“Mau Daddy bacakan cerita untuk Isla dan Jackson?” Elmar memperhatikan setumpuk buku berwarna-warni di sofa. Mendengar namanya disebut, Jackson melompat naik dan berbaring di samping Elmar. Karena Jackson baik sekali kepada Kaisla beberapa hari ini, Elmar menggaruk punggungnya sebagai ucapan terima kasih. “Mau cerita yang mana?”
Kaisla menunjuk buku bergambar anak kelinci, anak tikus, anak kucing, dan hewan-hewan lain menggendong tas menuju bus sekolah. Hari Pertama Masuk Sekolah. Sejak dulu Kaisla menyukai cerita hewan-hewan yang bisa bicara seperti ini, ketimbang buku dengan tokoh-tokoh manusia di dalamnya. Elmar membaca suasana di rumah Otto—si tikus—sebelum memulai hari baru sebagai siswa kelas satu. Setelah selesai membaca, Elmar meminta Kaisla untuk melanjutkan mengajar Jackson angka-angka.
“Aku dan Isla bikin cookies pagi ini.” Alesha menunjuk sepiring chocolate chip cookies di meja dan dua gelas s**u dingin ketika Elmar menyusulnya ke dapur.
“Sejak kapan kamu bisa masak? Ini aman dimakan?” Elmar menarik kursi dan duduk.
“Bikin cookies itu bukan masak.” Alesha duduk di depan Elmar. “Kita lama nggak ketemu, Elmar. Banyak yang terjadi selama lima tahun. Kamu nggak akan tahu besok aku syuting di TV, jadi celebrity chef.”
Elmar tertawa. Suara tawanya membawa Alesha pergi kembali ke masa lalu. Saat mereka berdua dekat dan Alesha masih menjadi salah satu bagian penting dalam hidup Elmar. Tidak, tidak. Alesha memarahi dirinya sendiri. Sekarang dia dan Elmar tidak memiliki hubungan apa-apa. Hanya dua orang yang memiliki keinginan sama. Menolong Kaisla.
“Aku baca koran dan lihat berita, El,” kata Alesha setelah mereka sama-sama mengunyah dua biskuit. “Kalau rumahmu difoto di sana, sebagai tempat kejadian, akan susah laku kalau kamu menjualnya nanti. Kamu berniat menjual rumah itu, kan?”
“Aku harus membereskan barang-barang kami dulu. Terutama milik Jossie. Ada beberapa yang ingin kusimpan. Siapa tahu saat dewasa Kaisla menginginkannya. Orang-orang … aku tidak suka mereka mengasihani aku dan Kaisla,” keluh Elmar.
Biasanya Elmar bukan seorang pengeluh. Alesha sangat tahu. Karena Elmar selalu percaya mengeluh tidak akan membuat hidup menjadi lebih baik. Tetapi kali ini Alesha memahami bahwa Elmar tengah berada dalam masa sulit. Sekali dua kali mengeluh tidak ada salahnya.
“Satu atau dua hari lagi orang sudah nggak akan lagi membicarakan itu, El. Akan ada kejadian baru yang menarik minat mereka. And you’ll be yesterday news.”
Elmar tesenyum pahit. “Alesha, apa yang akan kamu katakan pada pasienmu kalau mereka mengatakan … mereka adalah penyebab orang yang mereka cintai mengakhiri hidup?”
Kalau ada orang yang mau mendengar cerita tanpa menghakimi, tidak memberikan pendapat kecuali diminta, tidak menganggap orang lain bodoh, dan bisa menjaga rahasia, itu adalah Alesha. Orang tidak malu dan takut bercerita kepada Alesha. Salah satunya Elmar.
“Aku akan mengatakan bahwa itu bukan salah mereka. People are responsible for their own thoughts and feelings, just as you are responsible for your own thoughts and feelings.” Alesha menumpukan dua siku di meja dan menempelkan dagunya di atas jari-jarinya yang saling bertaut. “Kehilangan seseorang yang dicintai, karena sebab apa pun, termasuk sakit, selalu berat. Kalau saja kita tahu gejala penyakit sedari awal, kita pasti sempat ke rumah sakit dan menyelamatkan nyawa ayah kita. Atau kalau ada yang meninggal karena kecelakaan. Kita berpikir seandainya kita mau mengantarnya dan kita yang menyetir kendaraan, pasti dia selamat. Pasti ada rasa bersalah dan penyesalan di dalam diri kita.”
“Aku memang tidak mencintai Jossie. Tapi aku tidak pernah berharap Jossie meninggal dengan cara seperti ini. Seandainya saja aku bersikap lebih baik padanya. Seandainya aku bisa menyusun kalimat yang lebih baik waktu bicara dengannya.” Elmar menarik napas panjang. “Seharusnya aku lebih berhati-hati menghadapi Jossie. Tapi dia benar-benar menguji kesabaran dan kewarasanku. Sengaja atau tidak. Hari-hari sebelum dia meninggal, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri.”
