Keputusan yang salah. Bukannya berhasil menunjukkan kesungguhan, Elmar malah terisap ke dalam mata Alesha dan otaknya tidak bisa memproduksi kalimat lanjutan untuk membujuk Alesha. Mata biru Alesha sangat bisa menggoda siapa saja untuk menenggelamkan diri di dalam sana selamanya. Seperti lautan dalam yang luas tanpa batas, di balik sepasang mata itu terseimpan banyak misteri. Seumur hidup pun tidak akan cukup untuk mempelajarinya satu per satu. Di luar kendali, hati Elmar berharap dia memiliki kesempatan lagi untuk menyingkap satu demi satu lipatan misteri tersebut.
Alesha menggeleng. “Aku nggak bisa melakukannya. Aku memiliki perasaan … khusus … kepada Kaisla dan itu akan membuat penilaianku bias. Tapi, El, kalau kamu dan Kaisla memerlukan bantuan, teman bicara, diskusi atau apa, aku ada di sini. Sampai Kaisla sembuh.
“Kamu nggak sendirian, Elmar. Jangan takut meminta bantuan kepada siapa saja. Meminta bantuan bukan menunjukkan kamu lemah. Tapi menunjukkan bahwa kamu berani. Berani mengakui bahwa kamu bukan manusia super. Berani memperlihatkan kepada semua orang bahwa kamu bersedia melakukan apa saja demi kebahagiaanmu bersama Kaisla. Kedua orangtuamu, teman-temanmu, orang-orang yang menyayangimu akan membantumu.”
Kalau begitu, berarti kamu masih menyayangiku? Hampir-hampir Elmar menyuarakan pertanyaan ini. Karena kamu mau membantuku?
“Ingatlah selalu, Elmar, kita bisa melakukan apa saja, tapi tidak segalanya,” lanjut Alesha.
Elmar mengangguk. Dengan pengalaman dan ilmunya, Alesha tentu bisa memberi Elmar masukan yang berguna. Untuk menyelamatkan Kaisla. Satu-satunya harta Elmar yang paling berharga. Tanpa Kaisla, Elmar tidak akan punya alasan untuk melanjutkan hidupnya. “Kamu harus bersyukur karena tidak menikah denganku, Alesha. Karena aku bukan suami yang baik.”
Wajah Alesha mengeras. “Tanpa kamu katakan, aku tahu kamu nggak menginginkanku, dulu saat kamu memilih menikah dengan Jossie. Kamu nggak perlu melakukannya lagi sekarang. Nggak usah khawatir, aku hanya menawarkan bantuan padamu. Bukan pernikahan. Aku sudah bisa menerima kenyataan bahwa kamu nggak akan pernah lagi mencintaiku. Percayalah, aku mau bicara denganmu lagi, seperti ini, hanya demi Kaisla.”
Tidak pernah lagi mencintai Alesha? Seandainya saja Alesha tahu apa yang dirasakan Elmar saat ini. Kalau Elmar tidak menahan diri, pada hari ini, hari kematian istrinya, Elmar bisa jatuh cinta lagi kepada Alesha. Tetapi Elmar bisa mengingatkan dirinya bahwa sekarang dia memiliki prioritas hidup yang lebih penting daripada jatuh cinta dan berkencan. Membangun hidup baru bersama Kaisla. Satu nama itu saja, nama anaknya, sudah cukup membuat Elmar membunuh benih cinta untuk Alesha yang hampir saja berkecambah kembali di dalam hatinya. Tentu saja dia bisa. Harus bisa.
***
Tidak bisakah orang-orang menatapnya biasa saja? Tanpa sorot ingin tahu? Tanpa pandangan kasihan? Sampai hari ketiga setelah kematian Jossie, keluarga besar Elmar—dari pihak ibu—masih banyak berdatangan. Sebagaimana kelahiran seseorang, kematian juga merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan. Normalnya, yang terjadi di alam ini, manusia lahir, tumbuh, menua, lalu mati. Hanya kadang-kadang terjadi hal-hal di luar kewajaran. Meninggal karena bunuh diri misalnya. Seperti biasa, segala sesuatu yang tidak normal lebih menarik untuk dibicarakan. Elmar sudah lelah menjawab pertanyaan kenapa Jossie bisa memutuskan mengakhiri hidup, bagaimana reaksi Kaisla ketika melihat ibunya pergi dengan cara seperti itu, dan banyak lagi. Yang membuat Elmar ingin marah adalah, kalau Elmar tidak menjelaskan, orang akan memercayai spekulasi yang dibuat wartawan, yang semuanya berbeda-beda.
