Alesha mencium puncak kepala Kaisla, yang duduk diam di pangkuan Alesha. Memeluk Bella—boneka beruang usang—dan menikmati semangkuk es krim stroberi. Dengan banyak sprinkle di atasnya. Rambut Kaisla halus sekali. Harum stroberi, buah, dan warna kesukaannya. Khas anak perempuan kecil. Pernah sekali Alesha bertanya apa warna favoritnya, dengan menggemaskan anak ini menjawab, “Walna setobeli.”
Seharusnya Alesha tidak menyukai Kaisla. Anak Elmar bersama wanita yang menutup kesempatan Alesha untuk memiliki Elmar. Namun niat Alesha untuk membenci keturuan Elmar—bersama wanita lain—layu sebelum berkembang. Tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa membenci anak manis dan lucu ini. Macan paling ganas pun akan langsung jinak seperti anak kucing begitu melihat mata bulat dan sepasang lesung pipit di wajah Kaisla. Termasuk Alesha.
Pertama kali Alesha bertemu Kaisla, Alesha masih ingat, saat itu usia Kaisla dua tahun dan sedang ikut neneknya berkunjung ke rumah orangtua Alesha. Melihat senyum malu di wajah manis Kaisla, ketika gadis mungil itu memanggilnya ‘AnTe Echa, hati Alesha mencair di tempat. Segala rasa marah, benci, atau apa saja yang masih banyak tersisa untuk Elmar, tidak muncul ke permukaan. Lebih-lebih Alesha mendapat hadiah ciuman di kedua pipi dari Kaisla. Meskipun tidak lagi menyukai Elmar, saat itu Alesha berjanji akan berteman dengan Kaisla.
“Oh, Jackson sudah bangun,” kata Alesha ketika melihat Jackson, kucing belangnya, masuk ke ruang tengah, dan berbaring di lantai di depan Alesha. “Isla, mau dengar cerita gimana Tante ketemu sama Jackson?”
Kaisla mengangguk pelan dan menyandarkan kepalanya—dengan penuh kepercayaan—di d**a Alesha. Banyak orang di kota ini memercayakan rahasia paling kelam dalam hidupnya kepada Alesha. Ketika mereka membicarakan masalah yang dihadapi dan mencari solusi di dalam ruangan Alesha di rumah sakit. Tetapi mendapat kepercayaan dari seorang anak berusia kurang dari lima tahun di pelukannya? Baru pertama kali terjadi dalam hidup Alesha. Alesha memperbaiki duduknya, mencari posisi paling nyaman setelah meletakkan mangkuk es krim di meja.
Kaisla memasukkan ibu jari tangan kanannya ke mulut dan mengisapnya. Kebiasaan buruk dan Alesha tidak bisa menyetujuinya. Tetapi kali ini Alesha akan memberikan kelonggaran, kalau mengisap jempol membuat rasa takut di hati Kaisla hilang.
Oh, Sayang, bisik Alesha dalam hati. Besok kamu akan bisa tertawa lagi. Tante akan memastikan. Untuk menolong Kaisla, tentu saja Alesha harus berurusan dengan Elmar. Namun kemanusiaan di atas segalanya. Masa hanya karena sakit hati karena cinta ditolak, lantas tidak mau membantu mereka ketika mereka sedang berduka? Itu bukan manusia namanya. Siluman mungkin. Lagi pula, sekarang Alesha sudah bisa membentengi hati supaya tidak terpesona—apalagi jatuh cinta—pada Elmar. Alesha akan terus mengingatkan dirinya sendiri bahwa komunikasinya dengan Elmar hanya demi Kaisla. Setelah Kaisla sembuh dari trauma dan depresi, Alesha akan kembali menghilang dari hidup mereka.
“Pertama kali Tante ketemu Jackson saat hari hujan. Hujan deras sekali. Waktu itu Tante sedang naik mobil, mau pulang ke rumah. Tante berhenti di depan toko….”
Memperhatikan Kaisla menyimak cerita dengan mata setengah mengantuk, keinginan untuk berkeluarga tiba-tiba menyeruak di dalam diri Alesha dan membuat suara Alesha bergetar. Memiliki satu anak—atau tiga—yang cerdas dan cantik seperti Kaisla pasti menyenangkan. Namun sebelum itu terjadi, Alesha harus menikah lebih dulu. Apa susahnya? Masalah terbesar yang dihadapi Alesha selama ini adalah belum menemukan laki-laki baik yang tidak minder berhadapan dengannya.
Setelah Kaisla tidur nyenyak, Alesha tidak segera membaringkan Kaisla di kamar. Tetapi memilih berlama-lama memeluk tubuh kecil Kaisla, yang mampu membangkitkan seluruh hasrat keibuan dalam diri Alesha. Semenjak cintanya kandas di tangan kedua orangtua Kaisla, Alesha tidak pernah lagi memikirkan pernikahan dan anak-anak. Ya, suatu hari nanti memang dia ingin menikah, tapi karena kesibukan—meraih dua gelar doktor bukan pekerjaan mudah—Alesha belum pernah bertemu dengan ‘suatu hari nanti’ yang dia maksud. Selama lima tahun, dua atau tiga kali Alesha berkenalan dengan laki-laki, kebanyakan melalui Edvind dan ibu Alesha. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membuat Alesha ingin sejenak memelankan laju kariernya untuk berumah tangga.
