Elmar membalik badan setelah mengetuk pintu rumah Alesha, menatap bunga anggrek di atas pot di meja kayu bundar di teras. Indah. Kelopak-kelopak putihnya—bertotol ungu—lebar dan menyenangkan dipandang mata. Milik Alesha? Seingat Elmar, Alesha tidak suka merawat makhluk hidup. Baik tanaman atau hewan. Takut tidak sengaja membunuh katanya. Dulu Alesha pernah memelihara ikan dalam fishbowl. Saat ikan berwarna oranye itu mati, Alesha menetapkan masa berkabung selama seminggu. Di mana selama waktu tersebut Alesha menolak bersenang-senang. Tidak makan es krim, tidak menonton film lucu, dan tidak bernyanyi.
Tetapi lima tahun sudah berlalu, bisa saja Alesha kini sudah pandai memelihara tanaman.
“Hai, El.” Alesha, dengan kaus putih dan senyum terpaksa, membuka pintu. “Apa kabar?” Sedetik kemudian mata Alesha melebar. Menggemaskan sekali. “Sorry, nggak seharusnya aku nanya begitu. Kebiasaan kalau lama nggak ketemu orang. Sorry.”
Seperti apa kabar Elmar? Elmar sendiri tidak tahu. Mungkin bertambah buruk karena Elmar menyadari munculnya indikasi penyakit kronis dalam dirinya. Ditandai dengan jantung yang berdetak sangat cepat, hanya karenamelihat Alesha untuk pertama kali setelah lima tahun. Wanita di depannya ini terlalu cantik untuk ukuran manusia. “Buruk, kabarku buruk, Alesha. Kamu apa kabar? Kuharap lebih baik.”
Ketika saling berhadapan seperti ini, jarak lima tahun di antara mereka seperti menyusut begitu saja. Pandangan Elmar langsung jatuh pada sepasang mata bulat yang tengah menatapnya. Iris mata Alesha terlihat semakin biru. Atau mungkin sejak dulu memang warna birunya setajam itu. Yang memudar adalah kenangan yang terpatri di benak Elmar. Sama seperti pada masa lalu, setiap menatap wajah Alesha, Elmar tidak bisa berkedip sama sekali. Elmar dipaksa meneliti setiap mili. Kali ini Elmar seolah diminta membandingkan Alesha yang sekarang dengan sosok yang selama ini tersimpan di ingatannya.
Rambut Alesha yang dulu cokelat gelap, kini dicat hitam legam. Lebih pendek daripada yang diingat Elmar. Masih tetap tebal dan bergelombang. Kulitnya tampak bening dan halus. Lipstik sudah memudar dari bibir penuhnya. Bibir yang sengaja diciptakan untuk di … Elmar mengusir keinginan tidak masuk akal tersebut. Demi Tuhan, dia baru saja memakamkan istrinya. Sekarang sudah bernafsu ingin mencium wanita lain? Bibir Alesha—dan bagian tubuh lain—adalah area terlarang. Jangan pernah lagi memiliki keinginan untuk menyentuh, apalagi menciumnya. Tetapi dasar perangai manusia, semakin dilarang semakin ingin melakukan.
Dengan pakaian rumahan yang sederhana, Alesha terlihat sangat berkelas. Tubuh Alesha, secara keseluruhan, lebih kurus. Tetapi di beberapa tempat, tempat yang tepat, semakin berisi. Jangan berpikir yang tidak-tidak, Elmar. Otak Elmar kembali mengingatkan.
Badan Elmar masih ingat apa yang harus dilakukan setiap kali bertemu Alesha. Mendekatkan wajah dan mencium pipi Alesha. Hanya sekilas menempelkan bibir di kulit Alesha bisa membuat sekujur tubuh Elmar seolah tersentuh kabel telanjang beraliran listrik tegangan tinggi. Seluruh sel di tubuhnya seperti disentak kuat sekali. Hatinya yang mati suri selama lima tahun ini, mendadak menemukan alasan untuk hidup kembali. Elmar ingin meraih Alesha dan mereguk lebih banyak lagi kehangatan. Hanya Alesha satu-satunya wanita yang bisa membuat Elmar merasa rakus seperti ini.