Iya, berita kematian Jossie masuk koran dan televisi. Seorang wanita dengan kehidupan nyaris sempurna—muda, cantik, punya anak satu anak yang manis, istri pemilik pabrik mebel modern terbesar se-Indonesia—tewas gantung diri di dalam rumahnya sendiri. Bagian muka rumah Elmar, lengkap dengan garis polisi, dipasang bersama berita-berita tersebut. Tadi pagi Elmar sudah membuat pernyataan resmi terkait meninggalnya Jossie lalu mengumumkan melalui e-mail internal kepada seluruh pegawai. Juga melalui laman perusahaan.
Elmar membenarkan bahwa istrinya meninggal tiga hari yang lalu dengan penyebab yang sudah diketahui bersama. Hanya saja tidak ada yang tahu latar belakang Jossie memilih jalan tersebut. Hasil autopsi tidak bisa mengungkap motif bunuh diri, hanya menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan dalam tubuh Jossie dan fisik Jossie seratus persen sehat. Meski tahu tidak ada gunanya, Elmar tetap meminta para pegawai untuk tidak menduga-duga dan melebih-lebihkan cerita.
Elmar menekan bel rumah Alesha. Jam sepuluh pagi Elmar memutuskan meninggalkan kantor. Semestinya hari ini Elmar bertemu dengan wali kota, untuk membicarakan dana CSR yang akan digunakan untuk membangun ruang terbuka hijau. Tetapi karena masih lelah—fisik maupun jiwa—Elmar meminta diwakili saja.
“Daddy datang, Isla.” Alesha membuka pintu sambil menggendong Kaisla.
Semenjak hari meninggalnya Jossie, Kaisla menginap di sini. Situasi di rumah tidak memungkinkan bagi Kaisla untuk bermain dan istirahat dengan nyaman. Banyak orang hilir mudik datang. Ditambah, Kaisla selalu menggelengkan kepala setiap Elmar bertanya apa Kaisla mau pulang bersamanya. Alesha sampai cuti bekerja untuk merawat Kaisla.
“Daddy kangen sekali sama Isla.” Elmar mengambil Kaisla dari gendongan Alesha dan menciumi wajahnya. “Isla sedang apa, Sayang? Main apa sama Tante Lesha?” Setelah menutup pintu, Elmar mengikuti Alesha masuk rumah.
“Main sekolah-sekolahan.” Alesha yang menjelaskan karena Kaisla tidak mau bicara. “Tadi Isla sedang baca cerita untuk murid kesayangannya. Jackson.”
Di ruang tengah, Alesha memasang papan tulis kecil. Jackson dan beberapa boneka—sebagai murid—Kaisla duduk menghadap papan tulis tersebut.
“Isla senang menginap di rumah Tante Lesha?” tanya Elmar sambil duduk di sofa.
Kaisla menatap Elmar sambil mengisap ibu jarinya. Baru kali ini Elmar melihat Kaisla melakukannya. Sebelum ini Kaisla lebih banyak menggunakan mulutnya untuk bicara.
“Isla, mana tangan kanannya, Sayang?” Alesha mendekat. Setelah Kaisla mengeluarkan jempol dari mulutnya dan mengulurkan telapak tangan kepada Alesha, Alesha meletakkan bola kecil berwarna merah muda di sana. “Nggak boleh ngemut jempol, ya, Isla? Nanti Isla sakit.”
Jari-jari mungil Kaisla melingkupi bola pemberian Alesha dan meremas bola tersebut. Elmar mengeratkan pelukannya dan membenamkan hidung di rambut Kaisla. Menyerap kehangatan tubuh mungil Kaisla yang mengalir melalui d**a Elmar. Anak ini adalah sumber kekuatan terbesarnya. Yang membuatnya tetap berdiri tegak selama menghadapi masa sulit.
“Daddy sayang Isla, sayang sekali,” bisik Elmar. “Semua akan baik-baik saja.”
Sepanjang hidup, Elmar memang banyak melakukan kesalahan, tapi Kaisla bukan salah satunya. She is the only thing he did right in his life. The only thing he really lives for.
Dari sudut matanya, Elmar melihat Alesha meninggalkan ruangan.