Tidak mencintai Jossie. Alesha tertegun mendengarnya. Selama ini Alesha berpikir laki-laki seperti Elmar hanya menikah karena cinta. Sebab banyak wanita dengan senang hati menawarkan diri menjadi istri Elmar. Namun laki-laki yang sudah memiliki segalanya seperti Elmar, tidak akan sembarang memilih pasangan hidup. Wanita terpilih haruslah seseorang yang sangat dicintai. Yang bisa mencuri hati Elmar dan membuat Elmar tidak bisa hidup tanpanya.
“Apa kamu melakukan kekerasan verbal atau fisik padanya?” tanya Alesha hati-hati.
Ada sorot terluka di mata Elmar mendengar kecurigaan Alesha. “Berteriak padanya saja tidak pernah. Apalagi menggunakan tanganku untuk menyakitinya. Dia orang yang melahirkan Kaisla, Alesha. Untuk itu saja aku selalu menghormatinya.”
Alesha menunduk, untuk menyembunyikan rasa bersalah yang pasti jelas tergambar di wajahnya. Sebagai orang yang paling mengenal Elmar, kenapa Alesha bisa sampai berpikir begitu? “Aku percaya kamu bukan orang seperti itu, Elmar, maaf aku menanyakan itu.”
“Jossie terus hidup dalam tekanan. Semenjak dia masih kecil, kedua orangtuanya sudah memproyeksikannya menjadi dokter yang lebih hebat dari mereka berdua. Dia dituntut harus selalu dapat nilai bagus. Kalau tidak, ada konsekuensi. Ketika lulus SMA, Jossie ingin melanjutkan kuliah arsitektur, tapi orangtuanya hanya mengizinkan dia kuliah kedokteran.
“Saat Jossie hamil karena … saat Jossie hamil, di usia yang sangat muda, kedua orangtuanya mengatakan tidak ingin lagi berurusan dengan anak tidak berguna seperti Jossie. Sikap kedua orangtuanya membuat Jossie tenggelam dalam depresi. Ditambah kehamilan yang membuat hormonnya tidak stabil, kemudian post-partum, semua semakin tidak terkendali. Jossie mudah sekali marah dan mengamuk. Juga dia suka menangis, mengurung diri, sering dia tidak bangun seharian. Aku berusaha mengajaknya bicara, berusaha memberikan tempat aman baginya untuk mencurahkan kesedihan atau apa pun yang dia rasakan. Tapi dia menolak.
“Aku bukan diam saja melihatnya seperti itu. Aku bersabar, tidak membalas kemarahan dengan kemarahan. Aku pernah sekali berhasil membawanya ke psikiater. Sampai di rumah Jossie marah-marah karena menurutnya aku memperlakukannya seperti orang gila. Kalau orangtuanya sampai dengar, pasti mereka akan semakin membencinya.
“Karena tidak tahu lagi harus bagaimana, aku menyerah. Tidak ada gunanya menolong orang yang memang tidak ingin ditolong. Daripada untuk Jossie yang tidak bisa menghargainya, waktu dan perhatianku kucurahkan untuk Kaisla dan pabrik Papa.”
Ketika Elmar mengambil napas, Alesha mengisi kembali gelas minumnya. Alesha terbiasa membatasi jam bicara kliennya di rumah sakit. Tetapi kali ini Elmar sedang perlu mengeluarkan segala isi hatinya. Kalau menyediakan telinga bisa membuat hidup Elmar lebih baik, Alesha akan duduk di sini dan mendengarkan Elmar sampai besok pagi.
“Membicarakan depresi yang kita derita, atau penyebabnya, dengan orang lain memang sulit, El.” Alesha pernah berada dalam posisi seperti itu dan tahu bagaimana rasanya. “Kita sangat ingin bicara, tapi mulut nggak bisa terbuka. Lalu kita bingung mulai cerita dari mana, harus menggunakan kalimat seperti apa supaya orang lain memahami dan nggak menghakimi.”
Elmar mengangguk pelan. “Aku tahu itu. Tapi depresi itu memiliki dampak lain. Jossie … dia tidak sungguh-sungguh menjaga kehamilan. Kalau aku tidak memohon-mohon padanya, dia tidak akan makan sehat, minum vitamin, pergi ke dokter. Ketika Kaisla lahir, aku yang melakukan tugas seorang ibu. Bukan aku keberatan.Tapi aku ingin Kaisla merasakan sedikit saja kasih sayang ibunya. Aku berprasangka baik. Nanti Kaisla akan bisa membuatnya jatuh cinta dan semua akan baik-baik saja.
“Ternyata tidak terwujud. Berkali-kali Jossie mengucapkan kalimat-kalimat tidak masuk akal. Mengancam. Menyebut kata mati. Tapi karena tidak pernah terjadi apa-apa—kecuali Jossie tetap depresi—aku tidak memandangnya sebagai sesuatu yang berbahaya. Seminggu sebelum Jossie meninggal, aku melihatnya memukul Kaisla. Keras sekali sampai Kaisla terhuyung.” Elmar memejamkan mata dan memegangi dadanya. Lebih baik dadanya dibelah dengan kapak dalam keadaan seratus persen sadar daripada harus melihat Kaisla disakiti ibu kandungnya sendiri.”