Elmar tidak menyangka dirinya akan bertingkah seperti remaja laki-laki yang diajak salaman wanita cantik untuk pertama kali saat bertemu Alesha kembali. “Terima kasih kamu sudah menjaga Kaisla. Aku tidak tahu akan jadi apa kalau tidak ada kamu. Hari ini….”
“Shhh….” Alesha meletakkan telunjuk di depan bibirnya. “Wajar kita saling menolong saat membutuhkan, El. Masuklah, tapi pelan-pelan bicaranya. Kaisla tidur. Dia….”
Bahkan suara Alesha pun berbeda dari yang selama ini tersimpan dalam memori Elmar. Lebih teduh. Lebih lembut. Suara yang ingin didengar seluruh laki-laki di seluruh dunia setiap pagi begitu membuka mata. Dan malam menjelang tidur. Betapa beruntung siapa pun laki-laki yang menjadi pasangan hidup wanita luar biasa ini.
Elmar mengikuti Alesha masuk rumah, berusaha mengalihkan pandangan—dari b****g Alesha yang bulat seksi—ke seluruh ruangan. Rumah Alesha nyaman. Cukup luas. Tidak terlalu banyak perabot dan hiasan. Sangat Alesha sekali. Praktis. Sederhana. Kaki Alesha tampak semakin jenjang dengan celana panjang yang seperti dijahit khusus setelah mengukur kedua kaki dengan akurat. Goddammit, Elmar mengumpat dalam hati. Kenapa perhatiannya bergerak ke tubuh Alesha lagi? Tidak bisakah dia menahan diri sedikit?
“Duduklah.” Dengan gerakan tangan—yang sangat anggun—Alesha meminta Elmar duduk di kursi di depan meja makan. “Apa kamu mau minum sesuatu? Kamu sudah makan?” Alesha membuka pintu kulkas dan mengeluarkan satu teko bening lemon tea.
“Tidak usah repot-repot, Alesha. Aku hanya ingin melihat Kaisla sebentar. Kata Mama Em, kamu menawarinya menginap di sini.” Makan adalah hal terakhir yang ingin dilakukan Elmar hari ini. “Kamu banyak membantuku. Hari ini aku dan orangtuaku masih harus mengurus beberapa hal. Pengasuh Kaisla mengundurkan diri hari ini juga karena trauma.”
Sebelum kejadian, Kaisla dan pengasuhnya bermain di rumah tetangga. Ketika jadwal mandi tiba, Kaisla pulang sambil bernyanyi riang. Pengasuhnya membukakan pintu dan mengizinkan Kaisla masuk lebih dulu, sementara itu dia membereskan mainan Kaisla di teras. Setelah menutup pintu, pengasuh Kaisla memanggil Kaisla agar segera memilih mainan yang ingin dibawa ke kamar mandi. Karena tidak mendapat jawaban, wanita berusia empat puluh lima tahun itu mencari di mana Kaisla berada. Betapa terpukulnya dia, melihat Kaisla berdiri di ruang tengah, menatap ibunya yang sudah tergantung tak bernyawa di railing lantai dua.
Asisten rumah tangga Elmar sedang minta libur karena anaknya datang berkunjung. Seandainya Elmar tidak mengizinkan, pasti dia akan menjadi orang pertama yang menemukan mayat Jossie. Bukan Kaisla. Kalau asisten rumah tangganya di rumah, Jossie tidak akan mati.
“Kaisla tidur nyeyak sama Jackson—”
“Who?” potong Elmar. “Kamu membiarkan anakku tidur bersama pacarmu?”
Alesha meletakkan gelas berisi lemon tea di meja dan duduk di depan Elmar. “Pacar? Jackson Nicolas Hakinen itu kucingku. Kaisla, dia, sejak tadi—”
“Jackson Nicolas Hakkinen?” Elmar mendengus tidak percaya. “Tidak ada nama yang lebih normal? Si Belang, misalnya? Si Putih? Nama itu terlalu berat untuk seekor kucing. Tapi sejak kapan kamu punya kucing? Kamu tidak suka memelihara makhluk hidup. Terutama hewan.”
