Jangan biarkan Elmar menguasai dirimu, Alesha. Kenapa memang kalau Elmar menciummu? Itu hanya ciuman, tidak berarti apa-apa. Jangan sampai terulang lagi. Kalau Elmar mendekatkan bibirnya, tampar saja wajahnya. Alesha membuka pintu, turun dari mobil dan melangkah menuju pintu depan rumah orangtuanya. Masih belum terlalu sore. Matahari bersinar lembut dan sudah mulai muncul semburat jingga di sekelilingnya. Seperti biasa, Jumat adalah jadwal makan malam rutin di rumah orangtuanya. Tradisi ini masih seumur jagung. Baru dimulai ketika Alwin, kakaknya, menikah dengan Edna[1].
Setelah Alesha beberapa kali absen dalam makan malam bersama setiap hari Sabtu, ibunya mengubah jadwal menjadi hari Jumat. Ibunya menyimpulkan bahwa Alesha memerlukan malam Minggu untuk bersosialisasi. Atau kalau diterjemahkan, mencari calon suami. Dengan langkah pelan Alesha berjalan masuk ke rumah masa kecilnya. Tempat di mana dia dibesarkan. Tempat ke mana dia pulang. Meski dia sudah tinggal sendiri, setiap memerlukan kenyamanan, dia selalu datang ke sini. Tetapi itu dulu. Sekarang Alesha malas sekali karena ibunya selalu punya nama laki-laki yang dinilai cocok untuk menjadi pendamping hidup Alesha.
Suara percakapan semakin jelas terdengar ketika Alesha menuju ruang makan. Di sana, Edna duduk memangku Rafka, anak keduanya, berusia tujuh bulan, dan menyuapkan sendok mungil ke bibirnya. Di samping Edna, Mara sedang duduk di kursi menikmati makan malamnya. Si kecil Mara selalu makan lebih dulu, belum magrib pasti sudah merengek minta makan.
“Adiknya Tante Lesha pinter banget. Makan bergizi supaya cepet gede,” kata Alesha sambil menunduk dan mencium pipi Rafka yang belepotan karena apa pun yang dikonsumsinya.
“Adiknya Mara!” Protes Mara sambil mendorong tangan Alesha.
“Rafka lebih suka jadi adiknya Tante Lesha kok.” Alesha menggoda Mara.
“Adiknya Mara!” Bibir Mara mengerucut, tidak terima adiknya diaku orang lain. “Mama!”
“Tante Lesha sudah bisa bikin adik sendiri, Sayang. Tante nggak akan mengambil adiknya Mara.” Edna menenangkan anaknya.
“Buat apa Tante bikin sendiri, kalau Tante sudah punya adik yang lucu seperti Rafka?” Alesha mengambil Rafka dari pangkuan Edna dan duduk di samping kiri Mara. “Nanti Rafka ikut Tante pulang, ya, Sayang. Tinggal di rumah Tante. Tiap hari kita makan es krim, biskuit, dan permen. Kakak Mara biar makan sayur dan buah aja.”
“Mama … Rafka pulang sama Mara!” Mara semakin cemberut.
“Kamu posesif sekali sih, Mara.” Alesha tertawa keras.
“Tante Lesha cuma bercanda, Mara. Tante Lesha nggak bisa ganti popok bayi. Cuma bisa teriak-teriak kalau lihat Rafka ngompol.” Dengan sebelah tangan Edna mengelus kepala anak pertamanya. “Mara selesaikan makannya, lalu Mara bisa ganggu Papa dan Ukki.”
“Aku bisa ganti popok tahu.” Alesha membela diri. “Tapi sebagai tante, aku nggak perlu melakukan itu. Tugasku adalah bersenang-senang sama Rafka. Yang susah dan agak menjijikkan itu urusan orangtua.” Sepertinya harga yang harus dibayar seseorang untuk memiliki bayi selucu ini adalah berkutat dengan kencing dan sisa-sisa pencernaan lain. Karena selama ini Alesha merasa belum sanggup membayar, maka Tuhan belum memercayai Alesha untuk memiliki anak.
“Kebanyakan alasan. Besok kamu bisanya jam berapa, Lesh?” tanya Edna. Hari Sabtu sore biasanya Edna memiliki waktu BABS—bebas anak bebas suami—dan memanfaatkannya untuk berkumpul bersama Alesha dan teman-teman mereka yang lain.
“Asal di atas jam dua belas siang aku bisa, Nya. Kita ketemuan di kafemu aja.” Iparnya adalah pemilik bakery dan kafe E&E, lokasi yang dipilih Alesha untuk mengadakan bimbingan bagi para remaja hamil dan yang telah menjadi ibu. Bukan karena Edna menggratiskan sewa dan menyediakan kudapan, tapi tempat tersebut tidak akan menimbulkan banyak pertanyaan dari masyarakat. Orang akan berpikir remaja-remaja itu ke kafe untuk bergaul, bukan untuk mengatasi depresi dan stres yang mereka hadapi.
