Emar tidak tahu kapan terakhir kali dia dan Jossie duduk di dalam mobil, kembali ke rumah setelah jalan-jalan atau makan malam, dengan damai seperti ini. Sepertinya tidak pernah. Setiap kegiatan bersama Jossie pasti diakhiri dengan pertengkaran. Mereka pulang bukan karena lelah setelah bersenang-senang. Tetapi karena tidak ingin terlalu lama mempermalukan diri di muka umum. Ada saja yang membuat Jossie marah-marah. Mulai dari Kaisla yang tidak bisa makan dengan tenang hingga penampilan Elmar yang menurut Jossie menarik perhatian wanita lain.
Elmar sempat berpikir naik turunnya emosi Jossie disebabkan karena Jossie masih terlalu muda saat menikah dan dia tidak siap menjadi ibu. Usia Jossie dua puluh tahun ketika melahirkan Kaisla. Tanpa dukungan dari ibunya. Beruntung ibu Elmar bersedia membimbing dan mengajari Elmar dan Jossie. Meski hanya selama tiga bulan saja. Setelah itu ibu Elmar menegaskan bahwa Jossie tidak punya niat untuk menjadi ibu dan sia-sia saja mendidiknya. Akhirnya Elmar sendiri yang turun tangan, serius belajar mengurus bayi. Istrinya bersungut-sungut saja.
“El? El? Hello?” Alesha melambaikan tangan di depan Elmar. “Kalau kamu capek, sedang banyak pikiran, biar aku saja yang nyetir.”
“Sorry.” Elmar mengembalikan konsentrasi pada jalanan di depannya. “Aku memikirkan hari baik untuk pindah dari rumah Mama.” Sejak malam Jossie meninggal, Elmar tidak lagi tidur di rumahnya sendiri. Menurut Alesha, berikutnya disetujui Doktor Laura, sebaiknya Elmar dan Kaisla menjauh dari tempat yang mengingatkan mereka akan kejadian buruk itu. Karena mencari rumah perlu waktu, sementara ini Elmar tinggal di rumah orangtuanya.
“Hari baik untuk pindahan itu sama dengan hari baik untuk menikah. Sabtu dan Minggu.” Suara Alesha terdengar serius sekali saat mengatakan ini. “Bakal banyak orang yang bisa membantu.”
“Oh, wow! Aku tidak tahu kamu cerdas sekali, Alesha. Hanya orang dengan dua gelar doktor yang tahu tentang itu.” Elmar pura-pura kagum untuk mengolok Alesha.
Alesha meninju lengan Elmar. Tawa riang Alesha membuat Elmar ikut tersenyum. Sejak dulu banyak tawa yang dia miliki bersama Alesha dan seluruhnya selalu bisa membuat hati Elmar menghangat. Tidak ada satu masalah di dunia ini yang tidak bisa diselesaikan, selama setelahnya dia bisa mendengar tawa Alesha.
“Di mana rumah barumu?” tanya Alesha setelah tawanya reda.
“Nanti aku ajak kamu ke sana, kalau aku sudah pindahan.”
“Aku nggak bilang aku pengen ke rumahmu.” Alesha menoleh menatap Elmar. “Aku cuma mau tahu di mana alamat rumah barumu.”
“Karena aku sudah berkunjung dua kali ke rumahmu,” Mobil Elmar berhenti di depan rumah Alesha, “Sudah waktunya kamu membalas kunjungan itu.”
Alesha kembali tergelak. “Apaan sih, El. Memangnya kamu presiden yang mengadakan kunjungan kenegaraan? Harus dibalas segala?”
Elmar menahan tangan Alesha yang hendak membuka pintu mobil kemudian menyodorkan pipinya. “Tunggu dulu, aku mau menagih utang. Karena aku memujimu tadi sore.”
“Jangan jadikan ini kebiasaan, Elmar.” Alesha mendekatkan wajahnya ke wajah Elmar, sambil melirik Kaisla yang tidur di kursi belakang. Bersiap mencium pipi kiri Elmar.
“Mau ngapain kamu ... Elmar….” Bisik Alesha dengan suara bergetar ketika Elmar tiba-tiba mengubah arah wajahnya. Sekarang tepat menghadap Alesha.
“Sejak pertama kita bertemu lagi, aku sangat ingin melakukan ini….”
Tidak mau memberi kesempatan pada Alesha untuk menolak, Elmar langsung menguasai bibir Alesha. Tidak ada lagi suara di antara mereka, kecuali desahan tertahan Alesha. Elmar tidak bisa memastikan apa yang ada di pikirannya ketika memutuskan untuk mencium Alesha. Mungkin karena dia ingin bisa tidur nyenyak di malam hari tanpa memikirkan bagaimana manisnya bibir Alesha sekarang. Yang semakin merekah. Semakin menggoda.
“El….” Alesha mendesah.