“Terserah aku mau menamai kucingku apa. Aku berubah, Elmar. Bukan orang yang kamu kenal dulu.” Alesha melipat tangan di meja. “Kita di sini bukan untuk membandingkan masa lalu dan masa kini. Ada masalah yang lebih penting. Kamu harus tahu, Kaisla kesulitan mencerna apa yang terjadi hari ini. Setelah kejadian tadi, dia nggak mau bicara. Selama tidur, beberapa kali dia terbangun dan menangis ketakutan. Mimpi buruk akan terjadi padanya selama beberapa waktu ke depan. Apa kamu tahu, saat menemukan mayat ibunya, dia sama sekali nggak menangis? Nggak histeris? Hanya diam mematung?”
Elmar mengangguk. Pengasuh Kaisla sudah menjelaskan. “Apa yang harus kulakukan, Alesha?” Tidak ada orang yang lebih memahami kejiawaan manusia selain Alesha. Dari dulu Elmar selalu percaya.
“Anak-anak lebih tangguh daripada orang dewasa. Dengan bantuan ahli kejiwaan, mau itu dokter, terapis, siapa pun di antara mereka yang bisa kamu percaya, Kaisla akan bisa kembali melanjutkan hidup dengan baik. Nggak ada pilihan lain bagimu selain segera melakukannya, Elmar.” Alesha meraih tangan Elmar di meja dan menggenggamnya.
Tatapan Elmar jatuh pada tangan Alesha. Apa dulu juga sekecil itu? Sampai Alesha perlu dua telapak untuk melingkupi punggung tangan Elmar.
“Anak-anak.…” Alesha tampak kesulitan memilih kata. “Uh … yang orangtuanya bunuh diri, punya potensi untuk meniru tindakan tersebut. Untuk mengurangi risiko itu, sejak awal seperti ini, Kaisla harus menerima penjelasan langsung darimu ke mana ibunya pergi. Apa yang dilakukan ibunya. Kenapa ibunya melakukan itu. Aku sarankan kamu nggak menggunakan kata-kata kiasan.
“Seperti Mama pergi ke tempat yang lebih baik atau Mama lebih bahagia di surga. Kalimat semacam itu akan membuat anak-anak ingin menyusul ke sana. Sama sepertimu, Kaisla harus segera berdamai dengan kenyataan yang pahit ini. Jangan memaksanya melupakan. Kamu dan siapa pun nggak akan bisa menghapus kejadian ini dari ingatan Kaisla. Hingga dia dewasa nanti, kepergian ibunya dengan cara brutal ini akan memengaruhi beberapa aspek dalam kehidupannya. Dalam pengambilan keputusan dan lain-lain.
“Tetapi Kaisla bisa diajarkan, diarahkan untuk memperbaiki cara pandangnya terhadap masalah ini. Supaya dia nggak tumbuh menjadi seseorang yang cenderung menyukai jalan pintas ketika menghadapi masalah, berpikiran pendek, atau setuju dengan tindakan bunuh diri. Hal pertama yang harus kamu lakukan, buatlah janji dengan Dokter Laura di rumah sakitku besok. Dia yang terbaik di kota ini. Nanti aku ambilkan kartu namanya.”
Kemarahan kembali menyeruak di d**a Elmar. Kalau Alesha tidak sedang menggenggam tangannya, Elmar akan meninju apa saja yang berada di dalam jangkauan tangannya saat ini. Karena Elmar tidak bisa lagi meninju Jossie. Sepanjang pernikahannya dengan Jossie, Elmar tahu istrinya sulit menyayangi Kaisla. Tetapi Elmar tidak paham kenapa Jossie tega merusak masa depan Kaisla seperti ini.
“Apa tidak bisa kamu saja yang membantu Kaisla? Kaisla sudah kenal kamu dan nyaman bersamamu.” Kali ini Elmar memohon sambil menatap langsung kedua mata Alesha. Kalau melihat kesungguhan di mata Elmar, siapa tahu Alesha mau menolongnya.