Stigma bukan gadis baik-baik akibat hamil di luar pernikahan sudah melekat pada diri anak-anak remaja tersebut. Satu hal itu saja sudah membuat hidup mereka cukup berat. Tidak perlu ditambah penghakiman dari orang lain yang tahu mereka menerima bimbingan—mental dan emosi—dari Alesha. Menjadi ibu di usia remaja sangat sulit. Bayangkan bagaimana seorang anak harus membesarkan anak. Otak mereka saja masih dalam proses perkembangan. Pendidikan dasar mereka bahkan belum selesai. Pengalaman mereka menghadapi kerasnya hidup tidak ada. Depresi sudah hampir pasti menghampiri. Alesha akan mengusahakan berbagai cara untuk mengatasinya. Salah satunya membuat support group.
“Kalau kamu bekerja terus setiap hari, bahkan hari Sabtu dan Minggu, kapan kamu akan punya waktu untuk bergaul?” Ibunya masuk ke dapur, membawa piring berisi rolade tahu.
“Aku bergaul dengan Edna dan yang lain setiap weekend, Mama,” jawab Alesha.
“Dengan teman laki-laki, Alesha.” Ibunya memperjelas.
“Tolong suapi Rafka, Lesh, aku mau bantu Mama dan Bik Jum di dapur.” Edna meletakkan sendok bayi di atas mangkuk lalu berdiri dan mendorong dengan lembut bahu mertuanya. “Ayo, Ma, kalau kelamaan, nanti Alwin bisa makan kaki meja.”
Dengan senang hati Alesha menggantikan tugas Edna menyuapkan apple sauce ke mulut mungil Rafka. Umur Alesha dan Edna tidak terlalu jauh terpaut. Hanya dua tahun. Iya, Alesha lebih tua. Meskipun begitu, Edna, dulu pada usia dua puluh empat tahun, berani sekali mengambil tanggung-jawab besar; Menjadi ibu bagi Mara, keponakannya. Tidak hanya itu, Edna juga memimpin jalannya bakery peninggalan kakaknya, demi para karyawan yang menggantungkan hidup di sana.
“Yum. Enak, kan? Dulu Tante juga suka makanan lembek bikinan Mumma.” Alesha tertawa ketika melihat Rafka menutup mulut, berniat mengunyah, namun makanannya justru keluar sebagian dan berantakan di sekitar bibirnya.
“Rafka cemong-cemong.” Mara memperhatikan adiknya sambil terkikik.
“Nanti kalau sudah besar dan pintar seperti Kakak Mara, Rafka bisa makan sendiri. Kakak Mara makannya selalu rapi.” Alesha menjauhkan mangkuk dari kepalan tangan Rafka yang berusaha meninjunya. Gemas melihat Rafka memamerkan gigi bawahnya, Alesha tidak tahan untuk mencium pipi tembamnya.
Beruntung sekali Edna. Punya anak perempuan yang manis dan periang, anak laki-laki yang lucu dan tampan, juga suami yang sangat mencintainya. Tidak, Alesha tidak iri. Jalan hidup manusia berbeda-beda. Bisa karena pilihan atau memang Tuhan telah merencakan demikian. Tidak akan ada tempat bagi kebahagiaan jika kepala kita sibuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Mendaftar apa yang mereka miliki dan tidak kita punya.
“Teman Papa punya anak laki-laki seumuran kamu. Papa bilang dia tertarik kenalan dengan kamu. Apa kamu mau Mama atur untuk bertemu dengannya? Cuma berteman saja, Alesha.” Ibunya kembali muncul di dapur dan mengusik ketenangan Alesha.
***
Alesha mendengus. “Aku nggak yakin Mama cuma memintaku berteman dengannya.”
“Kalau tidak bisa mencari pasangan sendiri, Mama bisa membantu. Seperti Mama membantu Alwin dan Edna. Kamu bisa lihat sendiri hasilnya sebaik apa.” Ibunya berdiri di seberangnya dan menatapnya tajam.
“Mama….” Alesha mengerang putus asa. “Al, tolong kasih tahu Mama bahwa aku baik-baik saja meski aku sendiri dan nggak punya punya suami.” Melihat kakaknya masuk ke ruang makan, Alesha meminta bantuan. Kalau ada orang yang tahu bagaimana tidak enaknya dijodohkan, Alwinlah orangnya.
“Alesha baik-baik saja walaupun sendiri dan tidak punya suami.” Dengan santai Alwin mengulang kalimat terakhir Alesha, kemudian menunduk untuk mencium dua kepala di depannya. Kepala Mara dan Rafka. Ketika Edna meletakkan mangkuk besar berisi sayur di meja, Alwin memeluknya dengan sebelah tangan dan membenamkan wajahnya di leher Edna.
Alesha memutar bola mata. Benar-benar tidak ada gunanya punya kakak.
[1] Baca The Game of Love