Seandainya Alesha membisikkan nama Elmar dengan tegas, sebagai bentuk peringatan agar Elmar menghentikan ciumannya, Elmar akan melepaskan bibir Alesha. Namun dari satu kata yang diucapkan dengan penuh permohonan itu, Elmar bisa membaca Alesha memiliki hasrat dan keinginan yang sama dengannya. Ingin semakin dekat. Saling menyentuh. Saling melepaskan kerinduan. Kegelapan yang melingkupi Elmar selama lima tahun terakhir—yang semakin pekat setelah Kaisla tidak mau bicara—langsung sirna ketika Elmar merasakan Alesha menyerah di bawah kendalinya.
***
Permainan apa yang sedang dilakukan Elmar sekarang? Alesha meletakkan keningnya di roda kemudi. Mobilnya sudah berhenti di halaman rumah orangtuanya tapi Alesha masih belum ingin masuk. Saat melewati rumah orangtua Elmar tadi, ingin rasanya Alesha berhenti dan menemui Elmar. Bertanya apa salah Alesha sampai Elmar mempermainkan perasaannya seperti ini. Lima tahun lalu Elmar menghempaskan cinta Alesha dengan memilih menikahi wanita lain. Sekarang, saat Alesha sudah bisa berdamai dengan kenyataan bahwa Elmar tidak diciptakan untuknya, Elmar menciumnya hingga … hingga tembok yang dibangun Alesha untuk membentengi hatinya rubuh, hancur menyisakan puing-puing yang tidak akan bisa dibangun kembali.
Sampai hari ini, seminggu setelah Elmar menciumnya, Alesha masih bisa mengingat dengan jelas setiap detailnya. Tidak seorang pun bisa membuat Alesha merasa begitu tidak berdaya sekaligus hidup dalam waktu bersamaan. Kecuali Elmar. Ya Tuhan. Bagaimana mungkin selama ini Alesha yakin dia sudah berhasil melupakan Elmar? Berhasil menghapus keberadaan Elmar dari dalam hatinya? Siapa yang bisa menentukan berapa lama waktu yang diperlukan seseorang untuk sembuh dari patah hati? Seperti apa rumus pastinya? Dua kali masa pacaran dikurangi satu tahun? Atau x/2=y? Dengan x mewakili berapa lama masa mencintai, dalam satuan bulan. Hasil akhir kedua formula tersebut sama saja. Tidak ada gunanya.
Setelah ciuman itu, berapa lama waktu yang diperlukan Alesha untuk melupakan Elmar sekali lagi? Kalau dia membiarkan Elmar memperlakukannya sembarangan seperti itu, hatinya pasti akan patah untuk kedua kali. Lalu karena sudah terlanjur hancur lebur, tidak akan mungkin bisa disatukan kembali. Baru saja Alesha berhasil melewati lima tahun terlama dalam hidupnya. Lima tahun yang harus dia lalui tanpa Elmar—sahabat sekaligus laki-laki yang dia cintai—di sisinya. Di saat semua orang mengeluhkan kenapa waktu cepat sekali berlalu—rasanya baru lebaran, kok sudah mau lebaran lagi, kata mereka—Alesha justru bertanya kenapa hidupnya terasa jalan di tempat. Ke mana pun dia melangkah, dia selalu menabrak dua rintangan. Rasa sakit dan kecewa. Keduanya timbul setelah Elmar memilih wanita lain.
Empat tahun lalu Alesha memubliskasikan hasil riset bersama dua peneliti lain. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, otak manusia dipaksa pula untuk semakin cepat menerima dan memproses informasi. Jumlah informasi yang diterima dalam seminggu, bisa sama dengan jumlah informasi yang dihimpun otak manusia selama setahun pada tahun delapan puluhan. Pada masa modern ini, saking menumpuknya informasi yang dikumpulkan otak dalam periode singkat, otak menyangka waktu telah banyak berlalu. Persepsi ini dialami hampir oleh setiap orang yang tersentuh teknologi, terutama ponsel pintar.
Tetapi kenapa, ketika seseorang patah hati, tidak ada satu pun teori atau teknologi yang bisa digunakan untuk mempercepat waktu? Kenapa, saat seseorang putus cinta, otak menolak persepsi mengenai waktu yang banyak dialami manusia modern? Alesha tidak tahu jawabannya. Hanya satu yang pasti. Seribu tahun pun tidak akan cukup baginya untuk melupakan Elmar.
Begitu bibir Elmar menyentuh bibirnya, kepala Alesha tidak lagi bisa berpikir jernih. Ada sesuatu yang menyala dalam dirinya, namun Alesha tidak tahu apa. Sesuatu yang telah lama mati dan kini hidup kembali. Segala angan dan mimpi tentang masa depan bersama Elmar yang selama ini susah-payah dikubur, kembali bangkit dan menemukan jalan untuk keluar lagi.
Tidak pernah terlintas dalam benak Alesha bahwa Elmar akan menciumnya seperti ini. Sama seperti ciuman pertamanya dulu, ciuman kali ini, setelah mereka berpisah dan bertemu lagi, juga tidak bisa diprediksi kapan datangnya dan di mana tempatnya. Dan, Alesha mengerang dalam hati, tanpa sadar Alesha selalu menunggu datangnya hari ini.