“Pink, huh?” Elmar duduk di kursi, di depan meja Alesha dan mengomentari lab coat yang dipakai Alesha hari ini. “Dokter-dokter yang lain memilih warna putih.”
“Ini kan, warna peach, favoritku. Nggak ingat?” Alesha duduk memangku Kaisla. “Sebelum pertengahan abad sembilan belas, hanya peneliti di laboratorium memakai lab coat seperti ini. Warnanya merah muda atau kuning.”
“Lalu kenapa dokter ikut-ikutan pakai lab coat seperti itu?” tanya Elmar ingin tahu.
“Pada masa itu masyarakat berpikir bahwa peneliti memiliki peran lebih besar daripada dokter dalam menyembuhkan penyakit. Yang menemukan obat, mempelajari virus dan bakteri, cara kerja setiap jengkal bagian tubuh manusia dan banyak lagi adalah peneliti. Pada abad-abad selanjutnya, terbukti memang hasil penelitian dari laboratoriumlah yang banyak menyelamatkan manusia. Tetapi peran dokter pun tak bisa dikecilkan. Siapa yang mendapati suatu penyakit dalam tubuh manusia kalau bukan dokter?
“Supaya dokter nggak tampak kalah penting, maka dokter mengenakan lab coat seperti ini. Warnanya putih. Lab coat seperti ini juga berfungsi untuk membedakan antara dokter dan pasien. Kan nggak lucu kalau kamu ke rumah sakit tapi nggak tahu yang mana dokternya.”
“Dan kamu tidak mengikuti aturan itu? Justru memilih pakai warna pi … peach?”
“Karena aku memang suka tampil beda.” Alesha tersenyum kepada Kaisla, yang selalu mendengarkan apa saja yang dikatakan Alesha dengan tekun. Walaupun tidak paham. “Dokter anak dan ahli kejiwaan sepertiku menghindari memakai lab coat putih. Supaya pasien nggak merasa semakin takut atau gugup. Lagi pula, warna peach lebih cocok untukku, kan?”
Elmar setuju. “Bagus. Kamu terlihat berbeda dan lebih cantik. Benar kan, Isla? Tante Lesha cantik pakai lab coat seperti itu?”
Kaisla mengangguk sebagai jawaban, lalu menengadah lagi menatap Alesha.
“Terima kasih, Sayang. Isla juga cantik sekali hari ini.” Alesha menciumi wajah Kaisla sampai Kaisla menggeliat kegelian. Bukan rahasia lagi kalau anak ini mengidolakannya. “Kenapa kamu?” tanya Alesha ketika Elmar menyodorkan wajahnya kepada Alesha.
“Aku juga memujimu. Aku juga harus dicium.” Elmar menyeringai.
Alesha mendorong pelan wajah Elmar dengan tangannya. “Kapan-kapan aja.”
“Benar, ya? Kapan-kapan aku tagih. Kamu punya utang satu ciuman.” Elmar kembali duduk. Tangan kanan Elmar mengambil papan nama di meja Alesha. “Alesha M. Hakkinen, OTD, Ph.D.. Hebat sekali, Alesha.”
“Tentu saja. Aku bekerja sangat keras untuk meraih semua itu.” Alesha bicara kepada Elmar, lalu mengalihkan perhatian kepada Kaisla. “Rambutnya Tante rapikan dulu ya, Isla.” Salah satu pita di rambut Kaisla sudah miring dan hampir lepas.
Dari atas kepala Kaisla, Alesha melempar pertanyaan melalui tatapan mata kepada Elmar. Bagaimana hasil pemeriksaan Laura hari ini. Elmar menggeleng muram sebagai jawaban. Bicara tanpa suara sudah menjadi keahlian Alesha dan Elmar sejak kanak-kanak dulu. Lebih-lebih ketika mereka berdua dihukum oleh ibu Alesha karena merusakkan barang atau mengotori ruangan. Untuk merencanakan misi selanjutnya, mereka bicara dengan tatapan mata.
Dengan hati-hati Alesha menguncir dua rambut Kaisla dan kembali memasang pita berwarna kuning di sana. Alesha mengambil lolipop dari laci mejanya dan memasukkan ke kantung kanguru di baju Kaisla. Secepat kilat, supaya tidak ketahuan Elmar.
“Apa itu?” Elmar menatap Alesha curiga.
“Bukan apa-apa.” Alesha memasang senyum tidak bersalah. “Isla, tolong buatkan Tante gambar yang bagus ya, buat dipasang di sini.” Dengan jari telunjuk Alesha mengetuk bingkai foto kosong di mejanya. “Ini kertas dan spidolnya.”
Alesha dan Elmar kembali bertatapan ketika Kaisla hanya mengambil warna hijau.
“Isla bisa menggambar di sini.” Alesha membimbing Kaisla menuju sofa di salah satu sisi ruangan. “Mau minum jus apel? Atau s**u?”
Kaisla menggeleng, naik ke sofa dan berbaring telungkup di sana. Mengerjakan tugas yang diberikan Alesha.
“Dia masih menyukai warna hijau,” kata Elmar begitu Alesha duduk kembali di depannya. “Hanya warna hijau. Aku tidak tahu lagi gimana lagi harus menolong anakku sendiri, Alesha.”
Pakaian yang dikenakan istri Elmar ketika meninggal berwarna hijau. Sejak saat itu Kaisla seperti terobsesi dengan warna hijau. Sekarang, setelah melalui banyak sesi terapi, obsesi Kaisla sudah mulai berkurang. Kaisla sudah mau memakai baju selain warna hijau.
