidak, Alesha tidak akan mengeluh. Malah bersyukur karena masyarakat tidak lagi abai pada kesehatan mental. Omong-omong soal kesehatan mental, Alesha ingat belum mengunggah gambar di media sosial hari ini. Minggu lalu dia berjanji kepada pengikutnya bahwa hari ini dia akan menjelaskan dampak pikiran negatif terhadap kesehatan fisik.
Ilustrasi sederhana dan enak dipandang mata sudah dibuat tadi malam. Tinggal keterangan gambar. Alesha mengetik sebuah pertanyaan di sana. Apa saja yang patut disyukuri hari ini? Jawaban dari pertanyaan ini amat kuat sehingga bisa mempengaruhi neurotransmiter—zat kimia pembawa pesan antar-sel-saraf—apa yang diproduksi otak.
Alesha mengerang gemas ketika nama ibunya muncul di layar. Sebentar lagi juga Alesha akan mampir ke rumahnya. Sebagai anak yang berbakti, Alesha menerima panggilan sambil memasang senyum di wajahnya. “Halo, Ibunda.”
Jangan salah, penelepon bisa merasakan apakah ada senyum di suara kita atau kita sedang bersungut-sungut ketika menjawab panggilan.
“Alesha! Cepat ke rumah Elmar!” Ibunya bahkan tidak membalas candaan Alesha dengan balas menyapa ‘ananda’. Seperti yang biasa dilakukan ibunya setiap Alesha memanggilnya Ibunda. “Istri Elmar meninggal. Gantung diri.”
Baru saja Alesha bersyukur melihat kesadaran masyarakat mengenai kesehatan mental semakin tinggi. Sekarang dia harus mendengar kabar yang sangat memprihatinkan seperti ini. Yang datang dari salah satu mantan orang terdekatnya. Bagaimana mungkin Elmar mengabaikan kesehatan mental istrinya sampai istrinya memutuskan mengakhiri hidup? Laki-laki itu terdidik dan berwawasan. Ditambah, selama Alesha menempuh pendidikan di bidang psikologi dan psikoterapi dulu, mereka banyak mendiskusikan mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental. Tidak bisakah Elmar melakukan sesuatu untuk menolong istrinya?
“Nanti aku melayat….”
“Sekarang, Alesha,” potong ibunya. “Kaisla membutuhkanmu. Dia orang pertama yang menemukan mayat ibunya. Mama rasa dia trauma. Mama mohon, Alesha. Tolonglah Kaisla. Kalau kamu masih membenci Elmar, tolong lakukan demi Mama.”
Betapa kejamnya dunia ini. Kenapa Kaisla, anak Elmar—usianya belum lima tahun—harus mengalami kejadian mengerikan semacam ini? Alesha tahu benar bahwa kematian orangtua—terutama ibu—selalu menyakitkan bagi anak-anak. Ketika penyebab kematian adalah bunuh diri, dampak negatif psikologisnya jauh lebih besar. Perasaan bingung, bersalah, takut, marah, dan sebagainya semakin tidak bisa diproses dengan baik.
“Baiklah, Mama. Aku ke sana sekarang.” Demi Kaisla, Alesha akan ke sana. Ke rumah Elmar. Karena urusannya dengan Elmar di masa lalu tidak ada sangkut pautnya dengan anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Kaisla tidak paham bahwa keputusan ayahnya di masa lalu menyakiti Alesha. Sangat tidak adil kalau Alesha membenci Kaisla hanya karena kesalahan yang diperbuat ayahnya, sebelum dirinya dilahirkan.
Alesha segera mengemasi barangnya dan berjalan cepat meninggalkan ruangan. Pikirannya bergerak menuju ke masa enam tahun yang lalu. Saat Rafka—kakak kandung Alesha—dan istrinya meninggal dunia bersamaan dalam kecelakaan lalu lintas. Pada waktu itu hampir-hampir Alesha tidak ingin melanjutkan hidup. Belum selesai Alesha menerima kenyataan bahwa dia harus kehilangan dua orang yang amat dicintainya dalam waktu bersamaan, Alesha harus harus kembali merasakan sakit karena Elmar menikah dengan wanita lain. Dua kejadian menyedihkan yang terjadi dalam waktu berdekatan tersebut melemparkan Alesha ke jurang depresi.
Orang dewasa sepertinya—yang mampu menceritakan dengan baik segala kesedihan yang dia rasakan kepada terapis—perlu waktu yang sangat lama untuk sembuh. Bagi anak-anak—yang tidak bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi—seperti apa sulitnya?
Kalau istri Elmar memang ingin mempersingkat hidupnya, tidak bisakah dia memilih lokasi yang lebih tersembunyi? Sekira Kaisla tidak melihat mayatnya. Benar-benar tidak masuk akal. Di dunia ini, siapa yang tidak trauma melihat ibunya bergelantungan tidak bernyawa, dengan lidah terjulur dan mata melotot? Orang dewasa pun tidak akan doyan makan dan tidak bisa tidur selama beberapa hari setelah melihat orang gantung diri. Apalagi anak-anak? Memang anak-anak mudah pulih dari trauma, tapi luka tak terlihat di jiwa mereka akan selalu terbawa sampai dewasa.
Alesha menenangkan diri sebelum masuk mobil. Hari ini akan menjadi hari pertamanya melihat Elmar setelah lima tahun Alesha menghindari Elmar dan orang-orang terdekat Elmar. Seharusnya hati Alesha sudah lebih kuat ketika sanggup menerima kenyataan bahwa seseorang yang dia cintai bisa, dan berhak, mencintai orang lain. Bahwa kita tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain dan tidak akan pernah bisa memaksa orang lain mencintai kita.
(Bersambung)