Karena mereka semua bukan Elmar.
Alesha tahu bahwa tidak seharusnya dia menggunakan Elmar sebagai patokan dalam mencari pasangan. Namun sayang, dalam kamus hidup Alesha, definisi laki-laki baik telanjur diwakili satu kata saja. Elmar. Hingga hari ini, Alesha belum bisa mengubah pengertian tersebut. Alesha menarik napas. Pantas saja sampai sekarang dia tidak kunjung menikah. Kriteria yang ditetapkan terlalu tidak masuk akal. Tidak akan ada satu orang pun di dunia yang akan memenuhinya. Kecuali Elmar sendiri.
***
Seharusnya seorang lelaki bersedih dan berduka ketika istrinya meninggal dunia. Memakamkan istrinya dengan mata memerah, tanda menahan tangis karena tidak sanggup ditinggal teman hidupnya. Elmar menatap makam Jossie untuk terakhir kali, sebelum berbalik dan bergabung dengan para pelayat. Yang dirasakan Elmar sejak menerima telepon dari pengasuh Kaisla hanya dua; marah dan malu. Marah karena Jossie mengakhiri hidup di depan anaknya. Anak yang tidak disukai Jossie. Malu karena sekarang semua orang tahu bahwa dia bukanlah suami yang baik. Suami yang baik tidak akan pernah kehilangan istri dengan cara seperti ini.
Elmar tidak menyangka Jossie bisa berbuat sekejam itu kepada anak sendiri. Tidak. Jangan hanya menyalahkan Jossie. Sebagian dari masalah ini timbul karena salah Elmar juga. Seandainya saja Elmar mau lebih peduli kepada keluarga kecilnya. Lebih perhatian terhadap apa-apa yang terjadi di dalam rumahnya. Memang pernikahannya dengan Jossie tidak didasari cinta, dan tidak pula dijalani dengan cinta yang menggebu-gebu. Tetapi bukankah Elmar sudah berjanji kepada Niklas—sahabatnya sekaligus kakak kandung Jossie—bahwa Elmar akan selalu menjaga Jossie? Batu nisan yang baru saja ditancapkan adalah bukti kegagalan Elmar dalam memenuhi janjinya. Laki-laki sejati tidak boleh menyalahi janji. Bahkan jika janji tersebut harus ditunaikan dengan mengorbankan nyawa.
“Mending aku mati aja,” kata Jossie tadi malam. “Aku benci kamu, Elmar. Kenapa kamu membiarkan aku hidup tapi kamu terus membuat hidupku menderita? Kamu selalu bersikap sok pahlawan, tapi mengacaukan semuanya.”
Sejak kapan menyarankan—dan bersedia mendampingi—Jossie untuk mendatangi ahli kejiwaan, untuk mendapat bantuan profesional, disebut memberikan penderitaan? Elmar sangat ingin Jossie keluar dari depresi. Lalu menjalani hidup dengan normal. Kalau Jossie malu bertemu dokter di sini, Elmar bersedia membawanya ke luar negeri.
Tetapi apa balasan yang didapat Elmar dari segala upayanya? Kepada semua orang yang bertanya kenapa Jossie tampak tidak bersemangat dan selalu bersedih, Jossie menjawab dalam pernikahan mereka, Elmar menyakitinya. Berita bohong tersebut menyebabkan polisi mencurigai ada kekerasan dalam rumah tangga di balik kematian Jossie. Membuat Elmar harus ditanya-tanyai selama lebih dari tiga jam. Tidak akan ada bukti yang didapat polisi untuk memperkuat dugaan itu. Karena memang itu semua hanya kebohongan yang disebar Jossie. Kesaksian pengasuh Kaisla dan asisten rumah tangga menguatkan pembelaan Elmar.
“Elmar.”
Langkah Elmar terhenti ketika mendengar seseorang memanggil namanya.
“Alesha baru saja memberi tahu Mama. Katanya, sebaiknya Kaisla menginap bersamanya saja. Ibumu setuju, karena malam ini kita akan sibuk mengadakan doa bersama untuk Jossie. Keperluan Kaisla tadi diambil oleh Alwin dan diantar ke rumah Alesha.” Ibunda Alesha, berdiri di sampingnya dan menyebut nama Alwin, kakak Alesha.
Alesha. Di antara semua orang di dunia ini, Elmar tidak menyangka mantan kekasihnya akan berbaik hati menyediakan diri menjaga Kaisla. Seandainya saja orangtua Jossie mau membuka hati seperti Alesha, mau membantu Elmar mengurus penguburan jenazah anak kandung mereka. Sehingga orangtua Elmar bisa fokus mengurus Kaisla dan tidak perlu merepotkan Alesha. Benar-benar malang sekali nasib Jossie. Sampai Jossie dimakamkan pun, orangtuanya tak kunjung memaafkannya.
“Kalau begitu, nanti aku mau ke rumah Alesha, Ma.” Elmar ingin segera memeluk anaknya dan membisikkan kata-kata penghiburan yang menenangkan di telinganya. Meyakinkan Kaisla bahwa semua akan baik-baik saja. Orang boleh mengatakan Elmar bukan suami yang baik. Tetapi Kaisla harus tahu bahwa Elmar adalah ayah terbaik yang bisa dia miliki.