Alesha menatap mantan kekasihnya. Siapa yang menyangka kini mereka bisa kembali berteman seperti dulu, duduk membicarakan rahasia paling kelam yang mereka miliki? Di depan semua orang Elmar selalu terlihat tegar, kuat, dan bisa diandalkan. Namun setiap Selasa sore, saat duduk di ruangan Alesha, Elmar tampak rapuh dan ingin menangis.
Luka pada jiwa Kaisla sulit disembuhkan. Anak perempuan yang biasanya suka bicara dan banyak tertawa itu, kini lebih banyak diam memeluk Bella. Tidak bicara. Tidak menangis. Tidak nakal. Penurut sekali. Selama tiga hari Kaisla tinggal bersama Alesha, dengan penuh kesabaran Alesha merawat Kaisla. Pada malam pertama, Alesha meninggalkan Kaisla sebentar untuk pergi ke kamar mandi. Saat kembali ke kamar, Kaisla tidak ada di tempat tidur. Anak kecil itu berjongkok di sudut ruangan bersama boneka beruangnya, gemetar ketakutan. Hanya pelukan dan cinta yang bisa diberikan kepada Kaisla saat itu. Dua hal yang diketahui Alesha bisa menenangkan tetapi belum cukup untuk menyembuhkan.
Traumatic mutism, jelas Alesha kepada Elmar sebelum Kaisla memulai sesi dengan Laura. Wajar terjadi pada anak-anak yang baru saja mengalami kejadian traumatik. Otak Kaisla sulit memproses kenapa ibunya ada di atas sana dengan kondisi mengerikan. Lalu ibunya harus dibawa pergi dan tidak pernah kembali. Salah satu cara berduka yang digunakan Kaisla adalah diam seribu bahasa.
“Laura bilang apa, El?” Selama tiga bulan terakhir, Alesha dan Elmar banyak berbicara melalui telepon. Mendiskusikan jalan terbaik untuk menyembuhkan Kaisla.
“Perkembangan Kaisla bagus. Mimpi buruk sudah jarang datang. Sekali saja semalam. Memang dia masih suka warna hijau, tapi cuma saat menggambar. Masalah traumatic mutism, nanti kalau Kaisla sudah tidak trauma lagi, dia akan bisa bicara seperti dulu. Tapi ini sudah tiga bulan dan Isla tidak juga mengeluarkan satu kata pun. Sebentar lagi dia harus masuk TK, Alesha.” Elmar mengacak rambutnya frustrasi. “Bagaimana kalau dia tidak bisa punya teman?”
“Hei, dia punya Mara.” Bangga sekali Alesha dengan keponakannya. Di saat semua orang menganggap Kaisla aneh, Mara memiliki pandangan berbeda. Menurut Mara, kalau Kaisla diam, Mara bisa bicara sepanjang waktu, tidak perlu gantian. “Memang proses ini nggak mudah, El. Perlu kesabaran. Tentu Laura sudah mengatakan padamu bahwa kamu nggak boleh frustrasi, atau Kaisla akan ikut terdampak juga. Your child is already dealing with such difficult emotions.”
Pagar yang dibangun seseorang untuk membatasi diri dari orang-orang yang mencintainya jauh lebih berbahaya daripada jeruju besi yang memisahkan tahanan dari dunia luar. Orang dipenjara ada kemungkin keluar lebih cepat jika berkelakukan baik. Tetapi diri yang terkungkung dalam rasa bersalah? Atau duka? Bagaimana cara keluarnya? Kadang orang tidak bisa menemukan sendiri celah untuk keluar. Mereka memerlukan pertolongan. Alesha berjanji akan membantu Kaisla keluar dari sana. Apa guna pendidikannya dan semua pelatihan yang dia ikuti, kalau dia tidak bisa menolong orang terdekatnya?
“Gimana aku tidak frustrasi dalam keadaan seperti ini?” gumam Elmar.
Alesha menatap Elmar penuh simpati. “Kalau kamu naik pesawat, El, pramugari selalu bilang, pasang masker oksigen di mulutmu lebih dulu, baru kemudian pasangkan untuk anakmu. Sama seperti itu, kamu harus bisa berdamai dengan semua ini, kemudian membantu Isla.”
Elmar terdiam memikirkan kalimat Alesha.
“Sudahlah, hari ini terlalu panjang untuk kita semua. Gimana kalau kita makan es krim? Daddy yang traktir,” kata Alesha dengan ceria.
Mendengar kata es krim, Kaisla mengangkat kepala dan segera berlari mendekati Alesha.
“Kenapa aku yang bayar?” protes Elmar bercanda.“Yang punya ide kan, kamu.”
“Aku perlu penyandang dana untuk ideku.” Alesha menyeringai licik.
Elmar tergelak dan menarik hidung Alesha, seperti yang dulu dia lakukan setiap kali masuk perangkap yang dibuat Alesha. Alesha tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak merasa bahagia karena bisa membuat Elmar tertawa.
Memelihara penyakit lama, Alesha? Sebuah suara di kepala Alesha memperingatkan. Tidak ingat, bahwa selalu ingin membuat seseorang tertawa pada hari terburuknya adalah tanda bahwa kamu mencintainya? Sudah lupa dengan apa yang kamu simpulkan tadi setelah klienmu pulang, bahwa seseorang selalu bertekad membahagiakan orang yang mereka cintai?
Dalam hati Alesha memarahi dirinya sendiri. Bukankah pada pertemuan pertama mereka, setelah lima tahun, Elmar bahkan langsung mengingatkan Alesha untuk tidak lagi jatuh cinta padanya? Untuk tidak mengangankan Elmar sebagai suaminya? Bahkan Elmar rela mencap dirinya sebagai suami yang tidak baik, demi mencegah Alesha kembali mencintainya.